로그인Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sedikit sesak. Dia menatap Maverick beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Maverick sama sekali tidak mencoba membuat Rosélia terkesan. Dia hanya mengatakan apa yang dia rasakan, seolah-olah menemukan dunia baru ketika Rosélia sudah tidak lagi berada di sisinya."Kamu belajar melukis?" tanya Rosélia pada akhirnya.Maverick mengangguk kecil. "Sebenarnya tidak bisa disebut belajar. Aku hanya mencoba memahami kenapa kamu bisa duduk berjam-jam untuk membuat sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak berarti," jawabnya.Rosélia seakan tersadar, dia membuang pandangannya dari Maverick. Gadis itu hanya membalas ucapan Maverick dengan hening.Sementara Maverick masih fokus memperhatikan gadis itu dan tersenyum tipis.Angin berhembus melewati pepohonan. Beberapa helai rambut Rosélia terlepas dari ikatannya dan jatuh ke sisi wajah.Gadis itu mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi sebuah helai justru malah semakin berantakan. Entah
Setengah hari yang dia gunakan untuk berbicara dengan Tuan Owen tidak sia-sia. Maverick bukan hanya membawa proposal yang sudah ditandatangan dan disetujui, tapi juga membawa relasi yang mungkin bisa dikatakan lebih dari sekedar rekan kerja.Dengan perasaan yang sudah lebih tenang, Maverick kembali ke rumah. Tak lama, hanya berganti pakaian sebelum kemudian dia keluar lagi. Tentu saja tanpa James karena kali ini Maverick keluar bukan untuk bekerja melainkan bersenang-senang. Mobilnya berhenti di depan pagar rumah Rosélia. Setelah memastikan mobilnya tidak menghalangi jalan, pria itu lekas keluar dan berjalan konstan menuju rumah Rosélia.Dia menatap pintu kayu yang ada di hadapannya sebelum kemudian mengetuknya. Satu kali, dua kali tak ada yang membukanya. Baru di ketukan ketiga, pintu mulai terbuka dan Rosélia ada di hadapannya.“Hai,” sapa Maverick agak canggung.“Masuklah, aku sedang mengepang rambutnya,” jawab Rosélia sambil mempersilahkan Maverick masuk. Pria itu mengangguk dan
Maverick baru kembali setelah matahari hampir terbenam. Dia benar-benar menghabiskan waktunya bersama Elodie dan itu bukan hal yang sia-sia baginya.Maverick sedikit membanting badannya di sofa ruang tamu. Pria itu bersandar dengan kepala menengadah. Matanya terpejam dan helaan nafas berat terakhir yang terdengar dalam keheningan.“Tuan, saya sudah boleh berbicara?” James datang untuk melaporkan jadwal pagi hari tadi.“Hmm, katakanlah,” jawabnya meski dengan mata yang masih terpejam, lebih tepatnya Maverick tak sedikit pun mengubah posisinya.“Seperti yang kita prediksi, Tuan Owen membatalkannya dan sekarang tim sedang kebingungan mencari solusinya,” James langsung menjelaskan pada poinnya.Namun tak seperti dirinya, Maverick terlihat tenang bahkan ketika dia kehilangan suntikan dana yang mungkin nominalnya akan sangat besar.“Sudah menghubungi pihak Tuan Owen untuk melakukan penjadwalan ulang meeting kita?” tanya Maverick.“Sudah beberapa kali, dan jawaban dari mereka tetap sama, tid
Entah bagaimana awalnya, yang jelas saat ini Rosélia bukan sedang berbelanja berdua dengan Elodie ataupun mencari sesuatu yang Elodie inginkan sebagai hadiah. Saat ini dirinya malah hadir di tengah-tengah Maverick dan Theresa, meski ada Elodie dan juga Justin juga di antara mereka.Mereka duduk berbincang di sebuah kafe cantik yang suasananya terbilang tenang. Mungkin jika Rosélia datang ke sana karena keinginannya dan seorang diri, dia akan merasa lebih tenang dan bahagia.Namun, karena kali ini kedatangannya ke sana bukan atas kemauannya sendiri, jadilah sepanjang mereka di sana, wajah Rosélia begitu masam.Seperti sekarang, di tengah perbincangan yang katanya dua kawan lama yang baru kembali bertemu, Rosélia hanya bergeming, fokus pada jus apel di hadapannya.“Aku tidak tahu jika kamu tertarik dengan lukisan,” ucap Theresa pada Maverick.“Ah ya. Aku juga tak menyangka melukis akan semenyenangkan itu,” jawab Maverick.“Kalau kamu?” Kali ini ucapan Theresa ditujukan untuk Rosélia yan
Panggilan itu secara spontan membuat Maverick menengadah, memandang orang yang baru saja memanggilnya. Seorang wanita dengan rambut coklat terang sebahu, kulit putih pucat dan senyuman di bibir tipisnya. Pemilik mata biru itu, Maverick sangat mengenalinya.“Theresa?” desis Maverick.Pria itu ikut tersenyum ketika gadis yang memanggilnya tadi berjalan semakin dekat ke arahnya. “Rupanya aku tak salah,” ucap gadis bernama Theresa Vougel itu.Maverick tak basa-basi, entah dorongan dari mana, dia menarik Theresa dalam pelukannya, begitu erat hingga membuat Theresa terkekeh dengan sikap Maverick.Mereka berdua benar-benar saling berpelukan di sebuah Taman Kanak-kanak. Beruntung semua orang sedang berada di ruangan sehingga kini di sana hanya ada mereka termasuk Rosélia yang menyaksikan pemandangan manis itu.Meski manis, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Meski diam, wajah Rosélia tak bisa bohong, terukir dengan jelas jika dia sama sekali tak menyukai apa yan
Panggilan itu secara spontan membuat Maverick menengadah, memandang orang yang baru saja memanggilnya. Seorang wanita dengan rambut coklat terang sebahu, kulit putih pucat dan senyuman di bibir tipisnya. Pemilik mata biru itu, Maverick sangat mengenalinya.“Theresa?” desis Maverick.Pria itu ikut tersenyum ketika gadis yang memanggilnya tadi berjalan semakin dekat ke arahnya. “Rupanya aku tak salah,” ucap gadis bernama Theresa Vougel itu.Maverick tak basa-basi, entah dorongan dari mana, dia menarik Theresa dalam pelukannya, begitu erat hingga membuat Theresa terkekeh dengan sikap Maverick.Mereka berdua benar-benar saling berpelukan di sebuah Taman Kanak-kanak. Beruntung semua orang sedang berada di ruangan sehingga kini di sana hanya ada mereka termasuk Rosélia yang menyaksikan pemandangan manis itu.Meski manis, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Meski diam, wajah Rosélia tak bisa bohong, terukir dengan jelas jika dia sama sekali tak menyukai apa yan
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he







