ログインSeketika Kepala Desa langsung tersentak. “Ini cuma masalah kecil, Pak. Saya sudah membereskannya,” alibinya."Saya pikir ini bukan masalah kecil, Pak Kades. Ini lebih mirip seperti usaha pembunuhan berencana dan pengeroyokan," jawab AKP Darmawan tanpa menurunkan sorotan senternya sedikit pun dari mata Pak Kades yang mulai bergerak gelisah."Bapak salah paham! Mantri ini... dia adalah pencuri dokumen negara! Kami cuma mencoba mengamankannya sebelum dia melarikan diri!" seru Kepala Desa, mencoba melempar fitnah terakhirnya dengan suara yang pecah.Linda, yang sejak tadi terisak dan meronta dalam cengkeraman kasar ayahnya, melihat kehadiran polisi sebagai satu-satunya mukjizat yang tersisa.Dengan sisa tenaga yang ia miliki dan dorongan adrenalin karena melihat Tresna yang sudah bersimbah darah di lantai, Linda memberontak kuat. Ia menyentakkan kedua lengannya sekuat tenaga sampai berhasil melepaskan cengkeraman tangan ayahnya yang mulai melonggar karena keterkejutan yang luar biasa."Ma
WIIIIIIIIUUUUUUU... WIIIIIIIIUUUUUUU...Suara raungan sirine yang sangat keras tiba-tiba membelah kesunyian malam di Sukamaju. Suara itu bukan cuma berasal dari satu kendaraan, melainkan terdengar seperti konvoi beberapa mobil besar yang bergerak dengan kecepatan tinggi.Cahaya biru dan merah yang menyilaukan mulai memantul di antara rimbunnya pohon jati dan tebu di kejauhan, bergerak cepat mendekati halaman rumah joglo melalui jalan setapak persawahan yang sempit.Hantaman tongkat para hansip yang tadinya beringas seketika terhenti di udara, seolah waktu mendadak membeku. Ketiga petugas itu berdiri mematung dengan napas tersengal-sengal, menatap ke arah sumber cahaya yang kini semakin terang menyinari kegelapan.Kepala Desa yang tadi berdiri berkacak pinggang dengan senyum lebar, mendadak berubah raut wajahnya jadi tegang, kaku, dan pucat pasi. Senyum kemenangannya lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata yang dipenuhi ketakutan luar biasa.Ia menoleh ke arah sumber suara dengan m
"Kena kamu! Ternyata kulitmu nggak sekeras omonganmu, hah?!" seru hansip berperawakan gempal yang matanya sudah gelap oleh instruksi atasan.Tresna meringis menahan nyeri yang luar biasa menjalar dari bahu ke seluruh lengan kirinya. Meski posisinya kini berlutut, ia tetap mendongak dengan tatapan yang masih memancarkan api perlawanan. Sebagai pria yang sudah berkali-kali mencium bau maut, rasa sakit fisik ini justru menjadi bahan bakar bagi amarahnya yang mulai mendidih di balik ketenangannya.Dua petugas lainnya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Melihat sang mantri yang selama ini disegani warga kini jatuh berlutut tak berdaya di depan kaki mereka, mereka justru makin beringas buat nunjukin loyalitas buta pada Kepala Desa.Secara bersamaan, mereka memanfaatkan posisi rendah Tresna buat menendang perut dan memukul punggungnya tanpa ampun sedikit pun."Hajar terus! Jangan biarin dia bangun lagi! Dia udah nipu kita semua!" teriak Kepala Desa dari jarak aman di dekat pintu dapur.
Tresna mendesis pelan, menahan amarah yang hampir meluap. Ia menatap langsung ke mata Pak Kades yang kini mulai goyah karena ketakutan. Meski posisinya terjepit dan dituduh sebagai pencuri, sang mantri tetap tenang, ia tahu bahwa kebenaran yang sesungguhnya sudah berada di permukaan, tinggal menunggu waktu untuk meledak.Tresna mendongak, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam mata Kepala Desa yang mulai goyah."Bapak tahu betul itu bukan dokumen pemerintah. Jangan bohongi diri sendiri. Itu dokumen wakaf asli yang selama ini Bapak sembunyiin dari warga karena Bapak udah terima suap dari Juragan.""Bohong! Jangan dengarin omongan maling ini! Dia lagi coba ngadu domba kita!" sahut Kepala Desa dengan suara lebih kencang hingga menggema di halaman rumah joglo."Dia itu mata-mata yang mau hancurin proyek pembangunan desa kita! Dia sengaja bikin kertas kusam itu supaya kita takut sama investor!""Investor? Maksud Bapak investor yang tadi malam coba bakar rumah ini dan mau bunuh Linda?!"
Suasana di teras rumah joglo itu mendadak jadi sangat mencekam. Lebih dingin dari embun malam, tapi lebih panas dari bara api yang baru saja padam di kejauhan.Dokumen kuno di tangan Linda seolah menjadi pusat gravitasi yang menarik seluruh ketegangan malam itu ke satu titik fokus yang mematikan. Kepala Desa, pria yang seharusnya jadi pelindung warga Sukamaju, menatap kertas kulit usang itu dengan pandangan yang perlahan berubah, dari amarah menjadi ketakutan murni."Sini! Kasih ke Bapak! Jangan berani-berani kamu pegang kertas itu, Linda!" bentak Kepala Desa dengan suara parau yang bergetar hebat.Tanpa nunggu persetujuan atau jawaban dari putrinya, Kepala Desa merampas gulungan kertas kulit itu dari tangan Linda dengan gerakan sangat kasar dan nggak terkendali.Sentakan itu begitu kuat sampai bikin Linda terhuyung ke samping, nyaris jatuh di atas lantai teras yang masih licin oleh genangan bensin yang menyengat. Linda terkesiap, menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya.Tresna y
"Itu fitnah yang keji banget, Pak Kades," desis Tresna.Kepala Desa nggak kasih kesempatan buat Tresna jelasin lebih lanjut. Dengan gerakan cepat dan nggak terduga, dia melangkah lebar lalu melayangkan tamparan tangan kanannya dengan sangat keras.PLAKKK!Tamparan itu mendarat telak di pipi kiri Tresna hingga bunyinya menggema di kesunyian teras joglo. Kepala Tresna tersentak ke samping. Sudut bibirnya yang baru saja dibasuh Silvi kini kembali pecah dan mengeluarkan darah segar.Ada rasa panas yang menjalar di pipinya, namun harga diri Tresna sebagai pria jauh lebih terluka daripada fisiknya. Ia perlahan memutar kembali kepalanya, menatap Pak Kades dengan mata yang berkilat tajam, sebuah tatapan dari seorang predator yang sedang menahan diri agar tidak balik menerkam."Mas Tresna!" pekik Silvi dari balik bayang-bayang. Ia tidak berani mendekat karena takut malah bikin suasana makin keruh.Tresna cuma diam. Ia tidak membalas, bahkan tidak mengangkat tangan buat menangkis. Ia menundukka
Pintu gudang terbuka dengan suara derit engsel yang nyaring dan memecah kesunyian. Cahaya dari koridor luar masuk menyinari bagian depan gudang yang semula remang-remang.Didin masuk ke dalam ruangan sambil mengomel pan
Tresna tetap mempertahankan posisinya yang sedang menghujam dari belakang saat suara langkah kaki berat mendadak terdengar berhenti tepat di depan pintu. Gagang pintu besi itu diputar dengan kasar berkali-kali hingga menimbulkan suara gaduh yang sangat mengagetkan
Sisa kehangatan di dapur itu masih membekas jelas di benak Tresna. Setelah cairan kejantanannya membasahi kulit putih Arum, suasana mendadak sunyi senyap. Hanya suara napas mereka yang saling memburu di antara remang lampu minyak yang mulai meredup.Arum menyeka dadanya yang basah dengan kain serbe
Gudang farmasi yang sempit itu seolah kehilangan pasokan udara. Suara detak jam di dinding lorong Puskesmas terdengar samar, kalah telak oleh suara degup jantung Tresna yang berdentum hebat di dalam rongga dadanya. Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Rini barusan laksana sumbu pendek yang mem







