مشاركة

10. Kristal

مؤلف: SleepyFace
last update تاريخ النشر: 2026-05-13 22:46:09

Begitu keluar dari celah tembok, mereka langsung naik mobil tanpa banyak bicara. Joni tancap gas, mobil melesat menjauh dari area itu sebelum zombie lain sempat berdatangan.

“Bang… rumah gue lo ledakin gitu aja?”

Mila akhirnya protes, nadanya masih kesel.

“Itu cara paling efektif buat bunuh speedster. Lu liat sendiri kan, dia cepet banget.”

Joni jawab santai, matanya tetap ke depan.

“Tapi itu rumah gue…”

Mila masih gak terima dan Deri yang dari tadi diam ikut ngomong pelan.

“Speedster… sayang banget kalo diledakin gitu aja…”

Mila langsung nengok.

“Lah… iya juga.”

Joni melirik mereka berdua, bingung.

“Lu pada ngomongin apaan sih?”

“Inget ga waktu pertama kita ketemu?”

“Inget lah. Yang gue bantuin terus lu nembak gue kan?”

Mila nyengir.

“Hehe… maap.”

Dia lanjut.

“Waktu itu kita kan mau dirampok. Mereka itu nyari kristal.”

“Kristal apaan?”

“Dari kepala zombi mutasi,” jawab Deri. “Beberapa bulan lalu ada kelompok gede. Mereka tuker makanan sama kristal itu.”

Joni mengernyit.

“Buat apaan?”

“Ga tau,” Mila angkat bahu. “Yang penting bisa dituker makanan.”

“Makanya kita ngumpulin,” tambah Deri.

Joni diam sebentar, mikir.

“Lu masih ada?”

“Ada. Di base lo… di jaket abang gue.”

Joni terdiam beberapa detik, lalu mendengus pelan.

“Pantes…”

Dia fokus lagi ke jalan.

“Gue dulu cuma pemulung. Ya mana dikasih tau beginian.”

Begitu sampai di base, Joni langsung turun dan masuk tanpa banyak bicara. Langkahnya agak berat, punggungnya terasa panas sejak ledakan tadi.

“Mil. Sini. Obatin.”

Dia duduk asal di kursi, lalu buka bagian belakang bajunya. Mila yang awalnya jalan santai langsung berhenti. Matanya sedikit membesar.

Di meja dekat situ, kotak obat Joni terbuka—isinya lengkap. Alkohol, perban, antibiotik, salep, bahkan alat-alat kecil yang masih bersih.

“...bang,” katanya pelan. “Lo punya obat sebanyak ini?”

Joni cuma melirik sekilas.

“Ya iyalah. Gue ga mau mati gara-gara luka kecil.”

Mila masih melihat isi kotak itu beberapa detik, jelas kaget. Di dunia sekarang, itu bukan sekadar obat. Itu harta.

Joni sudah tidak sabar.

“Udah. Obatin dulu.”

Mila akhirnya mendekat. Begitu dia lihat punggung Joni kulitnya melepuh. Merah, sebagian menghitam, bekas panas ledakan.

Mila langsung ambil kapas, tuang cairan. Tanpa banyak aba-aba—usap.

“ANJIR!”

Joni langsung loncat sedikit dari kursinya.

“Pelan, woi! Cewe gila!”

Mila datar aja.

“Luka bakar. Harus dibersihin.”

Dia usap lagi, kali ini lebih dalam.

“WOI—PELAAAN!”

Joni nyengir kesakitan.

“Lu balas dendam ya?!”

“Rumah gue diledakin.”

Jawabannya santai. Tangannya tetap kerja dan Joni meringis.

“Itu buat nyelametin lu juga!”

“Rumah gue tetep ilang.”

usap lagi.

“AAH! ANJIR—!”

Joni sampai pegang meja.

“Pelan napa sih!”

“Masih mending gue bantuin.”

Joni langsung diem.

“...iya juga sih.”

Beberapa menit berlalu, luka itu akhirnya dibersihin dan diolesin obat. Perban dipasang seadanya. Joni langsung bersandar, napas agak berat.

“Anjir… ini lebih sakit dari ditembak.”

Mila berdiri, tangannya dilap.

“Sukurin.”

Joni berdiri pelan, masih pegang punggungnya, lalu melirik ke arah Mila.

“Kristal yang lu bilang tadi… mana?”

Mila langsung bergerak. Dia mengambil jaket Deri yang tadi dibawa, lalu merogoh bagian dalamnya. Beberapa detik kemudian, dia mengeluarkan beberapa kristal dan meletakkannya di meja depan Joni.

“Ini, bang.”

Joni melihatnya. Bentuknya heksagon. Permukaannya halus, berkilau, dengan warna biru samar yang kelihatan “hidup”.

Matanya menyipit dan dia mengambil satu.

Begitu kristal itu menyentuh tangannya sebuah jendela transparan muncul di depan matanya. Persis seperti pertama kali dia mendapatkan trait.

Gunakan kristal untuk peningkatan?

Joni diam. Bengong sepersekian detik lalu refleks menoleh ke Mila untuk melihat apakah dia melihat ini.

Mila yang ditatap tiba-tiba langsung mundur sedikit.

“Kenapa lu ngeliatin gue, bang…?”

Tangannya refleks nutup dada. Joni langsung balik datar.

“Cewe gila.”

Dia kembali fokus ke jendela itu dan tanpa banyak mikir dia memilih iya.

Kristal di tangannya langsung berubah. Meleleh seperti cairan, lalu menyerap masuk ke kulitnya.

Hilang.

Mila langsung kaget.

“Hah?! Kristalnya kemana?!”

Joni belum sempat jawab dan di depannya muncul lagi jendela baru.

Peningkatan 1/100

Dia menatapnya, masih mencerna, tiba-tiba—

plak!

Mila nepuk punggungnya.

“WOI ANJIR!”

Joni langsung loncat, wajahnya kesakitan.

“Luka gue, goblok!”

Mila tidak peduli.

“Kristal gue kemana?!”

Joni meringis sambil pegang punggungnya.

“Gue… nyerep itu kayaknya.”

Dia mengernyit.

“Ga tau juga kenapa.”

Mila langsung serius.

“Lu awakener?”

Joni mengangguk.

“Iya.”

“Trait lu apa?”

Joni langsung jawab pendek.

“Rahasia.”

Mila mendecak, tapi tidak maksa. Joni melirik ke kristal yang tersisa di meja, lalu kembali ke Mila dan Deri.

“Gue beli ini semua.”

Nada suaranya santai tapi jelas.

“Sebagai gantinya—lu berdua hidup di sini.”

Mila dan Deri diam, mendengarkan.

“Makan gue tanggung. Obat juga. Tempat tinggal jelas.”

Joni menyilangkan tangan.

“Lu bantu gue. Gue bantu lu.”

Mila menoleh ke Deri. Deri diam sebentar, lalu mengangguk pelan.

“Gue setuju.”

Mila ikut mengangguk dan Joni langsung nyengir tipis.

“Yaudah. Deal.”

Joni menepuk meja sekali, lalu melirik ke arah dapur.

“Mil. Masak.”

Dia menunjuk santai.

“Terserah lu mau bikin apa. Yang penting bisa dimakan.”

Mila mengangguk tanpa banyak protes, lalu langsung jalan ke dapur.

Di sisi lain, Deri kembali fokus ke meja. Tangannya mulai bergerak lagi, membongkar dan menyusun bagian senjata dengan lebih serius sekarang.

Sementara itu, Joni berdiri diam di dekat meja, matanya jatuh ke sisa kristal.

Dia mengambil satu, memutarnya pelan di jari.

“...bisa ditingkatin…”

Dia bergumam pelan. Baru sekarang dia benar-benar sadar.

Traitnya bisa naik. Bukan cuma stuck di situ. Matanya sedikit menyala.

Kalau satu kristal aja bisa bikin perubahan, gimana seratus? Lebih? Sampai mana batasnya?

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Ini keren…”

Tanpa banyak mikir, dia mengambil satu kristal lagi. Begitu disentuh cahaya samar kembali muncul. Kristal itu meleleh, lalu menyerap ke tangannya.

Peningkatan 2/100

Joni berhenti sebentar lalu ambil lagi. Serap.

3/100

Napasnya mulai berubah lebih cepat. Dia lanjut satu lagi.

4/100

Tangannya tidak berhenti.

5/100

Matanya makin fokus.

6/100

Senyumnya makin jelas.

“...gila.”

Dia ambil lagi.

7/100

Tanpa ragu yang terakhir.

8/100

Semua kristal di meja sudah habis.

Joni berdiri diam beberapa detik, merasakan tubuhnya. Tidak ada perubahan yang langsung terlihat, tapi ada sensasi aneh—seperti sesuatu di dalam dirinya mulai “aktif”.

Dia mengepalkan tangan pelan dan Tttapannya tajam.

“Baru segini aja…”

Dia menghembuskan napas.

“Udah beda rasanya.”

Tapi pikirannya langsung balik ke satu hal. Kristal itu cuma ada di zombie mutasi dan barusan satu speedster aja hampir bikin dia mati.

Bahkan harus sampai meledakkan satu rumah buat ngalahinnya.

“...anjir.”

Dia menghela napas pelan, lalu bersandar sedikit ke meja. Peluangnya besar banget. Tapi caranya tidak mudah.

Joni diam cukup lama di situ, pikirannya muter terus. Antara kesempatan, harapan, dan resiko yang harus dia ambil.

Semakin dipikir semakin jelas. Ini bukan sekadar bertahan hidup lagi. Ini soal jadi lebih kuat.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar dari dapur.

Mila kembali, membawa makanan dan lamunan Joni langsung putus.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   48. Bangun, Sindy

    Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   47. Pilihan Terakhir

    Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status