Startseite / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 341: Bara di Istana Menteng

Teilen

Bab 341: Bara di Istana Menteng

last update Veröffentlichungsdatum: 24.09.2026 22:14:16

​Pukul 02.15 dini hari. Suasana di kawasan Menteng terbungkus dalam keheningan malam yang pekat. Lampu-lampu jalan memancarkan pendar kuning redup, sementara udara luar terasa dingin menyelimuti dahan-dahan pohon kemuning di sekitar RM Jagoan Rasa.

​Namun, di dalam kamar utama istana sang jagoan desa, udara dingin sama sekali tidak mampu menyentuh kulit. Ruangan luas berlantai kayu jati tua itu masih mengepulkan sisa-sisa hawa panas yang keluar dari tubuh tiga manusia yang terbaring di atas ran
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 346: Puncak Kenikmatan

    ​Pukul 03.15 dini hari. Udara dingin yang merayap di luar jendela kamar utama RM Jagoan Rasa sama sekali tidak mampu mendinginkan hawa panas yang mengepul di dalam ruangan. Lampu tidur merah marun memancarkan cahaya temaram, menyinari tiga sosok tubuh yang berlumuran peluh dan cairan kenikmatan. Kulit mereka yang saling menempel erat akibat malam yang panjang menciptakan sensasi lengket yang membakar saraf.​Madun, sang jagoan desa Menteng, berdiri di puncak kekuasaan ragawi. Di hadapannya, Vanesha dan Gendis terbaring lemas dalam pasrah mutlak, napas mereka memburu patah-patah setelah dihantam badai pergulatan tanpa henti. Namun, bagi sang kakek sakti berdarah rawa lele, malam belum benar-benar tuntas sebelum ritual paling sakral diselesaikan: crot dalam secara mutlak dan tanpa ampun.​Persiapan Menuju Ejakulasi Total​Madun menarik tubuhnya sedikit ke belakang, membiarkan mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter yang bengkak permanen itu bergeser perlahan dari tub

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 345: Malam yang Lengket

    ​Pukul 23.45 WIB. Hujan rintik-rintik yang tadinya membasahi genteng RM Jagoan Rasa kini telah reda, meninggalkan udara malam Menteng yang lembap, hangat, dan pekat. Di dalam kamar utama berlantai kayu jati tua, lampu tidur merah marun masih menyala redup, menyoroti pemandangan yang luar biasa erotis di atas ranjang king-size.​Ketiga manusia itu—Madun, Vanesha, dan Gendis—terbaring dalam satu tumpukan raga yang tidak terpisahkan. Sisa-sisa badai kenikmatan tukar atribut beberapa jam lalu telah mereda, namun cairan pekat, peluh keringat malam, dan lelehan alami dari tubuh mereka menciptakan tekstur yang sangat intens.​Seluruh permukaan kulit mereka terasa lengket, menyatu erat bagaikan lem perekat hidup yang membuat setiap sentuhan sekecil apa pun langsung mengirimkan gelombang geli dan panas ke sekujur saraf.​Vanesha berbaring miring dengan kepala di atas lengan Madun, sementara Gendis melingkarkan tangan mungilnya di pinggang sang jagoan desa. Celana dalam hitam berenda milik Vane

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 344: Basah Kuyup di Malam Tukar Atribut

    ​Pukul 20.30 WIB. Udara malam di kawasan Menteng terasa semakin pekat, membawa kelembapan khas musim hujan yang mulai turun rintik-rintik di atas atap genteng RM Jagoan Rasa. Di dalam kamar utama yang luas, pendar lampu tidur berwarna merah marun memancarkan cahaya temaram, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu jati tua.​Suasana di dalam ruangan tersebut dipenuhi oleh ketegangan yang sangat erotis dan menggairahkan. Vanesha dan Gendis berdiri di dekat sisi ranjang king-size, mengenakan atribut pakaian yang baru saja menjadi sumber perdebatan sore tadi: celana dalam hitam berenda mewah milik Vanesha kini melekat pas di pinggul mulus Gendis, sementara celana dalam merah muda bergambar beruang kecil milik Gendis dipakai dengan pas oleh Vanesha.​Insiden tertukar itu bukan lagi sebuah kesalahan, melainkan telah diubah oleh Madun menjadi sebuah permainan peran yang membakar akal sehat.​Madun duduk di tengah ranjang dengan postur tubuh bidang yang terbuka tanpa sehelai benang pun d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 343: CD yang Tertukar

    ​Pukul 17.30 sore. Menteng perlahan-lahan mulai memasuki waktu senja ketika angin malam mulai berhembus membawa kesejukan setelah teriknya hari. Di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa, suasana tampak jauh lebih tenang dibandingkan badai amukan nafsu yang baru saja terjadi di balik pagar kemuning beberapa jam lalu.​Gendis duduk di tepi ranjang king-size berseprai merah marun. Ia mengenakan kembali seragam putih-abu-abunya, namun ada satu hal ganjil yang langsung mengusik pikirannya saat ia merapikan pakaian di depan cermin besar sudut kamar.​Ketika ia hendak mengenakan pakaian dalam miliknya yang tadi sempat dilepas dan diletakkan tergesa-gesa di atas karpet bulu, jari-jarinya menyentuh sebuah kain katun berenda dengan ukuran yang jauh lebih besar dari miliknya.​Gendis mengangkat kain tersebut tinggi-tinggi dengan mata membelalak heran. Itu bukan celana dalamnya yang berwarna merah muda bergambar beruang kecil. Itu adalah celana dalam wanita dewasa berwarna hitam legam dengan ak

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 342:Jam Pulang

    ​Pukul 15.00 sore. Menteng kembali diselimuti oleh cuaca terik yang menyengat trotoar aspal. Di depan gerbang SMA Pelita Bangsa, deretan angkot dan kendaraan roda dua berjejer padat menyambut jam kepulangan para siswa. Di antara kerumunan remaja berseragam putih-abu-abu yang berhamburan keluar, Gendis melangkah keluar gerbang dengan ransel tersampir di satu bahunya.​Meskipun jam pelajaran hari itu diisi dengan ujian matematika dan sejarah yang melelahkan, pikiran siswi berusia tujuh belas tahun itu sama sekali tidak berada di dalam kelas. Sejak bel istirahat pertama tadi pagi, bayangan suara bariton Madun dan janji "menu spesial" di jalur belakang kemuning terus berputar-putar di dalam kepalanya, menciptakan gelombang denyutan hangat yang tak kunjung reda di bagian intinya.​Gendis tidak langsung naik angkot umum menuju rumahnya. Sesuai instruksi mutlak sang kakek sakti, ia berjalan kaki menyimpang lewat gang setapak di balik rimbunnya pohon kemuning tua—jalur rahasia yang menghubung

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 341: Bara di Istana Menteng

    ​Pukul 02.15 dini hari. Suasana di kawasan Menteng terbungkus dalam keheningan malam yang pekat. Lampu-lampu jalan memancarkan pendar kuning redup, sementara udara luar terasa dingin menyelimuti dahan-dahan pohon kemuning di sekitar RM Jagoan Rasa.​Namun, di dalam kamar utama istana sang jagoan desa, udara dingin sama sekali tidak mampu menyentuh kulit. Ruangan luas berlantai kayu jati tua itu masih mengepulkan sisa-sisa hawa panas yang keluar dari tubuh tiga manusia yang terbaring di atas ranjang king-size.​Vanesha, sang istri sah, tertidur lelap dengan kepala bersandar di dada kiri Madun, napasnya teratur setelah badai jos gandos mereda beberapa jam lalu. Di sisi sebelah kanan, Gendis—sang daun muda berusia tujuh belas tahun—terkulai lemas dengan posisi kaki setengah melingkar di atas paha Madun, bibirnya yang ranum sedikit terbuka, menyisakan jejak peluh dan tetesan kenikmatan di sudut dagunya.​Madun sendiri berbaring telentang dengan mata terbuka lebar dalam gelap. Di dalam tub

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status