ログインBeberapa hari berlalu.
Deri sudah mulai bisa duduk, walau masih terlihat lemah. Tangannya bergerak pelan tapi pasti, mencoba membongkar dan memperbaiki senjata-senjata milik Joni. Di sampingnya, Mila duduk menemani, sesekali membantu mengambilkan bagian kecil atau sekadar memperhatikan. Sementara itu, Joni sibuk dengan dunianya sendiri. Bolak-balik antara gudang, dapur, dan area penyimpanan. Sampah yang dia kumpulkan berubah jadi stok. Barang habis pakai kembali “hidup” di tangannya. Semua berjalan. Sampai akhirnya Joni masuk dari gudang, mengelap tangannya, lalu mendekat. “Gimana, Der? Udah bisa?” Dia melirik ke meja. “Ada barang yang lu butuhin?” Deri dan Mila menoleh. Deri menghela napas pelan. “Ga bisa, Jon… gue butuh alat.” Joni mengernyit. “Alat apa?” Mila yang jawab. “Bang… kita punya alat lengkap sih. Tapi di base kita.” Dia ragu sebentar. “Cuma… ga tau masih aman atau udah diacak-acak.” Joni langsung mengerutkan alis. “Lah?” Dia menggeleng. “Kenapa ga bilang dari kemarin?” Tanpa nunggu jawaban, dia langsung berbalik. “Yaudah. Ayo ambil.” Deri tersenyum masam. Mila langsung menyela. “Bang… kakak gue masih belum kuat. Bisa ditinggal di sini aja ga?” Langkah Joni berhenti dan dia menoleh. “Engga.” Nada suaranya tegas. “Engga-engga. Ikut semua.” Tatapannya dingin. “Gue belum percaya sama lu. Ntar malah lu rampok tempat gue.” Dia menunjuk ke arah luar. “Ayo. Semua ikut.” Tanpa nunggu lagi, Joni langsung jalan keluar. Mila menoleh ke Deri. “Gimana, Bang?” Deri menghela napas. “Gapapa… bantuin gue bangun aja.” Mila langsung berdiri, membantu Deri bangkit perlahan. Gerakannya hati-hati, tapi tetap dipaksa. Mereka keluar dari gudang. Di luar, mobil sudah siap. Joni sudah di depan kemudi. Begitu mereka masuk, mesin langsung dinyalakan. “Jalan mana?” Mila dan Deri saling pandang sebentar lalu perjalanan dimulai. “Depan, berhenti bang.” Joni langsung injak rem. Mobil berhenti di dekat tembok pembatas antara kompleks industri dan area kampung di sebelahnya. Dia menatap sekitar sebentar, lalu melirik ke Mila. “Di sini base lu?” Mila menggeleng. “Engga bang. Di balik tembok ini. Kita biasanya lewat situ.” Dia menunjuk ke sebuah lubang kecil di tembok—cukup untuk satu orang lewat dengan sedikit membungkuk. Joni mengangguk. “Oh. Oke.” Dia langsung buka pintu. “Ayo turun.” Mereka bertiga keluar. Joni sudah siap dengan senapan di tangan, sementara Mila dan Deri kosong tanpa senjata. Sampai di lubang itu, Joni lebih dulu menunduk dan masuk. Di sisi seberang, area berubah jadi perumahan kampung yang lebih padat dan sempit. Tidak lama, Mila dan Deri menyusul. Mereka langsung berjalan, menuntun Joni menyusuri gang sempit. Tidak jauh dari situ, mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan bengkel motor di sampingnya. Deri menunjuk. “Ini base gue, bang. Alat-alatnya di dalam.” Joni langsung angkat dagu. “Yaudah. Ambil, buruan.” Dia tetap berdiri di luar, senjata siap, matanya terus mengawasi sekitar. Mila menoleh. “Bang… kakak gue tangannya masih sakit. Gimana mau bawa barangnya?” Joni mendecak, lalu menggaruk kepala. “Ah… ribet banget sih.” Tanpa banyak mikir, dia langsung masuk ke dalam rumah. Interiornya masih cukup layak. Tidak terlalu berantakan. Dia lanjut ke bengkel, Deri mengikuti di belakang. “Pake tas di sana aja, bang,” kata Deri sambil menunjuk. Joni melihat tas itu, lalu langsung bergerak cepat. Dia mulai memasukkan alat-alat yang disebut Deri, dibantu Mila. Tidak butuh waktu lama, semuanya sudah rapi dalam tas. “Udah?” “Udah, bang.” Mereka langsung keluar lagi. Tapi begitu sampai di pintu, Joni tiba-tiba berhenti. “Sst. Diem.” Dia sedikit menoleh ke arah jendela, lalu mengintip. Di luar, ada satu zombie tapi gerakannya aneh. Tubuhnya merangkak, posturnya tidak normal, seperti menekuk dengan cara yang salah. Joni menyipitkan mata. “Sialan… ketemu mutasi kita.” Mila ikut mendekat, mengintip. “Itu speedster, bang.” Joni mengangguk pelan. “Udah tau.” Tatapannya tetap ke arah zombie itu. “Tipe cepet. Susah ditembak.” Beberapa detik hening lalu Joni melirik ke dalam rumah, ke bengkel, ke kondisi sekitar. Senyumnya muncul. “Lu fix pindah ke base gue, kan?” Mila dan Deri saling pandang. Tanpa banyak kata mereka mengangguk dan senyum Joni langsung melebar. “Bagus.” Joni menoleh cepat ke arah Mila dan Deri, wajahnya langsung serius. “Denger. Lu berdua sembunyi di bengkel.” Dia menunjuk ke arah samping. “Kalau ada keributan di dalam rumah—apa pun—langsung keluar. Dobrak tembok samping, bikin celah, pokoknya cabut. Jangan nunggu gue.” Mila dan Deri saling pandang, jelas bingung. “Tapi bang—” “Udah. Ikutin aja.” Nada Joni tegas. Mereka akhirnya nurut, masuk ke area bengkel dan bersiap di dekat dinding kayu. Sementara itu, Joni langsung bergerak ke belakang rumah. Dia masuk ke dapur, matanya cepat menyapu ruangan sampai berhenti di satu titik. Tabung gas beberapa buah dan senyumnya muncul. “Perfect.” Dia langsung menyentuh tabung-tabung itu, mengaktifkan trait-nya. Cahaya muncul sebentar, dan tabung-tabung yang sudah usang kembali jadi seperti baru. Tanpa buang waktu, dia menyeret tiga tabung ke tengah ruangan. Lalu dengan multi-tools di tangannya, dia merusak bagian ujungnya. Hissss— Gas langsung keluar, putih tipis dengan bau menyengat. Joni tidak berhenti. Dia langsung lari ke arah pintu bengkel, mengangkat senapannya. Dor! Dia menembak jendela. Dor! Kaca di dalam rumah ikut pecah dan suara berisik menggema. “Mil! Siap-siap!” Zombi di luar langsung bereaksi. Geraman muncul. Sosok itu—speedster—langsung bergerak cepat, diikuti beberapa zombi lain yang tertarik suara. Mereka lompat masuk lewat jendela. Di sisi lain, Mila panik tapi bergerak. Dia langsung mulai mendobrak dinding kayu di bengkel, dibantu Deri sebisanya. Brak! Brak! Celah mulai terbuka. Sementara itu, Joni mundur pelan dari ruang tengah, matanya tetap mengawasi. Speedster sudah masuk. Gerakannya cepat. Terlalu cepat. Joni tidak bidik kepala. Dia bidik tabung gas. Dor! Percikan muncul dan dalam sepersekian detik, speedster itu melihat ke arahnya—lalu langsung melompat ke arah Joni. Tepat di bawahnya gas yang memenuhi ruangan mulai tersulut. Joni sudah bergerak lebih dulu, dia berbalik dan lari keluar. Sepersekian detik kemudian— DUAAARRR!! Ledakan menghancurkan rumah itu dari dalam. Api menyembur keluar, pecahan kayu dan kaca terpental ke segala arah. Tekanan udara menghantam sekitar dan semua yang ada di dalam lenyap. Ledakan itu menghantam keras. Tubuh Joni terpental ke depan, jatuh tersungkur di tanah luar rumah. Punggungnya terasa panas dan nyeri, napasnya sempat hilang beberapa detik. Di belakangnya, api masih menyala dan suara geraman mulai mendekat. Zombi-zombi yang tadi belum masuk kini tertarik oleh suara ledakan. Mereka bergerak ke arah Joni. Di sisi lain, Mila sudah berhasil keluar lewat celah bengkel. Begitu melihat situasi, dia langsung bergerak cepat—meraih senjata Joni yang terjatuh di dekatnya. Tanpa ragu, dia mengangkatnya dan menembak. Dor! Dor! Beberapa zombi yang mendekat langsung jatuh. Joni mengerang pelan, lalu memaksa tubuhnya bangkit. “Ah… bangsat…” Dia pegang punggungnya sebentar, lalu menoleh ke Mila. “Buruan… buka jalan!” Mila langsung fokus. Dia maju beberapa langkah, menembaki zombi yang menghalangi jalur. Dor! Dor! Satu demi satu tumbang. “Jalan! Cepet!” Joni langsung membantu Deri berdiri. Kondisinya masih lemah, jadi hampir seluruh berat tubuhnya ditopang Joni. Mereka mulai bergerak mundur, perlahan tapi pasti, menuju tembok pembatas. Mila terus menembak, menjaga jarak, memastikan tidak ada yang terlalu dekat. Sampai di lubang tembok, Joni berhenti. “Lu duluan.” Dia mendorong Mila dan Deri ke arah lubang. “Cepet!” Mila langsung membawa Deri keluar lebih dulu, membantu dia melewati celah sempit itu. Sementara itu, Joni berdiri di belakang, menahan. Dor! Dor! Dia menembak zombi yang mulai mendekat lagi. Gerakan mereka makin banyak dan semakin dekat. Begitu Mila dan Deri sudah di sisi seberang— “Udah!” Joni tidak menunggu. Dia langsung mundur, lalu berlari dan menembus lubang itu, keluar ke sisi kompleks industri.Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu
Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu
Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini







