تسجيل الدخول
“Cepat! Ambil apa yang bisa dibawa!”
Seseorang menabrak Joni dari samping. Rak berguncang. Kaleng berjatuhan. “Cepat! Mereka sudah dekat—!” Di dalam supermarket, suara teriakan saling tindih. Rak-rak sudah hampir kosong. Sisa kaleng penyok, mie instan sobek, dan botol air yang tinggal beberapa. Semua orang bergerak cepat, nyaris brutal—tidak ada yang peduli siapa mengambil apa. Joni menyapu isi rak dengan tangan gemetar, memasukkan apa pun ke dalam tasnya. Nafasnya berat, keringat dingin mengalir di pelipis. Dari luar, suara tembakan bersahutan. Dor! Dor! Dor! “Cepat mundur! Horde mendekat!” Seseorang berteriak panik. Seketika, suasana pecah total. Orang-orang berlari ke arah pintu keluar, saling dorong, saling sikut. Ada yang jatuh—langsung ditinggalkan. Joni ikut terseret arus. Tas di punggungnya terasa berat, tapi dia tidak berani berhenti. Begitu keluar, udara terasa lebih dingin—dan lebih mematikan. Sekelompok pria bersenjata berdiri di depan mobil, menembaki kerumunan zombie yang mulai memenuhi jalan. Jumlahnya terlalu banyak. Peluru hanya memperlambat, bukan menghentikan. “LEMPAR TASNYA! CEPAT!” Pintu mobil terbuka. Satu per satu orang melempar tas mereka ke dalam, lalu ditarik masuk tanpa banyak bicara. Joni melihat itu dan langsung mengikuti. Dia mengangkat tasnya, melempar dengan sisa tenaga yang ada. Seseorang di dalam mobil menangkapnya. Ada harapan. Joni mendekat, mengulurkan tangan, menunggu ditarik masuk seperti yang lain. Untuk sesaat, semuanya terasa melambat. Lalu sebuah tendangan menghantam dadanya dengan keras. Joni terpental ke belakang, jatuh menghantam aspal. Nafasnya hilang seketika, dadanya terasa seperti remuk. Di atas mobil, Broto berdiri, menatapnya dengan ekspresi dingin tanpa sedikit pun ragu. “Orang sampah kayak lo,” katanya pendek, suaranya datar di tengah kekacauan, “lebih berguna jadi umpan.” Pintu mobil ditutup dan mesin meraung. Tanpa menoleh lagi, mobil itu melaju pergi, meninggalkan Joni di tengah jalan yang mulai dipenuhi bayangan bergerak. Joni terbaring beberapa detik, berusaha menarik napas yang terasa seperti ditarik paksa dari tenggorokan. Tasnya… sudah pergi. Harapannya… ikut pergi. Pelan-pelan, dia menoleh ke belakang. Suara geraman rendah mulai terdengar jelas. Satu. Dua. Puluhan. Zombie-zombie itu sudah terlalu dekat dan kali ini tidak ada siapa pun yang akan menariknya pergi. Joni memukul aspal keras-keras. “Sialan!” Rasa sakit di tangannya kalah jauh dari panas di dadanya. Marah, takut, dan putus asa campur jadi satu. Suara geraman makin dekat. Dia tidak punya waktu. Joni langsung bangkit dan berlari kembali ke dalam supermarket. Pintu kaca yang tadi hampir jebol didorong paksa. Dia menariknya, berusaha menutup sebisa mungkin sebelum tubuh-tubuh busuk itu menabrak dari luar. BRAK! Satu zombie menghantam kaca. Retak. “Cepat… cepat…!” Joni mendorong rak terdekat, menyeretnya dengan tenaga seadanya untuk mengganjal pintu. Nafasnya kacau, tangannya gemetar. Enam bulan. Baru enam bulan sejak dunia berubah jadi seperti ini. Awalnya cuma kabar aneh. Orang sakit, lalu menggigit. Dalam hitungan minggu, setengah populasi berubah jadi monster. Yang selamat pun tidak benar-benar selamat—banyak yang akhirnya terinfeksi juga. Negara runtuh. Militer gagal. Hukum… hilang begitu saja. Yang tersisa cuma satu aturan: bertahan hidup. BRAK! Benturan lain mengguncang pintu. Joni tersentak, lalu mundur. Kakinya terus bergerak masuk lebih dalam ke supermarket, menjauh dari suara itu. Di tengah kekacauan itu, manusia menemukan satu hal baru. Awakener. Orang-orang yang tiba-tiba memiliki kemampuan aneh—api, angin, petir. Kekuatan yang cukup untuk melawan, cukup untuk memimpin. Mereka jadi pusat kelompok, jadi harapan baru di dunia yang hampir mati. Dan Joni. Dia juga salah satunya. Langkahnya tersendat sesaat, lalu berlanjut lagi, sampai sekarang, dia bahkan tidak tahu kemampuannya itu berguna untuk apa. Tidak bisa bertarung. Tidak bisa melindungi siapa pun. Yang dia tahu, setiap kali dia mencoba menggunakannya tidak ada yang berubah. Itulah kenapa dia berakhir jadi pemulung. Lapisan paling bawah. Yang pertama disuruh maju dan paling mudah ditinggalkan. Nafas Joni semakin berat saat dia mencapai bagian terdalam supermarket. Sudut sempit, rak-rak tinggi mengelilinginya seperti jebakan. Sunyi—untuk sesaat lalu—Grrr… Suara itu muncul lagi. Lebih dekat dan lebih banyak. Bayangan mulai bergerak di antara lorong rak. Joni membeku dan panik naik ke tenggorokan, tangannya mengepal tanpa sadar. “Jangan sekarang…” gumamnya serak. Langkah kaki menyeret, geraman lapar, dan mata-mata kosong itu mulai menemukannya. Lorong di depannya buntu. Joni berhenti mendadak, matanya liar mencari jalan lain. Nafasnya putus-putus, dadanya sakit setiap kali menarik udara. Di belakang suara langkah menyeret makin dekat lalu dia melihat sesuatu. Sebuah celah di atap. Tidak besar, tapi cukup untuk satu orang. “...” Tanpa pikir panjang, Joni langsung berlari ke etalase terdekat. Dia memanjat, kakinya terpeleset sekali, hampir jatuh. Grrr—! Suara di bawah langsung merespons. Sial. Mereka sadar. Joni memaksa naik, menarik tubuhnya ke atas etalase. Kaca berderit di bawah berat badannya. Tangannya meraih pinggiran rak berikutnya, lalu mendorong tubuhnya lebih tinggi. Geraman berubah jadi keributan. Zombie-zombie mulai berkumpul di bawahnya. Ada yang memanjat, ada yang menabrak, dan ada yang meraih ke atas dengan tangan membusuk. “Cepat… cepat…!” Joni hampir terpeleset lagi saat loncat ke rak paling tinggi. Jarak ke celah itu masih kurang. Dia tidak punya pilihan. Joni mengambil napas pendek, lalu melompat. Ujung jarinya nyaris tidak sampai tapi keberuntungan masih dipihaknya, dia berhasil. Dia mencengkeram pinggiran lubang itu dengan sisa tenaga, tubuhnya menggantung. Di bawah, puluhan tangan terulur. Beberapa jari hampir menyentuh sepatunya. “Naik… naik…!” Dengan tenaga terakhir, Joni menarik dirinya ke atas. Tubuhnya terseret kasar melewati celah sempit itu—lalu akhirnya jatuh ke permukaan atap. Bruk. Sunyi. Untuk pertama kalinya sejak tadi tidak ada yang mengejarnya. Joni terbaring, menatap langit pucat yang tertutup debu. Nafasnya kacau, dadanya naik turun tidak beraturan. Beberapa detik lalu tawa kecil keluar dari mulutnya. Segala emosi menghantamnya, tawa itu berubah jadi isakan. Tangannya menutup wajah. “...sialan…” Suaranya gemetar. "... Semua itu untuk apa?" Dia ditinggalkan. Dibuang begitu saja seolah hidupnya memang tidak pernah berharga. Joni menggertakkan gigi, emosinya meledak. “Kalau aja… kalau aja gue—” Kalau dia kuat. Kalau dia punya kekuatan seperti yang lain. Api. Petir. Apa pun. Bukan ini. Rollback. Kata yang bahkan sampai sekarang tidak dia pahami. Rollback apa? Untuk apa? Bagaimana caranya? Tidak ada yang berubah setiap kali dia mencobanya. Tidak ada efek. Tidak ada hasil. Tidak ada gunanya. Joni memukul lantai atap dengan keras. “Gak guna…” Suara geraman terdengar dari bawah, seolah menjawabnya. Zombie-zombie itu masih ada. Menunggu dan tidak pergi. Joni tertawa pahit, lalu menatap kosong ke depan. Terjebak di atas. Dikelilingi kematian. Dan satu-satunya hal yang dia punya adalah kemampuan yang bahkan tidak dia mengerti. Rollback. “...apaan sih ini sebenarnya…”Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu
Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu
Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini







