MasukAku kira masalah terbesar dalam hidupku minggu ini cuma dua:
Deadline laporan Q2.
Cara menatap Adrian tanpa terlihat kayak orang yang baru menang undian.
Ternyata aku salah.
Karena ada masalah ketiga yang jauh lebih mengerikan:
Rumor kantor.
Dan rumor itu menyebar lebih cepat daripada grup W******p keluarga kalau ada kabar artis cerai.
***
Pagi itu suasana kantor aneh.
Aneh banget.
Begitu aku masuk, beberapa orang langsung diam. Ada yang pura-pura fokus ke monitor. Ada yang tiba-tiba sibuk buka map kosong. Bahkan Mbak Lina yang biasanya paling cerewet mendadak cuma senyum tipis sambil bilang, “Pagi, Ran…”
Nah loh.
Ini vibes-nya bukan pagi biasa.
Ini vibes “ada gosip dan kamu tokoh utamanya.”
Aku duduk pelan di kursi kerja sambil nyalain laptop. Jantungku mulai nggak enak.
Dinda langsung nyamperin dengan ekspresi prihatin campur pengin tahu.
“Lo kuat?” tanyanya pelan.
“Belum tau. Tergantung rumor yang beredar aku nikahin siapa.”
Dinda meringis. “Oke, jadi... versinya makin liar.”
Aku menutup mata sebentar. “Sekarang apa lagi?”
“Versi terbaru: lo katanya bakal dipindahin jadi asisten khusus Adrian.”
“HAH?!”
“Dan katanya lagi…” Dinda menelan ludah dramatis. “Lo sering pulang bareng.”
Aku memijat pelipis.
Ya Allah.
Karyawan kantor ini kalau kerja secepat mereka bikin asumsi, mungkin perusahaan udah buka cabang di Swiss.
“Padahal kita cuma—”
“—suka satu sama lain?” sambung Dinda.
Aku langsung melotot.
“Pelan dikit napa ngomongnya?!”
“Ya habis itu kenyataannya.”
Aku jatuh lemas ke sandaran kursi.
Iya sih.
Tapi tetap aja kedengarannya mengerikan kalau diucapkan keras-keras di kantor.
***
Sekitar jam sembilan, aku dipanggil ke ruang HRD.
Dan saat itu juga aku merasa umurku berkurang lima tahun.
“Din,” bisikku panik sambil berdiri, “kalau aku nggak balik dalam tiga puluh menit, tolong hapus riwayat browsing laptop kantor.”
Dinda menepuk pundakku penuh haru. “Pergilah. Kalau kamu selamat, kabari aku.”
“Ini kenapa kayak aku mau perang?”
“Karena HRD lebih serem dari perang.”
Valid.
***
Begitu sampai di ruang HRD, ternyata di dalam cuma ada Bu Mira.
Kakaknya Adrian.
Yang sekarang otomatis terasa sepuluh kali lebih mengintimidasi.
“Silakan duduk, Rani,” katanya ramah.
Nah, justru kalau terlalu ramah gini aku makin takut.
Aku duduk pelan.
Bu Mira memperhatikanku sebentar sebelum tersenyum kecil.
“Kamu tegang?”
“Sedikit, Bu. Sedikit banget. Sekitar sembilan puluh delapan persen.”
Beliau tertawa kecil.
Syukurlah. Berarti aku belum dipecat.
“Aku cuma mau bicara soal rumor yang lagi beredar.”
Nah. Ini dia.
Aku langsung duduk lebih tegak kayak siswa dipanggil guru BK.
“Saya minta maaf kalau—”
“Rani,” potongnya lembut, “kamu nggak perlu minta maaf.”
Aku terdiam.
Bu Mira menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Adrian cerita tentang kamu.”
DEG.
Sebentar.
Adrian cerita tentang aku?!
Bagian yang mana?!
Jangan-jangan dia cerita aku pernah salah kirim file laporan pakai nama FINAL_FIX_BENERAN_FIX2.
“Dia bilang kamu orang yang paling bisa dia percaya di kantor sekarang,” lanjut Bu Mira.
Dadaku langsung hangat.
“Tapi…” beliau melanjutkan, “aku juga harus jujur. Lingkungan kantor kadang nggak ramah sama hubungan personal. Apalagi kalau melibatkan atasan.”
Aku menunduk pelan.
“Iya, Bu. Saya ngerti.”
“Makanya aku cuma mau bilang satu hal.” Bu Mira tersenyum tipis. “Kalau memang ada sesuatu di antara kalian… pastikan kalian sama-sama dewasa menjalaninya.”
Aku membeku beberapa detik.
Lho?
Ini… bukan interogasi?
Bukan sidang etik?
Bukan surat peringatan?
Bu Mira malah terlihat… mendukung?
“Tapi kalau ada yang mulai mengganggu pekerjaanmu,” lanjutnya lagi, “langsung bilang ke saya. Jangan dipendam sendiri.”
Aku mengangguk pelan.
“Terima kasih, Bu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, aku bisa bernapas agak lega.
***
Sayangnya, rasa lega itu cuma bertahan sampai jam makan siang.
Karena saat aku lagi ngambil sendok di pantry, dua staf dari divisi lain masuk sambil bisik-bisik.
“Astaga, itu Rani…”
“Iya, yang deket sama Pak Adrian…”
“Pantes aja sering dipanggil ke ruangan…”
Aku langsung diam.
Tanganku masih menggenggam sendok plastik.
Dan untuk pertama kalinya… rumor itu benar-benar menusuk.
Karena beda antara dengar cerita dari Dinda… dan mendengar langsung orang ngomongin kamu seolah kamu nggak ada di situ.
Aku pura-pura nggak dengar.
Tapi mood-ku langsung jatuh.
Makan siang terasa hambar. Bahkan ayam geprek favoritku mendadak kayak spons goreng.
***
Sore harinya, Adrian menghampiri mejaku.
“Kamu oke?” tanyanya pelan.
Aku refleks mengangguk. “Oke kok.”
Dia menyipitkan mata sedikit. “Kamu nggak bisa bohong.”
Sial.
Kenapa dia cepat banget sadar?
Aku menatap layar laptop beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas.
“Rumornya makin parah.”
Wajah Adrian langsung berubah serius.
“Ada yang ngomong aneh ke kamu?”
“Enggak langsung sih. Tapi…” Aku tersenyum tipis. “Aku baru sadar ternyata orang bisa bikin cerita lengkap cuma dari lihat kita ngobrol.”
Dia diam sesaat.
Lalu kursinya ditarik lebih dekat.
“Lihat aku.”
Aku menoleh pelan.
Dan ya Tuhan, mata itu lagi.
Mata yang selalu bikin aku lupa cara berpikir normal.
“Aku minta maaf,” katanya lirih. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.”
“Ini bukan salah kamu sepenuhnya.”
“Tetap aja aku ikut bertanggung jawab.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Dan anehnya… di tengah semua kekacauan ini, aku masih merasa tenang waktu dekat dia.
“Ran,” katanya pelan lagi, “kalau kamu mau kita jaga jarak dulu di kantor… aku bisa.”
Hatiku langsung nyut.
Aneh ya.
Tadi aku takut terlalu dekat.
Sekarang pas dia ngomong soal jaga jarak, aku malah nggak suka.
Aku menggigit bibir pelan sebelum akhirnya berkata,
“Aku nggak mau hubungan kita jadi bahan gosip.”
Adrian mengangguk pelan.
“Tapi…” lanjutku pelan, “aku juga nggak mau pura-pura nggak peduli sama kamu.”
Tatapannya langsung melembut.
Dan senyum kecil itu muncul lagi.
Yang tenang. Hangat. Bikin dadaku kacau.
“Kamu tahu?” katanya pelan.
“Apa?”
“Kamu berani banget.”
Aku tertawa kecil. “Enggak. Aku cuma lagi jatuh cinta kayaknya.”
Hening.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu Adrian tertawa pelan sambil menggeleng kecil.
Dan astaga.
Aku baru sadar.
Barusan aku nggak sengaja ngaku.
SECARA LANGSUNG.
DI KANTOR.
KE CEO.
Aku langsung menutup wajah pakai kedua tangan.
“Ya Tuhan. Aku cabut aja dari Jakarta kayaknya.”
Adrian malah makin ketawa.
Dan di tengah segala rumor, tekanan, dan tatapan orang kantor…
untuk pertama kalinya,
aku melihat Adrian tertawa sebebas itu.
Dan entah kenapa…
rasanya semua keributan ini jadi sedikit lebih ringan.
***
To Be Continued…
Aku kira masalah terbesar dalam hidupku minggu ini cuma dua:Deadline laporan Q2.Cara menatap Adrian tanpa terlihat kayak orang yang baru menang undian.Ternyata aku salah.Karena ada masalah ketiga yang jauh lebih mengerikan:Rumor kantor.Dan rumor itu menyebar lebih cepat daripada grup WhatsApp keluarga kalau ada kabar artis cerai.***Pagi itu suasana kantor aneh.Aneh banget.Begitu aku masuk, beberapa orang langsung diam. Ada yang pura-pura fokus ke monitor. Ada yang tiba-tiba sibuk buka map kosong. Bahkan Mbak Lina yang biasanya paling cerewet mendadak cuma senyum tipis sambil bilang, “Pagi, Ran…”Nah loh.Ini vibes-nya bukan pagi biasa.Ini vibes “ada gosip dan kamu tokoh utamanya.”Aku duduk pelan di kursi kerja sambil nyalain laptop. Jantungku mulai nggak enak.Dinda langsung nyamperin dengan ekspresi prihatin campur pengin tahu.“Lo kuat?” tanyanya pelan.“Belum tau. Tergantung rumor yang beredar aku nikahin siapa.”Dinda meringis. “Oke, jadi... versinya makin liar.”Aku m
Setelah malam itu di mobil, aku nggak bisa tidur.Bukan karena kopi instan sachetan yang tadi kuminum di kantor, tapi karena kalimat Adrian yang muter-muter di kepalaku kayak sinetron tanpa iklan."Aku tertarik sama kamu.""Kalau suatu saat aku ngajak kamu... bukan buat meeting, tapi buat makan malam... kamu nggak kaget."Plis, Pak. Aku udah kaget dari kalimat ketiga. Ini bukan nonton film, tapi dada aku beneran ngilu-ngilu dikit kayak abis sit-up dua kali.*****Pagi harinya, aku bangun dengan kepala penuh drama dan rambut segimbal gulali. Udah kayak tokoh utama drama Thailand yang lupa siapa dirinya.Dan untuk pertama kalinya, aku berangkat kerja tanpa drama snooze alarm. Bahkan sarapan. Bahkan pakai concealer.Kenapa? Karena ada kemungkinan besar aku akan satu ruangan sama orang yang bilang dia tertarik padaku.Lo tau rasanya masuk kantor setelah itu semua? Rasanya kayak masuk sekolah setelah nulis surat cinta ke guru BK. Deg-degan, awkward, tapi setengah penasaran juga.*****Begi
Setelah malam itu di kafe rooftop, aku pulang dengan kepala penuh tanda tanya dan dada penuh... ya, penuh deg-degan.Bukan karena kopinya mengandung kafein tingkat dewa. Tapi karena Adrian—bosku sendiri—baru aja bilang aku itu beda, jujur, spontan, dan bikin segalanya terasa lebih hidup.Bos, plis… jangan gitu. Aku bisa salah paham dan mulai ngelamun nyari nama anak.Besok paginya, aku bangun lebih awal. Ajaib. Biasanya alarm lima kali snooze, baru bangun. Tapi pagi ini? Alarm baru bunyi dua detik, aku udah duduk. Kayak tokoh utama film yang sadar dirinya punya peran penting dalam hidup orang lain.Aku berdiri di depan cermin sambil oles lip tint yang biasanya cuma kupakai kalau ada kondangan. Hari ini… buat meeting. Meeting bareng Adrian."Tenang, Ran," bisikku ke pantulan wajah sendiri. "Ini cuma kerja. Cuma kerja."Tapi bibirku udah kayak abis makan stroberi langsung dari ladangnya.*****Di kantor, Dinda udah nunggu di meja, matanya melotot kayak baru lihat diskon 90 persen di tok
Aku duduk di halte depan kantor, nungguin ojek online yang kayaknya lagi cari jalan pulang dari Bandung. Udara panas, makeup udah luntur, dan aku masih bengong mikirin omongan Adrian tadi di rooftop."Aku butuh bantuanmu. Tapi bukan soal kerjaan."Kalimat itu muter-muter di kepala kayak lagu dangdut remix. Bukannya fokus balas chat dari Dinda yang nanya, "Lo hidup nggak sih, Ran? Kenapa tiba-tiba ilang?", aku malah ngelamun sambil ngelus-ngelus sedotan di tangan yang tadi kupakai buat ngaduk teh.Sampai akhirnya motorku datang dan aku naik tanpa banyak mikir. Begitu duduk, si abang nanya, "Mbaknya Rani, ya?""Iya, Bang. Jalan aja, jangan nanya macem-macem ya, hati saya lagi goyang."Abangnya ngangguk paham. "Oh, abis meeting besar, ya? Saya sering jemput penumpang yang abis meeting, memang suka mellow."Luar biasa empati abang ini.*****Sampai rumah, aku langsung masuk kamar dan ngelempar tas kayak di film remaja. Buka ikat rambut, nyalain kipas, terus jatuh ke kasur sambil teriak, "
Aku baru duduk lima menit, secangkir kopi belum sempat diseruput, dan playlist mellow pagi ini baru nyampe lagu kedua, ketika notifikasi Google Calendar muncul seperti petir di siang bolong:📅 Meeting All-Staff: Jam 10.00 – R. Presentasi Besar – Agenda: Perkenalan dan Penyelarasan VisiAku menatap layar, lalu menatap cermin kecil di laci meja.“Visi? Yang aku lihat sekarang cuma kantung mata dan jerawat kecil yang muncul kayak hadiah kejutan,” gumamku sambil panik menepuk-nepuk bedak padat ke wajah. Sialnya, aku malah kelebihan dan sekarang pipiku kayak pantat bayi yang baru bedakan.Dinda menyembul dari belakang kubikel, matanya berbinar kayak penonton sinetron yang baru tahu kalau tokoh utamanya amnesia."Rani, kamu udah siap? Aku denger-denger, hari ini bos baru bakal nyampaikan presentasi perdananya. Serius. Ini kayak debut K-pop tapi versi kantor."Aku meliriknya lemas. "Debut K-pop? Aku takut malah kayak audisi X-Factor kalau dia mulai nanya-nanya dan aku jawabnya pake logat Be
Besoknya, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Alarm belum sempat bunyi, tapi aku udah melek kayak abis mimpi disawer gaji tiga digit. Aku mandi lebih lama, pilih kemeja warna biru langit (katanya warna tenang dan bikin orang terlihat profesional—padahal niatnya biar matching sama warna mata bos baru. Ups.)Sesampainya di kantor, aku mencoba terlihat santai. Cuek. Tidak terobsesi. Tapi langkahku terlalu ringan untuk dibilang wajar. Bahkan lift kantor aja kayak lebih cepat mengantarku ke lantai lima. Biasanya dia suka drama ngadat di lantai tiga."Tumben datang awal?" tanya Mas Tyo dari bagian IT sambil menoleh dari belakang monitor.Aku pura-pura garuk kepala yang nggak gatal. "Lagi pengin jadi karyawan teladan. Kali aja dapet bonus."Dia nyengir. "Atau dapet perhatian bos baru?"Aku tersedak air minumku sendiri. "Kamu denger gosip dari mana sih?!""Aku nggak butuh gosip. Aku cukup duduk di dekat pantry dan mendengar degupan jantungmu waktu dia ngomong 'kamu' kemarin."Astagaaaa.Tern
Kalau hari Senin biasanya identik dengan kantung mata, kopi dingin, dan kemeja kusut, maka hari ini agak beda. Aku—Rani Widyastuti—bangun lebih pagi, pakai kemeja yang masih wangi setrika, dan bahkan sempat sarapan bukan cuma dengan kopi dan galau.Penyebab perubahan hidup yang drastis ini cuma satu







