Share

Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali
Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali
Author: rainaxdays

01. Dijual

Author: rainaxdays
last update publish date: 2026-08-20 14:04:04

“Dasar anak tidak tahu diri! Dasar sialan! Kenapa aku harus punya anak tidak berguna sepertimu, hah?!”

Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Mira yang meringkuk di tanah.

Harto—sang ayah—tak berhenti menyiksa, meskipun Mira sudah menangis meminta ampun. Amarahnya tak terbendung karena Mira mencoba melarikan diri, padahal dia sudah dijual ke seorang Nyonya di kota.

“Ampun, Ayah! Ampun! Sakit!” Mira menangis sesenggukan sambil memeluk tubuhnya yang penuh lebam. “Ampun!”

Harto mendengus dan membuang balok kayu di tangannya. “Sekali lagi kau mencoba kabur, Ibumu yang sama tidak bergunanya itu akan Ayah habisi!”

“Ibu tidak salah! Jangan sakiti Ibu!” Mira langsung berlutut di kaki ayahnya dengan wajah memelas. Ia menggeleng-geleng dengan pipi bersimbah air mata. “Tolong jangan sakiti Ibu. Aku mohon, Ayah!”

“Cih! Kalau kau memang kasian pada Ibumu yang tidak berguna itu, jangan coba-coba untuk kabur lagi!” Harto menendang Mira sebelum melangkah kesal ke dalam rumah.

Mira meringis kesakitan dan mengusap dadanya yang berdenyut nyeri. Ia hanya berbaring di tanah berdebu yang kotor itu untuk waktu yang lama. Pikirannya kosong. Matanya terus terarah ke langit biru yang menaunginya.

Begitu indah dan menenangkan. Tidak seperti hidupnya yang suram dan kacau balau.

Umurnya baru 19 tahun, tetapi sepertinya ia tidak memiliki masa depan lagi.

Kemarin, ia telah dijual ke seorang Nyonya kaya yang datang dari kota. Ayahnya sendiri yang menjualnya. Mira tidak tahu berapa harganya, tetapi yang jelas, ayahnya pasti akan menggunakan uang itu untuk berjudi.

Ayahnya bahkan tidak mau membantu pengobatan ibunya yang sakit-sakitan.

Air mata menggenang di wajah kuyu Mira. Ia berdiri dengan susah payah, lalu menatap bekas pukulan di sekujur tubuhnya. Punggungnya rasanya akan robek karena rasa sakit yang menusuk.

Mira membersihkan pakaiannya, meskipun rasanya percuma saja. Tanpa debu sekalipun, pakaian bekasnya yang penuh tambalan tidak akan pernah terlihat bagus.

Mira mendapat sumbangan pakaian dari tetangga, tetapi semuanya sudah robek dan bolong. Mira tidak memprotes, sebab keluarganya memang sangat miskin.

Kemiskinan itu pula yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ia hanya tamat SD. Ayahnya tidak mau membiayai lebih jauh. Setidaknya, ia bersyukur karena sudah lancar membaca dan berhitung.

“Hei anak sial, cepat masuk dan masak singkongnya! Aku kelaparan di sini!”

Suara sang ayah terdengar memanggil dari dalam rumah bambu mereka yang reyot. Mira hendak melangkah masuk, tetapi suara mobil yang datang menghentikan langkahnya.

Mobil itu berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya yang hampir roboh. Mira berdiri terpaku memperhatikan mobil hitam yang mengkilap itu, sementara ayahnya terdengar mendekat dengan tergopoh-gopoh.

Pintu mobil terbuka dan seorang wanita paruh baya melangkah keluar. Pakaiannya yang berwarna ungu muda terlihat mewah dengan rumbai dan hiasan mutiara. Dia memakai kacamata hitam dan topi dengan jaring-jaring yang menutupi sebagian wajahnya.

Wanita itu mengeluarkan sapu tangan dan menutup hidungnya yang berkerut jijik. Dia melangkah hati-hati, tidak ingin sepatu mahalnya mengenai kotoran bebek yang tersebar.

“Nyonya! Anda datang!” Harto menyambut wanita itu dengan senyum sumringah.

Mira melangkah mundur sambil bertanya-tanya apakah wanita itu yang telah membelinya. Ia tidak sempat melihat wanita itu kemarin. Ayahnya mengurungnya di kandang bebek.

“Aku datang untuk mengambil barangku,” kata wanita itu dengan suara selembut kapas. Dia beralih menatap Mira yang berdiri agak jauh dari keduanya, lalu menurunkan sapu tangannya dari hidung. Wajahnya mengernyit tidak suka. “Kenapa barangku sudah tidak utuh? Apa kau baru saja memukulinya?”

“Tidak, Nyonya! Anu—” Harto memucat di tempat. Ia menggaruk tengkuknya dan kelabakan sendiri. “Dia mencoba kabur, jadi saya—saya memukulnya. Tapi—saya tidak memukul wajahnya.”

Sang Nyonya menghela napas, tampak tidak puas. “Aku ingin barangku utuh, tapi sekarang dia penuh lebam. Harga awal harus diturunkan kalau begitu.”

“Tapi Nyonya—”

“Ya, atau aku akan mencari gadis lain?” sela Nyonya itu dengan satu alis naik.

Harto berdecak dan menatap Mira seolah dia-lah yang bersalah. “Y-ya, baik, Nyonya,” sahutnya tak rela.

“Dia masih perawan 'kan?”

“Tentu saja, Nyonya.”

Nyonya itu lantas mengisyaratkan asistennya yang berdiri di depan mobil untuk mendekat. Pria itu mengeluarkan sebuah amplop tebal dan memberikannya pada Harto.

Harto langsung menerima segepok uang itu dengan wajah berseri-seri, padahal dia baru saja menjual putri kandungnya sendiri.

“Bawa gadis itu,” perintah sang Nyonya pada asistennya.

Mira spontan melangkah mundur. “Tapi—”

“Cepat ikut, dasar anak bodoh!” bentak Harto.

Mira meremat tangannya. “Aku—aku belum berpamitan pada Ibu.”

“Tidak perlu! Lagi pula, Ibumu juga tidak akan bisa bangun dari tempatnya.” Harto bicara dengan acuh tak acuh.

Namun, Mira tidak bisa pergi tanpa melihat ibunya terlebih dahulu. “Tapi Ayah—”

Harto melotot dan bicara dengan tajam, “Kau tidak ingat apa yang Ayah katakan sebelumnya?”

Mira menunduk takut. Ayahnya mengancam akan menyiksa ibunya. Mira tidak ingin ibunya semakin sakit.

Ibunya biasanya bisa bangun dan beraktivitas seperti biasa meskipun terseok-seok. Namun sejak semalam, sakit ibunya mendadak kambuh. Dia hanya bisa terbaring di atas ranjang lapuknya.

“Ayah—ayah tolong setidaknya belikan Ibu obat. Hanya itu saja permintaanku. Aku mohon, Ayah,” pinta Mira saat asisten sang Nyonya mulai menarik tangannya.

Harto mengangguk enggan dengan wajah datar. Mira sudah diseret menuju mobil yang terparkir. Ia menatap rumah reyotnya untuk terakhir kali dengan perasaan pilu.

‘Ibu, aku pergi. Tolong jaga diri Ibu baik-baik.’

Mira terisak kecil dan tubuhnya didorong masuk ke mobil. Ia tidak tahu akan dibawa ke mana, tetapi mungkin, ia tidak akan pernah bertemu dengan ibunya lagi.

“Berhenti menangis.”

Suara sang Nyonya yang duduk di sampingnya menyentak Mira. Suaranya masih sehalus sebelumnya, tetapi tatapannya mengancam.

“Aku tidak suka melihat wanita yang menangis,” imbuhnya.

Mira buru-buru mengusap air matanya dan menggigit bibir bawahnya. Pandangannya jatuh ke tangannya yang disatukan di atas paha.

Entah kenapa, wanita di sampingnya terlihat menakutkan.

“Berapa umurmu?” tanya sang Nyonya saat mobil sudah melaju pergi meninggalkan rumah Mira.

“Sembilan belas tahun, Nyonya,” jawab Mira lirih.

“Siapa nama lengkapmu?”

“Mira Deyana, Nyonya.”

“Kau bisa membaca, 'kan?”

Mira mengangguk pelan.

Wanita itu mengeluarkan sebuah berkas dari tas yang ada di depannya, lalu mengulurkannya pada Mira. “Mulai hari ini, namamu adalah Sora. Bukan Mira lagi. Tidak ada bantahan atau pertanyaan, kau hanya perlu menerimanya. Apa kau paham?”

Mira menatap berkas di tangannya dan ragu-ragu mengangguk. “Y-ya, Nyonya.”

“Tugasmu hanya satu, yaitu menikahi putra tiriku dan memberinya keturunan. Setelah pewarisnya lahir, kau harus pindah ke kota lain—atau mungkin negara lain,” jelas wanita itu dengan serius. “Tapi jangan khawatir, kau akan diberi tempat tinggal dan uang bulanan. Selama kau tutup mulut dan tidak memberitahukan apa pun mengenai apa yang kita bicarakan sekarang, kau akan baik-baik saja. Terutama putraku, dia tidak boleh tahu apa pun,” tekannya.

Mira terdiam memikirkan itu semua. Ia merasa bingung.

Jadi, ia dibeli untuk melahirkan seorang pewaris? Lalu, ia harus pergi meninggalkan anaknya sendiri setelah melahirkannya? Tapi, kenapa namanya harus diganti? Dan kenapa putra wanita itu tidak boleh tahu apa-apa?

Ada banyak pertanyaan yang kini berseliweran dalam kepalanya.

“Apa kau paham?” tanya wanita itu dengan tajam ketika Mira larut dalam pikirannya.

Mira buru-buru mengangguk. “Ya, Nyonya.”

“Panggil aku Nyonya Katie,” perintahnya.

“Ba-baik, Nyonya Katie.”

Katie mengangguk puas. “Sekarang, baca berkasnya.”

Mira membalik berkas itu dengan pikiran berkecamuk. Semua ini terlalu mengejutkan untuknya.

Mira hanya membaca sekilas identitas barunya, kemudian membaca berkas lain. Tatapannya terpaku pada foto seorang pria dalam balutan jas rapi.

Hayes.

Nama calon suaminya.

Umurnya 25 tahun. Seorang presdir muda di Industri Manufaktur. Tetapi bukan itu yang menarik perhatian Mira, melainkan tatapan dan ekspresi pria itu dalam foto.

Begitu dingin dan tajam. Hampir terlihat kejam.

Mira langsung tahu calon suaminya bukan orang yang akan mudah dihadapi.

Kehidupan barunya mungkin tidak akan berbeda dengan kehidupan lamanya.

Tersiksa dan Menderita.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   47. Seperti Anak Sendiri

    “Tuan...” Hayes mengangkat tangannya. “Erwin, kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul,” ujarnya, masih dengan garis-garis senyuman yang enggan hilang dari wajahnya. Tawa Hayes memang telah reda, tetapi binar kebahagiaan itu masih terpancar jelas di matanya yang biasanya tampak kosong dan dingin. “Baik, Tuan.” Erwin tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya menatap Kian selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area parkiran. Hayes berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar. Kian ragu-ragu menerima uluran tangannya. “Kau ingin membangun rumah besar seperti ini untuk Ibumu?” tanya Hayes, kembali ke topik mereka semula. Kian langsung mengangguk kepalanya dengan semangat. “Hu'um! Ian ingin membangun rumah yang sangat besar untuk Ibu. Bagaimana caranya, Bapak Yang Terhormat?” Hayes terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu. “Bagaimana kalau panggil Paman saja?” “Paman?” “Iya, Paman Hayes.” “Baik, Paman!” Hayes tersenyum dan menarik Kian

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   46. Tawa Lepas Hayes

    “Mira, ini kamarmu. Kau akan tinggal di sini selama dua minggu.” Kepala pelayan menunjuk ruangan di ujung lorong lantai dua. Satu lorong dengan perpustakaan yang ‘seharusnya’ ia bersihkan. “Terima kasih, Bu Ines.” Bu Ines mengangguk singkat. Sejenak, matanya melirik Kian yang terus bersembunyi di belakang Mira. Keningnya berkerut menyadari anak itu tampak takut melihatnya. “Ya sudah, aku menunggumu di bawah,” ucapnya kemudian sebelum berbalik pergi. Mira dan Kian berdiri memperhatikan Bu Ines sampai sosoknya menghilang di belokan. “Ibu, apa itu nenek sihirnya?” tanya Kian, mendongak menatap ibunya dengan takut-takut. “Eh bukan, Sayang.” Mira buru-buru membantah. Ia berlutut, lalu merapikan rambut anaknya. “Ibu itu sangat baik, bukan nenek sihir.” “Jadi di mana nenek sihirnya?” “Nanti biar Bibi Alina sendiri yang perlihatkan, ya?” ujar Mira, hampir menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya ia tidak membiarkan Alina merecoki pikiran Kian. Sekarang, Kian pasti akan terus memi

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   45. Obat Tidur Hayes?

    “Ibu, kita mau ke mana?” Kian duduk di atas tikar sambil memperhatikan ibunya yang mengepak pakaian ke dalam tas ransel. Mira menoleh dengan senyum kecil. “Untuk sementara, kita akan pindah ke tempat Ibu bekerja, Sayang. Ibu mendapat pekerjaan tambahan, jadi kita akan tinggal di sana selama dua minggu.” “Apa itu tempat yang Ibu bilang kereta api juga bisa lewat?” tanya Kian ceria, membayangkan rumah besar yang biasa ia lihat di buku dongeng. “Iya, Sayang. Tapi ingat, Kian tidak boleh nakal di sana.” “Siap!” Kian segera memberi hormat. “Ian akan menuruti apa kata Ibu.” Mira tersenyum dan menaikkan ritsleting jaket Kian sampai ke leher. Udara begitu dingin setelah hujan deras mengguyur dini hari tadi. Mira tidak ingin anaknya kembali sakit. “Ayo berangkat, Sayang. Bibi Alina pasti sudah menunggu.” Mira mengambil tasnya dan meraih tangan mungil Kian. Hari ini, Mira sengaja tidak membiarkan Kian ke TK Bintang, mengingat dia baru pulih. Mereka melewati pintu dan Kian menda

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   44. Siapa Suami Mira?

    Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Hayes yang berdiri di dekat jendela. Otaknya terus memutar senandung milik Sora. Senandung yang sama yang akan Mira nyanyikan nanti malam. Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apa ia sungguh ingin mendengarkan senandung itu setiap malam? Bagaimana kalau perasaan familier itu tak kunjung hilang setelah dua minggu? Bagaimana kalau ia masih melihat Mira seolah ia tengah menatap sosok Sora? Hayes mengusap wajahnya dan melangkah ke sofa. Tepat saat ia duduk, Erwin mengetuk pintu. “Tuan, Nona Audrey sudah tiba.” “Persilakan masuk.” Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita dalam balutan blazer dan rok pensil selutut. Sepatu hak tingginya mengetuk keramik dengan keras saat dia berjalan ke arah Hayes dengan percaya diri. Audrey Regina. Seorang maestro desain interior yang menguasai pasar kelas atas. Calon kolega bisnis Hayes. Audrey menawarkan kerja sama bisnis begitu melihat potensi dari perusahaan man

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   43. Senyum Tipis Misterius

    Mira menatap sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah membayar sebagian utang dan sewa kontrakannya yang menumpuk, ia masih memiliki cukup uang untuk membeli beras dan lauk selama beberapa minggu.Uang muka dari Tuan Hayes kelewat banyak. Mira seharusnya tidak menerima uang lagi setelah kontrak senandung itu berakhir. Ia merasa tidak enak hati karena biaya rumah sakit Kian saja bukan jumlah yang sedikit.Ia bahkan belum bersenandung untuk Hayes.Apa memang... Tuan Hayes sedermawan itu?‘Aku harus bekerja lebih keras lagi,’ janjinya dalam hati.Mira mengambil bibit kacang koro yang dibelinya dan bergegas naik ke kamar rawat Kian. Pagi itu, Mira ingin memastikan Kian sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke mansion Tuan Hayes.Mira mendorong pintu terbuka dengan senyum mengembang. “Ian Sayang, lihat Ibu beli apa?”Di atas sofa, Kian mendongak penasaran. Dokter sudah memperbolehkannya untuk turun dari ranjang, jadi ia mulai bermain mobil-mobilan di sofa. “Ibu bawa apa?” tanyanya antusias

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   42. Sikap Asli Nathan

    Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding di sudut. Mira terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nathan dengan mata membulat tidak percaya.“Nathan...” Mira bersuara lirih, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan yang muncul. “Kau... kau pasti hanya bercanda 'kan? Iya, 'kan?”Nathan menggeleng, sepasang mata hitamnya memancarkan keseriusan. Tidak ada sedikit pun candaan di sana. “Mira, aku benar-benar ingin tahu apa ada sedikit ruang di hatimu untukku?” suaranya mengecil, terdengar penuh harap.Mira terdiam, untuk sesaat merasa linglung.Nathan mencoba menariknya lebih dekat, tetapi Mira buru-buru melepaskan pergelangannya.Nathan menatap kecewa. “Mira...”“Maaf, Nathan.” Mira memalingkan wajah dan mundur beberapa langkah. “Aku... aku tidak bisa,” bisiknya.Jawaban itu terasa seperti tikaman belati di hati Nathan. Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya. Nathan menatap terluka. “Kenapa, Mira? Kenapa kau tidak bisa? Apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status