LOGINAngkasa bandara selalu riuh. Suara roda koper, pengumuman terminal, dan keluhan penumpang menabrak satu sama lain. Meski memakai headphone Louis Vuitton, Areta tetap bisa mendengar dengusan orang-orang yang baru turun dari pesawat bersamanya.
“Please, shut up just for five seconds,” gumamnya dalam bahasa asing walau sudah tiba di tanah air.
Areta mengatur ulang posisi kacamatanya yang oversize sembari melangkah keluar dari gerbang kedatangan internasional Terminal 3. Mantel wol maroon membingkai tubuhnya, celana kulitnya tampak mencolok, dan sepatu botnya memantulkan cahaya neon biru. Orang-orang melihatnya dua kali, mungkin karena keglamoran selera fashionnya, padahal seluruh outfit itu dibeli saat ia sedang kabur dari tagihan yang siap mengejarnya kapan saja.
“Seminggu di Bali. Pantai, kopi, tidur. Habis itu baru pulang,” ia berbisik pada dirinya sendiri sambil mengambil koper dari conveyor belt.
Namun, tepat ketika ia menurunkan koper ke lantai, sesuatu membuatnya terhenti.
Di balik pintu kaca otomatis, tiga pria berjas hitam berdiri tegap. Postur mereka seperti bayangan yang sedang menunggu aba-aba. Tidak ada papan nama. Tidak ada senyuman. Yang terlihat hanyalah … kewaspadaan.
“Mereka orang kiriman mama!” pekik Areta dalam hati setelah mengenali salah satu orang yang sering mamanya sewa untuk pengawalan.
Areta memutar badan, pura-pura sibuk mengatur charger ponselnya. “Oke, kabur lewat jalur taksi. Bunuh diri kalau lewat pintu utama,” gumamnya.
Tapi saat ia melangkah melewati pintu kaca, sebuah suara memanggil namanya. “Nona Areta?”
Suaranya berat. Datar. Tidak memberi opsi.
Areta langsung berhenti. “Maaf, Anda salah orang.” Ia menyeringai kecil, lalu berbelok cepat.
Pria itu menghalangi langkahnya dalam satu gerakan. “Ibu nona menyuruh kami memastikan anda pulang dalam keadaan lengkap.”
“Lengkap?” Areta memicingkan mata. “Apa maksud anda, saya biasanya pulang tanpa kepala?”
Dua pria lain bergeser, mempersempit ruang geraknya.
Di luar, tiga SUV hitam berhenti bersamaan. Pintu otomatis terbuka, menciptakan sorotan yang membuat orang-orang mulai memperhatikan. Beberapa penumpang bahkan berhenti sambil berbisik.
Areta menutup wajah dengan tangan. “Ya Tuhan … mama Vero … aku dibikin seperti kriminal kelas kakap.”
Pria di tengah tetap tanpa ekspresi. “Silakan ikut kami, Nona.”
“Ini. Penculikan,” desis Areta, suaranya tajam seperti pisau.
“Ini penjemputan wajib,” sanggah pria berjas hitam itu dengan menekankan tiap kata. “Koper Anda akan kami bawa,” sambungnya.
“Kalau aku teriak?” ancam Areta pelan.
“Kami akan tetap membawa anda.”
Areta mendengus. “Hebat. Mama pasti bangga punya tim drama seperti kalian.”
Namun akhirnya ia melangkah walau terpaksa dan langkah kesal menuju SUV tengah.
Di dalam mobil, ia menjatuhkan tubuh ke kursi kulit, menatap jendela yang tembus pandang.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari mamanya.
[Selamat datang, Sayang. Jangan coba kabur lagi. Dua jam lagi, kamu akan bertemu calon suamimu. Papa sudah sewa polisi buat kawal kamu sampai rumah.]
Perjalanan dari bandara menuju rumah orang tua Areta terasa lebih lama. Selama satu setengah jam, Areta hanya diam, mendengarkan musik dengan volume penuh untuk meredam kekesalan.
Tiga SUV hitam mewah itu berhenti mulus di depan gerbang megah kediaman Rajes Kusuma. Areta tidak menunggu para pengawal membukakan pintu. Ia langsung melompat keluar, membiarkan mantel maroon-nya berkibar dramatis.
"Laporkan pada mama Vero, aku tidak kabur," katanya dingin pada pria berseragam jas di belakangnya. "Aku hanya menunda," bisiknya pada diri sendiri.
Begitu pintu utama terbuka, aroma mawar dan lilin Jasmine langsung menyambutnya. Nyonya Veronica sudah menunggu di ruang tamu, duduk tegak di sofa beludru, wajahnya kaku. Rajes, sang Papa, berdiri di sampingnya dengan ekspresi lelah.
"Anak tidak tahu diuntung!" seru Veronica, tanpa basa-basi menyambar.
"Kenapa harus sewa preman untuk menjemputku, Ma?" Areta membalas dengan keluhan. "Mama berhasil mempermalukanku di depan umum!"
"Berdirilah di depan cermin. Kamu juga telah mempermalukan nama keluarga, Areta!" Rajes menyela dengan suara berat. "Dua jam lagi, Adam akan tiba. Segera ganti bajumu dan bersikaplah sopan."
Areta mendengus. "Aku sudah rapi. Lagipula, ini kan blind date. Biarkan 'pangeran bisnis' Papa melihat calon istrinya yang apa adanya." Areta menekan kata 'pangeran bisnis' dengan nada sarkas yang dibuat-buat.
Rajes menghela napas. "Dengar, Areta. Pria ini bukan pangeran bisnismu. Dia Adam Prasaja. Dia cucu dari pemilik kos yang dulu Papa tempati saat merintis usaha. Papa punya hutang moral yang besar pada keluarganya."
"Cucu pemilik kos?" Areta mematung.
Pangeran bisnis? Playboy kolega Papa? Hilang sirna musnah.
Harapannya langsung jatuh ke lantai marmer.
"Dia pria baik-baik, Nak," lanjut Rajes, matanya memancarkan ketulusan. "Dia tidak pernah keluar dan menginjak dunia glamor. Dia pria yang membuat Papa tenang kalau kamu bersamanya."
Areta menatap orang tuanya dengan tatapan tak percaya. "Jadi, Papa menjodohkanku dengan pemuda culun dari gang sempit, hanya karena hutang budi masa lalu?!"
Veronica berdiri. "Dia pria mapan, Areta. Dia punya pekerjaan tetap."
"Pekerjaan apa? Penjaga ruko? Karyawan laundry?" Areta mencibir.
Tiba-tiba, bel berbunyi. Seorang pelayan bergegas membuka pintu.
Sosok yang masuk membuat udara di ruang tamu yang mewah seolah membeku. Adam Prasaja berdiri di sana.
Dia bukan pangeran bisnis. Dia juga bukan playboy. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak yang sudah disetrika mati-matian, kacamata tebal berbingkai plastik hitam, rambutnya belah tengah yang terlalu rapi. Paling mencolok, dia memakai suspender hijau tua yang kontras dengan kemejanya, celana cingkrang hanya semata kaki, dan sepatu pantofel tua yang mengkilap berlebihan.
Ya Tuhan.
Areta merasakan mual yang sama seperti saat di mobil tadi. "Ini lelucon, kan?" bisiknya, tetapi tidak ada yang menjawab.
Adam mendekat dengan langkah kaku. Wajahnya yang polos terlihat gugup, tetapi ia berusaha menampilkan kesopanan.
"Selamat sore, Om Rajes, Tante Veronica," katanya dengan suara yang terlalu formal, sambil membungkuk sedikit. "Maaf, saya Adam Prasaja. Saya datang sendiri, karena kebetulan paman saya sedang sakit dan nenek saya sedang kurang enak badan."
"Nggak apa-apa, Nak. Maaf ya, harusnya dua bulan lalu kamu datang ke sini. Ini salah om.” Rajes berbicara dengan nada lembut.
Hal itu membuat Areta bergidik. Berbeda sekali cara bicaranya dengan dirinya.
Memang siapa di sini yang anak kandung? bisiknya dalam hati.
Dia calon suamimu, Areta," ucap Rajes memperkenalkan secara resmi. "Adam, ini Areta."
Areta menarik napas dalam-dalam. Ia harus menahan diri agar tidak muntah.
Pria ini?! Penjahit di gang sempit yang memakai suspender?!
"Aku tidak bisa," gumamnya, menggeleng. "Aku tidak bisa menikah dengan suspender."
"Areta!" seru Veronica memperingatkan.
Di dalam mobil mewah yang sudah menunggu di lobi (kali ini bukan motor matic), Areta mulai sedikit tersadar. Ia merasa berada di pelukan yang sangat hangat dan sangat wangi, aroma parfum mahal yang sama dengan CEO Rajawali."Dam...?" gumam Areta lirih, matanya terbuka sedikit melihat rahang tegas Adam dari bawah. "Kenapa kamu... keren banget? Kamu CEO itu, ya?"Adam menunduk, mencium kening istrinya dengan lembut. “Tidur saja, Are. Besok pagi, semua mimpi burukmu sudah hilang.”Adam melangkah masuk ke butik yang merangkap tempat tinggal mereka, masih menggendong Areta dengan kokoh. Luna sigap membantu membukakan pintu kamar yang terasa semakin sempit karena kehadiran beberapa pengawal di lorong.“Kenapa tidak dibawa ke apartemen saja, Pak?” tanya Luna dengan suara rendah, ragu melihat kondisi bosnya yang harus berdesakan di ruangan sekecil itu.“Kalau besok dia bangun di tempat semewah itu, apa yang harus aku katakan? Apartemen pinjaman Rajawali Jaya?” Adam menghela napas, matany
Di lantai bawah, Adam merasa ada yang tidak beres. Ia mencium aroma alkohol yang tertinggal di gelas bekas Areta."Luna! Cek GPS ponsel Areta sekarang! Kamar mana?!" perintah Adam, suaranya kembali ke mode CEO yang dingin."Kamar 909, Pak! Tapi Renata baru saja menyuruh seorang pria naik lewat tangga darurat!"Adam tidak menunggu lift. Ia berlari menuju tangga darurat dengan kecepatan yang tak mungkin dimiliki oleh seorang pria "culun". Di dalam hatinya, kemarahan membara. Jika seujung kuku pun pria itu menyentuh Areta, aku akan pastikan mereka semua tidak akan melihat hari esok.Sementara itu, di dalam kamar 909, pintu balkon terbuka perlahan. Seorang pria asing masuk, mendekati Areta yang masih berhalusinasi dan bergumam memanggil nama "Adam".Langkah kaki Adam berderap keras di koridor lantai sembilan. Persetan dengan penyamaran, persetan dengan rencana Luna untuk menjebak Renata secara perlahan. Saat ini, hanya ada satu hal di pikirannya: keselamatan istrinya.Di dalam kamar 909,
“Aku di sini untuk menyaksikan kehancuranmu, Areta! Aku tahu kamu dapat undangan makan malam pribadi. Aku hanya ingin semua orang tahu kalau kamu memanfaatkan kecantikanmu untuk mendekati Pak CEO!”Di tengah keriuhan itu, pintu besar ruangan VIP terbuka. Luna, sang sekretaris, melangkah keluar dengan wajah dingin. Ia tidak melihat ke arah Renata, melainkan langsung menuju ke arah pasangan itu.“Mohon tenang semuanya,” suara Luna menghentikan kegaduhan. Ia berjalan melewati Renata yang sudah siap-siap menyapa, dan justru berhenti tepat di depan Adam.Di depan mata Renata yang terbelalak dan Areta yang membeku, Luna membungkuk hormat. “Semua sudah siap, Pak Adam. Silakan mengambil alih.”Adam menghela napas panjang. Ia melepas kacamata minusnya yang tebal, menegakkan bahunya yang semula bungkuk, dan seketika itu juga, aura “pria culun” itu menguap, berganti dengan wibawa yang luar biasa tajam.“Terima kasih, Luna,” ucap Adam. Suaranya berat, bariton, dan... sangat familiar di telinga
Pagi itu, butik Renata – The Art of Fashion seharusnya menjadi pusat kesibukan untuk persiapan trunk show besok. Namun, alih-alih suara mesin jahit yang menderu, butik itu dipenuhi suara teriakan frustrasi Renata. “Apa?! Kain sutra pesanan saya dibatalkan? Saya sudah bayar DP!” teriak Renata melalui ponselnya. “Maaf, Bu Renata,” suara di seberang sana terdengar kaku. “Kami baru saja menerima instruksi dari pusat. Semua stok kain premium kami telah diborong oleh satu pembeli tunggal, Rajawali Jaya Group. Kontrak Anda kami batalkan secara sepihak, dan DP akan kami kembalikan dua kali lipat sesuai klausul force majeure.” Renata membanting ponselnya ke sofa. Belum sempat ia bernapas, asistennya berlari masuk dengan wajah pucat pasi. “Mbak Renata! Vendor lampu dan panggung juga membatalkan kontrak! Mereka bilang ... mereka mendadak harus pindah ke lokasi lain untuk acara dadakan Rajawali Jaya!” Di saat Renata hampir gila, sebuah mobil butut berhenti tepat di depan butiknya. Adam turun
“Oh, gantungan kunci ini?” Adam (versi CEO) mengambil benda itu dengan gerakan tenang, seolah-olah itu hanya benda remeh yang tidak berharga. Ia memutarnya di sela jari dengan santai. “Ini adalah merchandise resmi dari program ‘Rajawali Peduli Driver’ yang kami jalankan bulan lalu, Ibu Areta. Kami membagikannya secara cuma-cuma kepada ratusan mitra, staf lapangan, bahkan tamu yang datang ke gedung ini,” jelas Adam dengan suara berat dan berwibawa. Ia meletakkan kembali kunci itu ke meja dengan bunyi klotak yang meyakinkan. “Mungkin asisten Anda mendapatkannya dari satpam di depan atau menemukannya di lobi. Kami memproduksi ribuan gantungan kunci seperti ini.” Areta tampak mengerutkan dahi, menatap gantungan kunci boneka kucing itu lekat-lekat. “Ribuan? Tapi kucing ini telinga kirinya agak sobek sedikit, persis punya ag ....” Adam hampir saja tersedak udara, tapi ia segera menimpali dengan nada dingin khas bos besar. “Itu karena kualitas produksinya memang massal, Ibu Areta.
"Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja,” bisik Areta.Adam tersenyum di balik kaca helm. “Aku tahu, Are. Kamu itu singa betina kalau urusan melindungi orang rumah.”“Tapi besok-besok, kamu harus lebih rapi kalau ikut aku ke kantor! Aku nggak mau kejadian tadi terulang. Besok kita ke pasar, aku belikan kamu kemeja baru yang lebih keren.”Adam terkekeh. “Siap, Bos Besar!”*Areta berdiri tegak di depan meja resepsionis dengan gaya bos besar. Ia mengenakan blazer terbaiknya, sementara Adam berdiri di belakangnya dengan kemeja baru hasil belanja di pasar kemarin (yang sebena”Saya tidak akan menandatangani kontrak apapun sebelum saya bertemu dengan CEO Anda,” tegas Areta kepada Luna. “Saya ingin







