เข้าสู่ระบบRivanno menyeringai. Sementara Adeline diam dengan bibir mengatup rapat."Dia pasti senang karena Nenek lebih membelanya dibanding aku. Oke, sekarang boleh senyum senang, tapi nanti ... kamu akan melihat sendiri, nenek yang tidak akan mendukungmu lagi!" batin Adeline.Rivanno dengan mata menyipit pun sama, hatinya tengah berbicara. "Cihh! Anak itu!" "Kenapa diam? Nenek sedang berbicara denganmu. Mana sopan santun pada suamimu, Nak?!" tegasnya.Adeline sontak sedikit malu begitu Jollanita melontarkan kalimat dengan nada agak tinggi itu. Tak punya pilihan lain, Adeline memilih mengalah dan duduk menemani Rivanno."Sudah berapa kali kamu bolak-balik ke toilet hari ini, sayang?" ungkap Rivanno.Jollanita yang mendengar itu langsung membantingkan wajahnya ke arah Adeline. Pandangan matanya menyapu sekitar perut Adeline dengan mata terbelalak tak percaya. "Oh tuhan, benarkah itu? Apa jangan-jangan kamu hamil!" sontaknya.Pernikahan yang baru terjadi itu membuat Adeline segera membantah d
Rivanno menyeringai. Sementara Adeline diam dengan bibir mengatup rapat."Dia pasti senang karena Nenek lebih membelanya dibanding aku. Oke, sekarang boleh senyum senang, tapi nanti ... kamu akan melihat sendiri, nenek yang tidak akan mendukungmu lagi!" batin Adeline.Rivanno dengan mata menyipit pun sama, hatinya tengah berbicara. "Cihh! Anak itu!" "Kenapa diam? Nenek sedang berbicara denganmu. Mana sopan santun pada suamimu, Nak?!" tegasnya.Adeline sontak sedikit malu begitu Jollanita melontarkan kalimat dengan nada agak tinggi itu. Tak punya pilihan lain, Adeline memilih mengalah dan duduk menemani Rivanno."Sudah berapa kali kamu bolak-balik ke toilet hari ini, sayang?" ungkap Rivanno.Jollanita yang mendengar itu langsung membantingkan wajahnya ke arah Adeline. Pandangan matanya menyapu sekitar perut Adeline dengan mata terbelalak tak percaya. "Oh tuhan, benarkah itu? Apa jangan-jangan kamu hamil!" sontaknya.Pernikahan yang baru terjadi itu membuat Adeline segera membantah d
Pekikan keras itu seakan mengundang sesuatu. Suara langkah kaki bergema dan ayunan kaki semakin terdengar dengan gema pantofel yang memenuhi seisi ruangan kala itu.Namun, tak lama kemudian kembali hening. Sepasang bola mata bertatapan begitu dalam. "Sebenarnya habis dari mana dia? Apa dari tadi dia mendengar apa yang kami bicarakan?" batin Adeline dengan mata menyipit.Rivanno memalingkan wajahnya sebentar dan kembali dengan sikap profesionalnya. Ia berjalan menuju Jollanita dengan senyum tipis di bibirnya."Silakan duduk, Nek! Mau makan apa? Biar pelayan di sini yang menyiapkan semuanya!" Adeline langsung melotot, bibirnya mengerucut tidak senang."Huh! Apa dia ini! Pulang-pulang langsung menawari Nenek makanan, dia tidak melihat apa ... kalau aku lagi masak," batinnya menggerutu kesal.Lantas, Rivanno mendekat ke arah Adeline. Ia memeluk wanita itu dari samping. Sekilas seperti sepasang kekasih yang tampak harmonis dengan sang suami yang seolah begitu mencintai istrinya.Adeline
Hari berganti, namun kabut kian bergelayut pada mentari yang bersinar itu. Seakan menghalangi dan menjadi penghalang kehangatan. Suara bel berbunyi, menandakan seseorang datang ke tempat itu. Bunyinya tak juga berhenti, sampai Adeline yang tengah berdiam diri di sofa dengan pakaian seksinya itu, seketika pergi ke kamar berhenti baju dengan yang lebih sopan. "Siapa di luar? Coba kamu lihat sebentar?" pinta Adeline pada seorang wanita yang tengah melayaninya hari itu.Pelayannya pun berjalan ke pintu, ia mencoba ke pintu dan mengintip dari balik video doorbell camera tersebut. Tak lama kemudian Adeline kembali, ia pun berdiri di pintu dan mencoba mengintip sendiri.Matanya seketika membelalak kala yang datang adalah sang nenek. "Oh, tidak. Nenek kalau sudah datang ke sini artinya ingin memastikan sesuatu."Firasatnya benar bahwa yang datang adalah sang nenek. Adeline berjalan perlahan dan membuka pintu rumah itu. "Nenek?" sapa Adeline sambil tersenyum kaku memandangi wajah Jollanita
"Ada apa, Kawan? Apa yang mengganggu pikiranmu pagi ini sampai melamun begitu lama?" tanya temannya yang berdiri menemani.Rivanno mengerjap perlahan. Ia menoleh ke arah jendela, melihat ke arah luar yang tampaknya cuaca mendadak mendung. Alam pun seolah berduka melihat sepasang pengantin yang terpisah jarak dan saling memisahkan diri."Ceritakanlah, biar saya beri solusi," ungkap seorang pria yang berusaha menghibur Rivanno. Pria itu adalah kawan Rivanno dengan jarak pertemanan yang belum lama ini mereka dekat. Mereka bertemu dua bulan yang lalu pada sebuah acara pelelangan. Rivanno memang pria dermawan yang selalu membeli barang di acara pelelangan untuk amal. Sekalipun barang itu sudah menumpuk di suatu tempat. Tetapi ia tetap membelinya dengan harga fantastis."Menurutmu, apa semua wanita sama?" tanya Rivanno. Mendadak membuka mulut dengan melontarkan satu pertanyaan yang membuat temannya tak percaya dengan apa yang dipertanyakan Rivanno. Sebab, selama ini Rivanno tampak tida
Usai pernikahan itu digelar, Adeline langsung dibawa pergi ke rumah suaminya. Rivanno tidak ingin Adeline terus bersama sang nenek, dan Jollanita pun menyetujui hal itu. Adeline berjalan mendekat ke arah Rivanno. Kala itu pria tersebut tengah bergelut dengan komputer di ruang kerjanya yang tertutup dan hanya bercahayakan lampu remang-remang. "Nenek sudah memesankan tiket bulan madu ke Bali." Adeline membuka ponselnya seraya memperlihatkan bukti tiket yang sudah dipesan tersebut. Tubuhnya memang mengarah pada Rivanno, tetapi wajahnya berpaling ke arah lain. Sebetulnya Adeline malas untuk menemui pria itu sampai harus menghampirinya ke kamar, tetapi ia juga tidak mau jika sang Nenek marah besar padanya sebab tidak menuruti perintahnya. "Lalu ...?" sahut Rivanno dengan santainya tanpa rasa bersalah. "Saya hanya menyampaikan. Tidak pergi, itu jauh lebih baik." Rivanno menghentikan jarinya sejenak di atas keyboard komputer. "Ya. Dan, biar saya ganti uang itu kepada Nenek.
"Siapa yang menyuruhmu kabur?" kata Rivanno membawa wanita itu pergi dari hadapan Lucas. "Lucas tolong aku! Aku tidak mau menikah sekarang!" serunya."Apa! Menikah! Kalo kamu mau menikah, kenapa tidak bilang padaku dulu? Jangan-jangan kamu ...!" "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Lucas. Aku
Tok! Tok! Tok! Usai mengetuk, Adeline segera membuka pintu tersebut. Kriettt! "Ada apa lagi? Apa semuanya belum jelas?!" tanya Jollanita seraya berprasangka dalam hatinya. "Mana ponselku, Nek?!" pintanya dengan tangan kanan menengadah -- siap menerima ponselnya yang masih ada di tangan sang n
"Kenapa, Nek? Ada apa?" pertanyaan singkat yang ia pikir akan menjawab keresahan sekaligus kebingungan yang menjadi tanda tanyanya selama ini. Tangan yang agak keriput itu meraih pergelangan tangan Adeline pergi sementara dari hadapan Rivanno. Ketika Adeline merasa resah, Rivanno justru mera
"Adeline, nenek punya sesuatu yang penting untuk diberitahu. Kamu sudah dewasa sekarang, dan nenek tidak bisa melindungimu selamanya." Kalimat yang terdengar ambigu dan kini ia semakin yakin dengan pertanda yang muncul melalui hatinya. "Apa itu, Nek?" pertanyaan singkat yang terlontar begitu saj







