تسجيل الدخولBeberapa hari berlalu dengan cepat.
Senjata-senjata Joni sudah mulai kembali layak pakai. Deri bekerja hampir setiap hari di meja, sementara Joni menghabiskan waktunya latihan menembak di area luar bersama Mila. Suara tembakan jadi hal biasa sekarang. Di sela itu, Joni juga minta Deri bikin beberapa granat rakitan—persiapan kalau nanti ketemu zombie mutasi lagi. Pagi itu, mereka sarapan sederhana di dalam gudang. Deri yang lagi duduk sambil pegang mangkuk tiba-tiba buka suara. “Jon… kayaknya base kita harus diperkuat deh.” Joni mengangguk pelan sambil tetap makan. “Iya, gue juga kepikiran.” Dia berhenti sebentar, lalu melirik. “Tapi kita orangnya kurang. Masa bertiga doang?” Deri mengangkat bahu. “Ya mau gimana lagi. Base lu kebanyakan barang ‘mewah’.” Dia menekankan kata itu sedikit. “Kalau sampai ketauan orang luar… bisa diserbu kita.” Mila ikut nimbrung. “Iya bang. Lu punya obat, air, makanan yang ga habis-habis.” Dia menunjuk ke arah dinding. “Minimal tembok dulu aja ditinggiin.” Joni diam sebentar, mikir sambil ngunyah lalu dia mengangguk lagi. “Berarti gue butuh material ya…” Dia menghabiskan makanannya. “Abis ini gue ke tempat material.” Dia menoleh ke Mila. “Lu ikut, ya.” Mila langsung mengangguk. “Iya, bang.” Joni lalu melirik ke Deri. “Lu jaga di sini. Bisa?” Deri santai. “Aman, bang.” Joni nyengir tipis. “Yaudah. Kita gerak bentar lagi.” Setelah makan, Joni langsung bergerak ke belakang gudang. Di sana, sebuah pickup besar sudah siap. Kondisinya mulus—jelas sudah dia “balikin” pakai traitnya. Bagian depan dan sampingnya juga sudah diperkuat Deri dengan plat besi seadanya, bikin tampilannya lebih brutal. “Lumayan,” gumam Joni sambil nepuk kap mobil. Mereka berangkat. Perjalanan cukup jauh, keluar dari area industri menuju bagian lain kota. Jalanan masih dipenuhi zombie, tapi kali ini beda. Pickup itu besar dan berat—begitu Joni injak gas, apa pun yang menghalangi langsung dihajar. Brak. Zombie terpental tanpa banyak pengaruh ke laju mobil. Mila sempat melirik keluar jendela. “Gue tau tempat, bang. Di barat ada pabrik semen sama besi.” Dia nunjuk ke depan. “Kita ke sana aja.” Joni cuma mengangguk. Gas diinjak lebih dalam. Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di area yang dimaksud. Jalanan mulai dipenuhi bangunan pabrik besar. Tapi Joni memperlambat mobil. Di ujung jalan, dekat area tujuan, ada beberapa mobil terparkir. Tidak berantakan. Teratur. Dia menyipitkan mata. “...ada orang.” Joni tidak langsung masuk ke sana. Dia malah belok ke pabrik lain di dekatnya, lalu mematikan mesin. Dia menoleh ke Mila. “Lu tunggu sini.” Tangannya sudah meraih senapan. “Gue cek dulu.” Mila terlihat ragu. “Lu yakin bisa sendirian, bang?” “Bisa.” Jawabannya singkat. Joni turun dari mobil, menutup pintu pelan, lalu mulai bergerak. Senapannya sudah siap, langkahnya ringan saat dia menyusuri antar bangunan pabrik. Sepi. Tidak ada zombie lalu dia mengernyit. “Ga ada zombi… berarti fix.” Tatapannya mengarah ke depan. “Ada orang di sini.” Joni memperlambat langkah, tubuhnya merendah sedikit, lalu mendekat dengan hati-hati ke arah lokasi mobil-mobil tadi. Joni tidak masuk dari pintu depan. Terlalu terbuka. Dia memilih memutar ke samping, mencari celah di tembok. Setelah nemu bagian pagar yang bisa dipanjat, dia naik pelan dan turun di sisi dalam tanpa suara. Begitu mendarat, dia langsung dengar suara. Teriakan dari dalam gedung. “Ambil yang bisa diambil! Kita butuh material!” Suara perempuan. Joni langsung mendekat, langkahnya cepat tapi tetap hati-hati. Dia cari celah di dinding, lalu mengintip ke dalam. Gudang besar. Penuh besi. Di tengah, seorang wanita berdiri sambil menunjuk ke arah tumpukan material. Beberapa orang di sekitarnya sibuk angkat plat besi. “Ga bisa, bos! Ini berat! Kita butuh forklift!” Wanita itu langsung balas. “Cari yang bisa dipake! Kalau ga ada, angkut yang bisa diangkut!” Joni memperhatikan wajahnya lalu matanya sedikit melebar. “...Putri?” Dia langsung melirik ke orang-orang lain di dalam. Kelompok Broto. Wajah Joni menegang tapi ekspresinya tidak sepenuhnya marah. Lebih… rumit. “Gue ga punya masalah langsung sama dia…” gumamnya pelan. “Dia emang nolak bikin kelompok sendiri… tapi tetep milih ikut Broto, padahal tau orang itu busuk.” Dia diam sebentar. “Tapi waktu gue disiksa… dia juga diem.” Tatapannya dingin. “Bahkan pernah bilang gue sampah.” Joni menghela napas pendek. “Jadi ini… musuh apa bukan?” Dia belum selesai mikir. Joni geser posisi, nyari sudut yang lebih jelas. Langkahnya pelan tapi—Krek. Kakinya menginjak pecahan kaca. Suara kecil itu cukup untuk membuat Putri langsung menoleh. “Siapa di sana?!” Kedua tangannya langsung menyala, bola api muncul di telapak tangannya. Siap dilempar dan Joni langsung angkat tangan. “Hei, hei… santai.” Dia muncul dari balik jendela, lalu berdiri. “Gue ga cari ribut.” Putri menyipitkan mata. “Siapa—” Dia berhenti di tengah kalimat. Ekspresinya berubah. “...kau si sampah itu, kan?” Api di tangannya perlahan mengecil lalu padam. Jelas dia tidak menganggap Joni ancaman. Joni tidak jawab, dia cuma jalan masuk ke dalam gudang. Putri menatap Joni dari ujung kepala sampai kaki, lalu mengangkat alis. “Bukannya kau sudah mati?” Joni mendekat beberapa langkah, tapi tetap jaga jarak. “Untungnya gue selamat.” Putri mengerutkan kening. “Terus ngapain kau ke sini? Mau balik ke kelompok?” Joni langsung menggeleng. “Engga.” Dia mendengus pelan. “Gue mending mati dimakan zombi daripada balik ke kalian.” Putri terlihat kesal. “Kita sama-sama awakener, tapi kau—” Dia berhenti di tengah kalimat, matanya menyipit. “Tunggu… jangan-jangan kau sudah tau kegunaan kemampuanmu?” Joni santai saja. “Justru belum.” Dia mengangkat bahu. “Itu kenapa gue ga mau balik.” Putri jelas tidak percaya. Tatapannya menilai. Joni paham maksudnya, jadi dia lanjut sendiri. “Liat aja gue sekarang.” Dia menunjuk dirinya. “Sendirian. Hidup sebisa gue.” Nada suaranya datar. “Setidaknya ga ditendang, ga diludahin tiap hari.” Joni mengangkat bahu lagi. Putri diam beberapa detik, mengamati lalu mendengus. “Dasar sampah.” Dia langsung berbalik ke orang-orangnya. “Cepat! Angkut semua yang bisa diangkut!” Suasana kembali sibuk dan Joni memperhatikan sebentar, lalu memanggil. “Hei, Put.” Putri berhenti, menoleh sedikit. “Kau kan awakener.” Joni menyipitkan mata. “Kenapa ga bikin kelompok sendiri? Malah ikut Broto?” Putri diam sebentar lalu menjawab tanpa emosi. “Aku tahu Broto itu busuk.” Dia menatap Joni. “Tapi di dunia sekarang… itu lebih baik daripada sendirian.” Joni tidak langsung jawab. Putri lanjut. “Kekuatan manusia itu di kelompok.” Dia berhenti sejenak. “Walaupun aku ingin sendiri… kelompok tetap lebih penting.” Tatapannya dingin tapi jujur. “Setidaknya… sampai dunia ini agak normal lagi.” Setelah itu, dia berbalik tidak nunggu respon. Langsung pergi bersama kelompoknya, membawa material sebanyak yang mereka bisa. Joni berdiri di tempat, melihat mereka menjauh selama beberapa detik lalu dia menggaruk kepalanya. “...jadi ini orang musuh gue apa bukan sih?” Dia mendengus pelan, masih menatap arah mereka pergi.Di belakang kendaraan kelompok Joni, dua anggota sedang buru-buru membalut lengan Joni yang tertembak.“Anjing…”Joni meringis sambil memegang lengannya.“Baru sembuh bentar udah ketembak lagi.”Pak Bram berdiri di sampingnya sambil tetap mengawasi area depan dengan sniper di tangan lalu dia menoleh datar ke arah Joni.“…kenapa tadi ga langsung ditembak aja cewek itu?”Joni mendengus kecil kesal.“Karena dia bukan musuh gue.”Pak Bram mengangkat alis.“Serius?”Namun sebelum Joni sempat menjawab lagi—BOOOOM!!Ledakan besar tiba-tiba mengguncang area dalam pabrik. Semua orang langsung membeku.“…hah?”Lalu—BOOOOM!!Ledakan kedua menyusul. Api besar mulai terlihat dari dalam area pabrik dan detik berikutnya teriakan orang-orang menggema keluar.“AAAAARGH!!”“API!”Beberapa anggota kelompok Broto tiba-tiba berlarian keluar dari dalam pabrik dengan tubuh terbakar hidup-hidup.Api menyelimuti seluruh badan mereka. Mereka berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.Pemandangan itu bahkan
Keesokan paginya konvoi kelompok Broto kembali keluar dari markas mereka.Beberapa kendaraan pickup bergerak membawa anggota bersenjata lengkap menuju area loot di sisi timur kota.Namun kali ini Putri ikut bersama mereka. Dia duduk di atas kap mobil paling depan sambil memandang jalan kosong dengan ekspresi datar.Api kecil sesekali muncul di ujung jarinya lalu menghilang lagi. Sementara anggota lain terlihat jauh lebih santai karena merasa aman ada Putri bersama mereka.“Kalau ada kelompok sialan itu lagi… langsung dibakar aja sama mbak Putri.”Beberapa orang bahkan tertawa kecil namun Putri sama sekali tidak menanggapi. Pikirannya masih kacau sejak beberapa hari terakhir.Dan jauh dari sana radio kecil milik salah satu kelompok kecil sekutu Joni mulai berbunyi.“Base. Konvoi Broto keluar. Lima kendaraan. Arah timur.”Di ruang komunikasi kelompok Joni, anggota langsung mencatat cepat lalu menyampaikan laporan itu.Tidak lama kemudian mesin kendaraan kelompok Joni mulai menyala satu
Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu







