Home / Pendekar / Pewaris Pusaka Dewa Iblis / Bab 1 – Bisikan Iblis

Share

Pewaris Pusaka Dewa Iblis
Pewaris Pusaka Dewa Iblis
Author: Gekko

Bab 1 – Bisikan Iblis

Author: Gekko
last update Last Updated: 2026-02-05 15:46:40

"Adik Zhang, kau diperintahkan menjaga perpustakaan lagi?" tanya salah satu senior bernama Xiao Bai.

Zhang Liu, pria berusia dua puluh yang selalu tersenyum dengan ramah itu, mengangguk. "Iya, Kakak Bai. "

"Itu memang cocok untukmu, yang bahkan kesulitan membentuk inti jiwa," sahut senior Xiao Lu di samping Xiao Bai, dengan nada mengejek.

Xiao Bai tertawa remeh matanya jelas memandang rendah Zhang Liu.

"Jangan seperti itu. Mau bagaimanapun, dia yatim piatu yang dirawat Ketua Sekte, jadi bisa dibilang dia itu anak ketua."

"Anak angkat maksudmu? Haha!" balas Xiao Lu sambil tertawa kencang, begitu pun Xiao Bai.

Sedangkan Zhang Liu hanya bisa tersenyum. Dia menerimanya karena itu semua memang benar.

Zhang Liu merasa malu. Dia juga ingin jadi pendekar yang membanggakan. Tapi Ketua Sekte sama sekali tak menuntut apa pun darinya.

Kultivasi Zhang Liu terhenti sebelum pembentukan inti jiwa atau Qi Condensation. Padahal itu hal dasar untuk menjadi seorang pendekar.

Dua senior itu pergi sambil tertawa. Zhang Liu menghela napas panjang, hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang dari atas.

"Hei, tangkap!"

Zhang Liu mendongak. Refleks menangkap buah persik yang dilempar dari atas pohon. Pria itu adalah Yuan Su, anak sulung ketua sekte.

"Terima kasih, Senior Yuan Su," ucap Zhang Liu dengan senyuman tipis.

Yuan Su mengangguk singkat. Dia mengibaskan tangan, mengisyaratkan Zhang Liu untuk pergi. Yuan Su sendiri malah berbaring dan tidur di atas pohon.

Meski terlihat ketus, Yuan Su tak pernah sombong atau memandang rendah Zhang Liu. Dia tidak seperti dua orang tadi. Bisa dibilang Yuan Su sudah seperti saudaranya.

Zhang Liu kembali melanjutkan langkahnya. Tapi Yuan Su berbicara di belakangnya.

"Jangan mati, Zhang Liu."

Zhang Liu mendongak lagi dengan wajah penuh rasa penasaran. "Maksudnya?"

Tapi Yuan Su hanya diam. Dia malah terpejam seolah tak berniat menjawab. Zhang Liu menaikkan kedua bahunya, lalu kembali melangkah sambil memakan buah persik di tangannya.

Perpustakaan itu ada di tempat yang cukup jauh. Tugas Zhang Liu sederhana, hanya menjaga berjaga dan membersihkannya sesekali. Dan saat ini perpustakaan. Jam kunjungan para murid sudah berakhir.

Tapi saat Zhang Liu hendak membuka pintu perpustakaan, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Dia menoleh, dan ternyata suara itu berasal dari bangunan utama sekte.

"Apa ada pertandingan?" gumamnya masih berpikir logis.

Tak lama, Zhang Liu melihat puluhan orang-orang berpakaian putih terbang di atas pedang melintasinya. Dia menyipit dan mengenali simbol lingkaran emas di punggung mereka. Itu adalah sekte Tiansheng.

Ledakan kembali terdengar. Suara peringatan akhirnya terdengar kencang, tanda bahaya. Samar-samar beberapa orang berteriak.

"Penyerangan! Sekte kita diserang!"

Zhang Liu membelalak kaget. Tanpa pikir panjang dia bergegas kembali, tapi tiba-tiba muncul sosok pria tua dengan pakaian hijau dan putih yang khas. Tubuhnya tegap penuh wibawa.

"Guru, sekte kita diserang!"

Ketua Sekte, Yuan Bo, mengangguk. "Aku tahu. Karena itu kau tetap di sini."

"Tapi, aku ingin membantu—"

"Tidak!" sela Yuan Bo menekankan. "Di perpustakaan terdapat harta warisan kita. Kau tetap di sini, paham?"

Zhang Liu menunduk. Tangannya terkepal. Rahangnya menegang karena tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah.

"Baik, Guru."

Yuan Bo tersenyum tipis, lalu menepuk pundaknya. "Kau harus tetap selamat."

Setelah mengatakannya itu, Yuan Bo menaiki pedangnya lagi dan melesat pergi. Zhang Liu hanya bisa menatap dari kejauhan. Dia merasa tak berguna dirinya di saat genting.

Tapi, penyergapan itu tak hanya menargetkan bangunan utama sekte saja. Perpustakaan yang Zhang Liu jaga pun salah satunya. Beberapa orang berpakaian putih datang menyerang.

"Ada satu lagi di sana, cepat musnahkan!" seru salah satu dari mereka langsung menarik pedang.

Zhang Liu tersentak dan langsung menahan mereka. Tapi lawannya berada di tingkat lebih tinggi darinya. Serangan mereka menghancurkan perpustakaan.

Sampai akhirnya Zhang Liu terluka parah. Dia terdorong ke sudut ruangan, dekat patung naga. Beberapa rak buku menimpa tubuhnya. Dia terjebak dan tak bisa keluar.

"Biarkan saja, dia pasti sudah mati. Energi qi-nya melemah. Kita cari ke tempat lain," ujar salah satu pendekar berpakaian putih itu, lalu pergi bersama rekannya yang lain.

Tapi, Zhang Liu memang memiliki energi qi yang lemah dan sangat sedikit. Tanpa mereka ketahui, Zhang Liu tak mati. Dia terjatuh ke dalam ruang rahasia di bawah patung.

Zhang Liu mendarat keras di atas batu yang dingin. Tubuhnya penuh dengan luka yang parah. Cukup lama dia tak sadarkan diri.

Di atas batu altar, melayang sebuah jantung kristal yang berdenyut. Setengahnya bersinar putih-emas murni, setengahnya lainnya bergelora merah-hitam.

Dalam alam kesadarannya, Zhang Liu berusaha untuk bangkit. "Sialan. Andai saja aku lebih kuat, padahal guru sudah mempercayakan perpustakaan ini padaku."

Karena ucapan itu, tiba-tiba terdengar gema suara yang terdengar menyeramkan, namun memikat.

"Kau ingin kekuatan? Aku bisa memberikannya. Kau dapat dengan mudah mengalahkan mereka."

Di tengah rasa putus asa yang mendalam, Zhang Liu menerima tawaran itu. Apa pun akan ia lakukan untuk menyelamatkan sektenya.

Dalam sekejap, kedua cahaya emas dan merah itu menyambar seperti petir, lalu menembus dada Zhang Liu yang terbuka.

Rasa sakit yang tak terbayangkan muncul. Api dan es. Terang dan gelap. Ketinggian surgawi dan jurang neraka. Semuanya sekaligus menyatu, bertarung, di dalam setiap sel tubuhnya.

Zhang Liu menjerit, tetapi tak ada suara keluar. Hanya ledakan dahsyat dari tempatnya berada. Tumpukan rak buku terlempar, termasuk bangunan perpustakaan yang kini telah runtuh akibat hempasan tangannya.

"Kekuatan ini milikmu. Habisi mereka yang menindasmu," bisik suara menyeramkan sebelumnya.

Zhang Liu kini berdiri tegak. Cahaya emas dan merah pekat terpancar dari dada. Jantung Duality yang legendaris tertanam dalam tubuhnya.

Ketika membuka mata, muncul cahaya mereka menyala. Zhang Liu melihat sekeliling sektenya yang sudah hancur terbakar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 7 – Tingkat Kultivasi

    'Apa aku bisa lolos darinya?' Zhu Pei terus memikirkan cara untuk melepaskan diri dari kutukan itu. Dia tak mau berurusan dengan orang seperti Zhang Liu.Tapi Zhu Pei hanya diam dan tetap menuruti perintah Zhang Liu. Mereka menggali tanah dan menguburkan mayat-mayat anggota sekte Dianyu.Dan terakhir, Zhang Liu membaringkan mayat Ketua Sekte, Yuan Bo. Dia menyimpan pedang milik gurunya sebagai kenangan terakhir. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh di makam mereka.'Guru, dan semua senior. Maaf karena hanya aku yang selamat. Tapi aku janji, akan membalaskan dendam atas kematian kalian.'Setelah beberapa saat hening, Zhang Liu berdiri. Wajahnya kembali datar dan dingin."Kita pergi.""Ke mana?" tanya Zhu Pei, berusaha tidak terdengar terlalu penasaran."Kita mencari bahan yang kubutuhkan," kata Zhang Liu, mengulang informasi yang Hui Shen beritahu dalam kepalanya. "Pucuk Bunga Lili Hitam, dan Darah Burung Gagak Betina."Zhu Pei mengerutkan kening. "Pucuk Bunga Lili Hitam itu langka, biasa

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 6 – Jantung Duality

    "Benar!" seru Hun Mo bersikeras. "Jika kau memilihku, kau akan menjadi raja iblis selanjutnya, dan dunia ini akan tunduk padamu."Perkataan Hun Mo begitu menggoda bagi sebagian orang yang haus akan kekuasaan. Tapi saat Zhang Liu hampir terbawa, tiba-tiba Hui Shen menyela. Suaranya terdengar tenang namun dalam."Kekuasaan mutlak datang dengan harga yang mutlak pula, Zhang Liu. Kau akan kehilangan dirimu sendiri dalam hawa nafsu dan kegelapan. Hun Mo hanya ingin menguasai tubuhmu.""Diam kau, Hui Shen!" geram Hun Mo kesal. Tapi Hui Shen masih tetap menasihati Zhang Liu dengan tegas dan penuh kelembutan."Kekuatanku memberimu ketabahan dan kebijaksanaan untuk menahan amarah yang membabi buta. Biarkan cahaya dewa membimbing amarahmu menjadi keadilan, bukan pembantaian."Zhang Liu terkatung-katung di antara kedua pilihan itu. Amarahnya berteriak memilih Hun Mo, kekuatan brutal dan instan untuk pembunuhan. Tetapi nurani dan akal sehatnya cenderung pada jalan Hui Shen."Aku, tidak bisa memil

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 5 – Dewa Atau Iblis

    "T-tidak." Zhu Pei langsung menggeleng cepat. "Aku tidak tahu apa-apa soal penyerangan itu."Namun Zhang Liu sama sekali tak percaya. Kemarahan karena kehancuran sektenya masih membara. Dia tak mudah mempercayai siapa pun sekarang."Jangan main-main, Zhu Pei. Kau bisa melihat dua sosok di belakangku. Jadi aku bisa saja membunuhmu sekarang."Zhu Pei seketika menelan ludah. Jantungnya semakin berdebar panik.'D-dia tahu aku bisa melihatnya?'Dengan penuh kepasrahan, Zhu Pei akhirnya menunduk. Fakta tentang mata kebenarannya sudah terlanjur ketahuan."Aku memang bukan seorang tabib dari desa. Aku dari sekte Zhanlang, tapi sudah lama kabur karena aku diincar karena mataku. Jadi sekarang hanya bekerja sebagai tentara bayaran."Zhang Liu mendengus. Kedua tangannya dilipat. "Aku tak peduli dengan masalahmu. Yang kutanyakan, apa kau berkaitan dengan penyerangan sekteku?""Aku benar-benar tidak tahu. Kebetulan saja aku datang saat sektemu diserang. Aku hanya datang mengambil tanaman obat di si

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 4 – Mata Kebenaran

    "Tenang saja," jawab Hui Shen sambil tersenyum tipis. "Aku sudah menyegel kekuatan Jantung Duality sebelum kau bisa menyerap sepenuhnya."Mendengar hal itu, Zhang Liu menghela napas lega. Hui Shen masih melanjutkan perkataannya."Tapi kau harus memenuhi syarat lain dan mencari tanaman langka untuk membuka setiap segelnya."Tekad Zhang Liu semakin kuat saat mendengar dirinya mewarisi kekuatan legendaris."Di mana aku bisa menemukannya?""Di tempat yang berbahaya," jawab Hun Mo, bibirnya menyeringai jahat. "Dan kau akan sulit mendapatkannya dengan tubuh lemah itu. Oleh karena itu, berikan saja tubuhmu pada—""Diam, Hun Mo!" Hui Shen langsung menyela dan menegurnya. Dia menjentikkan jari.Seketika muncul tali yang mengikat tubuh Hun Mo, serta kain yang membungkamnya. Dia tak bisa bicara dan hanya bisa meronta.Zhang Liu berkedip beberapa saat melihat interaksi unik mereka.Hui Shen kembali berbicara. "Untuk persyaratan membuka segel, kami akan memberitahumu nanti. Saat ini kau sudah memb

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 3 – Kau Akan Mati

    "Jangan dengarkan dia! Bunuh mereka semua!" Hun Mo meraung, memerintahkan hal sebaliknya.Tapi tubuh Zhang Liu sendiri yang memutuskan. Dia membaringkan tubuh gurunya perlahan. Tubuhnya sedikit gemetar, mendorongnya untuk berdiri."Maafkan aku, Guru. Aku pasti akan membalaskan dendam sekte kita."Dengan sisa kekuatan, Zhang Liu melesat meninggalkan tempat itu secepatnya. Kakinya membawanya menuju bukit kecil di pinggiran sekte. Setiap langkah adalah siksaan. Setiap tarikan napas seperti mengisap pecahan kaca.Kekuatan mengerikan yang Zhang Liu gunakan tadi seperti racun yang menggerogoti dari dalam. Pembuluh darahnya terasa terbakar. Otot-ototnya menegang dan hampir robek.Zhang Liu mencapai balik bukit, tersembunyi dari pandangan. Di sini, bau api dan darah sudah tidak terlalu kuat. Hanya ada bau tanah dan daun basah.Zhang Liu tidak bisa lagi menahannya. Kekuatannya habis. Dia terjatuh di antara semak-semak. Pandangannya mengabur, berubah menjadi kegelapan. Di ambang ketidaksadaran,

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 2 – Hancurkan Semua

    "Beraninya mereka menyerang sekteku. Tidak bisa dimaafkan!"Kekuatan yang mendidih di dalam Zhang Liu meluap. Itu bukan energi qi yang dia kenal. Dia melangkah keluar dari reruntuhan perpustakaan.Setiap jejak kakinya meninggalkan jejak retakan di tanah. Asap hitam membumbung dari paviliun latihan yang ambruk. Teriakan telah berhenti, digantikan oleh senyap gemerisik api."Lihatlah." Suara berat dan menyeramkan itu kembali bergema di kepalanya. Dia adalah sisi gelap jantung duality, Raja Iblis Hun Mo. "Mereka menghancurkan semuanya. Tunjukkan pada mereka arti kekuatan sejati."Amarah yang sudah menyala-nyala, disiram minyak oleh bisikan itu. Zhang Liu tidak banyak berpikir lagi. Dia mengambil sebuah pedang yang tergeletak di tanah.Di depan sana, terdapat dua anggota Tiansheng yang masih mencari mangsa."Sepertinya tidak ada lagi yang tersisa, ayo kemba—" Kalimat itu tidak selesai ketika mereka melihat sosok Zhang Liu."Bukankah itu bocah di perpustakaan tadi? Bagaimana bisa dia masih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status