Se connecterDi salah satu sudut frame, terlihat seorang lelaki sedang mendongak dan melenguh kenikmatan ketika batang kejantannya sedang diisap dengan rakus oleh si perempuan. Sementara di saat yang bersamaan, seorang lelaki lainnya yang bertubuh tegap sedang menghujam tubuh si perempuan dari arah belakang dengan sangat kasar. Perempuan di dalam video itu tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri.Plak.Ponsel di tangan Ayu terlepas dan jatuh begitu saja di atas meja. Ayu seketika terduduk lemas di kursinya, kehilangan seluruh kekuatan di tubuhnya. Wajahnya pucat pasi seperti mayat. Ia menatap Rangga dengan pandangan mata yang kosong dan penuh guncangan batin."Rangga... ini...?" tanya Ayu dengan suara yang nyaris habis, air matanya kini benar-benar luruh membasahi pipinya."Ya, benar," jawab Rangga dengan suara yang sangat dingin dan mantap. "Itu rekaman CCTV dari vila yang kita sewa di Bali. Semua terekam jelas, Ayu. Jadi, apa sekarang kamu masih mau bilang kalau aku cuma menuduh dan bi
Rangga diam sejenak. Ia meletakkan burger ayam yang baru digigitnya ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya menatap lurus ke arah Ayu, namun ada sorot mata yang tertahan, seperti ada emosi besar yang sedang ia tekan sekuat tenaga di dalam dadanya agar tidak meledak.Ayu yang mendengar semua penuturan Rangga seolah-olah mendapat tamparan langsung dari Dewa Petir. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Perasaan malu yang luar biasa, berbaur dengan rasa bersalah yang amat sangat, tiba-tiba menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepalanya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai ia bisa mendengar suaranya sendiri di dalam telinga."Aku selama ini hanya curiga, Ayu," suara Rangga terdengar bergetar, memecah keheningan dapur yang mencekam. Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "Sampai akhirnya... aku melihat sendiri apa yang kalian lakukan di toilet beach club malam itu. Serius, Ayu? Di toilet?"Ayu tersentak. Ia meremas pinggiran kimono satinnya dengan
Ayu benar-benar membeku. Gelas yang baru saja ia letakkan hampir saja tersenggol oleh tangannya yang mendadak lemas. Semua pertanyaan, logika, dan konflik batin yang ia rasakan sejak di kamar tadi langsung hancur berantakan. Rangga benar-benar ada di Jakarta. Di depannya. Nyata.Rangga menutup pintu dengan tumit kakinya, lalu menoleh ke arah dapur. Begitu melihat ekspresi Ayu yang syok, melongo, dan tampak seperti melihat hantu, sebuah senyuman lebar langsung mengembang di wajah Rangga. Senyum yang tampak biasa saja, seolah tidak ada ketegangan dingin atau kejadian gila di antara mereka semalam."Hei, sudah bangun?" sapa Rangga dengan suara kasualnya yang santai. Ia berjalan mendekat ke arah meja makan, lalu meletakkan bungkusan-bungkusan plastik itu di atasnya.Ayu masih belum bisa bersuara. Mulutnya sedikit terbuka, matanya bergerak memperhatikan penampilan Rangga dari atas sampai bawah. "Kamu..." suara Ayu akhirnya keluar, sangat pelan dan serak.Rangga tidak langsung menjawab kebi
Ayu melenguh pelan, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali sampai pandangannya jelas. Saat mencoba menggerakkan tubuhnya, Ayu langsung meringis. Badannya terasa sangat lemas, dan seluruh tulang-tulangnya terasa pegal serta berantakan, seolah-olah ia baru saja melakukan aktivitas fisik yang sangat berat.Ayu menatap sekeliling. Ia terbangun di atas kasur kamarnya sendiri, dalam keadaan tertutup selimut tebal sampai ke dada. Dahinya mengernyit bingung. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam."Tunggu..." gumam Ayu pada diri sendiri dengan suara serak, "kenapa aku bisa ada di kasur?"Ingatan terakhir yang ada di kepalanya adalah ruang tengah. Ia ingat betul bagaimana ia bergerak liar di atas pangkuan Rangga di atas sofa kulit hitam, lalu berteriak saat mencapai orgasme yang luar biasa dahsyat. Setelah itu, semuanya mendadak buram. Ia tidak ingat bagaimana caranya ia bisa pindah ke dalam kamar tidur.Ayu terdiam di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar-
Tanpa membuang waktu lagi, Ayu memegang kejantanan Rangga yang masih berdiri tegak dengan kokoh. Kali ini, ia tidak mengarahkannya ke lubang belakang. Ayu memposisikan area kewanitaannya tepat di atas ujung kejantanan suaminya. Dengan satu gerakan yang mantap dan tegas, Ayu menurunkan pinggulnya secara perlahan, membiarkan tubuh mereka menyatu melalui jalan yang seharusnya."Ahhh... mmhnn... Rangga..." Ayu melenguh panjang saat merasakan kejantanan suaminya merangsek masuk dan memadati bagian depannya.Ayu memejamkan mata sejenak, merasakan sensasi penuh yang luar biasa padat di dalam dirinya. Di dalam benaknya, sebuah pertanyaan mendadak muncul dan berputar-putar dengan membingungkan. Tunggu dulu... kenapa rasanya bisa sepenuh ini? Apakah milik Rangga biasanya memang sepenuh dan sekeras ini di dalam diriku? Ataukah karena beberapa hari ini aku terbiasa berbagi, hingga rasanya menjadi berbeda saat hanya ada ia yang mengisi di depan? Ah, gila, ini terlalu padat!Ayu membuka matanya kem
Namun, tepat sebelum Ayu sempat menyelesaikan nama suaminya, Rangga langsung memajukan wajahnya dengan cepat. Ia mengunci pergerakan kepala Ayu dan langsung melumat bibir istrinya itu dengan sangat kasar dan dalam. Rangga membungkam mulut Ayu, menghentikan semua kata yang ingin diucapkan oleh wanita itu. Ciuman Rangga terasa sangat menuntut, lidahnya masuk dan menjelajahi rongga mulut Ayu dengan dominasi penuh, menyedot habis sisa napas Ayu.Di dalam dekapan dan lumatan bibir Rangga yang tanpa ampun, pikiran Ayu mendadak menjadi sangat kacau dan berantakan. Gelombang kenikmatan fisik yang membombardir tubuhnya dari depan dan belakang membuat kapasitas otaknya menyusut drastis. Anehnya, di tengah-tengah kekacauan mental itu, Ayu justru merasa kesulitan untuk mengingat kembali detail kejadian gila yang baru saja ia lalui di Bali beberapa hari lalu.Bayangan tentang hubungan intim bertiga yang ia lakukan bersama dua lelaki asing mendadak menjadi sangat buram. Ingatannya tentang Daniel ya
Pikiran Ayu semakin liar. Ia mencoba mencocokkan potongan puzzle yang tidak pas."Dia bilang dia terjebak demi bisnis. Tapi kalau dia memang terjebak, kenapa dia baru pulang jam lima pagi? Beach club tutup jam dua. Ke mana dia selama tiga jam sisanya? Perjalanan dari Uluwatu ke vila ini cuma tiga p
"Nggak! Demi Tuhan, nggak sampai sejauh itu!" potong Rangga cepat, matanya membelalak panik seolah Ayu baru saja menuduhnya membunuh. "Aku berhasil kabur pas dia ke toilet. Aku lari, Yu. Aku lari kayak pengecut ninggalin beach club itu. Aku takut... aku ngerasa dilecehkan, tapi aku juga ngerasa ber
Kosong.Seprai di sisi itu masih rapi. Licin. Dingin. Bantalnya masih menggembung sempurna, tidak ada lekukan bekas kepala. Tidak ada aroma parfum Rangga. Tidak ada suara dengkuran halusnya yang biasa menemani tidur Ayu.Ayu terpaku.Ia mengerjap beberapa kali, memastikan penglihatannya tidak salah
Ayu: "Berhenti sok tau. Aku mau istirahat."Daniel: "Istirahat? Yakin bisa tidur? Padahal badan kamu masih panas gara-gara tadi. Aku masih bisa cium wangi kamu di kemejaku, Yu. Manis banget."Pipi Ayu memanas membaca pesan itu. Ingatan tentang sentuhan kasar Daniel di toilet, napasnya yang memburu,







