Home / Rumah Tangga / Pria Culun Itu Suamiku / Demi Gedung Serbaguna

Share

Demi Gedung Serbaguna

Author: Chili Cemcem
last update publish date: 2025-11-23 08:54:43

"Gak jadi menggelandang di Milan tapi sekarang menggelandang di negara kelahiran serta tempatku hidup!"

Areta menendang kaleng kosong di depannya. Kakinya yang dibungkus sepatu bot mahal itu terasa berat di atas trotoar Jakarta. Ia baru saja kabur, meninggalkan celana cingkrang Adam dan kemarahan Mama Veronica.

"Papa sama Mama tega banget jodohin aku sama pria culun itu," gerutunya. "Aku udah siapin diri kalau pria itu playboy atau pria yang suka dunia malam. Tapi ... kenapa malah penjahit!"

Tanpa terduga, kaleng itu meluncur dan mengenai punggung seorang pemulung yang sedang membungkuk memungut botol plastik.

"Kurang ajar! Siapa yang—" Pemulung itu berbalik, siap mengomel, tapi pandangan matanya langsung berubah. Ia menatap kecantikan Areta dengan binar yang lain.

Awalnya Areta hendak minta maaf, kedua tangannya sudah terangkat hendak menangkup. Tapi ketika melihat tatapan penuh arti dari pria matang dengan pakaian kumuh dan kumal itu, instingnya menjerit. Areta langsung pasang langkah seribu.

"Hei! Tunggu!" teriak pemulung itu dari belakang. Areta mendengar langkah si pemulung cepat mengikutinya.

Dengan napas tersengal-sengal, Areta berhasil menyelinap di balik pagar tumbuhan yang rimbun, tubuhnya yang ramping lolos di antara celah. Ia berhenti, mengatur napas yang memburu. Rasa haus mencekiknya, tetapi ia tidak punya selembar uang pun untuk beli minum.

Tragis! Fashion desainer terkenal menggelandang!

"Apa pesonaku ini hanya nyangkut pada pria modelan culun dan pemulung?!" Wajah Areta kusut. "Astaga, desainer yang pernah ditaksir aktor berbakat sekelas Adipati Dolken ini kenapa sekarang nasibnya sial banget!"

Satu tetes air bening menggenang di pelupuk mata. Ia cepat-cepat mengusapnya, sebelum air mata itu sempat meluncur.

Aku harus hubungi teman-temanku.

Ia menghubungi nomer di kontak hpanya satu per satu.

"Maaf, ya, Areta sayang. Aku lagi sibuk nih. Aku gak bisa dengar suara kamu. Areta ...." Sambungan terputus.

"Emang dia hidup di hutan, gak bisa denger suara!" gerutu Areta ke ponselnya.

Ia menghubungi teman lainnya. "Maaf, Are, aku lagi gak ada duit. Kamu pinjam ke yang lainnya aja."

"Kenapa tiba-tiba jadi kere nih anak!" sembur Areta ke layar ponselnya.

"Are … oh pembayaran gaun itu … emm … kapan ya? Aku lagi hopeless nih. Tunda dulu ya."

"Kalau gak niat pesan eksklusif dan gak mampu bayar, bilang dong dari awal, kebanyakan gaya nih anak!" Areta mengumpat lagi.

Penolakan demi penolakan terus ia dengar hingga ponselnya hampir lowbat. "Dasar benalu! Apa definisi teman sekarang bergeser menjadi mereka boleh minta tolong sementara kita yang sudah menolong … dilepeh begitu aja. Kurang ajar banget mereka!" Areta mencengkeram kuat ponselnya, kakinya menghentak ke tanah.

Malam semakin larut. Ia tak punya tujuan. Tidur di butik? Tidak mungkin. Ia tidak mau mengotori gaun-gaunnya dengan bau badannya yang belum ganti baju walau bau Milan.

“Bisa jadi sarang kuman nanti."

Di tengah kebimbangannya, ponselnya berdering. Ia kira salah satu temannya tadi berubah pikiran. Dari mak lampir menjadi ibu peri. Ternyata layar ponsel yang menyala itu menampilkan 'Papaku'.

"Pulang sekarang," perintah Rajes begitu tahu sambungan teleponnya direspon, walau begitu, Rajes berucap dengan suara dingin.

"Gak mau," tolak Areta mentah.

"Gedung Serbaguna yang kamu biasa sewa itu bisa jadi milikmu kalau kamu mau menikah dengan Adam."

Areta hendak menolak, mulut yang mau terbuka terkatup lagi. ia menegang. Gedung Serbaguna. Tempat ia harus memamerkan karyanya musim depan. Ia tidak punya budget sewa. Apa gunanya baju bagus kalau gak bisa dipamerin di panggung catwalk.

“Okay. Tapi aku hanya mau menikah selama satu tahun.”

"Memangnya kamu pikir pernikahan itu uji coba? Enak saja. Harus langgeng. Kalau gak mau, ya sudah. Papa juga gak rugi. Cuman malu saja sama Adam. Kalau begitu kamu tetap bayar sewa secara profesional seperti biasanya." Rajes menekan.

Tidak ada lagi pertimbangan lebih jauh. Karena bagi Areta, pagelaran musim depan harus terjadi. Bagaimana pun caranya.

"Okay. Aku mau menikah," putus Areta, suaranya serak.

"Kalau begitu, bujuk Adam. Bilang kamu mau menikah dengannya."

“Pa … aku ini cewek.”

“Salah sendiri. kenapa tadi menolak. Papa akan kirim nomer hp adam. Hubungi dia sendiri.”

Sambungan berakhir tanpa aba-aba. Beberapa detik kemudian sebuah notifikasi hadir, Nomor ponsel Adam. Lalu pesan masuk lagi: [Selesai telepon Adam. Pulang. Jangan berkeliaran di luar rumah tanpa arah.]

Areta meragu. Tapi … egonya runtuh demi karyanya.

Sambil menahan napas, Areta menghubungi nomor berakhiran angka tujuh itu.

“Halo.”

“Ini siapa?” tanya Adam usai menguap. Pria itu sudah tertidur, tapi terjaga karena bunyi telepon masuk.

"Aku … aku Areta. Perempuan yang dijodohkan denganmu." Areta berujar cepat, begitu melihat baterai ponselnya menunjukkan warna merah. "Aku ingin kita bertemu. Besok. Aku ingin membahas pernikahan kita. Cepat jawab, baterai ponselku mau habis. Iya atau enggak?"

Karena tidak memakai kacamata, Adam memicingkan mata. "Iya."

"Bagus. Aku kirim ala—" Tut tut tut tut… Telepon Areta benar-benar mati.

*

Areta pulang secara mengendap-endap, masuk ke rumah Rajes yang sudah sunyi. Lampu ruang tamu meredup. Ia berjalan mengendap menaiki anak tangga ke kamarnya.

Di balik pilar, kedua orang tuanya mengintip. Veronica dan Rajes saling pandang, lalu tersenyum. Karena artinya … pernikahan akan terjadi.

*

Adam dan Areta bertemu keesokan harinya di sebuah kafe kecil, Kafe Angin Senja, yang terletak di pinggir kota. Areta sengaja memilih tempat itu agar jauh dari radar teman-teman sosialitanya.

Adam tiba. Ia mengenakan baju yang berbeda, kaos polo polos berwarna krem, tetapi tetap dengan celana cingkrang dan sepatu pantofel tuanya.

Areta duduk tegak. "Aku gak mau berlama-lama, Adam. Aku setuju kita menikah, tapi aku punya syarat. Dan kamu juga boleh kasih syarat."

Adam sembari membetulkan letak kacamatanya, dengan tatapan tenang, menanti.

"Aku gak ada syarat," jawab Adam.

"Yakin?"

Adam mengangguk dalam. Jika kacamata lensa minus tebal itu dibuka, Areta akan melihat binar ketulusan kasih sayang yang terpancar, tetapi Areta tidak melihatnya, dan Adam pun menyembunyikannya diam-diam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Culun Itu Suamiku   Minum Kamu

    Di dalam mobil mewah yang sudah menunggu di lobi (kali ini bukan motor matic), Areta mulai sedikit tersadar. Ia merasa berada di pelukan yang sangat hangat dan sangat wangi, aroma parfum mahal yang sama dengan CEO Rajawali."Dam...?" gumam Areta lirih, matanya terbuka sedikit melihat rahang tegas Adam dari bawah. "Kenapa kamu... keren banget? Kamu CEO itu, ya?"Adam menunduk, mencium kening istrinya dengan lembut. “Tidur saja, Are. Besok pagi, semua mimpi burukmu sudah hilang.”Adam melangkah masuk ke butik yang merangkap tempat tinggal mereka, masih menggendong Areta dengan kokoh. Luna sigap membantu membukakan pintu kamar yang terasa semakin sempit karena kehadiran beberapa pengawal di lorong.“Kenapa tidak dibawa ke apartemen saja, Pak?” tanya Luna dengan suara rendah, ragu melihat kondisi bosnya yang harus berdesakan di ruangan sekecil itu.“Kalau besok dia bangun di tempat semewah itu, apa yang harus aku katakan? Apartemen pinjaman Rajawali Jaya?” Adam menghela napas, matany

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pertolongan Suami

    Di lantai bawah, Adam merasa ada yang tidak beres. Ia mencium aroma alkohol yang tertinggal di gelas bekas Areta."Luna! Cek GPS ponsel Areta sekarang! Kamar mana?!" perintah Adam, suaranya kembali ke mode CEO yang dingin."Kamar 909, Pak! Tapi Renata baru saja menyuruh seorang pria naik lewat tangga darurat!"Adam tidak menunggu lift. Ia berlari menuju tangga darurat dengan kecepatan yang tak mungkin dimiliki oleh seorang pria "culun". Di dalam hatinya, kemarahan membara. Jika seujung kuku pun pria itu menyentuh Areta, aku akan pastikan mereka semua tidak akan melihat hari esok.Sementara itu, di dalam kamar 909, pintu balkon terbuka perlahan. Seorang pria asing masuk, mendekati Areta yang masih berhalusinasi dan bergumam memanggil nama "Adam".Langkah kaki Adam berderap keras di koridor lantai sembilan. Persetan dengan penyamaran, persetan dengan rencana Luna untuk menjebak Renata secara perlahan. Saat ini, hanya ada satu hal di pikirannya: keselamatan istrinya.Di dalam kamar 909,

  • Pria Culun Itu Suamiku   Rencana Jahat

    “Aku di sini untuk menyaksikan kehancuranmu, Areta! Aku tahu kamu dapat undangan makan malam pribadi. Aku hanya ingin semua orang tahu kalau kamu memanfaatkan kecantikanmu untuk mendekati Pak CEO!”Di tengah keriuhan itu, pintu besar ruangan VIP terbuka. Luna, sang sekretaris, melangkah keluar dengan wajah dingin. Ia tidak melihat ke arah Renata, melainkan langsung menuju ke arah pasangan itu.“Mohon tenang semuanya,” suara Luna menghentikan kegaduhan. Ia berjalan melewati Renata yang sudah siap-siap menyapa, dan justru berhenti tepat di depan Adam.Di depan mata Renata yang terbelalak dan Areta yang membeku, Luna membungkuk hormat. “Semua sudah siap, Pak Adam. Silakan mengambil alih.”Adam menghela napas panjang. Ia melepas kacamata minusnya yang tebal, menegakkan bahunya yang semula bungkuk, dan seketika itu juga, aura “pria culun” itu menguap, berganti dengan wibawa yang luar biasa tajam.“Terima kasih, Luna,” ucap Adam. Suaranya berat, bariton, dan... sangat familiar di telinga

  • Pria Culun Itu Suamiku   Undangan Terselubung

    Pagi itu, butik Renata – The Art of Fashion seharusnya menjadi pusat kesibukan untuk persiapan trunk show besok. Namun, alih-alih suara mesin jahit yang menderu, butik itu dipenuhi suara teriakan frustrasi Renata. “Apa?! Kain sutra pesanan saya dibatalkan? Saya sudah bayar DP!” teriak Renata melalui ponselnya. “Maaf, Bu Renata,” suara di seberang sana terdengar kaku. “Kami baru saja menerima instruksi dari pusat. Semua stok kain premium kami telah diborong oleh satu pembeli tunggal, Rajawali Jaya Group. Kontrak Anda kami batalkan secara sepihak, dan DP akan kami kembalikan dua kali lipat sesuai klausul force majeure.” Renata membanting ponselnya ke sofa. Belum sempat ia bernapas, asistennya berlari masuk dengan wajah pucat pasi. “Mbak Renata! Vendor lampu dan panggung juga membatalkan kontrak! Mereka bilang ... mereka mendadak harus pindah ke lokasi lain untuk acara dadakan Rajawali Jaya!” Di saat Renata hampir gila, sebuah mobil butut berhenti tepat di depan butiknya. Adam turun

  • Pria Culun Itu Suamiku   Mencari Alasan

    “Oh, gantungan kunci ini?” Adam (versi CEO) mengambil benda itu dengan gerakan tenang, seolah-olah itu hanya benda remeh yang tidak berharga. Ia memutarnya di sela jari dengan santai. “Ini adalah merchandise resmi dari program ‘Rajawali Peduli Driver’ yang kami jalankan bulan lalu, Ibu Areta. Kami membagikannya secara cuma-cuma kepada ratusan mitra, staf lapangan, bahkan tamu yang datang ke gedung ini,” jelas Adam dengan suara berat dan berwibawa. Ia meletakkan kembali kunci itu ke meja dengan bunyi klotak yang meyakinkan. “Mungkin asisten Anda mendapatkannya dari satpam di depan atau menemukannya di lobi. Kami memproduksi ribuan gantungan kunci seperti ini.” Areta tampak mengerutkan dahi, menatap gantungan kunci boneka kucing itu lekat-lekat. “Ribuan? Tapi kucing ini telinga kirinya agak sobek sedikit, persis punya ag ....” Adam hampir saja tersedak udara, tapi ia segera menimpali dengan nada dingin khas bos besar. “Itu karena kualitas produksinya memang massal, Ibu Areta.

  • Pria Culun Itu Suamiku   cantik

    "Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja,” bisik Areta.Adam tersenyum di balik kaca helm. “Aku tahu, Are. Kamu itu singa betina kalau urusan melindungi orang rumah.”“Tapi besok-besok, kamu harus lebih rapi kalau ikut aku ke kantor! Aku nggak mau kejadian tadi terulang. Besok kita ke pasar, aku belikan kamu kemeja baru yang lebih keren.”Adam terkekeh. “Siap, Bos Besar!”*Areta berdiri tegak di depan meja resepsionis dengan gaya bos besar. Ia mengenakan blazer terbaiknya, sementara Adam berdiri di belakangnya dengan kemeja baru hasil belanja di pasar kemarin (yang sebena”Saya tidak akan menandatangani kontrak apapun sebelum saya bertemu dengan CEO Anda,” tegas Areta kepada Luna. “Saya ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status