แชร์

Investasi

ผู้เขียน: Eljanes Crocus
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-18 08:29:03

Ruangan VIP itu terasa begitu eksklusif dengan pendingin udara yang berembus halus. Gilang duduk tenang di salah satu kursi kulit yang empuk, dikelilingi jamuan makan siang tertata presisi di atas meja jati.

Di belakangnya, dinding kaca raksasa menampilkan siluet hutan beton kota dengan gedung-gedung bertingkat yang seolah saling berebut menyentuh langit.

"Selamat siang," sebuah suara memecah keheningan.

Lingga muncul dengan langkah tergesa, langsung menyalami Gilan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pria BUTA itu suamiku   Runtuhnya tahta

    "Kalau begitu, bisakah kamu ke sini sekarang sebagai perwakilan Line Group? Para dewan direksi Cakra sedang mengamuk menuntut kepastian. Aku butuh seseorang dari pihak kalian untuk menjelaskan kerja sama ini!" pinta Lingga setengah memohon."Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang licik, kan?" Sari bertanya dengan nada curiga."Tidak! Aku bersumpah, Sari. Ini masalah hidup dan mati perusahaan!"Sari menghela napas panjang, suaranya terdengar berat. "Ya sudah. Aku ke sana sekarang." Sari terpaksa setuju. Bagaimanapun, sebagai perwakilan yang ditunjuk langsung sebelumnya, ia merasa memiliki tanggung jawab moral atas kerja sama tersebut.Keputusan itu cukup untuk menyuntikkan sedikit rasa percaya diri pada Lingga. Ia kembali ke dalam ruang rapat, mencoba menenangkan para dewan yang sudah mulai berteriak histeris."Tenang semuanya! Sebentar lagi perwakilan resmi dari Line Group akan datang ke sini!" seru Lingga dengan suara lantang.

  • Pria BUTA itu suamiku   Rapat dewan direksi

    "Bagaimana mungkin?! Kenapa tidak ada uang sepeser pun di rekening perusahaan?" pekikan itu menggelegar di dalam ruang rapat yang kedap suara.Pria berjas biru yang duduk di ujung meja menghantamkan telapak tangannya ke permukaan kayu jati hingga menimbulkan bunyi dentuman keras.Ruangan itu didominasi oleh sebuah meja bundar raksasa yang dikelilingi belasan kursi. Semua kursi terisi oleh para anggota dewan direksi, orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas strategi jangka panjang dan keselamatan finansial Perusahaan Cakra.Sebagian besar dari mereka juga merupakan pemegang saham utama yang mempertaruhkan harta kekayaan mereka di sana."Ke mana perginya semua dana itu? Di buku pengeluaran tidak tercatat transaksi apa pun! Tidak masuk akal jika uang sebanyak itu hilang begitu saja!" sahut anggota direksi lain dengan nada suara gemetar karena panik."Di mana Pak Lembang? Kenapa dia belum menampakkan batang hidungnya?" tanya seorang

  • Pria BUTA itu suamiku   Investasi

    Ruangan VIP itu terasa begitu eksklusif dengan pendingin udara yang berembus halus. Gilang duduk tenang di salah satu kursi kulit yang empuk, dikelilingi jamuan makan siang tertata presisi di atas meja jati.Di belakangnya, dinding kaca raksasa menampilkan siluet hutan beton kota dengan gedung-gedung bertingkat yang seolah saling berebut menyentuh langit."Selamat siang," sebuah suara memecah keheningan.Lingga muncul dengan langkah tergesa, langsung menyalami Gilang yang baru saja beranjak berdiri. "Maaf jika membuat Anda menunggu lama, Pak Gilang. Ada sedikit kendala di perjalanan tadi.""Tidak masalah. Silakan duduk," sahut Gilang dengan senyum profesional yang sulit dibaca. Ia mempersilakan Lingga menempati kursi kosong di hadapannya.Lingga menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia tahu posisi ini sangat genting. Beberapa waktu lalu, kerja sama ini nyaris runtuh akibat ulahnya yang lancang menggoda Sari, perwaki

  • Pria BUTA itu suamiku   Sisi lain Tuan Wira

    Wira menoleh cepat, memastikan punggung Sari benar-benar menghilang di balik pintu sebelum ia memulai aksi. Tatapannya yang semula teduh, seketika berubah sedingin es saat beralih pada Lingga. Dengan satu gerakan, ia mendorong pria mabuk itu mundur, lalu membanting pintu rumah hingga tertutup rapat."Hei! Mau ke mana kamu?" Lingga menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya yang ganda.Wira tidak menyahut. Ia berbalik perlahan, mengamati gerak-gerik Lingga dengan saksama. Pria di depannya itu berjalan limbung, kesulitan hanya untuk sekadar berdiri tegak. Entah berapa botol alkohol yang telah ditenggak pria itu hingga kesadarannya terkikis habis."Dasar keparat," desis Wira sembari mengepalkan tangan. "Gara-gara kamu, Sari harus melewati mimpi buruk dalam hidupnya."BUK!Satu pukulan mentah mendarat telak di pipi kiri Lingga. Kekuatan hantaman itu cukup untuk membuat Lingga tersungkur ke lantai tanpa sempat memberikan perlawanan se

  • Pria BUTA itu suamiku   Gangguan di tengah malam

    Matahari tepat berada di puncaknya, memancarkan terik yang seolah ikut membakar sisa-sisa kesabaran di hati Sari. Siang itu, ia kembali menginjakkan kaki di rumah lamanya. Namun, kali ini bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menuntaskan sebuah pengkhianatan. Di sampingnya, Wira duduk dengan tegap, menjadi sandaran sekaligus pelindung yang tak tergoyahkan.Di halaman depan, sebuah mobil patroli polisi sudah terparkir siaga. Sementara itu, di dalam ruang tamu yang pengap, drama kemunafikan sedang mencapai puncaknya."Sari, tolong maafkan kami! Pamanmu terpaksa, Nak. Kami dipaksa oleh Tuan Lingga!" Ratih bersimpuh di lantai, meratap sembari memegang ujung gamis Sari. Suaranya serak oleh tangis yang terdengar dibuat-buat.Sari duduk di sofa, menatap datar tiga orang yang kini bersimpuh di bawah kakinya. Ajis, Ratih, dan Raisa. Mereka menunduk, namun Sari tahu itu bukan karena penyesalan, melainkan ketakutan akan jeruji besi yang sudah menanti di depan mat

  • Pria BUTA itu suamiku   Kehancuran Raisa

    "Argh!"Lingga tersentak bangun dengan erangan tertahan. Ia menekan pelipisnya yang berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk saraf kepalanya. Saat kesadarannya perlahan terkumpul, matanya membelalak menyadari hawa dingin yang menyentuh kulitnya. Ia telanjang bulat di balik selimut.Ia mendongak, menatap langit-langit kamar hotel mewah yang asing. Ia yakin betul tidak pernah memesan kamar ini. Di atas lantai, potongan pakaian berserakan tak beraturan seperti rongsokan. Ingatannya kabur, potongan-potongan memori tadi malam terasa seperti kaset rusak yang berputar di kepala.Lingga bangkit dan bersandar pada kepala ranjang. Ia menoleh ke sisi lain dan mendapati sosok seorang wanita yang tidur membelakanginya, terbungkus selimut tebal."Kenapa aku tidak ingat apa pun?" gumam Lingga sembari mengernyit.Meski bingung, seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Ia berpikir rencananya telah berhasil. Ia yakin wanita di sampingnya adala

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status