Share

Bab 101 - Parfum Bunga

Author: Chryztal
last update publish date: 2025-11-02 12:10:40

Langit sore di Istana Timur tampak pucat keemasan ketika Lin Qian melangkah ke halaman kediaman Putri Bai Hua. Udara terasa manis oleh aroma bunga peony yang bermekaran di setiap sudut taman. Namun di balik keindahan itu, perasaan waspada menekan dada Lin Qian.

Sejak beberapa hari terakhir, hasil penyelidikannya terus buntu. Tidak ada sumber aroma yang cocok dengan bau dupa untuk menghasilkan racun. Hanya satu hal yang mencurigakan, aroma lembut namun menusuk setelah kejadian kemarin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 247 - Akhir Kisah Lin Qian dan Wang Rui

    ​"Hoo... Huuuuuhhhh." ​Hari itu tidak datang dengan suara guntur atau langit yang berubah warna. Tidak ada pertanda besar di angkasa, tidak ada lonceng darurat yang dibunyikan di puncak menara. Pagi hanya terbuka perlahan, seolah semesta sengaja menahan napas agar tidak mengganggu satu peristiwa kecil yang akan mengubah segalanya. ​Lin Qian terbaring dengan napas yang mulai terputus-putus. Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram kain seprai hingga memutih. Rasa sakit itu datang bergelombang, menghantam tubuhnya tanpa ampun, namun matanya tetap jernih—setajam kristal yang ditempa api. Ia pernah menghadapi racun yang membakar tenggorokan, pengadilan yang dingin, dan penjara bawah tanah lembab yang menyiksa. Namun, rasa ini berbeda. ​Ini bukan rasa takut akan kehilangan nyawa. Ini adalah rasa sakit yang membawa berkah, sebuah perjuangan ketika hidup baru tengah mendobrak gerbang untuk lahir ke dunia. ​Di sisinya, Wang Rui berdiri kaku. Tidak ada mahkota emas

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 246 - Saat Dunia Tidak Lagi Berisik

    Istana akhirnya terasa tentram dan damai. Bukan diam karena takut, bukan pula sunyi karena kehilangan arah. Ini adalah keheningan yang lahir setelah badai benar-benar lewat, ketika dinding tidak lagi menunggu retak, dan langkah kaki tidak lagi membawa gema ancaman. Semuanya terasa aman Pagi datang tanpa tergesa. Cahaya matahari menyelinap masuk ke lorong-lorong istana, jatuh lembut di lantai batu yang kini jarang dilalui dengan langkah terburu-buru. Para pelayan bergerak dengan ritme wajar. Tidak ada bisikan panik, tidak ada mata yang selalu mengarah ke pintu seolah menunggu kabar buruk. Lin Qian merasakan perubahan itu dari dalam tubuhnya sendiri. Kehamilannya membuat waktu terasa berbeda. Setiap hari seolah melambat, namun justru terasa penuh. Ia tidak lagi bangun dengan pikiran yang langsung sibuk menimbang kemungkinan terburuk. Tubuhnya menuntut perhatian, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengabulkannya tanpa rasa terbebani. Ia duduk di paviliun terbuka, juba

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 245 - Huang Ziyan & Yue Er

    Hubungan antara Huang Ziyan dan Yue Er tidak pernah diumumkan. Tidak pernah pula disepakati secara resmi sejak awal. Ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menembus tanah keras tanpa suara, bertahan dari tekanan, dan memilih arah sendiri tanpa perlu disorot siapa pun.Semua bermula jauh sebelum kekacauan istana mencapai puncaknya. Saat Huang Ziyan pertama kali menyadari bahwa perintah Ibu Suri tidak lagi sekadar manipulasi, melainkan ancaman nyata terhadap nyawa Kaisar dan Permaisuri, ia tidak langsung memberontak. Ia memilih diam. Mengamati. Menimbang risiko dengan kepala dingin seorang tabib yang tahu, satu kesalahan kecil bisa merenggut banyak nyawa.Di masa itulah Yue Er sering berada paling dekat dengannya. Wanita muda itu tidak bertanya banyak. Tidak mendesak penjelasan. Namun kehadirannya konsisten. Membawa laporan kecil, membantu mengatur jalur logistik obat, menutup celah yang seharusnya tidak terlihat. Yue Er tidak pernah menuntut keju

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 244 - Cinta yang Hadir

    Pagi di istana tidak lagi terasa seperti medan siaga. Cahaya matahari masuk tanpa terburu-buru, menyentuh lantai kayu Paviliun Qinghe yang bersih dan hangat. Tidak ada langkah cepat pelayan, tidak ada laporan mendesak. Dunia berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi mereka yang selama ini hidup dengan kewaspadaan berlebihan.Lin Qian duduk di dekat jendela, mengenakan Hanfu santai yang sederhana. Tidak ada perhiasan berat, tidak ada sanggul ketat. Rambutnya jatuh longgar di punggung, menandakan bahwa pagi ini ia bukan Permaisuri yang harus siap dilihat siapa pun. Ia hanya seorang perempuan yang sedang mencoba menikmati keheningan.Buku terbuka di pangkuannya, namun halaman itu tidak berubah sejak beberapa waktu lalu. Pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Tubuhnya ada di paviliun, tetapi jiwanya masih belajar menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi harus bersiaga setiap detik.Langkah kaki terdengar dari belakang. Tidak disertai pengumuman, tidak

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 243 - Kekaisaran Menuju Kemajuan

    Tidak ada genderang perang, tidak ada lonceng darurat, tidak pula bisik-bisik cemas yang biasa menyertai perubahan besar di Kekaisaran Wang. Reformasi justru dimulai dalam keheningan yang rapi, seperti air yang mengalir perlahan namun pasti mengubah bentuk batu.Lin Qian duduk di ruang kerjanya ketika gulungan pertama laporan reformasi tiba. Bukan laporan darurat, melainkan catatan perkembangan. Angka-angka yang dulunya berantakan kini tersusun rapi. Klinik-klinik daerah melaporkan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Akademi Yaonu Tang mencatat lonjakan murid perempuan dari berbagai latar, termasuk putri petani dan anak perempuan tabib keliling yang dulu tidak pernah berani bermimpi sejauh ini.Ia membaca semuanya tanpa senyum kemenangan yang terlalu lebar, sudut bibirnya hanya terangkat sedikit sebagai senyuman tulus. Wajahnya tenang, hampir datar, namun matanya jernih. Reformasi tidak pernah terasa seperti pencapaian pribadi baginya. Ini selalu tenta

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 242 - Pengangkatan Huang Ziyan

    Istana Kekaisaran Wangjing menyambut pagi dengan suasana yang berbeda. Bukan karena perubahan cuaca, melainkan karena arah angin kekuasaan yang akhirnya menetap. Setelah badai panjang yang mengguncang istana dalam, hari itu terasa seperti titik henti yang tegas, sekaligus awal yang baru. Upacara pengangkatan Menteri Kesehatan dilangsungkan di Aula Qianyuan, tanpa kemegahan berlebihan. Tidak ada pesta, tidak ada musik perayaan. Hanya barisan petinggi, gulungan dekrit, dan kesunyian yang penuh makna. Semua orang yang hadir memahami satu hal dengan jelas, jabatan ini bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari darah, risiko, dan pilihan sulit. Huang Ziyan berdiri di tengah aula dengan jubah resmi berwarna hijau tua, warna yang melambangkan kehidupan dan pemulihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi menyimpan ambisi mentah seperti dahulu. Bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang intrik istana telah mengikis kesombongan yang pernah ia miliki, menggantinya dengan kew

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 154 - Memberi Pelajaran

    Senja turun perlahan di atas Balai Medis Kekaisaran. Langit berwarna tembaga pucat, seolah disaput abu tipis, sementara angin dingin menyusup dari sela-sela pilar kayu. Lin Qian berdiri di Paviliun kecil sebrang kolam, kedua tangannya tersembunyi di balik lengan jubah. Tatapannya tertuju pada kol

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 156 - Tekanan Awal

    Aula utama istana dipenuhi cahaya pagi yang pucat. Pilar-pilar tinggi berlapis ukiran naga memantulkan bayangan para pejabat yang berdiri rapi, wajah-wajah mereka tertata sopan, namun mata mereka tak berhenti saling mengamati. Udara terasa berat, seolah setiap napas membawa beban yang tak kasatmat

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 159 - Kesal

    Yue Er berlari menyusuri lorong Balai Medis. Nafasnya terengah, langkahnya tergesa tanpa peduli etika istana. Beberapa kasim menoleh kaget, namun ia tidak berhenti. Kain di tangannya terangkat sedikit, jantungnya berdegup keras seakan hendak melompat keluar. Setiap detik yang terbuang terasa seper

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 161 - Curhatan

    Malam turun perlahan di Paviliun Qinghe, membawa udara dingin yang meredam suara serangga. Lin Qian duduk di dekat meja rendah, tangannya melingkari cangkir teh yang sudah lama mendingin. Wajahnya tampak tenang, namun ketenangan itu rapuh, seperti lapisan es tipis di atas air gelap. Yue Er duduk d

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status