로그인Sementara itu, di apartemen, Kania duduk sendirian di sofa ruang tengah. Sejak Evan pergi kemarin, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia masih mengingat tatapan dingin pria itu ketika menyuruhnya diam dan menenangkan diri.Ucapan tersebut terasa menyakitkan, terlebih karena selama ini Kania selalu menganggap dirinya sebagai wanita yang paling memahami Evan.Ia bahkan rela mempertaruhkan hubungannya dengan sang papa demi membantu pria itu.Namun, mengapa sekarang ia justru diperlakukan seolah-olah hanya menjadi beban?Kania mengambil ponselnya, membuka percakapan dengan Evan, lalu menatap layar yang masih sepi. Bahkan, Evan tidak memberitahunya apakah ia akan pulang atau tidak."Dasar egois," gumam Kania sambil meletakkan ponselnya kembali. Matanya mulai terasa panas, tetapi ia buru-buru mengangkat dagu.Wanita itu tidak akan menangis hanya karena seorang pria. Apalagi pria itu adalah Evan, orang yang selama ini selalu berjanji akan memperjuangkannya.Tiba-tiba, suara pint
Hari itu, Evan meninggalkan apartemennya dengan pikiran yang kacau. Pintu lift tertutup di belakangnya. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri sendirian di dalam lift dengan rahang mengeras dan kedua tangan masuk ke saku celana.Bayangan wajah Kania ketika dirinya membentak wanita itu tadi sore terus terlintas di benaknya.Ia masih bisa mengingat jelas bagaimana Kania menatapnya dengan mata membelalak, seolah tidak percaya bahwa pria yang selama ini selalu memanjakannya bisa bersikap sedingin itu.Evan mengembuskan napas kasar.Sial!Kenapa ia justru memikirkan hal seperti itu?Bukankah ia hanya sedang berusaha menyelamatkan bisnisnya?Ting!Pintu lift terbuka. Evan melangkah keluar menuju lobi apartemen, lalu berjalan ke mobilnya yang terparkir di area khusus penghuni. Setelah masuk, ia melemparkan jas ke kursi penumpang dan menyalakan mesin.Namun, alih-alih langsung pergi ke kantor agensi, ia justru mengarahkan mobilnya menuju sebuah hotel mewah di pusat kota. Ada sebuah lo
"Apa-apaan ini?"Kania duduk melipat kakinya di sofa kulit. Jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku merah menyusuri angka-angka yang tertera di lembaran laporan arus kas. Kerutan tipis perlahan muncul di dahinya yang mulus.Sebagai seorang aktris papan atas yang terbiasa melihat angka-angka nilai kontrak, Kania menangkap sesuatu yang terasa janggal. Dari suntikan dana satu triliun yang baru saja dikucurkan oleh perusahaan papanya, ada beberapa pengeluaran fantastis yang dicatat sebagai "Alokasi Investasi Aset Independen". Anehnya, rekening tujuan pengalihan modal tersebut bukan atas nama entitas bersama mereka, melainkan firma hukum milik pribadi Evan."Evan..." panggil Kania dengan intonasi bingung seraya mendongak.Evan yang baru saja keluar dari ruang kerja pribadi seraya mengancingkan lengan kemejanya langsung menghentikan langkah. Iris matanya menyipit tajam begitu melihat map laporan keuangan itu berada di tangan Kania. Namun, hanya dalam hitungan detik, raut kaku itu meluruh ber
Lampu gantung gading di ruang tengah apartemen mewah milik Evan memancarkan pendar kuning keemasan yang hangat. Di atas meja kaca berukir, dua cangkir kopi impor yang masih mengepul dipadukan dengan beberapa berkas dokumen perjanjian investasi yang baru saja ditandatangani.Kania duduk di sofa beludru, menyesap minumannya dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Beban ketakutan akan kebangkrutan dan ganti rugi denda penalti belasan miliar dari brand-brand besar yang sempat menghimpit dadanya kini terasa menguap tanpa sisa."Aku masih seperti bermimpi, Evan," cetus Kania seraya menyunggingkan senyum anggunnya, menatap pria tegap di hadapannya. "Papa benar-benar mau menyetujui suntikan dana satu triliun itu untuk agensimu."Evan yang duduk di seberang meja tersenyum manis, memancarkan pesona matang yang selama ini selalu berhasil membuai Kania. Pria berusia 35 tahun itu mengulurkan tangan, meraih jemari Kania dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jar
Suara deru mesin mobil SUV hitam yang dikendarai Reno melaju membelah jalanan ibu kota. Di kursi penumpang belakang, Mentari duduk di samping Dewa sambil memandangi deretan bangunan yang melintas di luar jendela. Pagi itu, alih-alih langsung pergi ke kantor Mahendra Group, Dewa memilih untuk menemani Mentari menyerahkan berkas fisik pendaftaran ke kampus terlebih dahulu.Mentari berulang kali merapikan map plastik berisi salinan ijazah, formulir, dan pasfoto yang terpangku di lututnya. Ada perasaan gugup sekaligus berdebar halus yang menyelimuti dadanya.Ting!Suara notifikasi bernada nyaring mendadak muncul dari ponsel pintar barunya. Mentari merogoh saku, melihat layar perangkat canggih itu. Sebuah pesan masuk dari grup percakapan mahasiswa baru yang dibentuk oleh pihak panitia orientasi kampus tadi malam.Jemari mungil Mentari mengusap layar, membaca deretan pesan yang mengalir cepat di aplikasi chat tersebut. Tanpa sadar, bibirnya tersenyum kecil sewaktu membaca beberapa lelucon d
"Kata-kata yang mana Pak?" tanya Mentari penasaran.Dewa memajukan tubuhnya sedikit ke atas meja, memangkas jarak di antara mereka hingga Mentari refleks menahan napas."Jangan terlalu dekat dengan teman pria di kampus nanti," bisik Dewa dengan nada posesif yang samar. "Kalau ada yang mencoba mendekatimu atau minta nomor WhatsApp-mu, suruh mereka bicara sama aku dulu."Pipinya seketika terasa meledak memerah. Mentari mengingat insiden teknisi AC beberapa waktu lalu yang membuat Dewa sampai menelepon Pak Joko untuk mengganti teknisi bapak-bapak."Bapak ini... cemburuan banget sih!" cetus Mentari pelan sambil menundukkan wajahnya malu-malu."Memangnya tidak boleh?" goda Dewa santai seraya berdiri dari kursinya. Ia meraih jas mewahnya yang tersampir di kursi. Sebelum berbalik pergi, tangan tegap Dewa terulur dan mengusap puncak kepala Mentari dengan sangat lembut. "Habiskan sarapanmu. Nanti siang Reno akan mengantarmu untuk menyerahkan berkas fisik ke kampus.""Bapak nggak ikut?" tanya M







