Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 304: Patroli Malam Sandal Jepit Hijau

Share

Bab 304: Patroli Malam Sandal Jepit Hijau

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-09-04 19:54:16

​Suasana kawasan elit Menteng mendadak berubah drastis abis surat ancaman sindikat mawar hitam ditemuin. Lampu jalanan yang biasanya terang benderang malem itu kedip-kedip redup, bikin bayangan panjang serem di trotoar beton. Angin malem niup kenceng, bawa hawa dingin nusuk tulang yang bikin suasana sekitar senyap dan nyimpen aura ngeri.

​Tapi, di tengah cuaca dingin itu, ada cowok jalan santai tanpa beban di aspal Menteng.

​Dialah Madun, jagoan desa.

​Madun langkahin kaki mantap pake kaos oblo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 308: Duel Kilat Pasar Induk

    ​Lorong sempit Pasar Induk Kramat Jati yang tadinya mendadak sunyi brubah jadi arena ketegangan tingkat tinggi. Delapan preman badan kekar berseragam jaket kulit hitam lencana mawar hitam berdiri ngepung, pegang sragam senjata tajam sm pipa besi. Di barisan paling dpan, pemimpin preman bekas luka sayat nyengir lebar, ngerasa di atas angin krn nira sang jagoan desa bakal terjebak di kepungan.​Tapi, reaksi yang ditunjukkin Madun jauh banget dari perkiraan mereka.​Alih-alih lepas rangkulan atau pasang kuda-kuda tarung kaku, Madun tetep berdiri santai banget. Kaki kanan beralaskan sandal jepit swallow hijau keramat bertumpu rileks di lantai semen pasar yang basah. Penuh PD, tangan kiri Madun tetep rangkul erat pinggang ramping Audrey, tarik tubuh istri ketiganya itu nempel aman dan nyaman di sisi tubuhnya.​"Wah, rupanya rombongan sirkus keliling nyasar smpe los sayur," gumam Madun suara bariton berat santai, mecah kesunyian pagi pasar induk. "Kalian salah tempat kalau mau cari panggung

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 307: Perjalanan ke Pasar Induk

    ​Mentari pagi di langit Jakarta makin tinggi, mancarin bias cahaya keemasan yang nembus celah gedung pencakar langit ibu kota. Udara pagi yang seger berpadu kepulan asap kendaraan, ciptain ritme hidup metropolitan yang serba cepet. Di tngh hiruk-pikuk lalu lintas pagi yang padat, pemandangan kontras tapi ikonik banget nampak di ruas jalan protokol Menteng ngarah pinggiran kota.​Motor bebek tua Honda Lele warna biru pudar melaju lincah nyalip deretan mobil sedan mewah sm bus kota. Di atas jok motor legendaris itu, duduk sang jagoan desa, Madun. Dia pake kaos oblong putih polos kesayangan, celana training hitam longgar, dan tentu saja—lambang keagungan abadi—sandal jepit swallow hijau keramat yang bertumpu mantap di pijakan kaki motor. Di blakangnya, melekat erat istri ketiga yang jelita dan lincah, Audrey.​Perjalanan pagi itu bkn sekadar jalan-jalan biasa bwt belanja kebutuhan dapur restoran. Di atas motor bebek tua yang mesinnya menderu konstan krn racikan jamu rawa lele, tersimpen

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 306: Serangan Cemburu di Dapur

    ​Mentari pagi di kawasan elit Menteng baru saja merayap naik, memantulkan pendar keemasan di atas genting-genting bangunan RM Jagoan Rasa. Namun, alih-alih disambut dengan suasana tenang khas jam persiapan buka restoran, udara di dalam bangunan mewah itu justru terasa bergetar hebat oleh gelombang emosi yang membakar. Vanesha, Celine, dan Audrey masih belum bisa menetralisir rasa cemburu yang mengakar kuat di dada mereka setelah insiden kemunculan Natasha—sang Ratu Malam berambut perak—yang dengan lancang mendekati suami tercinta mereka malam sebelumnya.​Vanesha mondar-mandir di ruang depan dengan wajah tertekuk masam, sementara Audrey terus-menerus mencengkeram spatula besi di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa tidak suka terhadap wanita asing yang berani menggoda Madun benar-benar memicu letupan cemburu buta yang luar biasa dahsyat. Di tengah situasi panas penuh kecemburuan itulah Madun melangkah santai ke area dapur utama, mengenakan kaos oblong putih kesayangannya d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 305: Pertemuan dengan Ratu Malam

    ​Udara malem di persimpangan Menteng berasa makin berat dan pekat. Pendar lampu jalan temaram ciptain bayangan panjang di aspal hitam, sementara angin dingin niup mantel bulu hitam cewek berambut perak yang berdiri tepat di dkt Madun sm Vanesha.​Cewek itu Natasha—mantan tunangan Don Pedro, gembong sindikat internasional yang sebelumnya dipermalukan dan dijebloskan ke penjara sm sang jagoan desa. Kehadirannya malem itu bukan kebetulan, tapi tantangan langsung dari dunia hitam elit luar negeri.​Vanesha nempel erat ke sisi Madun, jarinya cengkeram kuat lengan kaos oblong putih suaminya. Matanya nyalang tajem, siap terkam cewek sombong yang berani ngalangin jalan mereka.​Tapi Madun ttep santai. Kaki kanannya yang pake sandal jepit swallow hijau keramat tumpu santai di aspal. Di balik celana training hitamnya, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen gara-gara gigitan ribuan semut rangrang dan jamu leluhur nongol tegas, pancarin aura kejantanan purba yang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 304: Patroli Malam Sandal Jepit Hijau

    ​Suasana kawasan elit Menteng mendadak berubah drastis abis surat ancaman sindikat mawar hitam ditemuin. Lampu jalanan yang biasanya terang benderang malem itu kedip-kedip redup, bikin bayangan panjang serem di trotoar beton. Angin malem niup kenceng, bawa hawa dingin nusuk tulang yang bikin suasana sekitar senyap dan nyimpen aura ngeri.​Tapi, di tengah cuaca dingin itu, ada cowok jalan santai tanpa beban di aspal Menteng.​Dialah Madun, jagoan desa.​Madun langkahin kaki mantap pake kaos oblong putih polos kebanggaannya yang nge-fit pas di dada bidangnya, dipadu celana training hitam longgar. Di kaki kokohnya, nempel sandal jepit hijau keramat—senjata andalan yang nemenin dia lewat berbagai perang sengit dari rawa lele angker ampe panggung internasional. Langkah kakinya mantap, bunyi slep-slep khas sandal jepit legendaris mecah sunyinya malem.​Dia gak sendirian, Madun ditemenin Vanesha, istri pertamanya yang anggun jelita. Vanesha pake jaket kulit hitam elegan yang kontras sama muk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 303: Surat Hitam Kedua

    ​Malam di kawasan elit Menteng mendadak terasa jauh lebih dingin ketika angin berhembus kencang melintasi pepohonan rindang di sekitar RM Jagoan Rasa Restoran. Di ruang tamu istana Menteng, cahaya lampu gantung kristal memancarkan pendar kuning yang hangat, namun suasana di dalam ruangan tersebut dipenuhi oleh ketegangan yang pekat.​Madun, sang jagoan desa, berdiri tegak di dekat meja tengah. Ia mengenakan kaos oblong putih polos dan celana training hitam, sementara kaki kanannya yang bersandal jepit swallow hijau keramat bertumpu santai di atas lantai marmer. Di hadapannya, sebuah kotak kardus hitam pekat dengan lambang mawar hitam baru tergeletak terbuka lebar.​Vanesha, Celine, and Audrey berdiri mengelilingi meja tersebut dengan napas tertahan. Di dalam kotak hitam itu, terdapat selembar surat perkamen bertekstur kasar dengan tulisan tinta perak yang berkilau di bawah cahaya lampu.​Vanesha, dengan jemari yang sedikit bergetar, mengambil surat tersebut lalu membacakannya dengan s

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status