홈 / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 115: Tragedi Nasi Padang Empat Porsi

공유

Bab 115: Tragedi Nasi Padang Empat Porsi

작가: Ibrahiman
last update 게시일: 2026-06-02 18:19:55

"Waduh, aliansi mertua gaib di kapal selam amfibi seksi! Jangan tembakkan dulu rudal nuklir pembuahan massal ke pusaka semut rangrang Mas Madun, cyiiinnn! Sumpah ya, zat perekat kimia militer di tubuh jantan saya luntur bukan karena cairan pelarut rahasia, tapi karena lambung kuli panggul ekeuuu mulas akut akibat nekat nambah nasi padang empat kali porsi kuli dobel kuah banjir pedas mampus!" jerit Madun panik sambil pegang perut yang bunyi nyaring di tengah runtuhan dinding Rumah Makan Padang p
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 431: Kunjungan Susulan Cleo dan Michelle ke Kedai

    ​Siang hari yang cerah, hangat, dan dipenuhi terik matahari menyinari kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Suasana di sekitar Istana RM Jagoan Rasa tampak begitu hidup dan sibuk. Aroma harum bakaran arang berpadu sempurna dengan kepekatan bumbu kacang khas sate jando legendaris yang kembali menguar memenuhi udara jalanan protokol, menarik perhatian siapa saja yang melintas di kawasan tersebut.​Di balik meja panggangan utama, Madun berdiri tegap mengenakan apron dapur kesayangannya. Dengan gerakan tangan yang sangat cekatan, gesit, dan penuh pengalaman, ia membalik puluhan tusuk sate di atas bara api menyala. Sebagai jagoan jalanan penguasa Jakarta Pusat, kewibawaannya di dapur tidak pernah diragukan oleh siapa pun.​"Pesanan meja sepuluh jangan sampai keliru urutan bumbunya, Om! Pastikan porsinya pas!" seru Vanesha tegas namun anggun dari meja kasir VIP.​Vanesha duduk dengan postur sempurna di singgasana manajerialnya, mengawasi seluruh jalannya operasional restoran dengan mata jeli

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 430: Kembalinya Sang Jagoan ke Kedai Legendaris

    ​Pukul 12.00 siang, Rabu, 29 Oktober 2026. Suasana di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat, tampak begitu hidup, sibuk, dan dipadati oleh deru kendaraan roda empat yang lalu-lalang di bawah terik matahari siang yang menyengat. Tepat di pekarangan luas Istana RM Jagoan Rasa, SUV hitam legendaris yang membawa pasutri Menteng baru saja mematikan mesinnya dengan mulus setelah menempuh perjalanan pulang dari pegunungan Puncak.​Madun membuka pintu kemudi, lalu melangkah keluar mengenakan kaos kasual rapi dengan postur tegapnya sebagai seorang jagoan jalanan yang sangat disegani di seluruh penjuru ibu kota. Di sisi lain, Vanesha turun dengan langkah anggun mengenakan blazer modis bernuansa profesional, memancarkan aura permaisuri agung yang memegang kendali penuh atas segala urusan domestik maupun bisnis keluarga.​"Akhirnya kita injek tanah Menteng lagi setelah liburan seru dan penuh dinamika di Puncak kemarin," ucap Madun lega sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.​Namun, begitu mereka

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 429: Kepulangan Menuju Istana RM Jagoan Rasa

    ​Pukul 10.00 pagi, Rabu, 29 Oktober 2026. Sinar matahari pagi yang cerah, hangat, dan keemasan menyinari kawasan vila mewah di pegunungan Puncak, Bogor, memberikan kehangatan yang sempurna setelah sarapan bersama yang damai dan penuh kekeluargaan. Udara pagi pegunungan yang sangat segar dan bersih perlahan digantikan oleh semangat baru untuk kembali menyongsong rutinitas padat di ibu kota Jakarta.​"Semua barang bawaan kita semalam sudah dimasukkan ke bagasi mobil dengan lengkap dan rapi kan, Om?" tanya Vanesha memastikan sambil merapikan mantel wol elegannya di teras utama vila kaca tersebut.​Di halaman parkir luas yang dikelilingi taman asri, Cleo dan Michelle turut mengantar kepulangan pasutri Menteng sampai ke dekat pintu mobil SUV hitam legendaris mereka. Kedua mahasiswi high class itu berdiri berdampingan dengan senyuman kaku namun penuh rasa hormat yang mendalam.​"Hati-hati di jalan ya, Abang Madun, Kak Vanesha. Selamat jalan kembali ke Jakarta, semoga selamat sampai tujuan,"

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 428: Pagi Hari di Vila Pegunungan Puncak

    ​Pukul 08.00 pagi, Rabu, 29 Oktober 2026. Sinar matahari pagi yang cerah, hangat, dan keemasan menembus dinding kaca besar vila mewah di kawasan pegunungan Puncak, Bogor, menyinari setiap sudut ruangan dengan bias cahaya yang sangat menenangkan. Udara pagi pegunungan yang sangat segar, bersih, dan sejuk menyambut datangnya hari baru yang tenang setelah malam panjang penuh gairah, intrik psikologis, dan dominasi domestik mutlak yang mempertontonkan kekuasaan penuh pasutri Menteng.​Di dalam kamar tidur utama VVIP yang megah, Madun dan Vanesha masih terlelap dalam pelukan hangat satu sama lain di atas hamparan seprai berbulu putih lembut bagai awan tebal. Aroma wewangian lavender yang menenangkan masih menguar tipis di udara, berpadu dengan hembusan angin sejuk luar jendela.​Vanesha, sang permaisuri agung Menteng, perlahan mengerjap membuka matanya. Ia merasakan kenyamanan dan kehangatan luar biasa dalam dekapan erat suaminya tercinta. Senyuman tipis menghiasi bibir merah marunnya saat

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 427: Adegan +21 Elegan: Sesi Hukuman Permaisuri

    ​Pukul 22.30 malam, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di dalam kamar tidur utama VVIP vila kaca mewah di kawasan Puncak, Bogor, diselimuti oleh keheningan malam pegunungan yang sangat pekat dan intim. Di atas hamparan ranjang king-size berukuran raksasa yang dibalut seprai berbulu putih lembut bagai awan tebal, Vanesha—sang permaisuri agung Menteng—menatap tajam ke arah suaminya yang berada di bawah kungkungannya.​Cahaya lampu tidur temaram berwarna kuning keemasan memantul indah di atas kulit porselen Vanesha yang mulus, menciptakan bayangan dramatis di sudut-sudut kamar mewah tersebut. Udara dingin di luar jendela kaca seolah tak berdaya menembus kehangatan ruang privat yang dipenuhi oleh aroma wewangian lavender dan gairah yang membara di udara.​Vanesha menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Madun. Tatapan matanya menyala tajam, menyimpan sisa-sisa amarah dan rasa cemburu terkontrol atas insiden tebar pesona mahasiswi high class di kolam renang tadi.​"Sekarang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 426: Evakuasi Pasutri ke Kamar Utama Vila

    ​Pukul 22.00 malam, Sabtu, 7 November 2026. Setelah menyelesaikan pertunjukan dominasi mutlak yang meremukkan sisa-sisa mental Cleo dan Michelle di tepi kolam renang, Vanesha memutuskan bahwa babak interaksi publik malam itu harus segera disudahi. Udara dingin pegunungan Puncak yang semakin menusuk tulang seolah bersekongkol dengan kehangatan hasrat yang bergejolak di dalam dada sang permaisuri agung Menteng.​"Pertunjukan malam ini sudah resmi selesai sepenuhnya. Waktunya kita undur diri dari hadapan mereka dan masuk ke wilayah pribadi kita," ucap Vanesha dingin namun tegas kepada suaminya.​Di kursi beludru seberang kolam, Cleo dan Michelle hanya bisa terdiam lesu dengan kepala tertunduk. Kedua mahasiswi high class itu benar-benar dibuat gigit jari, menelan ludah rapat-rapat saat menyaksikan betapa mutlaknya kekuasaan Vanesha atas sang jagoan Menteng.​"Kita bener-bener gak berkutik di hadapan mereka berdua... Rencana kita hancur total," bisik Cleo meratapi nasibnya malam itu dengan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status