/ Romansa / Rahasia di Rahim Alana / Disewakan, Segera!

공유

Rahasia di Rahim Alana
Rahasia di Rahim Alana
작가: ShaSheMie

Disewakan, Segera!

작가: ShaSheMie
last update 게시일: 2025-07-02 22:29:22

"Jangan berharap lebih! Pernikahan ini akan berakhir tepat di hari kamu melahirkan! Tidak lewat satu menit pun!"

Alana bungkam, tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau dia harus setuju.

"Tandatangani ini dan segera pindah ke rumah yang sudah disiapkan."

Sekali lagi, tidak ada penolakan dari gadis berambut ikal yang hidupnya serasa berada di ujung tanduk itu.

"Ingat Alana, bersikaplah profesional." 

Seorang wanita paruh baya yang Alana kenal bernama Ratri itu pergi begitu saja membawa berkas yang sekaligus harapan baginya.

Mata kering nan panas itu memejam sesaat. Entah benar atau salah keputusan yang diambil, tapi demi operasi sang ayah, Alana harus melakukan perjuangan hingga titik darah penghabisan.

"Aku yakin ini yang terbaik. Tuhan beri cobaan sepaket dengan jalan keluar. Aku percaya ini salah satu petunjuk untuk bisa keluar dari masalah ini." Sekali lagi Alana meyakinkan dirinya.

Tak lama, sebuah panggilan telepon memecah heningnya lorong rumah sakit. 

"Alana, kemasi barang pentingmu malam ini juga, kalau sudah siap, segera kabari aku. Tidak perlu membawa banyak baju, semua sudah tersedia. Besok pagi kamu harus melakukan pemeriksaan medis."

"Baik, Bu." Hanya itu yang mampu Alana ucapkan pada Ratri. Wanita itu sangat tegas dan tanpa basa basi.

Alana segera pamit pada sang ayah. Meski tergeletak tak sadarkan diri, gadis itu yakin pria tua yang selama ini berjuang mati-matian untuknya itu mendengar apa yang dia ucapkan.

"Doakan Lana, Yah. Tugas ayah hanya bertahan, maka sesulit apapun itu pasti akan Lana hadapi."

Kemudian dengan lembut tangan gemetar dan dingin itu mengusap rambut sang ayah, lalu mengecup keningnya beberapa kali.

 Alana ingin segera berkemas, lalu pindah ke tempat yang dia tak tahu dimana tepatnya sesuai titah Ratri tadi. Dia pikir, lebih cepat lebih baik, menunda tak akan mendapatkan apa-apa.

***

Sebuah mobil mewah menunggu Alana di depan gerbang, lengkap dengan seorang sopir yang sedari tadi berdiri siaga. Entah kenapa, Alana seperti disergap ketakutan luar biasa. Dunia seperti apa yang akan dia hadapi sebentar lagi? Apakah semua akan baik-baik saja sesuai janji Ratri kemarin? 

Alana tak memiliki kekuatan apapun, dia hanya seorang gadis biasa dengan kehidupan normal yang tiba-tiba harus menanggung sebuah beban berat setelah mobil taksi yang disopiri sang ayah mengalami kecelakaan fatal saat selesai mengantar penumpang. 

Tak ada asuransi, bahkan tak memiliki uang tabungan sama sekali. Perusahaan taksi dimana sang ayah bekerja lepas tangan dan mengatakan itu bukan kecelakaan yang ditanggung perusahaan, mereka bilang ini murni kelalaian sopir.

“Kami tidak akan menuntut biaya perbaikan mobil yang jumlahnya cukup besar, sebagai gantinya kami tidak bisa membantu banyak untuk biaya pengobatan.” Begitu kata salah satu penanggung jawab perusahaan.

"Silakan, Nona." Suara ramah sopir dengan perawakan mirip dengan ayahnya itu membuyarkan angan Alana.

Lantas gadis yang masih berusia awal duapuluhan itu masuk ke dalam mobil dengan interior mewah yang bahkan tidak pernah mampir dalam mimpinya. Otak pintarnya mencoba mengkalkulasi harga mobil yang dia tumpangi saat ini. Sepertinya satu unit ini cukup untuk membiayai operasi sang ayah dan menghidupi kesederhanaan mereka sampai bertahun-tahun kedepan.

Hembusan napas dalam pertanda sesuatu yang menyesakkan berkali Alana lakukan. Ya, tiap-tiap manusia pasti sedang berjuang untuk hidupnya, termasuk Alana dan sopir yang kini bersamanya sekalipun. 

"Sebentar lagi kita sampai, Nona. Nama saya Sugito. Saya bertugas mengantar Nona pergi kemanapun sejak hari ini sampai nanti-nanti. Mobil ini khusus untuk Nona."

Mata Alana membulat. Dia difasilitasi mobil semewah ini plus beserta sopir? Sekaya apa orang yang akan dia hadapi? Seketika Alana merasa hidupnya tak adil.

Bagaimana bisa Tuhan membagi sesuatu seperti langit dan bumi? Uang cash yang kini Alana pegang saja mungkin hanya cukup untuk membeli dua liter bensin untuk kuda besi ini. 

"I-iya, Pak. Terima kasih. Nama saya Alana."

Setelah itu hening. Alana sibuk memindai kawasan yang baru saja dia lewati. Kawasan elite yang pernah dia lihat brosurnya di kursi penumpang taksi sewaan ayahnya dulu.

"Pak, ini Surya Land?" tanya Alana lirih.

"Betul, Nona. Surya Land Grand Residence."

Tak lama, mobil bercat hitam pekat mengkilat itu berbelok pada gerbang rumah paling ujung. 

Disana Ratri sudah menunggu dengan wajah datarnya. Wanita itu tak sendiri, ada dua wanita lain yang juga bersamanya, sama-sama berdiri siaga.

"Bawakan ini ke kamar lantai dua."

Ratri memerintah salah satu pelayan untuk membawa tas milik Alana yang ringan. Gadis itu tak membawa apapun, hanya beberapa helai baju dan sebuah buku, juga beberapa benda kecil lainnya.

"Ayo masuk, Alana." 

Alana mengangguk patuh. Langkahnya terasa berat, ditambah udara malam yang cukup menusuk, juga keheningan yang sedari tadi memeluk, seolah paket lengkap yang akan mengiringi kerumitan hidupnya setelah ini.

"Kamu akan tinggal disini selama masa kontrak berlaku. Setelahnya kamu akan kembali seperti semula."

Alana mengikuti langkah Ratri yang membawanya ke lantai dua seperti perintahnya pada pelayan tadi. 

"Ini kamarmu, kamu akan tinggal disini bersama dua pelayan tadi. Santi dan Ema, juga Pak Sugito sebagai sopir."

Dengan ragu Alana masuk. Luas kamar ini mungkin sama dengan rumah sederhananya, bahkan mungkin lebih luas ruangan ini. 

"Baik, Bu."

"Kamu bisa bersantai. Jangan terlalu tegang, itu bisa mempengaruhi pemeriksaan kesehatanmu besok. Aku ingin semua berjalan lancar, tepat waktu, dan baik-baik saja. Paham?"

Kalimat tanya itu bagai titah tak terbantah sekaligus beban yang lebih berat dari sebelumnya.

"Besok kamu juga akan menemui putraku. Meski mendapat penolakan darinya, kamu harus tetap teguh. Jangan goyah sedikitpun. Mengerti Alana?"

"Iya, Bu. Saya mengerti."

"Bagus, kamu bisa istirahat. Sebentar lagi, Santi akan antar makanan, dan bantu kamu perawatan. Kamu harus sempurna untuk melahirkan keturunan Raharja."

***

Pagi-pagi sekali, Alana sudah bersiap. Dia puasa sejak jam tiga pagi. Serangkaian pemeriksaan darah akan dilakukan hari ini. Memastikan jika tidak ada penyakit atau kelainan apapun dalam diri Alana sebelum benar-benar mengandung putra sang pewaris.

"Nona, mobil sudah siap." Santi memanggil Alana yang sibuk menatap langit lewat jendela kamarnya.

"Makasih, Mbak. Hmm… bisa minta tolong sesuatu?"

Santi mendekat lalu menunduk, seperti siap menerima perintah.

"Bisakan tidak memanggilku dengan panggilan nona? Panggil Alana saja."

Santi menggeleng. "Maaf, Nona. Saya tidak bisa. Ini sudah menjadi peraturan. Panggil saya Santi saja, bukan Mbak."

Alana menghembus napas dalam. "Sejujurnya panggilan itu membuatku merasa berada di dunia yang sangat asing. Tapi, baiklah. Aku nggak akan memaksa kalau itu akan membuatmu kesulitan. Terima kasih udah membantuku."

Alana beranjak setelah sebelumnya melempar senyum. Senyum yang susah payah dia kumpulkan semalaman. 

"Alana, tunggu disini. Sebentar lagi Tara datang. Aku harus menemui seseorang." 

Alana berada di sebuah ruang tunggu VVIP rumah sakit tengah kota sejak lima belas menit yang lalu. Ratri bersamanya sejak tadi.

Suara pintu terdorong memecah keheningan, mata bertemu mata antara Alana dan seorang pria yang gadis itu tebak sebagai Tara yang disebutkan Ratri sejak kemarin.

"Dimana mama?" tanya suara berat itu tanpa basa basi.

Alana segera menunduk, jantungnya berdegup entah berirama apa.

"Hei! Kamu tuli? Dimana mama?"

"Ah, itu… tadi Bu Ratri-"

"Tara. Kamu udah sampai, Nak?" Ratri memotong dari sisi pintu lainnya.

Alana kehilangan kekuatan pada sendi-sendinya. Lemas, tangannya meremas kecil sisi kiri kanan dressnya hingga kusut.

"Alana, kenalin ini Tara."

Alana tiba-tiba berdiri kaku dan menunduk hormat. Salah tingkah. "Saya Alana."

"Nggak penting!" Pria itu mendengus kesal. "Ma, aku bilang nggak perlu sejauh ini. Aku sama Asyila baik-baik aja."

"Tara, nggak hanya itu yang harus kamu pikirkan."

"Apa? Perusahaan? Warisan? Apa semua itu sangat penting sampai-sampai mama berbuat sejauh ini?"

Ratri melirik sekilas ke arah Alana.

"Kita sudah pernah membahas masalah ini berkali-kali. Jadi, kamu nggak perlu membuang waktu untuk merengek dan menolak rencana mama," kata Ratri sedikit berbisik pada Tara.

"Aku sayang sama Asyila, Ma. Aku nggak mungkin nyakitin dia."

Ratri memeluk sang putra. "Mama sudah bicara sama Asyila dan dia baik-baik aja. Dia mendukung."

Hening. Alana seperti sedang menonton pertunjukan teater drama tepat di depan matanya. Percakapan dengan tema yang sangat asing di telinga. Perusahaan? Jabatan? Ah, pusing! Yang dia tau hanya kepingan uang receh dibawah seratus ribuan.

"Kamu melakukannya karena uang 'kan?"

Dirgantara Raharja, pria berusia pertengahan tiga puluhan itu duduk tak jauh dari Alana. Sekitar enam puluh menit yang lalu keduanya melakukan serangkaian pemeriksaan yang cukup melelahkan.

"Aku akan berikan dua, ah! Tiga kali lipat dari besaran yang mama janjikan ke kamu asal kamu menolak rencana konyol ini dan pergi jauh."

Alana meremas tangannya sendiri. Iya, dia butuh uang tapi tidak seperti ini perjanjiannya.

"Selain tuli, apa kamu juga bisu? Kenapa diam sejak tadi? Apa jumlah itu kurang?"

"Tidak, bukan itu …." Alana memberanikan diri menoleh.

"Saya sudah menandatangani sebuah kontrak, jika melanggar maka-"

"Jangan pernah mencoba menggagalkan rencana mama, Tara!"

Ratri muncul tiba-tiba.

"Kalau kamu gagalkan kali ini, mama akan terus merencanakannya meski gadis itu bukan Alana!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rahasia di Rahim Alana   Empat Bulan

    Sepertinya kamu akan sering pulang telat,” keluh Asyila dalam dekapan hangat Tara.Pria itu tak menjawab, dia sibuk memeluk, tangannya bergerak-gerak lembut mengusap punggung sang istri.“Mama bilang, aku harus mengerti keadaan ini.” Asyila menjeda, kentara sekali jika menghela napas berat. “Anak itu … butuh ayah yang perhatian, kata mama.” Asyila menyebut mama mertuanya dua kali, pertanda sebuah penekanan atau pemaksaan yang harus ditangkap oleh perasaan Tata.Gerakan pada punggung Asyila berhenti.“Kamu nggak harus mengerti, kamu hanya cukup menjalani, ini semua akan segera berakhir.” Tara mengecup kening Asyila sekilas, berharap mampu mengusir gundah yang tidak mudah.“Aku takut, Tara.”“Takut apa, Sayang?”Asyila diam, ragu melanjutkan kalimatnya.“Takut kamu akan benar-benar berubah. Aku takut kamu jatuh cinta sama wanita itu, apalagi … anak itu … pasti akan selalu mengingatkanmu padanya.”Tara mem

  • Rahasia di Rahim Alana   Wangi Tubuh Tara

    Kehamilan Alana sebenarnya cukup unik, dia tidak mengalami morning sickness atau mual muntah di pagi hari seperti pada umumnya, justru Alana merasa mual dan ingin muntah di malam hari, selepas senja, dia mulai merasa pusing dan mual dengan berbagai aroma yang mampir ke indra penciumannya.Pagi ini Alana tampak jauh lebih segar. Semalam infus juga sudah dilepas oleh perawat perintah dari dokter Azlan setelah sebelumnya kembali disuntikkan obat anti mual. Dengan secangkir susu cokelat hangat, Alana menikmati sinar matahari lembut di taman belakang rumah.“Rasanya … aku seperti mabuk kendaraan,” keluhnya pada Ema.“Semalam yang terparah, Nona. Kami sampai bingung, untung Tuan Tara datang.”Sesapan Alana berhenti. “Tara?”Ema menggigit bibir bawah, seperti orang yang salah bicara.“Jadi semalam itu benar dia yang bawa aku ke kamar?”Ema mengangguk ragu.“Aku kira mimpi, tapi aromanya familiar. Apa dia suka

  • Rahasia di Rahim Alana   Tubuh Lemah Alana

    Dengan langkah dan helaan napas berat Tara mendekat ke pintu masuk rumah yang kini dihuni Alana.Sesuai hasil perdebatan siang tadi, sekali lagi pria itu kalah dengan sang mama. Menjelang senja, setelah mengulur waktu beberapa saat, Tama berakhir disini, masih lengkap dengan setelan jas dan tak lupa menenteng paper bag yang tadi dibawa Ratri. Tara mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya ada respon.Ema membuka pintu dengan raut panik. “Tuan Tara!” Matanya membola, terkejut. “Syukurlah Anda datang. Tolong, Nona Alana pingsan.”Kini Tara yang malah diberi kejutan. Tanpa menjawab, Pria itu bergegas berlari ke arah sumber suara yang terdengar terus-menerus memanggil nama Alana.“Ada apa?” tanyanya refleks setelah sampai di pintu kamar mandi kamar Alana.Santi pun turut terkejut dengan kehadiran Tara yang tiba-tiba. “Ini Tuan, Nona Alana muntah-muntah dari tadi, sampai badannya lemas.”Tanpa pikir panjang Tara mengangkat tubuh ringan Alana. Tubuh dalam dekapannya itu terasa dingin d

  • Rahasia di Rahim Alana   Konflik Batin

    “Tenangkan dirimu, Asyila.”Langkah penuh amarah itu seketika berhenti. Sorot tajam yang seolah mampu membelah dunia itu tiba-tiba redup.“Mama,” sapanya lembut. Perubahan yang cukup drastis. Ternyata Ratri sudah menunggunya di ruang tengah sejak tadi. “Aku memahami ketidaknyamananmu mendengar kabar kehamilan Alana. Tapi tahan dirimu, ini tidak selamanya. Aku juga tegaskan berulang kali, gadis itu hanya dibayar sampai dia melahirkan.”Tak segera menjawab, Asyila malah tersenyum tipis. Dia yakin jika salah satu pelayan dirumah tadi menghubungi Ratri untuk melaporkannya.“Kamu juga tahu Tara tidak menyukainya. Lantas, kenapa kamu menjadi begitu khawatir? Biarkan dia hamil dengan tenang.”Sebenarnya baik Ratri maupun Asyila jarang sekali berdebat. Bisa dibilang menantu dan mertua itu cukup akrab.“Apa mama yakin semua akan berjalan mulus seperti yang mama katakan barusan?”Kening Ratri berkerut. Asyila menjawab dengan pertanyaan balik yang cukup mengejutkannya.“Apa mama nggak memikirka

  • Rahasia di Rahim Alana   Ultimatum Asyila

    “Selamat, Nona.”Alana tersenyum saat Ema menyambutnya dengan raut girang di ambang pintu. Entah harus bahagia atau bagaimana, Alana bingung mengekspresikan. Hamil memang menjadi tujuan dari segala kerjasama ini, tapi jujur Alana tak merasakan apapun.“Makasih, Ema. Aku mau langsung mandi.” Ajaibnya, beberapa saat setelah mengetahui jika hamil, sel-sel dalam tubuh Alana bereaksi aneh. Dia merasakan lelah yang teramat sangat. Padahal, sama sekali tidak melakukan aktivitas berat. Apa karena habis terpeleset tadi yang membuat Alana harus sedikit menahan sakit? Entahlah, semua terasa ambigu.“Hmm, Nona. Tapi ….”Alana mengernyit. “Ada apa, Ema?” tanyanya khawatir.Meski ragu akan berakhir baik, Ema tetap harus menyampaikan. “Hmm … itu … Nyonya Asyila menunggu di taman belakang.” Suara Ema mengecil di akhir.Napas Alana tertahan beberapa detik, lantas hembusan yang cukup berat mampu membuat Ema sadar jika Nona-nya ini jelas merasa tidak nyaman. Angan untuk segera merebahkan diri sirna. A

  • Rahasia di Rahim Alana   Positif

    Ratri melangkah tak sabar, sepatu pantofelnya sibuk memberi irama riuh. Sampai pada tangan dinginnya meraih gagang pintu dengan semangat.“Alana!” pekiknya tak tertahan.“Bu Ratri.” Serta merta Alana bangkit dari duduknya.Kilat kemarahan yang menumpuk seketika luluh saat menatap mata Alana yang bening.Entah mendapat dorongan dari mana Ratri memeluk Alana dengan posesif.“Syukurlah kamu baik-baik aja.”Meski ragu, Alana membalas pelukan Ratri demi untuk menenangkan diri.“Dia baik-baik aja, hanya lututnya ada sedikit luka.” Dokter Harjito menepuk bahu Ratri, membuat wanita itu melepas pelukan lantas memeriksa bagian yang dimaksud sahabatnya itu.Ratri kembali menatap Alana. “Bagaimana bisa jatuh?”“Hmm, saya terpeleset. Maaf,” ucapannya lirih diakhir kalimat. Ya, dia yang jatuh dia juga yang harus meminta maaf. Alana sadar betul keselamatannya adalah diatas segalanya saat ini.“Ayo duduk,” ajak dokter Harjito pada keduanya.“Selamat Ratri.” Pria berjas putih rapi itu menyodorkan sele

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status