Share

Tanggung Jawab

Author: Zhu Phi
last update Last Updated: 2026-02-18 18:06:32

Ingatan lama melintas. Kevin pernah menjalani dual cultivation berkali-kali bersama gurunya—seorang wanita cantik yang juga tabib, gadis suci dari salah satu sekte besar di Sussex Mountain. Dari situlah ia memahami teknik menyalurkan energi tanpa merusak tubuh pasangan.

Kini teknik itu ia gunakan kembali, bukan untuk meningkatkan ranah kultivasi… tapi untuk menyelamatkan nyawa.

Wanita itu tidak lagi melawan. Tubuhnya yang semula tegang perlahan merespons aliran energi yang masuk. Panas yang membakar berubah menjadi arus hangat yang merambat, menenangkan saraf yang kacau.

Detik demi detik berlalu.

Energi Kevin terus berputar, mengalir dari pusat tubuhnya, masuk ke jalur meridian wanita itu, membungkus racun, menghancurkannya, lalu menarik sisa-sisanya keluar seperti kabut yang terurai.

Lima belas menit berlalu dengan cepatnya.

Akhirnya, Kevin menghentikan aliran energinya. Napasnya dalam, stabil, meski keringat tipis membasahi pelipisnya.

Misi penyelamatan itu selesai.

Perubahan pada wanita itu langsung terlihat.

Wajah yang tadinya pucat seperti es kini berangsur cerah. Warna hangat kembali ke pipinya. Napasnya lebih teratur. Tubuhnya tidak lagi memancarkan panas liar... yang tersisa hanya kehangatan lembut, stabil, tanda energi dalamnya kembali seimbang.

Aliran energi Inti Naga Mutiara milik Kevin meninggalkan jejak di tubuhnya dengan memperkuat meridian, memperhalus kulit, bahkan memberi efek vitalitas yang membuat tubuhnya tampak lebih segar dan kencang.

Sementara itu, racun yang selama ini menggerogoti Kevin—Racun Pemikat Asmara... tetap terkunci rapat. Segel dari gurunya, Dewi Medis Lilian Arkham, masih bekerja sempurna, memastikan racun itu tidak mencemari proses penyembuhan yang baru saja ia lakukan.

Di atas dipan bambu, wanita itu terbaring tenang. Napasnya ringan. Tubuhnya tidak lagi gemetar.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia selamat.

***

 “Aaaah…!”

Suara kaget itu meledak tepat di samping telinga Kevin, menariknya keluar dari tidur lelap yang jarang ia rasakan sejak turun dari wilayah kultivasi, Sussex Mountain.

Kelopak matanya terbuka perlahan. Atap bambu gubuk tampak samar di pandangannya, cahaya pagi menembus celah-celah dinding, membawa udara dingin pegunungan yang tipis dan bersih. Tubuhnya masih terasa berat… tanda energi spiritualnya belum sepenuhnya pulih setelah semalam memaksakan penyembuhan terhadap wanita yang sedang berteriak di sampingnya ini.

Ia memang memutuskan untuk menginap di gubuk itu. Bukan hanya untuk memulihkan tenaga, tapi juga memastikan proses penyembuhan wanita yang ditolongnya berjalan stabil. Tubuhnya sendiri masih beradaptasi dengan udara dunia fana yang baginya terasa “kotor” dibandingkan dengan energi murni wilayah kultivasi, meski Alpenia termasuk daerah dengan udara paling bersih di Eldoria Country.

Kesadarannya pulih sepenuhnya ketika ia menyadari satu hal.

Tubuhnya… masih telanjang.

Dan wanita di sampingnya juga demikian.

Lebih parah lagi—tangannya masih mencengkeram sesuatu yang hangat, lembut, dan kenyal.

“Dasar pria hidung belang!”

Teriakan itu membuat Kevin menoleh. Wanita yang semalam ia selamatkan kini sudah sadar sepenuhnya. Matanya tajam, pipinya memerah, napasnya cepat... entah karena marah atau malu.

“Hidung belang?” Kevin mengerjap, setengah mengantuk. “Siapa pria hidung belang yang mengganggumu?”

Tangannya… masih belum bergerak sama sekali dari dada wanita ini.

“Brengsek! Kamu itu pria hidung belangnya!” bentak wanita itu. “Lepaskan tanganmu!”

Kevin mengernyit, masih mencoba memahami situasi. Ia bahkan belum sepenuhnya sadar akan posisi tangannya.

“Aku?” jawabnya datar. “Aku sudah menyelamatkan nyawamu, Nona. Seharusnya aku yang minta bayaran dan ganti rugi.”

“Bayaran? Ganti rugi?” wanita itu mendengus sinis. “Memangnya kau ini gigolo?”

Tatapannya merendahkan, dingin, dan menusuk.

“Aku, Annabella Windsor, tidak pernah menyewa gigolo untuk memenuhi kebutuhanku! Pria setampan apa pun akan tunduk terhadapku.”

Kevin baru benar-benar sadar ketika jarinya tanpa sengaja menekan lembut sesuatu di genggamannya.

“Apa ini… kok lembut sekali?” gumamnya tanpa merasa bersalah.

“Lepaskan tanganmu! Dasar mesum!” teriak Annabella lagi. Wajahnya memerah semakin dalam. Entah karena marah, malu… atau keduanya bercampur jadi satu. “Huhu…!”

Matanya mulai berkaca-kaca.

Tangisan kecil itu membuat Kevin akhirnya tersadar sepenuhnya. Ia menarik napas, rasa bersalah menyelinap, meski di sisi lain ia yakin tindakan semalam dilakukannya atas persetujuan wanita itu dalam kondisi kritis.

“Aku akan bertanggung jawab,” ucapnya akhirnya dengan wajah serius.

Alih-alih mereda, Annabella justru tertawa sinis.

“Kamu mau bertanggung jawab?”

“Benar,” Kevin mengangguk. “Aku tidak tahu kau masih perawan saat menyembuhkanmu dari racun serbuk es api. Itu… juga salahku.”

Annabella terdiam sesaat. Matanya menatap Kevin lekat, menilai, seperti mencoba membaca apakah pria di depannya sungguh-sungguh atau hanya bermain kata.

“Siapa namamu?” tanyanya akhirnya.

“Kevin Braxton.”

Annabella mendekat sedikit. Suaranya mendadak berubah lembut, hampir manja.

“Kevin… sayang…”

Kevin langsung menjawab, bahkan tanpa berpikir.

“Iya, sayang…”

Ia menghela napas lega, mengira wanita itu mulai menerima penjelasannya.

Detik berikutnya...

“Lepaskan tangan nakalmu dari dadaku!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Pemilik Serbuk Es Api

    Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Racun Iblis Darah dan Teknik 12 Naga Emas

    Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Minta Bantuan

    Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Kakak Pertama

    Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Hinaan Putri Windsor

    Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”Arthur menghela napas panjang.“Sebuah janji tetaplah janji.”Isabella mendengus keras.“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”Tatapannya semakin tajam.“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjala

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Menemui Tunangan

    Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.Baru setelah itu ia teringat sesuatu.Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.Perjalanan tidak lama.Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status