Share

Chapter 64

last update publish date: 2026-07-06 20:39:37

Air yang mengucur deras dari matanya seolah tak berniat untuk berhenti. Tapi, Rosélia sengaja. Dia habiskan sisa air matanya selama perjalanan. Sehingga ketika tiba di rumah sakit nanti, dia bisa berbicara dengan tenang pada Sebastian.

Begitu tiba di parkiran rumah sakit, gadis itu tak segera turun. Dia perhatikan pantulan dirinya di cermin yang berada di sun visor. Sengaja Rosélia menambahkan cermin itu sejak lama.

Dihapusnya jejak air mata yang cukup membuat riasannya luntur. Dikeluarkannya s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 171

    Gagalnya kunjungan ke Atelier de Rosélia tadi membuat mereka pada akhirnya harus kembali ke sana, karena bagaimanapun tempat itu adalah tempat utama yang ingin Rosélia kunjungi mumpung dirinya ada di sini.Matanya melirik ke sekitar bangunan besar itu sedikit waspada jika saja Evander tiba-tiba muncul kembali di tempat itu.Setelah memastikan aman, Rosélia bergegas mengajar Elodie untuk masuk ke sana sebelum hari mulai sore.Kaki kanannya melangkah dengan yakin memasuki gedung tinggi itu.Begitu masuk, seorang wanita di bagian resepsionis menyapa kedatangannya sebagai tamu. Rosélia ingat, petugas di sana bukan lagi petugas yang dulu, mungkin beberapa dari mereka ada yang sudah keluar dan digantikan dengan yang baru.Suasana tak terlalu ramai, namun cukup untuk Rosélia dan Elodie menunggu bergantian untuk melihat satu karya dan karya lainnya.“Mommy…”Seolah tahu dalam benak Elodie banyak sekali pertanyaan, Rosélia menunduk, menoleh pada putri kecilnya.“Ini galeri milik Mommy,” jawab

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 170

    “Bahkan sebelum Anda mengatakannya, sejak awal aku selalu tahu jika aku bukan penyebab dari kepergian Ibuku. Jadi, Anda tak perlu memperjelasnya lagi.” Rosélia yang masih menggenggam tangan Elodie menarik pelan gadis kecil itu untuk pergi dari sana. Rosélia tak ingin Elodie mendengar lebih banyak. Rasanya sudah cukup apa yang gadis kecil itu dengar beberapa saat lalu.BrukBaru saja Rosélia berjalan beberapa langkah, Rosélia mendengar bunyi orang terjatuh. Dia tidak menoleh, hanya saja langkahnya terhenti.“Setidaknya tolong maafkan Ayah. Ayah bersyukur kamu masih hidup di dunia ini, jadi Ayah bisa meminta maaf dengan benar. Maaf atas segala kesalahan yang telah Ayah perbuat. Ayah sudah menerima karma itu, Rosé,” ucap Evander.Rosélia berbalik setelah Evander menyelesaikan ucapannya. Iris legam itu menangkap Evander yang bersimpuh di jalan dengan kepala yang tertunduk.“Berdiri, aku tak ingin orang salah paham,” ucap Rosélia dingin. Dia sesekali memastikan jika di sana tak ada orang

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 169

    “Mommy, ini di mana?” Pertanyaan singkat itu yang keluar pertama kali dari bibir Elodie. Gadis kecil itu sudah bertanya beberapa kali sejak Rosélia mulai memasukan beberapa baju mereka ke dalam koper.Namun Rosélia hanya terus menjawab, “nanti Elodie akan tahu ketika kita sudah sampai di sana.” Jadi Elodie hanya menunggu ketika mereka telah tiba di tempat tujuan.Dan saat ini, disinilah mereka. Di sebuah kamar hotel mewah dengan pemandangan kota yang bisa mereka lihat dari ketinggian kamar itu. Lantas, Elodie sudah tahu di mana mereka? Tidak. Maka dari itu dia kembali bertanya.Rosélia terdiam beberapa saat sembari membuka koper mereka.“Jakarta. Kita ada di Jakarta, Indonesia,” jawab Rosélia pada akhirnya.Elodie mengernyit, dia belum paham kenapa Rosélia membawanya ke sana.“Kenapa kita ke sini?”“Mommy ada acara beberapa hari di sini.” Rosélia kembali menjawab. Awalnya, Elodie hendak bertanya lebih lanjut, namun melihat raut wajah Rosélia yang kurang bersahabat, akhirnya dia mengu

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 168

    Jika kalian berpikir hanya Rosélia yang bimbang tentang undangan itu, maka kalian salah. Maverick, setelah pria itu melihat dan tahu tentang undangan itu, di sela kegiatannya Maverick selalu memikirkannya.Dalam benaknya, Maverick berterima kasih pada orang yang sudah mengundang Rosélia. Dia juga berharap Rosélia akan mengambil kesempatan itu, bukan hanya karena Maverick ingin Rosélia kembali ke Jakarta, tapi Maverick juga ingin nama Rosélia kembali muncul di dunia seni, bukan sebagai anonim tapi sebagai seorang Rosélia.Maka, setelah Maverick menidurkan Elodie, dia menghampiri Rosélia yang juga sedang berada di depan kanvas yang belum sempurna itu.“Rosé…” panggil Maverick.Panggilan itu membuat Rosélia menghentikan goresan kuas di kanvas sebelum kemudian dia berbalik.“Ah lanjutkanlah, aku hanya ingin melihatmu melukis dan sedikit berbincang,” ucapnya.Lantas, seperti yang dikatakan Maverick, Rosélia kembali pada lukisannya, dia tidak terganggu sama sekali sampai suara Maverick kemb

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 167

    Nadira tersenyum tipis."Seorang kolektor yang melihat karya Anda di salah satu pameran di Jakarta. Dan kebetulan dia tidak meminta namanya disebut. Dia hanya mengatakan satu hal," jawab Nadira tenang."Apa itu?" Rosélia kembali bertanya berharap jawaban Nadira selanjutnya bisa menjadi petunjuk baginya untuk tahu siapa kolektor yang dimaksud Nadira."Katanya kamu pelukis yang unik. Kamu jarang melukis wajah, melainkan lebih sering melukis jejak rasa yang ditinggalkan manusia setelah pergi." Nadira menyampaikan apa adanya sesuai yang dia dengar dari kurator itu.Dada Rosélia terasa sesak. Dia tak pernah menyampaikan makna dari lukisannya secara gamblang, tapi siapa sangka ada yang mengerti maksudnya.Gadis itu menunduk memandang palet kayu di dalam kotak premium."Kenapa saya harus datang ke Jakarta?""Karena kami tidak ingin sekedar membeli karya Anda. Kami ingin memberi ruang bagi Anda untuk menentukan bagaimana karya-karya itu dilihat. Anda tentu saja boleh tetap anonim. Bahkan nama

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 166

    Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sedikit sesak. Dia menatap Maverick beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Maverick sama sekali tidak mencoba membuat Rosélia terkesan. Dia hanya mengatakan apa yang dia rasakan, seolah-olah menemukan dunia baru ketika Rosélia sudah tidak lagi berada di sisinya."Kamu belajar melukis?" tanya Rosélia pada akhirnya.Maverick mengangguk kecil. "Sebenarnya tidak bisa disebut belajar. Aku hanya mencoba memahami kenapa kamu bisa duduk berjam-jam untuk membuat sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak berarti," jawabnya.Rosélia seakan tersadar, dia membuang pandangannya dari Maverick. Gadis itu hanya membalas ucapan Maverick dengan hening.Sementara Maverick masih fokus memperhatikan gadis itu dan tersenyum tipis.Angin berhembus melewati pepohonan. Beberapa helai rambut Rosélia terlepas dari ikatannya dan jatuh ke sisi wajah.Gadis itu mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi sebuah helai justru malah semakin berantakan. Entah

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 02

    Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status