Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹⁶⁴—Kejutan#3

Share

Bab¹⁶⁴—Kejutan#3

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-07-28 18:01:34

Begitu keluar dari toko perlengkapan bayi, Rachel masih beberapa kali menoleh ke belakang. Tatapannya seolah belum rela meninggalkan deretan pakaian mungil yang tadi sempat mereka lihat.

Bagas yang berjalan di sampingnya tersenyum dan bertanya, "Kepikiran?"

Rachel mengangguk kecil. "Iya."

Bagas melirik sekilas ke arah Rachel. "Pengen beli?"

Rachel langsung menggeleng cepat. "Enggak."

"Kenapa?"

Rachel mengusap pelan perutnya. "Masih lama, Mas. Baru empat bulan. Lagian... " Dia tersenyum ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁵—Menjadi Diri Sendiri~

    Dua hari kemudian...Pukul tujuh pagi Bagas sudah berada di dalam mobilnya.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berangkat bekerja bukan untuk menjalankan sebuah penyamaran.Tidak ada identitas palsu.Tidak ada nama Lingga.Tidak ada rencana rahasia.Tidak ada target yang harus dia dekati.Hanya sebuah pekerjaan.Sederhana.Namun justru karena kesederhanaan itu, Bagas merasa sedikit asing.Dia melirik dirinya sendiri melalui kaca spion.Kemeja putih.Celana bahan hitam.Rambut yang ditata sederhana.Tidak ada lagi penampilan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian perempuan seperti Maudy.Bagas tersenyum tipis."Bagaskara..." gumamnya pelan.Nama yang selama berbulan-bulan hampir dia tinggalkan.Kemudian mesin mobil kembali dinyalakan.Dia melajukan kendaraan menuju kantor Hendra.---Hari-hari pertama bekerja ternyata tidak semudah yang Bagas bayangkan.Hendra benar-benar memperlakukannya seperti karyawan biasa.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada toleransi hanya kare

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁴—Langkah Baru~

    Malam itu, setelah mengantar Rachel kembali ke rumah Vanila, Bagas tidak ikut masuk. Dia hanya memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja sebelum kembali ke mobilnya. "Aku masuk dulu, ya," ucap Rachel. Bagas mengangguk. "Istirahat." "Kamu juga." Bagas tersenyum tipis. "Besok aku telepon." Rachel mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Bagas menunggu sampai pintu tertutup sebelum akhirnya kembali menuju mobil. Beberapa menit kemudian, mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah Vanila. Bagas tidak menuju tempat lain. Melainkan apartemennya sendiri. --- Sesampainya di apartemen Bagas meletakkan kunci mobil di atas meja. Jas yang dikenakannya dilepas dan diletakkan di sandaran kursi. Kemudian dia berdiri cukup lama di depan jendela. Pemandangan kota terlihat ramai dari ketinggian. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di bawah sana. Namun entah kenapa, malam ini pikirannya justru terasa lebih kosong. Persidangan tadi masih te

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷³—Belum Waktunya~

    Persidangan hari itu akhirnya dihentikan setelah Bagas menyelesaikan rangkaian keterangannya. Masih ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Masih ada saksi-saksi lain yang akan dihadirkan. Namun majelis hakim memutuskan pemeriksaan akan dilanjutkan pada persidangan berikutnya. Tok! Tok! Tok! Palu diketukkan tiga kali. "Persidangan ditunda dan akan dilanjutkan sesuai jadwal yang telah ditetapkan." "Sidang selesai." Semua orang mulai berdiri. Suasana ruang sidang yang sejak tadi tegang perlahan berubah ramai. Para wartawan segera keluar untuk mengejar beberapa pihak yang dianggap penting dalam perkara tersebut. Bagas turun dari kursi saksi. Sebelum kembali ke tempat duduknya, dia sempat menatap Maudy. Perempuan itu masih duduk di kursi terdakwa. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Namun kali ini... Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Bagas tahu. Beberapa bagian dari rencana Maudy sudah mulai terbuka di depan umum. Dan perempuan itu pasti menyadarinya. Bagas

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷²—Bukti-bukti

    Hakim Ketua kembali menatap Jaksa Penuntut Umum."Saudara Penuntut Umum, apakah masih ada bukti yang akan diajukan berkaitan dengan keterangan saksi?"Jaksa berdiri. "Ada, Yang Mulia."Dia lantas mengambil sebuah map tebal dari meja. "Penuntut Umum akan mengajukan beberapa dokumen medis yang berkaitan dengan almarhum Roy Darmawan."Bagas kembali menegakkan tubuhnya.Rachel pun perlahan mengangkat wajah.Jaksa melanjutkan, "Dokumen tersebut terdiri dari rekam medis pasien, catatan perawatan, catatan pemberian obat, serta hasil pemeriksaan kondisi pasien selama berada di rumah sakit."Penasihat hukum Maudy langsung berdiri."Yang Mulia, kami meminta agar seluruh dokumen tersebut diperiksa keasliannya terlebih dahulu."Jaksa mengangguk. "Itu akan dilakukan."Hakim Ketua menatap panitera. "Catat sebagai barang bukti dan lakukan pemeriksaan sesuai prosedur.""Baik, Yang Mulia."Beberapa lembar dokumen kemudian diserahkan kepada majelis hakim.Ruangan kembali hening.Jaksa lalu berkata, "Se

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷¹—Fakta Berikutnya

    IYAAA, paham sekarang 😭❤️ Jadi teks yang kamu kirim ini adalah bagian awal pemeriksaan Bagas, dan lanjutan yang kita buat harus langsung menyambung dari kalimat:> “Tidak ada jalan untuk kembali.”Bagas masih duduk tegak di kursi saksi. Tatapannya tertuju kepada majelis hakim.Dia sudah membuka terlalu banyak hal hari ini.Tentang dirinya.Tentang keluarganya.Tentang alasan dia menjadi Lingga.Tentang pernikahan sirinya dengan Maudy.Namun...Masih ada bagian yang jauh lebih berat untuk diceritakan.Jaksa Penuntut Umum kembali berdiri."Yang Mulia, kami melanjutkan pemeriksaan saksi."Hakim Ketua mengangguk."Silakan."Jaksa kembali menghadap Bagas."Saudara Bagaskara.""Iya.""Setelah Saudara mendapatkan kepercayaan terdakwa, apa yang kemudian Saudara ketahui?"Bagas menarik napas perlahan. "Maudy mulai menceritakan beberapa rencananya kepada saya.""Rencana apa?"Bagas terdiam sesaat. Tatapannya sempat beralih kepada Maudy. Perempuan itu masih duduk diam. Namun kali ini wajahnya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁰—Tidak Ada Jalan Kembali

    Bagas mengembuskan napas panjang. "Karena terdakwa adalah salah satu penyebab keluarga saya hancur."Ruangan kembali sunyi. "Siapa nama ayah Saudara?" "Raditya Saputra." "Almarhum?" "Iya." "Apa yang terjadi dengan beliau?" Bagas mengepalkan tangan di atas pahanya. "Papa saya memiliki perusahaan. Perusahaan itu kemudian mengalami kebangkrutan." Jaksa mengangguk. "Dan apa hubungan kebangkrutan tersebut dengan terdakwa?" Bagas menatap Maudy. "Maudy mengambil hampir seluruh aset perusahaan Papa." Penasihat hukum Maudy langsung berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Pernyataan tersebut merupakan tuduhan yang belum dibuktikan." Jaksa menoleh. "Kami memiliki dokumen transaksi dan laporan keuangan yang akan diajukan sebagai barang bukti." Hakim Ketua mengangkat tangannya.. "Keberatan dicatat. Saksi tetap dipersilakan menjelaskan berdasarkan apa yang dia ketahui." Bagas mengangguk kecil. Dia kembali menatap lurus ke depan, dan lanjut bicara, "Setelah aset perusahaan habis..." Suarany

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab²—Informan~

    "Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status