เข้าสู่ระบบPukul 14.30 WIB. Matahari bersinar cerah di atas langit kawasan perumahan elit Menteng, menyinari deretan pohon pelindung yang rindang serta jalanan aspal yang bersih. Di pelataran RM Jagoan Rasa, suasana mendadak riuh rendah dipenuhi oleh sorak-sorai gembira para tetangga, abang penjual sate keliling, hingga bapak-bapak pos ronda yang menyambut kedatangan rombongan sang jagoan desa.Setelah sukses besar membuka cabang internasional RM Jagoan Rasa di jantung kota Zurich, Swiss, serta menaklukkan berbagai tantangan ekstrem di daratan Eropa, Madun bersama ketiga istrinya—Vanesha, Celine, and Audrey—akhirnya resmi menginjakkan kaki kembali di tanah air tercinta.Mobil jemputan mewah berhenti tepat di depan pintu utama restoran. Begitu pintu terbuka, Madun melangkah keluar dengan gaya ikoniknya yang tidak pernah berubah: kaos oblong putih polos, celana training hitam longgar yang menyembunyikan mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribu
Pukul 08.00 pagi waktu Swiss. Mentari pagi di Pegunungan Alpen sama sekali tidak terlihat, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang tebal dan badai salju susulan yang masih menderu kencang di luar jendela vila.Di dalam kamar tidur utama yang hangat, Vanesha, Celine, and Audrey perlahan membuka mata mereka satu persatu. Sinar lampu perapian yang masih menyala redup memantulkan bayangan temaram di dinding kayu ruangan tersebut. Vanesha menggeliat kecil, merapatkan selimut bulu domba tebal ke dadanya, lalu menoleh ke samping.Madun sudah berdiri di dekat jendela besar kaca, mengenakan kaos oblong putih polos dan celana training hitamnya. Di balik kain celana itu, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang masih tampak menonjol tegas dan bertenaga, seolah tidak pernah kenal kata lelah meski baru saja melewati malam percumbuan maraton yang brutal."Bagaimana pemandangan di luar, Om?" tanya Audrey dengan suara serak khas
Pukul 19.30 waktu setempat. Rombongan Madun telah tiba di sebuah vila mewah berarsitektur kayu klasik khas Pegunungan Alpen, Swiss. Vila berlantai dua itu terletak di lereng bukit yang dikelilingi oleh hutan pinus lebat dan hamparan salju putih tebal yang mulai turun perlahan dari langit malam Eropa.Di dalam ruangan tamu vila, perapian kayu menyala terang, memancarkan kehangatan pijar jingga yang beradu kontras dengan suhu dingin ekstrem di luar jendela kaca yang mencapai minus lima derajat Celsius.Tuan Hans, yang mengantarkan mereka sampai ke depan pintu vila, tersenyum ramah sambil menyerahkan kunci kamar utama kepada Madun."Selamat beristirahat, Jagoan Madun dan para Nyonya. Nikmati malam pertama kalian di Pegunungan Alpen. Besok pagi kita mulai persiapan grand opening restoran di pusat kota Zurich," ucap Tuan Hans sebelum akhirnya pamit meninggalkan vila bersama para pengawalnya.Begitu pintu utama tertutup rapat dan terkunci dari dalam, suasana vila seketika berubah menja
Pukul 10.15 WIB. Jet pribadi mewah milik Tuan Hans melesat mulus membelah langit biru di ketinggian 35.000 kaki, meninggalkan garis putih di belakang ekor pesawat. Di dalam kabin kelas utama yang dilengkapi sofa kulit super empuk, karpet tebal berbulu domba, dan fasilitas kelas V.I.P, suasana terasa sangat nyaman. Namun, kenyamanan itu tidak berlaku bagi Madun. Pria jagoan desa tersebut merasa bosan duduk diam terlalu lama menikmati pemandangan gumpalan awan putih dari jendela bundar pesawat. Di balik celana training hitamnya, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang mulai berdenyut gatal, menuntut aksi nyata di udara. Vanesha, Celine, and Audrey sedang asyik menikmati jus buah segar yang disuguhkan oleh pramugari di kursi utama kabin. Tuan Hans sendiri sedang tertidur pulas di ruang kerjanya di bagian depan pesawat, mengenakan penutup mata dan selimut wol tebal. Madun menyeringai maut, lalu mencolek pelan l
Pukul 21.00 WIB. Malam di kawasan Menteng mendadak terasa jauh lebih membara dibanding malam-malam sebelumnya. Di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa, lampu tidur berwarna merah marun memancarkan pendar remang-temaram yang menciptakan atmosfer eksotis sekaligus berbahaya. Madun berdiri di tengah ruangan dengan dada bidang yang basah oleh peluh semangat. Celana training hitam andalannya sudah tergeletak tak berdaya di lantai sudut kamar, membebaskan sepenuhnya mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang. Ukurannya yang luar biasa masif, kokoh bagaikan baja murni, dan berdenyut kencang seolah memancarkan aura dominasi mutlak yang siap menghancurkan segala batas kewarasan. Di hadapannya, Vanesha, Celine, and Audrey berbaring berjejer di atas ranjang king-size berseprai satin hitam. Napas ketiga istri Madun itu sudah menderu cepat, mata mereka sayu menatap penuh lapar ke arah senjata pamungkas warisan leluhur yang
Pukul 15.45 WIB. Menteng diselimuti angin sore yang sejuk, namun suasana di ruang tamu RM Jagoan Rasa mendadak terasa panas akibat kehadiran tamu agung dari luar negeri. Tuan Hans, miliarder senior asal Swiss yang mengenakan jas kelabu super rapi, duduk bersila di atas sofa empuk sambil menyeruput secangkir kopi hitam sachet yang disajikan tanpa gula. Di hadapannya, Madun duduk dengan gaya santai khas preman kampung—satu kaki diangkat ke atas sofa, kaos oblong putih polos, dan celana training hitam yang di bagian depannya masih menyisakan tonjolan masif mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter hasil gigitan semut rangrang. Vanesha, Celine, and Audrey berdiri di belakang sofa dengan pakaian santai, mengawasi setiap gerak-gerik sang miliarder asing dengan tatapan waspada sekaligus penasaran. "Jadi begini, Madun," buka Tuan Hans sambil membuka amplop dokumen berlogo emas di atas meja. "Restoranmu di Menteng ini sudah jadi legenda lokal. Reputasinya luar biasa. Karena i
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj







