LOGIN"Mommy, apa sikap Daddy tadi membuatmu takut?" tanya Zahran hati-hati saat melihat wajah muram Kiran.Kiran tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Zahran, senyuman tipis menghiasi wajah Kiran sambil mengusap pelan kepala Zahran dan Zayyan, "Tentu saja tidak, Mommy hanya lapar dan lelah,""Kalau Mommy lapar, aku dan Kak Zahran bisa berangkat ke sekolah sendiri," sahut Zayyan sambil memeluk lengan Kiran."Tidak, Mommy harus memastikan dengan mata Mommy sendiri kalian berjalan masuk ke gerbang sekolah," kata Kiran tak ingin Si Kembar memanfaatkan keadaan."Kami bukan anak nakal yang suka bolos sekolah!" elak Zahran tak setuju dengan perkataan Kiran."Benar! Kalau Mommy tidak percaya, Mommy bisa tanya Bu Angel," tambah Zayyan mendukung perkataan kakak kembarnya."Mommy percaya, sangat percaya," balas Kiran santai sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, "Mommy selalu percaya dengan Zahran dan Zayyan,""Mommy hanya ingin jalan-jalan sebentar, Mommy bosan di kantor," lanj
"Momm... eh Tante Kiran bangun!" kata Zayyan sambil menguncang tubuh Kiran perlahan."Tante Kiran kenapa tidur di sini? Aku dan Zayyan sudah menunggu Mom... Tante Kiran di rumah," bisik Zahran pelan.Suara Si Kembar membuat Kiran sedikit mengernyit sebelum membuka mata perlahan. Nyawanya perlahan terkumpul membuat Kiran mengeliat merenggangkan otot-otot di tubuhnya."Pagi Zahran, pagi Zayyan...," sapa Kiran sambil menguap beberapa kali masih belum sepenuhnya menyadari sekitarnya."Bangun!" suara dingin Rayhan membuat Kiran langsung membuka matanya lebar.Bukan hanya Kiran namun juga Dina dan Rara yang langsung terbangun dengan wajah terkejut dan bingung. Keduanya langsung berdiri dengan tatapan tak percaya jika Rayhan berdiri di depan mereka. Mereka ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka."Se-selamat pagi Tuan Rayhan!" kata Rara setelah memperoleh kesadaran sepenuhnya."Apa kalian bertiga tidur di sini semalam?" tanya Rayhan dingin tak mempedulika
Rara dan Dina terlihat begitu serius menyelesaikan tumpukan dokumen dengan raut wajah kesal. Mereka berdua sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Kiran, hal itu membuat Kiran merasa bersalah."Maafkan aku! Aku tidak seharusnya mengatakan hal itu," kata Kiran mencoba untuk minta maaf pada Rara dan Dina, "A-aku hanya..., maksudku aku mungkin terlalu lelah dengan semua dokumen ini!"Namun Rara dan Dina sama sekali tidak menolehkan kepalanya ke arah Kiran. Kiran menggigit bibirnya sebelum duduk di meja kerjanya. Dia bisa saja berjalan pergi tanpa menyelesaikan pekerjaannya, namun dia tidak bisa meninggalkan Rara dan Dina yang sudah menemaninya sejak pertama bekerja di sini.Kiran dapat melihat Rayhan berdiri di sudut pintu keluar dengan senyuman lebar penuh kemenangan. Rayhan ingin Kiran merasakan sendiri jika dunia tidak berputar hanya di sekelilingnya. Ada aturan tak tertulis yang harus dijalani oleh setiap orang.Waktu berjalan begitu cepat sampai tak terasa jam sudah menunjukkan ja
"Laki-laki sialan itu benar-benar menyebalkan!" maki Kiran saat duduk di meja kerjanya."Siapa?" tanya Rara penasaran melihat Kiran marah, "Bukankah Nona Denna perempuan?""Bukan Nona Denna," balas Kiran tak tahu harus mengatakan apa, "Pokoknya aku tidak membiarkan anak-anakku bersikap seperti laki-laki itu!""Kamu punya anak?" seru Rara semakin bingung dengan apa yang dikatakan Kiran.Kiran menepuk dahinya sendiri karena hampir mengatakan bahwa Zayyan dan Zahran adalah anaknya. Dia harus menyembunyikan identitas mereka berdua demi keselamatan Si Kember. Meski awalnya Zayyan dan Zahran tidak setuju namun pada akhirnya mereka memenuhi permintaan Kiran."Maksudku saat nanti aku punya anak," kata Kiran tak ingin Rara curiga, "Aku akan mendidik anak-anakku untuk bisa menghormati orang lain,"Sebelum Rara dapat berkata lebih banyak lagi, Dina menaruh tumpukan dokumen di meja kerja Kiran dan Rara sambil menghela napas kasar, "Pak Hendra meminta kita untuk menyelesaikan semua ini hati ini!"
"Apa Mommy baik-baik saja?" tanya Zayyan terlihat begitu khawatir."Perempuan itu licik, aku tidak ingin Mommy terluka," tambah Zahran tak kalah khawatir dari saudara kembarnya.Kiran tersenyum tipis melihat tingkah kedua anak kembarnya. Baru kali ini ada yang mengkhawatirkannya seperti ini. Hal itu tentu membuat hati Kiran menghangat setelah apa yang dia lalui beberapa tahun ini."Apa kalian lupa jika aku Mommy kalian? Tidak ada yang bisa membuat Mommy takut!" jawab Kiran sambil merentangkan kedua lengannya untuk memeluk Si Kembar.Senyuman lebar menghiasi wajah Zahran dan Zayyan sebelum berlari ke pelukan Kiran. Tanpa mereka sadari Rayhan melihat semua kejadian itu, dia segera berlari mencari keberadaan Kiran dan kedua anaknya setelah Aldi mengatakan jika Denna menemui Kiran.Di belakang Rayhan, Erina mencoba untuk mengatur napasnya setelah berlari-lari kecil menyusul Rayhan yang tiba-tiba keluar dari ruang rapat. Namun dia sama sekali tidak menyangka jika Rayhan melakukan semua itu
Rekan-rekan kerja Kiran sama sekali tidak mengira jika mereka bisa berbicara santai dan bercanda bersama dengan Zahran dan Zayyan. Selama ini kedua anak itu terkenal nakal sampai banyak karyawan menghindari mereka berdua."Aku tidak mengerti kenapa anak-anak kecil itu tidak bisa menyelesaikan soal yang mudah," kata Zahran dengan raut wajah begitu serius."Mereka tidak tahu jawaban dari 427 ditambah 84," sahut Zayyan mendukung perkataan Zahran."Memangnya kamu tahu jawabannya? Berapa?" goda Rara sambil menahan tawa."511!" jawab Si Kembar hampir bersamaan."Kalau 351 dikurangi 37?""314...,"Berbagai pertanyaan dilemparkan oleh Rara dan rekan-rekan kerjanya yang lain. Mereka semua begitu tertarik untuk mengetahui kemampuan dari anak CEO perusahaan Bintara.Senyuman tipis menghiasi wajah Kiran saat Si Kembar selalu bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh rekan-rekan kerjanya. Rasa bangga menyelimuti hati dan perasaan Kiran karena Zahran dan Zayyan bisa tumbuh dengan begitu baik di t
Setelah menunggu sekian lama, Si Kembar akhirnya melihat Kiran berjalan bersama pegawai lainnya menuju kantin tempat mereka duduk saat ini. Senyuman lebar menghisai bibir Si Kembar, mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud berlari menuju Kiran."Kalo kalian berlari seperti it
Kiran melangkah penuh percaya diri diiringin dengan senyuman ramah masuk ke dalam perusahaan Bintara. Tak lupa Kiran menyapa satpam dan resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan Bintara dengan sopan. Dia juga antri di depan lift bersama karyawan lainnya dengan hati yang berdebar-debar. Saat Lift
"Kita nggak akan pernah memaafkan Om Aldi karena menjauhkan kita dari Mommy!" teriak Zayyan sambil menatap Aldi dengan kesal."Kalian jangan menambah wanita di sekitar Daddy kalian!" kata Aldi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan ulah Si Kembar."Kita nggak nambah wanita di sekita
Setelah rapat selesai, Rara segera mengajak Kiran kembali ke lantai tempat mereka bekerja, dan mengarahkan Kiran untuk duduk di meja kosong di sampingnya. "Mulai saat ini kita satu tim dan ini tempat duduk kamu," kata Rara sambil menunjukkan meja kosong sebelah mejanya. "Makasih," balas Kiran sing







