LOGINAdeline, wanita cantik mungil hidup dalam kehidupan yang hampir sempurna. Namun, dibalik kesempurnaan yang tampak luar dengan status sosial yang tinggi itu rupanya menyimpan kisah kelam yang membuat jalan hidupnya seolah berada dalam bara api. Dalam keputusasaan, ia terjebak dalam pernikahan dengan pria yang menjadi bayang-bayang kegelapan. Rivanno Ganendra, pria dingin dengan identitas rahasia di balik tatapan matanya yang gelap, demi menyelamatkan rahasia keluarga yang bisa menghancurkan segalanya. Apa jadinya jika pernikahan tanpa cinta ini harus Adeline lalui? Akankah cinta datang di tengah kegelapan, atau hanya akan membawa kehancuran?
View MoreUsai pernikahan itu digelar, Adeline langsung dibawa pergi ke rumah suaminya. Rivanno tidak ingin Adeline terus bersama sang nenek, dan Jollanita pun menyetujui hal itu. Adeline berjalan mendekat ke arah Rivanno. Kala itu pria tersebut tengah bergelut dengan komputer di ruang kerjanya yang tertutup dan hanya bercahayakan lampu remang-remang. "Nenek sudah memesankan tiket bulan madu ke Bali." Adeline membuka ponselnya seraya memperlihatkan bukti tiket yang sudah dipesan tersebut. Tubuhnya memang mengarah pada Rivanno, tetapi wajahnya berpaling ke arah lain. Sebetulnya Adeline malas untuk menemui pria itu sampai harus menghampirinya ke kamar, tetapi ia juga tidak mau jika sang Nenek marah besar padanya sebab tidak menuruti perintahnya. "Lalu ...?" sahut Rivanno dengan santainya tanpa rasa bersalah. "Saya hanya menyampaikan. Tidak pergi, itu jauh lebih baik." Rivanno menghentikan jarinya sejenak di atas keyboard komputer. "Ya. Dan, biar saya ganti uang itu kepada Nenek.
"Siapa yang menyuruhmu kabur?" kata Rivanno membawa wanita itu pergi dari hadapan Lucas. "Lucas tolong aku! Aku tidak mau menikah sekarang!" serunya."Apa! Menikah! Kalo kamu mau menikah, kenapa tidak bilang padaku dulu? Jangan-jangan kamu ...!" "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Lucas. Aku bisa jelaskan semuanya ...!" ringis Adeline dengan air mata yang tak terbendung lagi. Orang-orang di sekitar sana melihat ke arah mereka. Tampak seperti tengah melihat sebuah pertunjukan seru. Rivanno tidak menyukai keadaan itu, ia terus menyeret calon istrinya menuju mobil.Lucas terdiam sejenak, ia tidak mau celaka. Melihat Rivanno yang tampaknya jago bela diri, membuatnya kesulitan untuk menandingi ia Rivanno. "Sialan! Siapa pria itu? Kenapa dia datang begitu saja dan seperti mengenal Adeline?" ucapnya kesal. Ia menendang kaleng bekas minuman yang ada di tanah yang nyaris mengenai punggungnya, tetapi dengan cepat tanggap Rivanno menendang balik dan berhasil mengenai perut Lucas. BUGH!
Tok! Tok! Tok! Usai mengetuk, Adeline segera membuka pintu tersebut. Kriettt! "Ada apa lagi? Apa semuanya belum jelas?!" tanya Jollanita seraya berprasangka dalam hatinya. "Mana ponselku, Nek?!" pintanya dengan tangan kanan menengadah -- siap menerima ponselnya yang masih ada di tangan sang nenek. Jollanita dengan berat hati mengembalikan ponsel itu. Kadang ia ragu untuk mengembalikannya karena khawatir Adeline berbuat yang tidak-tidak, tetapi ia pikir; terlalu egois jika menggenggamnya sedangkan Adeline juga membutuhkan alat komunikasi itu. "Nenek kembalikan sebentar, nanti nenek boleh ambil lagi." Adeline terdiam sejenak. Sekalipun nyaris berekspresi, ia tetap berusaha santai dan bermuka datar. Ia tidak mau jika ekspresi wajah membuat Jollanita curiga terhadap apa yang akan dilakukannya kini. "Terserah nenek saja," Adeline pasrah. Ia meninggalkan Jollanita dengan ponsel yang ada di genggaman tangannya itu. Ia menjauh dari ruangan sambil berjalan ke depan, meski sesekali m
"Kenapa, Nek? Ada apa?" pertanyaan singkat yang ia pikir akan menjawab keresahan sekaligus kebingungan yang menjadi tanda tanyanya selama ini. Tangan yang agak keriput itu meraih pergelangan tangan Adeline pergi sementara dari hadapan Rivanno. Ketika Adeline merasa resah, Rivanno justru merasa tenang. Ia menikmati santainya di sofa empuk seharga mobil Roll Royce. Sementara Adeline, wanita cantik mungil itu harus menghadapi sang nenek yang kian menyeretnya keluar dari ruang tamu menuju ruang musik dengan pintu terkunci nan kedap suara. "Ada apa? Apa yang sebenarnya mau Nenek katakan?" desak Adeline. Jollanita menoleh ke arah pintu itu sejenak. Memastikan bahwa pintu tersebut tertutup, ia khawatir jika ada yang mendengar pembicaraan tersebut. Sebab, ia masih ingin merahasiakan semuanya. Namun, Adeline yang arogan membuatnya harus mengungkap sedikit rahasia pada cucu yang disayanginya itu. "Dengar baik-baik. Jangan berani menggagalkan pernikahan ini lagi. Nenek tidak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.