Mag-log in"Z-Zacky! Tunggu sebentar!" cicit Thalia panik sambil menepuk lengan Zacky begitu pintu lift eksekutif terbuka di lantai dasar. Ia memegangi perut bagian bawahnya dengan raut wajah meringis menahan buang air kecil. Zacky menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah gadis di sampingnya dengan alis terangkat tipis. "Ada apa, Thalia?" "A-aku mau mampir ke kamar mandi sebentar, Zacky. Kebelet banget dari tadi di ruangan..." bisik Thalia dengan pipi memerah canggung. "Kamu jalan duluan aja ke mobil, nanti aku langsung nyusul ke sana." Zacky menatap Thalia sejenak sebelum mengangguk pelan. "Jangan lama-lama, Thalia. Aku tunggu di dalam mobil." "Iya, Zacky! Cuma sebentar kok!" seru Thalia lega, buru-buru memutar langkah melintasi koridor menuju area toilet wanita terdekat di lantai satu. Begitu memutar kran dan membasuh tangannya di wastafel beberapa saat kemudian, Thalia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya masih menyisakan rona kemerahan, dan bayangan perkat
Tubuh Thalia seketika menegang karena jarak mereka yang sangat dekat. Hembusan napas Zacky yang hangat menyapu pipi dan lehernya, membuat konsentrasi Thalia seketika buyar total. "I-itu... Di bagian kolom ketiga ini, Zacky..." Thalia menunjuk dengan jari tangan yang gemetar. Zacky memperhatikan lembaran kertas itu sejenak, lalu jemari besarnya memegang tangan Thalia yang sedang memegang pena, membimbing jari mungil gadis itu untuk mencoret salah satu angka kesalahan input. "Divisi logistik lupa memasukkan potongan pajak lima persen di lembar lampiran," bisik Zacky serak tepat di telinga Thalia. "Hitung ulang dengan rumus ini." "O-oh... Gitu ya, Zacky..." cicit Thalia mengangguk-angguk paham, meskipun dadanya sudah berdebar hebat dalam kungkungan Zacky di belakangnya. Setelah selesai memberikan petunjuk pada Thalia, Zacky bukannya kembali ke mejanya, pria itu justru semakin mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan lembut di pipi gadis itu. "Pintar," puji Zacky singkat.
Thalia masih memperhatikan Zacky yang hanya bergeming ditempatnya, semua pandangan tertuju ke arahnya. ‘Kenapa sia diam aja sih?! Apa Zacky juga terpesona sama Manajer baru itu?! Dia memang lebih cantik dari aku cantik sih! Tapi.. Rasanya sakit banget lihat Zacky digodain wanita lain..’ batin Thalia mulai gelisah. Zacky menatap Vania dengan tatapan mata yang sangat dingin dan mengintimidasi. "Semua diskusi terkait proyek pemasaran harus disampaikan secara resmi di jam kerja melalui asisten pribadi saya," jawab Zacky dingin, datar, dan tanpa kompromi. "Saya tidak menerima janji temu privat di luar jam kantor." Jawaban menohok dari Zacky seketika membuat wajah Vania pucat pasi. Beberapa direksi lain tampak menahan tawa melihat kepedean manajer pemasaran itu yang langsung ditolak mentah-mentah oleh CEO mereka. "B-baik, Pak Zacky... Maafkan saya," cicit Vania menunduk malu setengah mati. Mendengar jawaban Zacky, sudut bibir Thalia refleks menyunggingkan senyuman keme
"Nngghh! Aahhh! Za-Zacky... Jangan digigit... Nngghh..." desah Thalia pasrah. Kepala gadis itu mendongak ke atas dengan mata berembun gairah. Jemari tangannya meremas helai rambut hitam Zacky tanpa sadar. Pria itu terus menyesap squishy Thalia, meninggalkan tanda kepemilikan baru yang hangat di dada mulus Thalia. Setiap hisapan dan gigitan kecilnya membuat tubuh mungil Thalia meremang hebat. "Ssshh... Kamu selalu terasa sangat manis, Thalia..." gumam Zacky serak di sela-sela lumatannya. "Z-Zacky... S-sudah... Ssshhh... Punya kamu... Punya kamu makin keras di bawah..." cicit Thalia malu-malu. Ia berusaha menggeser pinggulnya karena merasa gelisah karena dorongan naga milik Zacky yang tegang, menekan tepat dibagian bawahnya. "Itu karena kamu yang memancingnya," balas Zacky datar. Pria itu mengangkat wajahnya, menatap bibir ranum Thalia yang basah dan sedikit m
”Ta-tapi Zacky,gimana kalau nanti Osk Ivan atau direksi masuk mencari mu..." cicit Thalia pelan, ia hanya bergeming, jari tangan saling meremas cemas.“Aku sudah kunci pintunya otomatis dari sini, Thalia. Sekarang, mendekat kemari..” Zacky memberi isyarat dengan tangannya. Thalia akhirnya menurut, ia melangkah pelan hingga berdiri tepat di samping kursi kerja Zacky. Sebelum sempat Thalia bereaksi, tangan Zacky bergerak cepat menyambar pinggang ramping gadis itu, menarik tubuh mungil Thalia hingga terduduk tepat di atas pangkuannya!"E-eh! Zacky!" pekik Thalia kaget, refleks melingkarkan tangannya di leher tegap Zacky agar tidak terjatuh. "Nanti kelihatan orang dari luar!""Kaca ruangan ini dilapisi bahan anti-intip dari luar, Thalia. Tidak ada yang bisa melihat apa yang kita lakukan di dalam sini," desis Zacky rendah seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Thalia, menghirup aroma wangi tubuh gadisnya."T-tapi kan aku m
"Makasih banyak banyak, Zacky..." cicit Thalia dengan senyuman tulus yang terpancar di wajah cantiknya. Tidak butuh waktu lama, mobil itu akhirnya memasuki area parkir khusus eksekutif di gedung AR Corp. Sebelum turun dari mobil, Thalia buru-buru merapikan pakaian kerjanya dan bersiap kembali ke mode profesional sebagai asisten pribadi. "Zacky, aku turun duluan ya... Nggak enak kalau karyawan lain lihat kita datang barengan," pinta Thalia cemas. Zacky menatap Thalia dengan pandangan tidak suka. "Kenapa harus ragu? Semua orang di kantor ini cepat atau lambat harus tahu kamu milik siapa." "Tapi kan sekarang belum saatnya, Zacky..." cicit Thalia memohon dengan wajah polosnya. "Tolong ya? Aku nggak mau ada gosip aneh-aneh yang bisa ganggu kinerja kantor." Zacky menghela napas halus, tidak bisa menolak permintaan dari gadis itu. "Baik. Tapi begitu sampai di lantai atas, langsu







