LOGINIdentitas Xiao Yan berasal dari klan Misterius yang telah hancur. Dia dibesarkan oleh Shi Hua Ling yang merupakan guru, sekaligus orang yang paling ia sayangi. Namun, disuatu hari ia menjalankan misi kecil. Setelah kembali ke sekte, ia mendapati peristiwa buruk. Sektenya hancur, dan gurunya menghilang. Karena kejadian ini, Xiao Yan mencoba mencari siapa dalang dibalik semua kejadian ini. Pada dasarnya, Xiao Yan merupakan jenius tak tertandingi pada segenerasinya. Akankah Xiao Yan mampu menjadi lebih kuat, serta membalaskan dendam kehancuran sekte, beserta mencari keberadaan gurunya yang hilang?
View More“Ma! Teman-temanku sudah ganti ponsel dan aku masih pakai handphone boba biasa ? Apa kata mereka nanti? Bisa-bisa, aku dikucilkan dan tidak memiliki teman sama sekali! Kalau gitu, lebih baik aku tidak sekolah saja!”
Navier mengusap dadanya pelan. Suara adik pertamanya terdengar begitu jelas dari kamarnya.
Mengingat pergaulan Davian dengan anak-anak kalangan atas, adiknya itu memang jadi sangat boros. Pasti, ibunya akan meminta uang lagi pada Navier … seperti biasa.
“Anakku, kau bisa bersabar hingga bulan depan? Bukankah kakakmu baru saja memberikan uang untuk membayar bulananmu, hah? Sebulan ini sudah dua kali. Tunggu dulu, ya! Ibu masih belum mendapatkan jatah bulanan belanja dari Navier.”
Deg!
Awalnya, Navier merasa senang karena berpikir sang ibu akan membela dirinya. Namun, dia salah. Tanpa sadar, tangan perempuan itu mengepal kencang.
“Mana bisa!? Kalau sampai bulan depan ponselnya belum ada, aku berhenti sekolah! Titik!”
Navier terdiam mendengar pertengkaran ibu dan anak itu.
Sudah terlalu biasa. Dirinya tidak akan bisa ikut campur di sana. Kalau berani, Navier pasti akan kena getahnya.
“Kita tunggu sampai awal bulan depan! Pasti ayah dan kakakmu sudah gajian.”
Navier seketika menghela napas panjang. Setidaknya, sang ayah juga disebut. Kalau yang dibebani hanya dirinya saja, sudah pasti Navier tak akan sanggup.
“Kalau sampai besok aku tidak mendapatkannya, Ibu tidak perlu lagi mencariku,” putus Davian.
Pemuda itu mengakhiri pertengkaran mereka dan pergi secepat yang dia bisa.
Hal itu membuat Yuni—sang ibu–ingin menghentikan kepergian sang putra. Namun, Yuni seketika berhenti saat merasa tak mampu mengejarnya.
“Nav!” teriak Yuni tiba-tiba. Karena rumah mereka tidak terlalu luas, teriakan itu terdengar begitu menggema.
Mendengar itu, Navier langsung bergegas menghampiri Ibunya. Beruntung, dia sudah menyiapkan segalanya. Jadi, dia tidak perlu menunggu waktu lagi untuk bersiap.
Dan setelah sampai di ruang makan, Navier mendapati Yuni yang sedang berkacak pinggang dan menahan amarahnya. Nav bisa menyadari itu dari wajah sang Ibu yang memerah.
“Kau mendengar permintaan Davian, kan?” tanya Yuni tiba-tiba.
Sontak, Navier mengangguk dan menunduk. Sudah pasti dia akan diminta untuk memberikan barang yang adiknya minta. Padahal, Navier merasa tidak semua mau anak harus dituruti. Jika pun menuruti, ibu seharusnya yang lebih berkewajiban untuk memberikan apa yang putranya minta.
“Davian meminta ponsel keluaran terbaru dan besok sudah harus ada. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Davian. Kau bisa mengerti itu?!”
“Ibu, aku tidak punya uang lagi. Apalagi, iphone 14 pro itu sangat mahal. Gajiku bulan depan jika digabung semuanya tak akan cukup untuk membelinya,” jawab Navier pelan.
Apa yang dia katakan memang benar adanya. Gaji yang tidak seberapa itu tentu tidak akan sanggup untuk memenuhi apa yang adiknya pinta.
Selama ini, Navier tidak pernah memiliki keinginan tinggi yang sekiranya tidak bisa dijangkau.
Jangankan ponsel keluaran terbaru, ponsel biasa saja dia tidak memilikinya. Bagi Navier, uang yang dihasilkan lebih bermanfaat untuk keperluan yang lain ketimbang membeli sesuatu yang belum jelas pentingnya seperti itu. Tapi, adiknya itu … iphone 13 pun tak cukup! Dia mau yang lebih terbaru lagi.
“Ck! Ibu tak peduli!” Yuni meninggikan nada suaranya, tanpa peduli Navier yang sudah menunduk. “Davian mau itu dan dia harus mendapatkan itu,” lanjutnya.
Navier mengangguk pelan. Bagi sang ibu, dua anak laki-lakinya adalah harta berharga, bahkan jika dibandingkan dengannya. Terkadang, Navier merasa jika dunia ini tidak adil. Adik-adiknya mendapat nama belakang sang ayah, sedangkan dia tidak sama sekali. Navier, hanya nama itulah yang dia dapatkan di kartu identitasnya.
Pernah Navier berpikir, apakah dirinya hanya anak angkat? Mengingat ada banyak perbedaan di antara mereka.
Akan tetapi, semua itu terbantahkan saat ayahnya sendiri yang menceritakan tentang bagaimana dia dikandung dan dilahirkan oleh ibunya. Bagaimana kedua orang tuanya bersama di keadaan yang masih serba kekurangan, serta betapa mirip dia dengan sang ayah.
Hanya saja … tidak ada persamaannya dengan sang ibu, selain rambut lurusnya.
“Navier! Kau mendengarku, kan!?” bentak Yuni tiba-tiba. Wanita itu tampak geram melihat Navier yang hanya mengangguk kecil, menunduk, dan tidak melakukan apa-apa lagi saat ia mengatakan hal panjang lebar seperti itu. Seolah Navier seperti robot yang tidak menyadari kehadirannya.
“Iya, Bu. Tapi, aku sudah memberi seluruh gajiku bulan ini untuk kalian. Untuk bulan depan, semua gajiku pasti tidak akan cukup untuk membelikannya. Aku sama sekali tidak memiliki tabungan, Bu. Semua sudah kuberikan pada ibu dan adik-adik.”
Navier terdiam. Ia teringat semua gaji sudah dia berikan pada mereka tanpa menyisakan sedikit pun untuk ditabung.
Bahkan, setiap tip atau lembur yang dia hasilkan juga sudah digunakan untuk menambal apa yang adiknya ambil dari toko yang dia jaga.
Jadi, ponsel mewah keluaran terbaru itu sungguh di luar kemampuannya.
“Apa ayah tidak bisa mengusahakannya juga? Kenapa hanya aku yang ibu pinta untuk membelikan keinginan Davian? Mereka sudah besar, dan mungkin ibu juga bisa mencari kerja sampingan untuk membantu memenuhi kebutuhan kita, kan?” tanya Navier perlahan.
Sayangnya, ucapan Navier justru memancing kemarahan Yuni. Dengan berkacak pinggang, wanita itu kini berjalan pelan hingga sisa beberapa senti saja dari Navier. “Kau menyuruhku bekerja? Kenapa kau tidak menjual dirimu saja? Kau itu masih gadis, cantik, dan memiliki tubuh yang bagus. Satu malam penjualan, pasti sudah mendapat uang lebih dari cukup untuk membeli ponsel itu.” Senyum sinis terpampang di wajah Yuni. “Bahkan, kita bisa membeli dua ponsel. Satunya bisa diberikan untuk Devan!”
Deg!Para tetua elit aliansi Teratai Suci saling pandang, terlihat mereka berpikir keras mengenai benda apa yang melayang diatas langit. Karena ingin memastikan bahwa itu adalah api Surgawi, salah satunya segera menghampiri lingkaran emas yang melayang tersebut. Namun tinggal lima puluh meter lagi, gelombang panas menyebar dari pusat lingkaran. Hal ini menyebabkan tetua tersebut meledak menjadi debu. Swuuush! Kaisar Phoenix muncul ditempat ledakan tetua itu, wajahnya yang datar menatap sembilan tetua elit aliansi Teratai Suci. "Pergilah... Phoenix Flame telah mendapatkan tuannya yang baru... Jika masih memaksa, kalian sendiri yang akan mati..." Bukan sekedar ancaman, peringatan keras ini memang berlaku bagi kesembilan tetua tersebut yang berada di tingkat Dou Qi. "Ckckck! Kau pikir kami percaya dengan ucapanmu! Lebih baik minggir, dari pada ketua aliansi datang dan menghajarmu..."Ancaman balasan itu ditanggapi dengan senyuman mengejek yang terlihat dikedua sudut bibir Kaisar Phoenix
Dan benar saja, rencana Xiao Yan berhasil dengan memberikan serangan tebasan pedang tepat mengenai punggung Shui Yang. Slaaash! "Akhhh!"Akibat luka yang diterima, kecepatan Shui Yang mulai melambat. Hal ini membuat Xiao Yan dengan cepat dapat meraih tubuh Shui Yang, yang ada didepannya. "Matii!"Booooms! Seketika ledakan dahsyat terjadi saat tubuh Shui Yang menabrak tubuh transformasi Phoenix Flame. Peristiwa ini membuat kesepuluh tetua elit saling pandang. "Sial... Dia membunuh Shui Yang...""Apa yang akan kita jelaskan pada tetua Agung?!" lainnya menimpal. Disisi lain, Phoenix Flame menghentikan terbangnya. Dengan amarah yang menggebu gebu, ia menunjukan kekuatan sebenarnya dari api Phoenix Flame. Swooooosh! Hawa panas yang begitu kuat menyebar sejauh sepuluh kilometer. Bahkan, mereka yang berada di tingkat Dou Zhong bintang lima harus mati terbakar oleh hawa panas itu. Namun tidak dengan Xiao Yan, Fallen Heart Flame yang telah memiliki kesadaran sendiri menahan tekanan it
"Uugghh!'"Yan Xiao!" Jia Lan segera mengalihkan perhatiannya. Kesempatan dalam kesempitan ini segera digunakan oleh Shui Yang. Memutarkan tubuhnya, dengan cepat ia memberikan tebasan pedang kearah Jia Lan. Hingga Jia Lan yang lengah, harus membuat serangan itu mengenai lengannya. "Bertarung denganku masih saja bisa mengalihkan perhatianmu!"Swuuuush! Shui Yang melesat dan bergerak menyerang Xiao Yan, namun seuliet bayangan muncul menghadang tebasan pedang milik Shui Yang. Melihat adanya bantuan yang membantu Xiao Yan, Shui Yang tak bodoh. Dengan cepat menggunakan tangan kirinya sebagai serangan lainnya. Baaaams! Baaaams! Xiao Yan terpental membentur permukaan tanah. Bahkan akibat serangan Shui Yang, yang telak mengenai dadanya. Ia harus menahan rasa sakit, selain meledaknya racun didalam tubuhnya. "Sial... Aku ceroboh!"Disisi lain, sosok yang membantu Xiao Yan tak lain adalah Jia Hua. Hal ini harus membuat Shui Yang mengambil sikap waspada. "Hahahahaha! Seharusnya pada waktu
"Tentu tidak tuan... Meski tuan tidak mengeluarkan api Fallen Heart Flame, cepat atau lambat Phoenix Flame pasti akan keluar dari dalam penjaranya..."Xiao Yan bisa tenang mendengar ini, dan benar saja setelah para tetua dan petinggi Pagoda bekerja sama. Phoenix, yang mengamuk didalam retakan tanah mulai tenang. Namun yang tidak mereka tahu, puluhan Dou Qi tengah memandangi peristiwa ini dengan wajah yang senang. "Apa sekarang saja kita melakukan penyerangan?" Tanya salah satunya. "Tidak... Karena aku merasa Kaisar Phoenix juga tengah melihat keadaan ini... Jadi kita harus menunggunya pergi terlebih dahulu." Disisi lain, Kaisar Phoenix masih bisa duduk tenang diatas awan yang lebih tinggi. Dengan perasaan yang sedikit tak rela melepaskan Phoenix Flame ketangan aliansi Teratai Suci, ia berharap Xiao Yan dapat merebutnya. "Bocah... Semoga aku memang tidak salah memilihmu..." Gumam Kaisar Phoenix. *Beberapa saat penyegelan Phoenix Flame, akhirnya Phoenix itu benar benar tidak membe
Shui Yang benar benar murka, setelah menyimpan tubuh Shui Dong kedalam cincin penyimpanannya. Hutan dibawahnya hancur tanpa sebab. Matanya terus menyelidik kesegala sisi hutan itu. Hingga, senyuman kecil terpampang disudut bibirnya melihat adanya formasi ilusi di depan mata sejauh satu kilometer.
Setibanya. "Apa kau tahu siapa yang telah menyerang sekte Naga Surgawi?" Tanya Xiao Yan serius. Lei Fang mengangguk mengerti. "Sepertinya tidak hanya ini yang ingin kamu tanyakan." Balas Lei Fang sopan. "Apa tujuan mereka membawa guruku?" "Dan siapa sebenarnya Jendral Shui Yang." Lei Fang
Setelah satu hari masa berkabung. Xiao Yan menyatakan keputusannya untuk berkelana, dan ia pun berterus terang untuk mencari gurunya. Serta membalaskan dendamnya dikemudian hari pada tetua Fan Lao serta Shen Jin. Awalnya Shen Jin ingin mengikuti kakak seperguruannya. Namun, Xiao Yan menolak. Karen
Disisi lain, roh pedang yang sengaja membangkitkan iblis hati milik Xiao Yan terus memandangi keduanya yang saling memperebutkan tubuh. Meski pembangkitan ini terlalu cepat pada Kultivasi Xiao Yan yang masih menginjak Dou Zi. Namun ia percaya bocah itu dapat menaklukkan iblis hati, karena Xiao Yan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.