Share

Bab 30

Author: Khai Tsan
last update Huling Na-update: 2025-12-13 20:31:21

Ayu memandangi foto itu. Rangga terlihat bahagia, kasual namun formal, mengenakan jas yang selalu ia kenakan untuk rapat penting. Sementara Tania, wanita di sebelahnya, tampak elegan dan memancarkan aura 'wanita karier sukses'.

"Tania? Bukannya dia itu rekan satu tim Rangga di kantor cabang Australia?" tanya Ayu, mencoba bersikap santai, padahal ada sengatan listrik kecil yang menjalar di hatinya.

Rina memutar bola mata, memasang ekspresi 'kamu-pasti-bercanda'.

"Ayu, Sayang. Kamu lihat caption-
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 101

    "Suami?”, Ayu tertawa sinis. “Suami itu akan selalu ada untuk istrinya, dan akan selalu lebih mengutamakan istrinya dari apapun”.“Coba lihat dirimu Rangga, berapa banyak sudah janji yang kamu ingkari, kamu sadar tidak sudah menyakiti istrimu berkali-kali”, lanjut Ayu dengan nada penuh emosi. “Tapi aku kerja untuk kita Ayu, untuk masa depan kita, untuk kamu juga”, Rangga menekankan kalimatnya.“Dari dulu hanya Itu alasan kamu, sudahlah Rangga cukup, sudah lelah aku dengan sikapmu, aku tutup telponnya”, suara Ayu terdengar lebih pelan.“Tunggu.. Ayu, jangan tutup dulu”, cegah Rangga.“Apa lagi Rangga?, tidak cukupkah kamu membuat istrimu ini sakit hati hari ini?”. Ayu berkata dengan nada geram."Ayu! Sebutkan namanya! Siapa bajingan yang bersamamu di pantai itu?""Pikirkan saja sendiri, Rangga. Bukankah kamu pintar berimajinasi? Bayangkan saja aku sedang bahagia dengan seseorang yang jauh lebih menghargaiku daripada kamu. Itu yang kamu inginkan, kan? Alasan untuk merasa bebas di sana?

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 100

    Ayu meraih ponsel itu tanpa ragu. Daniel perlahan melepaskan dekapannya, memberi ruang bagi Ayu, lalu bersandar di sampingnya sambil memperhatikannya dengan tatapan intens."Ya, Rangga," jawab Ayu datar. Suaranya masih berat, napasnya naik-turun tak beraturan."Ayu? Kamu di mana? Kenapa napasmu... kenapa kamu terengah-engah begitu?" Suara Rangga di seberang telepon, terdengar penuh selidik.Ayu memejamkan mata, merasakan hembusan angin laut yang kering. “To the point saja, ada apa menelepon?""Napasmu tidak normal, Ayu. Kamu habis melakukan apa?""Aku sedang di luar. Panas sekali di sini. Aku baru saja mendaki anak tangga dari bibir pantai kembali ke atas tebing. Wajar kalau aku capek, kan? Jadi jangan bertanya yang tidak penting. Ada apa?"Rangga mengembuskan napas panjang. Ada jeda yang cukup lama sebelum ia bicara. "Aku mau minta maaf, Yu. Sepertinya aku belum bisa memenuhi janjiku untuk pulang ke Indonesia besok. Pekerjaan di sini mendadak kacau. Aku terpaksa melanggar janji lagi.

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 99

    Ayu menahan napas saat tangan Daniel menyapu punggungnya, membebaskan sisa ikatan bikini yang ia kenakan. Kain hitam itu merosot jatuh ke atas karang, membiarkan bagian atas tubuh Ayu sepenuhnya terbuka.Daniel menatap lekat-lekat wanita di depannya. Matanya menggelap, memancarkan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan."Cantik," bisik Daniel serak. Tangannya turun, meremas pelan pinggang Ayu yang bertumpu pada batu karang setinggi pinggang tersebut.Ayu menggigit bibir bawahnya, menatap Daniel dengan napas memburu. "Tunggu apa lagi, Niel? Lakuin aja."Daniel tersenyum miring. "Jangan buru-buru, Yu. Kita nikmati pelan-pelan."Bukannya langsung menyatukan tubuh mereka, Daniel justru merunduk. Ia menempelkan bibirnya di leher Ayu, memberikan hisapan pelan di sana, lalu lidahnya mulai bergerak turun. Ia menyapu dada Ayu, merayap ke perut ratanya yang berkeringat, hingga akhirnya turun ke area kewanitaan Ayu yang sudah terekspos tanpa penghalang."Ahhh... Niel..." Ayu tersentak kaget. Tan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 98

    Ayu perlahan mundur, menarik diri dari celah batu sebelum pasangan itu sadar. Daniel membimbingnya menjauh, kembali ke balik batu karang besar tempat mereka bersembunyi di awal.Ayu menyandarkan punggungnya ke dinding karang yang kasar dan hangat. Kakinya terasa lemas. Wajahnya merah padam, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Daniel berdiri di hadapannya, mengurung Ayu dengan kedua lengan yang bertumpu pada karang. Mata Daniel gelap, penuh intensitas yang membaca setiap inci bahasa tubuh Ayu."Kenapa tadi tidak mau pergi?" tanya Daniel. Nadanya menginterogasi, namun lembut.Ayu menunduk, menghindari tatapan Daniel. "Aku... aku cuma kaget. Aku penasaran.""Penasaran atau ingin?" tembak Daniel langsung.Ayu mengangkat wajahnya, menatap Daniel dengan tatapan menantang yang rapuh. "Kalau aku bilang ingin, kamu mau apa?"Daniel tersenyum miring. Ia mengusap pipi Ayu dengan ibu jarinya yang kasar. "Rina," kata Daniel tiba-tiba.Ayu mengerutkan kening. "Apa?""Kamu tadi sebut nam

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 97

    Posisi mereka begitu intim. Si wanita melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, punggungnya melengkung ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang sedang diciumi dengan rakus. Tangan si pria meremas pinggul wanita itu dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putihnya.Ayu tidak bisa memalingkan wajahnya.Tiba-tiba, sebuah ingatan menyeruak di kepala Ayu. Kejadian beberapa bulan lalu yang ia kubur dalam-dalam.Di kantor, tepatnya Ruang Rapat Utama yang terletak di ujung lorong sepi di lantai itu. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, dan sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor hening.Ayu mendorong pintu kaca Ruang Rapat Utama perlahan. Ruangan itu tampak gelap dan kosong. Ia melangkah masuk menuju meja utama dan menemukan kandar kilas (flash disk) peraknya masih tertancap di port proyektor.Tepat saat tangannya meraih benda itu, Ayu mendengar suara samar-samar yang datang dari Ruang Rapat Cadangan, sebuah ruangan kecil yang terhubung langsung dengan ruangan utama m

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 96

    "Hei, kenapa? Abaikan saja, Yu. Namanya juga tempat umum, banyak orang bicara sembarangan," bujuk Daniel lembut."Gimana bisa aku abaikan, Niel? Telingaku panas." Ayu menyibakkan rambutnya dengan kasar. Napasnya mulai tidak teratur. "Rasanya aku dikejar-kejar hantu perempuan itu ke mana pun aku pergi. Semua orang membicarakan dia. Muak aku.""Sabar, Yu. Jangan emosi dulu. Ingat, kita di sini untuk senang-senang." Daniel mencoba meraih tangan Ayu, tetapi wanita itu menariknya menjauh."Gampang kamu bicara sabar. Kamu tidak merasakan jadi istri yang suaminya sedang jadi bahan omongan orang karena perempuan itu." Ayu membuang muka ke arah laut, kakinya mengetuk-ngetuk pasir dengan gelisah.Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua butir kelapa muda utuh yang segar."Permisi, ini kelapa mudanya, Kak," sapa pelayan itu ramah sembari meletakkan pesanan di meja kecil di antara mereka.Daniel mengangguk singkat pada pelayan itu. "Makasih, Mas."Setelah pelayan pergi,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status