تسجيل الدخولBab 16. DIHADANG PREMAN “Kalian mau ngapain?” kata ibu muda itu dengan ekspresi takut mulai tergambar jelas di raut wajahnya. “He he he he… mau ngapain? Tentu saja mau nemenin eneng yang cantik,” kata salah satu preman yang memakai jaket denim belel. “Ibu… dede takut…” rengek gadis kecil yang ada dalam pegangan ibu muda ini sambil memegangi tangan ibunya dengan lebih kencang lagi. “Anak manis, jangan takut, Om akan menemani kalian malam ini,” bujuk preman dengan jaket denim belel sambil menyunggingkan senyumnya yang mengerikan di mata gadis kecil ini. “Nggak mau, eneng nggak mau ikut Om jahat,” kata gadis kecil itu sambil bersembunyi di belakang tubuh ibunya. “He he he he…. lihatlah anakmu sepertinya sudah kecapekan, bagaimana kalau kalian bermalam di tempat kami?” Para preman ini tentu saja tanpa alasan berani mengganggu ibu dan anak ini, selain mereka tinggal di sekitar tempat ini. Yang pasti mengenal setiap warga yang sering makan di jalan kuliner ini.
Bab 15. IBU MUDA “Tentu saja saya akan meninggalkan kota Sukabumi, apalagi saya memang bukan warga Sukabumi,” kata Dewa dengan santainya seakan tidak menanggung beban apapun. Monalisa dan yang lainnya langsung terdiam begitu mendengar perkataannya, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Monalisa menghela nafas dan berkata, “Memang benar apa kata kang Dewa barusan, dia disini sedang berlibur. Jadi wajar kalau kang Dewa akan pulang ke rumahnya.” Keempat sahabat Monalisa seketika itu menyadari apa yang dikatakannya. Setelah itu mereka langsung tertawa bersama, maklumlah mereka masih remaja, sehingga jika menemukan kata-kata yang aneh, mereka bisa dengan bebas tertawa terpingkal-pingkal. Setelah itu suasana kembali mencair, obrolan-obrolan ringan terjadi antara mereka. Sesekali mereka mengajak Dewa berbicara dan ikut bercanda menceritakan situasi di sekolahan. Sekitar satu jam lamanya Dewa bermain di rumah Monalisa, hingga akhirnya sahab
Bab 14. NAMA ASLI DEWA ALIAS DEWA PENGHANCUR “Eh, ada teman-temannya Monalisa datang berkunjung. Maaf, Om dan Tante tidak menyiapkan jamuan untuk kalian,” sapa Isabella Gorgodze dengan ramah. Begitu melihat kedatangan kedua orang tua Monalisa, keempat sahabatnya segera berdiri dan mencium punggung tangan mereka. Hanya satu orang yang tetap diam tidak melakukan hal yang sama seperti keempat sahabat Monalisa. Hal ini tentu saja membuat kedua orang tua Monalisa mengernyitkan dahi dan berpikir kalau Dewa tidak mempunyai sikap sopan santun yang baik saat bertemu dengan orang tua. Demikian juga dengan Monalisa, dia heran dengan sikap Dewa yang begitu santai saat ada kedua orang tuanya. Hal ini tentu saja membuatnya kecewa dan takut, jika sikap Dewa membuat kedua orang tuanya tidak suka dengannya. Kedua orang tua Monalisa sepertinya tidak terlalu memperpanjang sikap Dewa, maklumlah mereka sudah lama tinggal di luar negeri, yang masyarakatnya tidak terlalu mengang
Bab 13. BERDIRI TERTOTOK Di saat Dewa dan yang lainnya sudah keluar dari resto, tubuh Bagus tampak mulai dipenuhi keringat dingin. Rasa takut yang entah datang dari mana membuatnya sangat panik, namun rasa paniknya sama sekali tidak bisa dikeluarkan. Selain mulutnya yang membisu, tubuhnya juga tidak bisa digerakkan. Rekan Bagus yang sebelumnya datang bersamanya langsung curiga terhadap keadaannya yang aneh. Mereka segera mendekat. Sebelumnya mereka tidak terlalu curiga dengan keadaan Bagus, akan tetapi setelah rombongan Dewa dan yang lainnya pergi, barulah mereka tersadar dari pikirannya yang salah. “Bagus, apa yang terjadi? Kenapa kamu diam saja melihat Monalisa pergi,” tegur salah satu rekan Bagus. Sebelumnya, mereka datang ke resto bertiga. Mereka juga sudah tahu serta mengenal Mona Lisa sebagai gadis gebetan Bagus yang sedang dikejarnya. Karena itulah, saat melihat Bagus mendekat ke kemeja Monalisa, mereka diam saja. Bagus yang mendengar sapaan rekannya h
Bab 12. TERBAKAR API CEMBURU “Monalisa, apa yang sedang kamu lakukan dengan pria ini!” Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang yang mengagetkan Dewa dan yang lainnya yang baru saja duduk dan memesan makanan. Monalisa yang sedang bersikap manja dan berusaha merayu Dewa, seketika jantungnya seakan mau copot ketika mendengar namanya dipanggil dengan nada yang keras menggelegar. Demikian juga dengan keempat temannya, mereka segera menengok ke sumber suara. Seketika itu juga, mereka berlima tampak berubah ekspresi wajahnya. Sebagai sahabat Monalisa, keempat temannya tentu saja tahu siapa saja pria yang dekat dengannya. Seperti saat ini, mereka melihat seorang pria muda yang usianya lebih tua sedikit daripada mereka,sedang berdiri dengan wajah memerah dan lobang hidung bergerak-gerak seperti kerbau yang sedang menahan amarah. Pemuda yang baru saja menyebut nama Monalisa ternyata adalah Bagus yang merupakan pengagum Mona Lisa. Meskipun mereka
Bab 11. BAGAI RAJA DAN PARA SELIRNYA Dewa menatap gadis SMA di depannya dengan tatapan heran, dia sedikit terkejut, karena didunia fana ini ternyata para gadis begitu berani menyapa pria yang tidak mereka kenal. Dengan ekspresi datar, Dewa menjawab, “Saya tidak sedang menunggu siapapun, kebetulan saja lewat depan sekolah ini dan bertepatan dengan kalian yang baru keluar darinya sekolah. Begitu mendengar jawaban Dewa yang apa adanya, gadis SMA itu malah tersenyum lebar, demikian juga dengan empat temannya yang lain. “Kamu dengar apa kata Cogan ini? Ternyata dia tidak sedang menunggu siapapun, ini artinya kita punya kesempatan,” bisik salah satu gadis SMA di barisan belakang. “Betul, mari kita adakan lomba, siapa yang bisa menggaet Cogan itu kita iuran untuk makan besar di Saung.” “Setuju…” semua gadis SMA menyatakan persetujuan hampir secara bersamaan. Sementara itu, gadis SMA tercantik yang menyapa Dewa tampak menjual senyuman termanis yang dimilikiny







