MasukSementara Gerardo kemudian kembali duduk di sofanya. Menunggu rekan meetingnya.
Gerardo Orthiz Marcello seorang pengusaha muda dengan wajah tampan dan sejuta pesona yang mampu melumpuhkan wanita manapun yang melihatnya. Memiliki tinggi 189 cm dengan darah Amerika latin yang kental membuatnya terlihat tinggi proporsional, lebih pantas menjadi model majalah dewasa, atau aktor dari pada pengusaha karena tubuh atletisnya di balut dengan otot yang kokoh dan garis wajah yang tegas. Alis yang hitam tebal, mata tajam seperti elang dan hidung runcing, dengan bibir penuh dan berwarna merah tua yang alami. Memiliki kekayaan sebanyak triliyunan dolar juga memiliki paras yang tampan membuat dia hampir mendekati kesempurnaan. Gerardo selalu mendapatkan apa yang dia mau. Dalam dunia bisnis dia adalah raja yang mengendalikan pionnya. Tidak ada yang berani menentang keputusannya, dan semua keputusan yang di ambilnya tak pernah gagal. Tetapi di balik kesempurnaan hidup yang dia miliki tak banyak orang tahu, dia sering merasa bosan. Hidupnya terasa begitu hampa dan monoton. Bahkan wanita-wanita cantik yang menjadi primadona kelas atas kerap menawarkan diri mereka dengan mudahnya tanpa pernah ia goda. Menghangatkan ranjang dengan cuma-cuma, dan memuaskannya. Seperti saat ini saat dia sedang duduk dan menunggu kliennya di sebuah bar, sudah puluhan wanita menghampirinya, menggodanya dengan tubuh mereka. Tapi Gerardo hanya mengabaikan mereka, lalu mengusirnya dan hanya sesekali memainkan mereka untuk menuntaskan rasa kesalnya lalu memperingatinya seperti wanita tadi. Hector—asistennya yang saat ini sedang bersamanya juga sudah paham, Gerardo bukan orang yang mudah di dekati. Setelah itu suasana kembali hening, jauh dari godaan wanita-wanita tadi. Gerardo kembali berada dalam suasana yang tenang. Tapi pada saat itu alam pikirnya kembali melayang. Semua orang tahu dia di kelilingi dengan kesempurnaan tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang selalu dia cari namun tidak pernah dia temukan, sebuah hubungan yang lebih dari sekedar sentuhan fisik. Melainkan hubungan keluarga yang di dalamnya di isi oleh seorang pria dan wanita serta beberapa anak yang dapat menghangatkan suasana rumah mereka. Tapi pada kenyataannya, dia sudah pernah membinanya dan gagal menjalaninya. Satu kekurangan yang membuatnya gagal adalah karena dia mandul. Dia di nyatakan tidak akan bisa memiliki anak. Kenyataan itu telah memberinya mimpi buruk yang membuat dia merasa hancur pada saat itu. Sehingga perpisahan yang tak pernah dia bayangkan dengan wanita yang amat ia cintai saat itu telah terjadi, wanita yang dia nikahi selama dua tahun harus dia lepaskan. Pada awalnya pernikahan ia dengan sang mantan istri adalah pernikahan bisnis untuk saling memperkuat relasi bisnis mereka, tapi antara ia dan Sarah Moana saling mencintai, dua tahun pernikahan itu di bina dalam kehangatan rumah tangga. Awalnya semua berjalan dengan indah sesuai harapan mereka, tapi di tahun kedua setelah keduanya melakukan pemeriksaan ke dokter dan mendapati hasilnya. Gerardo mendapat tentangan dari keluarga Sarah karena Gerardo di nyatakan tak dapat memberi keturunan bagi keluarga Sarah. "Jadi, selama ini aku tidak mengandung itu karena kamu yang mandul!" suara ringan Sarah satu tahun yang lalu kembali terdengar dalam ingatannya. Gerardo buru-buru meremas kertas hasil pemeriksaan yang dia pegang saat itu, hasil dari pemeriksaan itu sudah meruntuhkan harga diri yang selama ini dia pertahankan. Di depan mertuanya yang saat itu menemani mereka wajah Gerardo harus menanggung malu. Tapi dia menutupinya dengan emosi yang tertahan, kertas yang dia remas itu sudah menjadi bola kecil dalam kepalan tangannya. Tatapan yang tajam membuat dokter yang baru saja melaporkan hasil itu menjadi takut. Dia buru-buru membungkuk dan mengucap maaf, "maaf tuan sebelumnya, tapi hasil pemeriksaan ini sudah di lakukan sesuai prosedur dan hasilnya juga sudah akurat." Kata maaf itu semakin menambah beban amarah dalam diri Gerardo karena terlihat semakin membuat harga dirinya jatuh di hadapan mertuanya, karena dia terlihat tak terima dengan hasil pemeriksaan itu. "Saya percaya pada kamu, kamu adalah dokter yang sudah sering menangani keluarga kami selama tahunan jadi tidak mungkin kamu memberi hasil yang tak benar dalam pemeriksaan ini," Nyonya Jeni—ibu mertua Gerardo itu ikut bersuara. Sambil melirik sekilas ke arah Gerardo yang sedang di liputi kemerahan di matanya. Wajah Gerardo menjadi kian gelap. "Iya, Nyonya." Dokter itu mengangguk "Ya, sudah terimakasih sudah melakukan pemeriksaan ini, tinggalkan kami di sini," ucap Nyonya Jeni kemudian. Dokter wanita dengan jas putih itu kemudian mengangguk dan mengucap permisi pergi dari sana. Tinggal Gerardo, Sarah dan orang tua dari Sarah yang ada di sana. Saat ini Jeni segera menatap Gerardo dengan dingin dan memberi kata-kata yang paling menohok dan masih Gerardo ingat hingga kini, "jadi untuk apa pernikahan ini di teruskan?"Sejak hari itu peran baru yang Gerardo dapatkan sebagai seorang ayah memberi ia tanggung jawab baru. Saat ini bayi-bayi yang kecil itu telah tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan, di sayangi semua orang, tubuhnya gemuk dan suara tangisnya menjadi pengiring rumah yang dulu sunyi. Sekarang nuansa rumah terasa lebih hidup. Nyonya Kalista, tuan Damian, tuan James semuanya menjadi kakek dan nenek siaga, bahkan Daniel juga menyayangi keponakannya itu. Shena kini tampak semakin matang sebagai seorang ibu. Setiap pagi ia akan bangun lebih awal untuk menyusui dan menenangkan kedua bayinya. Ada kelembutan baru dalam dirinya, semacam naluri keibuan yang muncul secara alami. Sementara Gerardo, yang dulunya tak pernah menyentuh dunia anak-anak, kini menjadi ayah yang teramat melindungi. Ia belajar mengganti popok, menggendong bayinya dengan posisi benar, hingga mengenali perbedaan tangis lapar dan tangis mengantuk. Setiap malam, ia akan duduk di dekat ranjang bayi, membacakan cerita pendek
Beberapa bulan kemudian setelah kondisi Shena pulih, begitu juga Gerardo yang sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Mereka berdua memutuskan untuk kembali dari rumah Tuan James. Dengan Shena menggendong putri kecilnya dan Gerardo yang menggendong putra kecilnya mereka berpamitan pada Tuan James. Seharian itu lalu putra dan putri mereka menjadi rebutan orang-orang di rumahnya ketika semua orang ingin berkenalan dengannya. Sesaat setelah malam hari tiba, mereka baru bisa mengistirahatkan badan. Dan kebetulan sekali, sebelum mereka memutuskan kembali ke rumah ini, Gerardo sudah sempat membuatkan kamar untuk anak-anaknya, sehingga mereka bisa memulai semuanya dengan nyaman. "Kamu pasti lelah, tidurlah," ucap Shena memandangi Gerardo yang terlelap di sampingnya, tangannya sambil mengusap rambut pria itu. Hari ini ia memandangnya dan mengingat lagi momen bagaimana mereka bertemu untuk pertama kali. Semua kenangan itu muncul seperti klip film yang membuat ia menahan senyum. Gerardo
Saat para perawat membawa bayi-bayi itu keluar, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini sunyi yang penuh harapan. Gerardo kembali memeluk Shena, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya padanya. “Nama,” ucap Gerardo pelan. “Kita belum bicara soal nama.” Shena tersenyum lelah. “Aku menyimpan itu untukmu. Aku ingin kau yang memilih.” Gerardo menatap jendela, cahaya sore menembus tirai tipis. “Kalau begitu… kita pilih bersama. Seperti keluarga.” Shena menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak semua tragedi itu terjadi, ia merasa aman. Tuan James memasuki ruangan Shena setelah mengetahui proses persalinan baru saja selesai, begitu dia masuk dia di kejutkan dengan keberadaan seorang pria yang tengah memeluk cucunya. Pandangannya penuh dengan tanya, begitu juga Gerardo yang terkejut. Dia langsung melepaskan pelukan itu, dan menatap wajah tuan James. Sebelumnya ia tak tahu dimana Shena berada. Tadi ia mendapat informasi dari Hector yang sudah di hubungi Daniel karena
Shena tercekat. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tanpa suara. Gerardo tersenyum samar, lalu melangkah masuk perlahan. Lalu melihat dua bayi kembar di sampingnya. Shena tak berkata-kata. Air matanya langsung mengalir, begitu juga dengan perasaannya yang selama ini terpendam. "Gerardo..." ucapnya lirih. Gerardo menghampiri ranjang dan menunduk perlahan, menatap bayi mungil mereka. Jemarinya menyentuh lembut tangan si bayi. Perasaannya membuncah dia benar-benar tidak mempercayai hari ini, menerima keajaiban setelah empat bulan tertidur dan melihat anaknya dengan sehat dan selamat. Shena menahan tangisnya, tidak ingin terisak terlalu keras. Namun matanya membenarkan segalanya betapa ia merindukan pria ini, betapa ia takut kehilangan. "Maaf aku tidak ada saat kau melahirkan," kata Gerardo serak, menatapnya. Shena menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kau datang tepat waktu... karena aku hampir percaya kau tak akan datang..." Gerardo menyentuh pipinya lembut, l
Teriakan Shena menggema di ruang bersalin. Tubuhnya sudah dibaringkan, wajahnya penuh keringat dan air mata. Para perawat dan dokter dengan sigap membantu proses kelahiran yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Tuan James berdiri di luar ruangan dengan gelisah. Sesekali ia berdoa dalam hati, wajahnya tegang penuh kecemasan. Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan penjagaan ketat, Gerardo terbaring lemah dalam kondisi koma. Tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu. Mesin monitor detak jantung terus berdetik dengan irama lambat dan stabil. "Sedikit lagi, Nyonya Shena! Tolong dorong lagi!" Shena menangis dalam lirih. Teriaknya bercampur dengan suara isak dan rasa sakit yang luar biasa. Mesin monitor di ruang ICU tempat Gerardo terbaring mendadak menunjukkan sedikit perubahan. Bip.Bip. Detak jantungnya naik perlahan. Jemarinya yang selama ini tak bergerak, sedikit menegang. "Dorong, Nyonya! Ayo... bayinya hampir keluar!" Shena memejamkan mata, menyalurkan seluruh
Paman dan bini Shena mengangguk. "Ya, sama-sama tuan." Setelah berbincang sebentar keduanya pun pergi. Shena merasa sedikit canggung di rumah ini. Namun Tuan James terus berusaha membuat Shena nyaman. Sepanjang waktu mereka bercerita banyak hal, termasuk pekerjaan yang di miliki keluarganya. Kakeknya bukan seorang pebisnis besar, tetapi dia punya cukup aset untuk bertahan hidup. Shena terus bercerita termasuk kondisi pernikahan dan juga kehamilannya, serta beberapa hal yang membuat ia terancam dengan suaminya itu. "Ayo, Shena. Rumah ini kini milikmu juga," ucap Tuan James kemudian mengarahkan Shena untuk berusaha nyaman di rumah ini. "Selamat datang, Nona," katanya. "Saya Maria, kepala pelayan rumah ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda, dan dokter pribadi keluarga juga sudah diberitahu mengenai kondisi Anda." "Terima kasih," jawab Shena, masih terkesan dengan suasana rumah itu. Kakeknya memegang lembut bahunya. "Kau bisa istirahat setelah dokter datang memeriksa







