تسجيل الدخول"Mama...?" cicit Thalia kaget, menoleh menatap Zacky. "Mama yang menelepon, Zacky."Zacky menyipitkan matanya, mengangguk pelan memberi izin. "Angkat, Thalia."Thalia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya, lalu menekan tombol speaker agar Zacky juga bisa mendengarnya.[Halo, selamat siang, Mama…] sapa Thalia ramah dan lembut.[Thalia, Sayang!] suara gembira dan penuh antusiasme dari Nyonya Tamara seketika bergema jernih dari seberang telepon. Rasa duka dan kekecewaan atas pengkhianatan Sabrina kemarin tampaknya sudah sepenuhnya tergantikan dengan kebahagiaan baru.[Mama tidak mengganggu jam kerja mu dan Zacky di kantor kan?] tanya Nyonya Tamara terkekeh renyah.[Sama sekali tidak, Ma,] jawab Thalia tulus, menyunggingkan senyuman manis sambil mengusap lengan tegap Zacky yang masih melingkari pinggangnya.[Ada apa, Ma..?][Mama punya kejutan untukmu hari ini, Thalia!] seru Nyonya Tamara den
Thalia tidak berhenti di situ. Dengan keberanian yang sangat tinggi, tangan kiri Thalia menyelusup turun ke bawah permukaan meja rapat oval yang tebal.Di bawah kegelapan meja rapat, tepat di mana tidak ada satu pun mata direksi yang bisa melihat, jari tangan Thalia mendarat di atas paha tegap Zacky yang terbalut celana bahan.DEG!Tubuh tegak Zacky seketika tersentak kaku. Garis otot di lengannya menegang saat merasakan sentuhan hangat dan berani dari calon istrinya di tengah rapat resmi yang dihadiri puluhan direksi senior.Zacky perlahan menolehkan kepalanya sedikit ke arah Thalia. Manik mata menyala gelap, menatap Thalia dengan penuh gairah dan rasa terkejut yang luar biasa.Thalia tetap mempertahankan raut wajahnya yang sangat formal dan polos. Matanya menatap lurus ke arah layar proyektor seolah-olah ia sedang fokus mendengarkan presentasi audit.Namun di bawah meja rapat, jemari lentiknya mulai membelai lembut paha d
Dada Thalia berdesir hebat. Sebuah tekanan mental yang tak kasatmata mendadak menghantam mereka berdua. Musuh misterius itu tidak hanya tahu mengenai keberadaan topeng silikon di fasilitas medis rahasia kemarin, tetapi juga memantau setiap jengkal detail rencana pertunangan mereka yang seharusnya dirahasiakan. "Dia... Dia tahu soal rencana cincin pertunangan kita, Zacky..." cicit Thalia. Suaranya sempat bergetar halus untuk sepersekian detik, bayangan ancaman Arjuna yang manipulatif sempat melintas.Namun, Thalia menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan matanya sejenak, mengusir sisa-sisa cemas yang mencoba merayap, lalu kembali membuka matanya dengan binar keberanian yang jauh lebih besar.Thalia meraih ponsel dari tangan Zacky, meletakkannya kembali di atas meja, lalu menggenggam kedua tangan tegap pria itu dengan jemari lentiknya."Zacky, lihat aku," pangkas Thalia mantap, suaranya terdengar begitu jernih dan
Thalia berdiri tegak di depan meja Ivan dengan map berkas tebal di pelukan dadanya. "Pak Ivan, gimana perkembangan jadwal rapat direksi untuk siang ini?" suara Thalia terdengar lembut di ruang sekretariat eksekutif.Tidak ada lagi tatapan mata ketakutan, gemetar di ujung jemari, atau keraguan yang dulu selalu menghantuinya setiap kali isu Arjuna muncul di sekitarnya. Di bawah naungan penuh cinta dan perlindungan mutlak dari Zacky, Thalia telah bertransformasi menjadi sosok wanita tangguh, percaya diri, dan sangat profesional.Ivan menghentikan jari tangannya di atas keyboard, mendongak menatap Thalia dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan."Semua jadwal sudah ditata rapi, Nona Thalia. Rapat divisi keuangan dan audit gabungan dipindahkan ke ruang rapat utama lantai empat puluh tepat pukul sepuluh nanti," lapor Ivan penuh rasa hormat. "Pak Zacky sudah menyetujui seluruh draf materi presentasi yang Nona susun," lanjutny
Thalia melangkah mendekat ke meja kerja, matanya membelalak lebar melihat kertas bertinta merah tersebut. "Ini... Ini tinta merah yang sama dengan pesan di sel isolasi Arjuna kemarin, kan?!" pekik Thalia tertahan, suaranya gemetar halus. "Benar, Nona Thalia," jawab Ivan tegas. "Kamera CCTV basement dua merekam kejadian pada pukul 02.10 WIB tadi malam, tepat lima menit sebelum telepon interkom di penthouse berdering." "Katakan detailnya," perintah Zacky dingin dan bergetar menahan amarah. "Rekaman CCTV memperlihatkan seorang pria tinggi berjanggut tebal, mengenakan setelan jas hitam rapi dan topi fedora, berjalan sangat tenang mendekati mobil SUV milik Pak Zacky yang terparkir di slot VIP basement," lapor Ivan berurutan. "Pria itu meletakkan sebuah buket bunga mawar hitam segar di atas kap mobil SUV Anda, lalu menyelipkan surat bertinta merah ini di balik pita bunga tersebut..."
Kecupan lembut itu berlangsung perlahan, menyerap seluruh ketegangan yang menguasai bibir pria itu. Zacky terpaku ditempatnya, matanya menyempit saat merasakan kelembutan bibir Thalia yang menenangkan jiwanya yang bergejolak.Thalia melepaskan tautan bibir mereka perlahan, lalu menundukkan kepalanya sedikit. Bibir ranumnya menyapu permukaan dada bidang Zacky yang penuh urat kekar. Dengan penuh keberanian dan kehangatan sensual, Thalia memberikan gigitan lembut di atas otot dada sebelah kiri Zacky, tepat di atas posisi jantung pria itu berdetak."Aah..." erangan Zacky terdengar rendah, tangannya refleks merayap ke belakang kepala Thalia, meremas rambut cokelat gadis itu yang terurai indah."Fokus kamu ada di sini, Pak Zacky..." bisik Thalia sensual tepat di depan dada Zacky, napas hangatnya menyapu kulit pria itu. "Fokus sama aku, bukan sama teror murahan Arjuna."Gairah dan kepemilikan yang murni seketika menggantikan amar







