แชร์

Bab 2 Ini Terlalu Rumit

ผู้เขียน: Clavita SA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-25 14:13:01

Tak sekalipun Jollanita menghiraukan Adeline. Ia kembali terfokus pada pembicaraan utama mereka.

"Nenek tidak mau menunda pernikahan ini lagi. Aku percaya, Nak Vanno, bisa mengatur semuanya dengan baik," kata Jollanita, serius.

"Nek! Kenapa Nenek tidak mau mendengarkan pendapatku?" kata Adeline.

Jollanita berdiri. "Sepertinya Nenek tidak bisa berlama-lama dengan kalian di sini. Ada yang perlu Nenek urus sekarang. Kalau ada apa-apa, Nak Vanno bisa hubungi nenek." Ia tersenyum tipis dan melangkah pergi dengan tas jinjing dan ponsel Adeline yang sengaja ia bawa pergi agar tak ada yang mengganggu kedekatan di antara dirinya dengan calon istri.

Adeline tentu saja kesal. Apapun yang terlontar dari mulutnya seolah hanya dianggap angin lalu dan kini ia menjadi terabaikan. Dalam kejengkelannya, raut mukanya seolah mengatakan. 'Kenapa Nenek lebih mempercayai orang lain dibanding cucunya sendiri?'

"Nenek sekarang sudah tidak memihakku lagi. Hanya karena ambisinya, dia jadi lupa denganku," batin Adeline dengan perasaan kecewa yang ia tekan dalam-dalam. Menahan tangis ketika mata sudah lembab dan air netra nyaris terjatuh ke pipi.

Meskipun Adeline tidak tahu betul apa alasan di balik sikap Jollanita yang sangat menekannya dalam perjodohan ini. Tetapi, ia yakin bahwa ada sesuatu yang kemungkinan terbesarnya hanya Rivanno dan Jollanita yang tahu.

Rivanno menoleh ke arah Adeline, ia berusaha menenangkan wanita yang ada di sampingnya.

"Tenang saja, saya bukan monster yang suka memakan manusia. Lagi pula monster pun pasti tidak mau denganmu!" ucapnya menyepelekan, nadanya dingin.

Tetapi dengan cepat Adeline membalasnya. "Kamu memang bukan monster, tapi paus orcha yang suka menelan manusia hidup-hidup. Dasar jahat! Pergi sana! Saya tak sudi harus menikah dengan Anda!"

Rivanno menjentikkan jarinya di depan Adeline. Ia mengerjap dan Adeline pun terbangun dari lamunannya. "Ternyata aku cuma melamun. Kukira tadi aku benar-benar mengatakannya," batin Adeline. Ia mengepalkan salah satu tangannya. Tangan yang seakan siap menghantam siapa saja yang mengganggunya, namun kepalan tangan itu ia regangkan.

"Jangan banyak melamun. Itu tidak cocok denganmu!" ejek Rivanno.

Makin lama Adeline merasa pria ini semakin berani bersikap tidak sopan dengannya. Ia bahkan mengejek dan mengatai yang tidak-tidak.

"Ya, saya tahu. Menikah denganmu pun tidak cocok!" balasnya dengan nada ketus.

"Ter-lam-bat!" Rivanno mengejanya perlahan. Ia kembali menoleh ke arah Adeline, menyapu seluruh tubuh Adeline dengan pandangan matanya. "Seharusnya kamu berkata demikian sebelum nenekmu memutuskan semuanya!" jelas Rivanno.

"Benar juga," gumam Adeline dengan tatapan mata kosong seolah tengah memikirkan sesuatu di kepalanya.

Kemudian dengan cepat Adeline menoleh pada pria yang akan menjadi suaminya itu. "Tapi tidak ada kata terlambat, kita belum menikah!" sahut Adeline dengan tegas dan yakin. "Kalau kamu tidak mau menikah, kita bisa mengatur siasat untuk menggagalkan segalanya!" ungkap Adeline antusias. Ia melontarkan ide yang ada dalam kepalanya begitu saja.

Rivanno menyandarkan punggungnya pada sofa dengan kedua tangan di dada. "Coba saja kalau bisa!"

"Apa maksudmu?" Adeline mengernyit. "Apa jangan-jangan Anda yang menginginkan pernikahan ini?!" tambahnya, kebingungan.

Adeline muak dengan pria itu. Ia berdiri dan mencoba meninggalkan pria itu di sana sendiri. Namun, saat baru saja melangkah, heelnya malah tersangkut di gaun panjang yang dipakainya hingga membuat dirinya tersandung dan ....

BUGGHH!

Adeline nyaris jatuh tersungkur ke lantai, untung saja Rivanno dengan cepat langsung menangkapnya. Namun ....

"Apa ini?!" umpat Adeline dalam batinnya.

Matanya menatap kaget begitu tangan Rivanno menyentuh punggungnya dan jari jemari itu nyaris menyentuh salah satu gunung kembarnya.

Keadaan semakin sunyi. Adeline diam tergugup penuh kebingungan. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan kini. Semuanya terasa serba salah. Di sisi lain ia tidak mau jatuh ke lantai, karena jika Rivanno melepaskan dekapan itu, ia pasti langsung terjatuh. Tetapi di samping itu, ia juga tidak rela jika pria asing menyentuhnya dengan erat.

"S-saya mau ke toilet sebentar!" ucap Adeline dengan terbata-bata .

Akhirnya alasan itu yang ia ambil untuk menuntaskan kebingungan yang ada dalam pikirannya. Rivanno mengerjap. Ia melepaskan tangannya dari tubuh Adeline sekaligus membantunya berdiri.

"Lain kali hati-hati! Jalannya pakai mata!" Peringatan terakhir sebelum Adeline pergi ke toilet.

Di dalam toilet, Adeline hanya terdiam. Ia menatap dirinya sendiri sembari menahan debaran jantung yang berdetak kencang.

"Baru kali ini aku merasakan debaran sekencang ini. Kata orang-orang, debaran kencang begini pertanda ...." gumamnya tapi tidak melanjutkan. Ia sontak menggelengkan kepala cepat -- menepis pikiran itu. "Tidak! Amit-amit kalau jatuh cinta dengan pria semacamnya!"

Refleks matanya membelalak dengan mulut menganga begitu menyadari sesuatu. "Oh tuhan, bagaimana jadinya setelah menikah nanti. Sekarang aja sifat dinginnya sudah kelihatan. Aku pasti .... Tidak! Tidak boleh! Aku harus menggagalkan pernikahan ini!" ucapnya.

Adeline sama sekali tidak menyadari keberadaan CCTV yang nyaris ada di seluruh ruangan. Dan tanpa diketahui, rupanya Jollanita tengah memantau CCTV dari jarak jauh dan tentu saja mengetahui apa yang dikatakan Adeline kala itu.

"Anak itu benar-benar ...! Tidak bisa dibiarkan, dia harus segera diberitahu!" gumam Jollanita seraya menggertakkan giginya kesal.

Ia mengambil nafas dan membuangnya agar gugupnya mereda. Setelah dirasa cukup tenang, Adeline mencuci tangan di wastafel dan kembali ke ruang tamu menemui pria yang akan menjadi suaminya.

"Lama sekali. Ke mana saja?!" ungkap Rivanno ketus.

Sikapnya tampak sangat dingin dan tidak berhati. Menunjukkan sikap acuh pada Adeline.

"Anda tidak perlu tahu! Anda juga tidak berhak mengetahuinya!"

Suasana kembali hening. Sesekali rasa penasaran terus menggerogoti isi kepalanya. Ia melirik penasaran, namun ketus. "Sampai saat ini saya masih tidak mengerti, bagaimana Nenek bisa mengenalmu?" kata Adeline dengan posisi tubuh mengarah pada Rivanno. Kali ini lebih tenang, sebab ia ingin tahu alasan dibaliknya.

Rivanno menyeringai. "Jika ingin tahu segalanya, kamu bisa tanyakan pada nenekmu. Tapi melihat sikapmu yang begitu arogan, sepertinya tidak akan diberitahu!" jelasnya dengan nada penuh penekanan dan bibirnya menyungging sebelah.

"Menyebalkan sekali, bisa-bisanya aku akan menjadi istrinya," batin Adeline. "Dia terlalu dingin dan tampak egois. Mungkin kalau aku sakit pun dia hanya akan tersenyum dan pergi. Bagaimana bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak punya hati sama sekali. Aku harus membicarakannya lagi dengan nenek," pikir Adeline dalam senyapnya.

Tuk! Tuk! Tuk!

Suara heels kembali bergema kala bersentuhan dengan lantai marmer putih yang mengkilat.

"Nenek perlu bicara denganmu!" kata Jollanita dengan tegas -- berdiri tegap, wajahnya tampak serius.

DEG!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 10 Kesalahpahaman

    Rivanno menyeringai. Sementara Adeline diam dengan bibir mengatup rapat."Dia pasti senang karena Nenek lebih membelanya dibanding aku. Oke, sekarang boleh senyum senang, tapi nanti ... kamu akan melihat sendiri, nenek yang tidak akan mendukungmu lagi!" batin Adeline.Rivanno dengan mata menyipit pun sama, hatinya tengah berbicara. "Cihh! Anak itu!" "Kenapa diam? Nenek sedang berbicara denganmu. Mana sopan santun pada suamimu, Nak?!" tegasnya.Adeline sontak sedikit malu begitu Jollanita melontarkan kalimat dengan nada agak tinggi itu. Tak punya pilihan lain, Adeline memilih mengalah dan duduk menemani Rivanno."Sudah berapa kali kamu bolak-balik ke toilet hari ini, sayang?" ungkap Rivanno.Jollanita yang mendengar itu langsung membantingkan wajahnya ke arah Adeline. Pandangan matanya menyapu sekitar perut Adeline dengan mata terbelalak tak percaya. "Oh tuhan, benarkah itu? Apa jangan-jangan kamu hamil!" sontaknya.Pernikahan yang baru terjadi itu membuat Adeline segera membantah d

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 10 Kesalahpahaman

    Rivanno menyeringai. Sementara Adeline diam dengan bibir mengatup rapat."Dia pasti senang karena Nenek lebih membelanya dibanding aku. Oke, sekarang boleh senyum senang, tapi nanti ... kamu akan melihat sendiri, nenek yang tidak akan mendukungmu lagi!" batin Adeline.Rivanno dengan mata menyipit pun sama, hatinya tengah berbicara. "Cihh! Anak itu!" "Kenapa diam? Nenek sedang berbicara denganmu. Mana sopan santun pada suamimu, Nak?!" tegasnya.Adeline sontak sedikit malu begitu Jollanita melontarkan kalimat dengan nada agak tinggi itu. Tak punya pilihan lain, Adeline memilih mengalah dan duduk menemani Rivanno."Sudah berapa kali kamu bolak-balik ke toilet hari ini, sayang?" ungkap Rivanno.Jollanita yang mendengar itu langsung membantingkan wajahnya ke arah Adeline. Pandangan matanya menyapu sekitar perut Adeline dengan mata terbelalak tak percaya. "Oh tuhan, benarkah itu? Apa jangan-jangan kamu hamil!" sontaknya.Pernikahan yang baru terjadi itu membuat Adeline segera membantah d

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 9 Pujian Atau Ejekan?

    Pekikan keras itu seakan mengundang sesuatu. Suara langkah kaki bergema dan ayunan kaki semakin terdengar dengan gema pantofel yang memenuhi seisi ruangan kala itu.Namun, tak lama kemudian kembali hening. Sepasang bola mata bertatapan begitu dalam. "Sebenarnya habis dari mana dia? Apa dari tadi dia mendengar apa yang kami bicarakan?" batin Adeline dengan mata menyipit.Rivanno memalingkan wajahnya sebentar dan kembali dengan sikap profesionalnya. Ia berjalan menuju Jollanita dengan senyum tipis di bibirnya."Silakan duduk, Nek! Mau makan apa? Biar pelayan di sini yang menyiapkan semuanya!" Adeline langsung melotot, bibirnya mengerucut tidak senang."Huh! Apa dia ini! Pulang-pulang langsung menawari Nenek makanan, dia tidak melihat apa ... kalau aku lagi masak," batinnya menggerutu kesal.Lantas, Rivanno mendekat ke arah Adeline. Ia memeluk wanita itu dari samping. Sekilas seperti sepasang kekasih yang tampak harmonis dengan sang suami yang seolah begitu mencintai istrinya.Adeline

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 8 Nenek Sialan, Cucu Cerdas

    Hari berganti, namun kabut kian bergelayut pada mentari yang bersinar itu. Seakan menghalangi dan menjadi penghalang kehangatan. Suara bel berbunyi, menandakan seseorang datang ke tempat itu. Bunyinya tak juga berhenti, sampai Adeline yang tengah berdiam diri di sofa dengan pakaian seksinya itu, seketika pergi ke kamar berhenti baju dengan yang lebih sopan. "Siapa di luar? Coba kamu lihat sebentar?" pinta Adeline pada seorang wanita yang tengah melayaninya hari itu.Pelayannya pun berjalan ke pintu, ia mencoba ke pintu dan mengintip dari balik video doorbell camera tersebut. Tak lama kemudian Adeline kembali, ia pun berdiri di pintu dan mencoba mengintip sendiri.Matanya seketika membelalak kala yang datang adalah sang nenek. "Oh, tidak. Nenek kalau sudah datang ke sini artinya ingin memastikan sesuatu."Firasatnya benar bahwa yang datang adalah sang nenek. Adeline berjalan perlahan dan membuka pintu rumah itu. "Nenek?" sapa Adeline sambil tersenyum kaku memandangi wajah Jollanita

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 7 Bukan Soal Cinta

    "Ada apa, Kawan? Apa yang mengganggu pikiranmu pagi ini sampai melamun begitu lama?" tanya temannya yang berdiri menemani.Rivanno mengerjap perlahan. Ia menoleh ke arah jendela, melihat ke arah luar yang tampaknya cuaca mendadak mendung. Alam pun seolah berduka melihat sepasang pengantin yang terpisah jarak dan saling memisahkan diri."Ceritakanlah, biar saya beri solusi," ungkap seorang pria yang berusaha menghibur Rivanno. Pria itu adalah kawan Rivanno dengan jarak pertemanan yang belum lama ini mereka dekat. Mereka bertemu dua bulan yang lalu pada sebuah acara pelelangan. Rivanno memang pria dermawan yang selalu membeli barang di acara pelelangan untuk amal. Sekalipun barang itu sudah menumpuk di suatu tempat. Tetapi ia tetap membelinya dengan harga fantastis."Menurutmu, apa semua wanita sama?" tanya Rivanno. Mendadak membuka mulut dengan melontarkan satu pertanyaan yang membuat temannya tak percaya dengan apa yang dipertanyakan Rivanno. Sebab, selama ini Rivanno tampak tida

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 6 Semua Pria Sama Saja

    Usai pernikahan itu digelar, Adeline langsung dibawa pergi ke rumah suaminya. Rivanno tidak ingin Adeline terus bersama sang nenek, dan Jollanita pun menyetujui hal itu. Adeline berjalan mendekat ke arah Rivanno. Kala itu pria tersebut tengah bergelut dengan komputer di ruang kerjanya yang tertutup dan hanya bercahayakan lampu remang-remang. "Nenek sudah memesankan tiket bulan madu ke Bali." Adeline membuka ponselnya seraya memperlihatkan bukti tiket yang sudah dipesan tersebut. Tubuhnya memang mengarah pada Rivanno, tetapi wajahnya berpaling ke arah lain. Sebetulnya Adeline malas untuk menemui pria itu sampai harus menghampirinya ke kamar, tetapi ia juga tidak mau jika sang Nenek marah besar padanya sebab tidak menuruti perintahnya. "Lalu ...?" sahut Rivanno dengan santainya tanpa rasa bersalah. "Saya hanya menyampaikan. Tidak pergi, itu jauh lebih baik." Rivanno menghentikan jarinya sejenak di atas keyboard komputer. "Ya. Dan, biar saya ganti uang itu kepada Nenek.

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 5 Pernikahan Dadakan

    "Siapa yang menyuruhmu kabur?" kata Rivanno membawa wanita itu pergi dari hadapan Lucas. "Lucas tolong aku! Aku tidak mau menikah sekarang!" serunya."Apa! Menikah! Kalo kamu mau menikah, kenapa tidak bilang padaku dulu? Jangan-jangan kamu ...!" "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Lucas. Aku

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 4 Hadir di Saat Tak Terduga

    Tok! Tok! Tok! Usai mengetuk, Adeline segera membuka pintu tersebut. Kriettt! "Ada apa lagi? Apa semuanya belum jelas?!" tanya Jollanita seraya berprasangka dalam hatinya. "Mana ponselku, Nek?!" pintanya dengan tangan kanan menengadah -- siap menerima ponselnya yang masih ada di tangan sang n

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 3 Antara Menguntungkan dan Merugikan

    "Kenapa, Nek? Ada apa?" pertanyaan singkat yang ia pikir akan menjawab keresahan sekaligus kebingungan yang menjadi tanda tanyanya selama ini. Tangan yang agak keriput itu meraih pergelangan tangan Adeline pergi sementara dari hadapan Rivanno. Ketika Adeline merasa resah, Rivanno justru mera

  • Rahasia di Balik Pernikahan   Bab 1 Hari Yang Berubah Selama-lamanya

    "Adeline, nenek punya sesuatu yang penting untuk diberitahu. Kamu sudah dewasa sekarang, dan nenek tidak bisa melindungimu selamanya." Kalimat yang terdengar ambigu dan kini ia semakin yakin dengan pertanda yang muncul melalui hatinya. "Apa itu, Nek?" pertanyaan singkat yang terlontar begitu saj

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status