LOGIN(Cerita hanya fiktif belaka berlatar sejarah) Erland Bagaskara, pria berusia 28 tahun yang sudah memiliki anak dan istri, ditambah dengan pekerjaannya yang seorang dokter membuat hidupnya begitu sempurna. Kesempurnaan itu tidak bertahan selamanya. Perjalanan ke Bogor ternyata mengubah hidup Erland dalam sekejap mata. Liburan berkemah yang ia jalani bersama anak dan istrinya berubah menjadi tragedi ketika Erland tersesat dan jatuh ke jurang yang dalam. Erland tersadar dan mendapati dirinya berada di ruangan yang megah, ditemani seorang wanita yang menangis bahagia di sampingnya. Erland baru mengetahui kalau dirinya adalah anak selir Raja yang lama tak sadarkan diri. Ia diangkat menjadi Pangeran tepat ketika Raja mengangkat ibunya menjadi salah satu Ratu. Hal ini juga yang menyebabkan Erland harus berurusan dengan kejamnya politik istana dalam perebutan tahta Kerajaan Sunda. Apakah dia mampu menghentikannya? Credit: Rafaiir
View MoreAdriana Jensen
~•~“Guess what, Fab!” I screamed when I went back to the spot Fab and I had been sitting with our other friends before Benjamin called.“You know I can never guess. Just tell me the good news.” She prompted while the three other girls looked at me curiously.“I am also going to Miami for the holiday!” I exclaimed. Fabiola had told me some days ago that she was going to travel to Miami for a short vacation after our exams. It was the last day of our exams and everyone was pumped for summer, including me.“Really?” She squealed, hugging me. “We should book the same hotel!”“Of course,” I replied. Out of the four girls present, she was my best friend. We had met during our freshman year of college while the others were slowly integrated into our group, making us five by the end of junior year.“This is so not fair,” Charlotte muttered, making sure we all heard her. “I have a stupid family vacation in Costa Rica along with my ‘fiancé’s’ family. I just know Antonio is going to get on my nerves for the whole month.”Charlotte was the definition of old money. She had been promised to Antonio since birth and now, their parents were forcing them together. Antonio always used that to annoy my friend. I also met her during my freshman year. We happened to be in the same department but never ran into each other until a party in the second semester where someone roofied my drink. She took care of the guy and he was still in jail.“At least, you’re going on a vacation. I have to intern at my father’s company.” Sofia spoke out. Sofia’s father had his company and was waiting for Sofia to finish studying before she worked at his company. It seemed like he was getting impatient. She was also my coursemate. We were all studying business.“I also have to intern at my dad’s but he approved going on a short vacation before I start. I’m going with Benjamin’s family.” I told Sofia. We were in the same boat.“You should be grateful you even have somewhere to intern. I have to work throughout the summer if I want to be able to afford law school.” Chloe, our last friend imputed. Her father was dead and her mother was, for lack of a better word, a junkie. She was sponsoring herself and was drowning in student loans, but she wouldn’t accept help from any of us.“Go on my trip with me and I’ll pay you for all the hours you missed.” Charlotte pleaded only half kidding. Her family was a pain in the ass most of the time. Her fiancé was even worse.“I might just take you up on that offer,” Chloe replied, making us all laugh.“So we are all not going to see each other for a while.” Fabiola sighed, seeming sad.“Make sure to text the group chat whenever you arrive,” Sofia warned. “We can meet up for drinks or something.”“I’ll be gone for a month.” Charlotte reminded us with a groan. “Adriana and Fab are only going away for two weeks. Mine is twice their time.”“We’ll text you every minute of the day and make sure you’ve not gone crazy yet.”“Please, do.” She sighed as she stood up. “I’ve got to go now. My brother says we have some kind of dinner party or something.”We all blew her kisses and waved her away. She had four older brothers who were all protective of her and her younger sister. They would throw a fit if she didn’t listen to whatever they said and she usually did so to avoid much trouble.One by one, everyone left until it was just Fab and me. We shared an apartment near school. Charlotte had a driver drop and pick her up from school every day while Sofia and Chloe shared a dorm room. It didn’t stop them all from frequenting our apartment though.“When is your trip with Benjamin?” Fabiola asked as we finally started the short trek to our apartment complex.“It’s not just Benjamin. His parents as well.” I reminded her.“It’s so cool to travel with your boyfriend and his family.” She gushed.“I know right?” I grinned proudly.I’d met Benjamin a year ago at some party my father dragged me and my sisters to. He was four years older but I didn’t mind and neither did our parents. They approved of the relationship, most likely because of both our financial backgrounds, but it didn’t matter. All that mattered was that we loved each other.“But we’re leaving in a week. On Sunday evening.” I added.“Oh my, how do our dates coincide?” She was excited and so was I.Sure I was going on a trip with Benjamin’s family, but it also meant I could spend some time with my best friend in the two weeks I was going to be there. In fact, I was more than excited. I was so going to explore with her. It was always more fun when she was by my side.“Will you and Ben share a room?” She nudged me.My face flushed immediately. “I don’t know. Depends on how open-minded his parents are, I guess.” I knew Benjamin was going to suggest sharing a room. I could only hope his parents were against it despite us being adults.“What if you have to? Will you…” she trailed off but I knew the question she was asking.“I don’t know.” I shrugged. “I don’t know if I’m ready yet but I might. I want to see what the fuss is about.”Fabiola laughed. “You will understand the hype if you do. It will make him so happy.”“Right?”Benjamin and I had been dating for a year but we had never had sex. The furthest we had gotten was him rubbing my clit and eating me out, but I had never experienced the orgasm women talked about. On the days he got horny, I merely gave him a blow job and assured him I’d be ready one day.He was very sweet about it and told me to take my time, but I knew he was sexually frustrated. Was it finally time to give myself to him?Maybe, I should allow it on the first night of our trip. It would be a big surprise for him and he would be very happy with me.I smiled to myself as I formulated a plan in my head. I had to go do some shopping online.***“Apa kau baik-baik saja?”Saraswati datang menghampiri bersama dengan Danar yang berada di sampingnya. Anak laki-laki itu, Cantaka belum kesampaian untuk membawanya menghadap Adibaya. Rencana demi rencana yang sudah ia susun sedemikian tertata harus hancur karena dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan para penyusup.“Aku baik.”“Pangeran Cantaka. Aku membuatkan sesuatu untukmu,” ungkap Danar, membuka kedua telapak tangannya yang semula tertutup.Terlihat sebuah kalung yang terbuat dari kayu ukiran terpampang jelas di tangan lembut Danar. Tertulis kata-kata yang menyayat hati Cantaka ketika membacanya, “Aku sayang padamu.”“Itu manis sekali. Aku akan menjaga kalung ini seperti aku menjaga dirimu,” jelas Cantaka, berterima kasih seraya tersenyum.Danar bisa dibilang adalah anak laki-laki yang ceria, dia sudah melupakan kejadian mengerikan di rumahnya dan mengatakan kalau k
***Keadaan Cantaka semakin memburuk di dalam sel penjara. Sejak semalam hingga pagi datang, belum ada satu makanan pun yang masuk ke tubuhnya.Ia masih melihat noda darah yang mengering menempel di jeruji besi tempatnya menginap semalam. Pangeran muda itu bisa membayangkan betapa keji dan brutal pembunuhan yang terjadi di tempat ini.Pintu penjara terbuka, secercah cahaya masuk memantik reaksi terkejut dari diri Cantaka. Derap langkah yang kuat terdengar jelas, menimbulkan bayangan kilat tentang betapa kuasanya orang di hadapannya.Raja Sunda.Matanya berkeliling, begitu juga dengan kepala dan tubuhnya, ikut memutar. Sorot mata Raja memicing memandang pedang khusus milik pangeran tergeletak di atas tanah.“Kenapa pedangmu ada di sini?” tanya Raja, berwibawa.“Karena aku dijebak. Aku tidak mungkin membunuh mereka ketika para tahanan itu mendapatkan pengawasan tentara kerajaan yang ketat,” balas Cantaka, berargu
Mereka bertiga sepakat untuk kembali ke istana, bersama Jayagiri yang berjalan berbarengan dengan Danar.Saraswati masih syok dengan pembunuhan yang terjadi di depannya, apalagi ketika mengetahui kalau pria yang tewas terbunuh tak lain adalah pelayan istana.Pada awalnya, Saraswati menduga kalau Cantaka yang berada di balik semua ini. Setelah melihat ekspresi pemuda itu barusan, ia yakin pelayan pria itu salah satu anak buah Cantaka.Saraswati dengan tegap memegang tangan Cantaka, menghentikan langkah pemuda itu dan menatapnya lekat-lekat.Ada sesuatu yang ingin Saraswati pastikan, hal itu berkaitan dengan kejadian barusan yang mengejutkannya.“Apa ada sesuatu, Saraswati?” tanya Cantaka, bingung.“Iya dan ini berkaitan dengan kejadian penculikan tadi. Aku yakin, itu tidak terjadi atas dasar kebetulan semata.”Mereka berhenti melangkah dan pergi setelah Saraswati memberitahu Jayagiri. Danar mengiyakan karena dia
***Para penyusup itu enggan untuk berbicara, bahka membuka mulut mereka meskipun Jayadharma sudah menginterogasi dengan keras.Hal itu akan sia-sia belaka jika diteruskan, tujuan awal mereka ketika tertangkap adalah mati, maka masuk akal jika mereka tidak berbicara jika tujuan interogasi yang dilakukan adalah kematian.“Ini sulit, mereka masih tidak mau berbicara. Apa perlu aku potong kaki dan tangan mereka untuk membuatnya bicara?” tanya Jayadharma, pria itu berdiri di samping Cantaka.“Tidak perlu, itu justru akan memudahkan rencana mereka untuk mati,” jelas Cantaka, tegas.“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Jayadharma, bingung.Ia masih memandang para penyusup yang tertangkap dengan pandangan kuat. Satu persatu dari para pelaku mendapatkan cap dan siksaan yang sama dari Jayadharma, tidak satu pun dari mereka yang memiliki ruang bebas di kulit mereka dari cap besi.“Aku tahu.”
*** “Apa maksudmu?” tanya Cantaka. Citraloka memberikan secarik kain yang bernodakan darah merah yang sudah mengering, kain itu terlihat bersih dan terjaga dengan baik. Tidak mungkin jika Saraswati mencoba melakukan pembunuhan terhadap Cantaka, semuanya tidak berdasar jika
*** “Jangan beritahu siapa pun tentang keadaanku,” pinta Raja kepada Cantaka, keduanya berada di ruangan kamar Raja, Cantaka ditugaskan untuk memeriksa kesehatan Raja untuk terakhir kalinya. “Memangnya kenapa, Yang Mulia?” tanya Cantaka. Raja menghela napas sambil kedua ta
“C-Cacing?! Apa kamu bercanda?! Raja tidak mungkin mengkonsumsi hewan seperti itu!” bentak Purana. Pria itu kembali berjalan mendekati Cantaka dan dengan cepat mencekik leher pemuda asing tersebut. Semua orang yang berada di ruangan tersebut tersentak dan beberapa ada yang mencegah Purana
*** “Apa? Raja semakin melemah?” Cantaka yang berada di dalam kamarnya tak sengaja mendengar desas desus tentang kesehatan Raja, ia hanya tahu kalau Raja Sunda-Galuh sedang menderita sakit yang parah. Pintu kamar Cantaka terbuka, orang-orang yang berada di depan kamar Cant






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore