LOGINBab 54. BERBOHONG “Dewa...!” Dari bibir merah Arini meluncur nama Dewa sambil menatapnya dengan tatapan tajam. Kali ini Dewa mulai menyunggingkan sebuah senyuman manis, tentu saja dia sedang bersandiwara dan berusaha menjadi Dewangkara Atmaja yang asli. Meskipun hal ini tidak seperti Dewa yang sebenarnya. “Ada apa sayang?” Arini tidak langsung menjawab pertanyaannya dewa, namun ekspresi wajahnya terlihat mulai membaik, begitu mendengar sapaan manja dari Dewa. Matanya segera memandang ke sekelilingnya, dan saat melihat ada puluhan pasang mata tertuju pada mereka, seketika itu juga rasa malu mulai menghantuinya. “Ayo kita cari tempat untuk berbicara,” dengan sigap Arini menggandeng tangan Dewa agar mengikutinya. Dengan tanpa daya, Dewa mengikuti ajakan Arini, dia harus bisa berperan dengan baik sebagai Dewangkara. Hanya saja dia belum terlalu tahu, sikap pemilik tubuh asli ini terhadap kekasihnya. Yang bisa dilakukan Dewa, hanya mengikuti a
Bab 53. ARINI KUSUMA “Dewa….” Terdengar gumaman lirih dari bibir merah wanita yang ada di pelukan Dewa. Meskipun suara itu seperti sebuah bisikan, akan tetapi ditelinga Dewa, suara itu bisa didengar dengan sangat jelas. Apalagi suara itu berasal dari wanita yang ada dalam pelukannya. Dewa yang memang sebagian memorinya belum diunduh semuanya dari pemilik tubuh yang ditempatinya, tentu saja tidak bisa langsing ingat maupun mengenali wanita ini. “Mbak, kalau jalan hati-hati, untungnya saya reflek menangkap tubuh mbaknya. Kalau tidak, mbaknya pasti sudah jatuh mencium lantai” kata Dewa sambil melepaskan pegangan pada tubuh wanita itu. Bukannya berterima kasih kepada Dewa yang telah membantunya dari insiden itu, wanita itu malah terbengong menatap wajahnya “Mas Dewa? Ini beneran mas Dewa?” Sepasang mata indah wanita itu menatap sosok Dewa dari atas hingga kaki dengan dengan ekspresi tidak percaya. Bagaimanapun juga saat ini dia bertemu dan melihat soso
Bab 52. BERTEMU KEKASIH MASA SMA Di kepala Dewa seketika dipenuhi rencana untuk memberi hukuman kepada dua orang yang mempunyai hati busuk ini. “Anak ini?” Gerutu Carlita dengan wajah nyengir merasa kesal dengan sikap Dewa yang men cuekin dia. Dengan santainya Dewa malah makan kue yang tersaji diatas meja, menghiraukan percakapan para orang tua. Lama-kelamaan dia merasa bosan dengan obrolan mereka, Dewa segera pamitan ke orang tuanya untuk keluar. “Bunda, Dewa mau keluar dulu,” kata Dewa yang segera bangkit dari duduknya, kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga tanpa menunggu persetujuan Angelina maupun yang lainnya. Carlita dan Joko langsung takjub, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata kepala sendiri. Tentu saja mereka sangat tidak percaya, melihat perubahan yang begitu mencolok pada sikap Dewa. Mereka sangat tahu, kalau dulunya Dewa sangat santun kepada orang yang lebih tua Bagi Darius, Angelina dan Bambang yang sudah
Bab 51.RENCANA HUKUMAN YANG PANTAS Begitu sampai di ruang keluarga, Dewa sama sekali tidak menyapa paman dan bibinya. Dia malah duduk begitu saja di kursi yang kosong. Tingkah Dewa yang absurd ini, tentu saja membuat semua orang kebingungan, karena yang mereka tahu, biasanya Dewa akan mencium tangan paman dan bibinya. Akan tetapi kebiasaan itu kini sudah tidak ada, karena itulah mereka terbengong-bengong sambil menatap sosok Dewa dengan ekspresi tidak percaya. “Dewa, kenapa kamu tidak sungkem dengan paman dan bibimu?” Angelina Widodo segera saja menegur Dewa dan mengingatkan apa yang harus dilakukan anak saat bertemu dengan saudara yang lebih tua. Dewa menatap ibunya, kemudian menatap kearah paman dan bibinya. Dengan kemampuan yang dimilikinya dia bisa sangat mudah membaca apa yang ada didalam pikiran mereka berdua Dengan Ajian pencari jiwa tingkat rendah, Dewa bisa mencari ingatan paman dan bibinya dari jarak jauh Ajian ini b
Bab 50. PEMILIK HATI BUSUK Demikian juga teman-teman satu kelas, mereka hanya bisa mencibir dalam hatinya. Para mahasiswa juga bingung, karena pihak kampus tidak pernah menegur atau memberi skors atas semua kelakuannya. Sepertinya Dewa memang sudah malas untuk belajar yang baginya tidak penting. Hal ini tentu saja sangat wajar, dengan usia aslinya yang sudah ribuan tahun, bagi Dewa sudah bukan waktunya lagi untuk belajar sesuatu yang tidak penting bagi peningkatan Kanuragan nya. Hanya saja dia mencoba mengikuti kehidupan tubuh yang ditempatinya. Waktu berlalu tanpa terasa, satu semester sudah terlewati di kampus Nusantara. Nama Dewa sudah sangat terkenal sebagai biang kerok dan kekuatannya membuat tidak ada satu mahasiswa pun yang berani ribut dengannya. Selama satu semester, tidak ada satupun mahasiswa yang tahu, kalau Universitas Nusantara ini adalah milik orang tuanya. Semua mahasiswa hanya tahu, kalau Dewa berlatar belakang seorang kong
Bab 49. CENGKRAMAN MAUT Dewa menatap komandan pengawal keluarga Tanoto di depannya dengan tatapan datar, bagi Dewa manusia seperti George tidak pantas dipandang dengan dua mata. George lebih pantas dipandang dengan mata terpejam, karena kesombongannya tidak seimbang dengan kemampuannya. “Kamu….” Terdengar suara yang cukup pelan dari mulut Dewa, sementara jaringan tangannya bergerak memberi isyarat agar George datang mendekat. Begitu mendengar perkataan Dewa, tenggorokan George seakan langsung mengering, jakunnya terus bergerak naik turun untuk menelan ludah. Sedangkan kedua kakinya entah kenapa bergetar sendiri, membuat keperkasaan nya sebagai komandan pasukan langsung tercoret dengan telak. George tetap berdiri diam ditempatinya, dia sama sekali tidak berani untuk berjalan mendekat kearah Dewa. Sementara itu Shanti dikejauhan, sedang berdiri terpaku melihat pengawal andalannya sama sekali tidak berguna. Melihat George sama sekali tidak men
Bab 14. NAMA ASLI DEWA ALIAS DEWA PENGHANCUR “Eh, ada teman-temannya Monalisa datang berkunjung. Maaf, Om dan Tante tidak menyiapkan jamuan untuk kalian,” sapa Isabella Gorgodze dengan ramah. Begitu melihat kedatangan kedua orang tua Monalisa, keempat sahabatnya segera berdiri dan menciu
Bab 13. BERDIRI TERTOTOK Di saat Dewa dan yang lainnya sudah keluar dari resto, tubuh Bagus tampak mulai dipenuhi keringat dingin. Rasa takut yang entah datang dari mana membuatnya sangat panik, namun rasa paniknya sama sekali tidak bisa dikeluarkan. Selain mulutnya yang membisu, tubuhnya juga
Bab 10. COGAN COWOK GANTENG Setelah menyimpan semua belanjaannya kedalam ruang penyimpanan spiritual, Dewa kembali keluar dari hotel. Waktu masih terlalu pagi untuk tiduran didalam hotel, tidak seperti kemarin yang seharian tinggal di kamar hotel sambil menonton acara televisi. Kali ini
Bab 6. MENGURUNG DIRI“Tolong Kartu identitas Anda,” kata resepsionis cantik yang melayani Dewa dengan sopan serta senyum mengembang di sudut bibirnya.Dewa tampak bingung saat dimintai untuk menyerahkan kartu identitas, maklumlah dia baru saja memasuki dunia fana yang energi spiritualnya sangat le







