Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 324: Sentuhan Pertama di Balik Pagar

Share

Bab 324: Sentuhan Pertama di Balik Pagar

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-09-18 19:46:20

​Pukul 16.30 WIB. Suasana di balik semak-semak pohon kemuning samping pagar RM Jagoan Rasa mendadak berubah menjadi panggung drama percintaan kilat yang sangat menegangkan. Vanesha berdiri terpaku di teras restoran dengan nampan kosong di tangan kirinya, matanya melotot tajam menatap adegan basah di hadapannya.

​Namun, alih-alih melepaskan rangkulannya begitu kepergok sang istri pertama, Madun justru semakin menunjukkan tabiat aslinya sebagai jagoan desa yang tidak kenal rasa takut.

​Gendis, ga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 325: Udah Terlanjur Nikmati Saja

    ​ Suasana di balik semak-semak rimbun pohon kemuning samping pagar RM Jagoan Rasa mendadak mencapai titik didih tertinggi yang melampaui batas kewarasan. Vanesha yang melangkah mendekat dengan niat melerai seketika menghentikan langkahnya, matanya membelalak lebar menyaksikan adegan yang terbentang di depan matanya.​Madun, sang jagoan desa berwibawa dengan kaos oblong putih belel dan sandal jepit hijau keramat, sudah kehilangan seluruh sisa kesabarannya. Gairah membara akibat jamu oplosan rawa lele dan kehadiran daun muda yang sangat imut telah merusak benteng pertahanan terakhirnya.​Gendis, siswi SMA berusia tujuh belas tahun dengan rok abu-abu pendek dan seragam putih yang sedikit kusut, berdiri dengan napas memburu. Leher putih mulusnya dipenuhi oleh puluhan cupang merah keunguan basah, tanda nyata dari ciuman brutal beberapa menit lalu.​"Udah, gak usah banyak protes, Neng Gendis. Waktunya kita selesaikan pelajaran biologi lapangan secara nyata," bisik Madun dengan suara bariton

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 324: Sentuhan Pertama di Balik Pagar

    ​Pukul 16.30 WIB. Suasana di balik semak-semak pohon kemuning samping pagar RM Jagoan Rasa mendadak berubah menjadi panggung drama percintaan kilat yang sangat menegangkan. Vanesha berdiri terpaku di teras restoran dengan nampan kosong di tangan kirinya, matanya melotot tajam menatap adegan basah di hadapannya.​Namun, alih-alih melepaskan rangkulannya begitu kepergok sang istri pertama, Madun justru semakin menunjukkan tabiat aslinya sebagai jagoan desa yang tidak kenal rasa takut.​Gendis, gadis imut berusia tujuh belas tahun berwajah porselen itu, masih terengah-engah dengan leher jenjangnya yang dipenuhi oleh belasan bekas cupang merah keunguan basah. Tubuh mungilnya bersandar lemas di dada bidang Madun, dikuasai oleh gelombang kenikmatan aneh yang mengalir deras di sekujur sarafnya.​Madun menyeringai maut ke arah Vanesha yang bersiap mengamuk, lalu dengan gerakan kilat, ia mengalihkan perhatian kembali kepada sang daun muda di dalam dekapan eratnya.​"Sssst, jangan berisik, Gend

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 323: Kepulangan Sang Kakek Sakti dan Pesona Gadis Desa

    ​Pukul 16.15 WIB. Sore hari di sudut Jalan Menteng Raya tampak asri. Angin sepoi-sepoi berhembus melalui sela-sela rimbunnya pohon mangga di halaman belakang RM Jagoan Rasa. Madun baru saja selesai meneguk secangkir jamu oplosan peningkat stamina racikan rawa lele warisan leluhur. Dengan mengenakan kaos oblong putih belel, celana training hitam longgar, dan sandal jepit hijau keramat, ia melangkah santai menyusuri jalan setapak dekat pos ronda.​Di dekat gerbang samping restoran, seorang gadis belia berwajah sangat imut, berkulit putih bersih tanpa noda, berambut kepang dua, dan mengenakan kaos oblong merah muda bergambar kelinci tampak sedang membawa keranjang rotan berisi daun kemangi segar. Namanya Gendis. Usianya baru menginjak 17 tahun, masih duduk di bangku kelas dua SMA, dan merupakan keponakan jauh dari Bang Dul sang tukang sate.​Gendis adalah definisi nyata dari "daun muda" tingkat dewa: bertubuh mungil, sangat menggemaskan, berwajah polos bak boneka porselen, dan memancarka

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 322: Kembalinya Sang Legenda ke Menteng

    ​Pukul 14.30 WIB. Matahari bersinar cerah di atas langit kawasan perumahan elit Menteng, menyinari deretan pohon pelindung yang rindang serta jalanan aspal yang bersih. Di pelataran RM Jagoan Rasa, suasana mendadak riuh rendah dipenuhi oleh sorak-sorai gembira para tetangga, abang penjual sate keliling, hingga bapak-bapak pos ronda yang menyambut kedatangan rombongan sang jagoan desa.​Setelah sukses besar membuka cabang internasional RM Jagoan Rasa di jantung kota Zurich, Swiss, serta menaklukkan berbagai tantangan ekstrem di daratan Eropa, Madun bersama ketiga istrinya—Vanesha, Celine, and Audrey—akhirnya resmi menginjakkan kaki kembali di tanah air tercinta.​Mobil jemputan mewah berhenti tepat di depan pintu utama restoran. Begitu pintu terbuka, Madun melangkah keluar dengan gaya ikoniknya yang tidak pernah berubah: kaos oblong putih polos, celana training hitam longgar yang menyembunyikan mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribu

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 321: Isolasi Romantis di Tengah Salju Alpen

    ​Pukul 08.00 pagi waktu Swiss. Mentari pagi di Pegunungan Alpen sama sekali tidak terlihat, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang tebal dan badai salju susulan yang masih menderu kencang di luar jendela vila.​Di dalam kamar tidur utama yang hangat, Vanesha, Celine, and Audrey perlahan membuka mata mereka satu persatu. Sinar lampu perapian yang masih menyala redup memantulkan bayangan temaram di dinding kayu ruangan tersebut. Vanesha menggeliat kecil, merapatkan selimut bulu domba tebal ke dadanya, lalu menoleh ke samping.​Madun sudah berdiri di dekat jendela besar kaca, mengenakan kaos oblong putih polos dan celana training hitamnya. Di balik kain celana itu, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang masih tampak menonjol tegas dan bertenaga, seolah tidak pernah kenal kata lelah meski baru saja melewati malam percumbuan maraton yang brutal.​"Bagaimana pemandangan di luar, Om?" tanya Audrey dengan suara serak khas

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 320: Malam Pertama di Pegunungan Alpen dan Badai Salju Dahsyat

    ​Pukul 19.30 waktu setempat. Rombongan Madun telah tiba di sebuah vila mewah berarsitektur kayu klasik khas Pegunungan Alpen, Swiss. Vila berlantai dua itu terletak di lereng bukit yang dikelilingi oleh hutan pinus lebat dan hamparan salju putih tebal yang mulai turun perlahan dari langit malam Eropa.​Di dalam ruangan tamu vila, perapian kayu menyala terang, memancarkan kehangatan pijar jingga yang beradu kontras dengan suhu dingin ekstrem di luar jendela kaca yang mencapai minus lima derajat Celsius.​Tuan Hans, yang mengantarkan mereka sampai ke depan pintu vila, tersenyum ramah sambil menyerahkan kunci kamar utama kepada Madun.​"Selamat beristirahat, Jagoan Madun dan para Nyonya. Nikmati malam pertama kalian di Pegunungan Alpen. Besok pagi kita mulai persiapan grand opening restoran di pusat kota Zurich," ucap Tuan Hans sebelum akhirnya pamit meninggalkan vila bersama para pengawalnya.​Begitu pintu utama tertutup rapat dan terkunci dari dalam, suasana vila seketika berubah menja

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status