Share

Bab 272

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-08-21 15:37:04

Hujan turun dengan begitu derasnya. Mengguyur bumi dengan suara gemuruh petir yang menggelegar nyaring.

Mata bening bulat itu mengerjap singkat, menatap rinai hujan dari balik kaca. Isakan kecil terdengar dari bibir tipisnya, mengusik indera pendengaran seorang bocah kecil yang kebetulan lewat dengan satu permen merah di tangannya.

"Jangan nangis," ujar Kalan terdengar dingin. "Mau?"

Alula mengerjap singkat, lalu meraih permen merah itu dengan ragu. Bibirnya bungkam, tetapi tangisnya mereda pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 274

    Pasar dermaga di bawah bukit pagi itu cukup padat. Aroma ikan segar bercampur manisnya kue tradisional tercium di udara. Nana menggandeng tangan kiri Alula, sementara tangan kanan gadis kecil itu digenggam erat oleh Kalandra yang berjalan dengan wajah seriusnya.​Beberapa langkah di belakang mereka, Nayara mengawasi dengan siaga tanpa menarik perhatian warga.​Saat melintasi lorong pasar di dekat lapak keranjang anyaman, langkah Kalandra mendadak berhenti. Pegangannya pada tangan Alula mengendur, dan tatapan matanya tertuju lurus pada celah sempit di antara dua kios kayu.​"Kalan, kenapa berhenti?" tanya Nana menoleh.​Kalandra tidak menjawab. Ia melangkah mendekati celah kios tersebut.​Di atas tanah berdebu di balik tumpukan karung goni, seorang anak perempuan kecil bertubuh kurus tampak duduk memeluk lututnya. Rambut lurusnya yang sebahu tampak kusam, mengenakan kaus oblong pudar yang kebesaran. Di lutut kanannya, terdapat luka gores panjang yang masih mengeluarkan darah segar dan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 273

    Keesokan paginya, langit bukit selatan kembali cerah. Udara sejuk beraroma tanah basah sisa hujan semalam menguar di teras belakang vila.​Di meja makan teras yang menghadap langsung ke lautan luas, Agnira sedang menyiapkan semangkuk sereal dan potongan buah stroberi. Di samping meja, Kalandra duduk tegak di kursi anak berbahan kayu jati, mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek abu-abu. Tangannya memegang sendok kecil dengan mantap, menolak disuapi sejak beberapa bulan lalu.​Di seberang meja, Alula duduk mengenakan gaun katun putih berenda yang baru dibelikan Nana kemarin sore. Rambut ikalnya dikuncir dua dengan pita merah muda, membuatnya tampak menggemaskan seperti boneka porselen.​"Alula, makan stroberinya, ya. Manis, kok," bujuk Agnira lembut seraya meletakkan mangkuk kecil di depan gadis itu.​Alula menatap buah merah berbintik hitam itu dengan ragu. Tangan mungilnya terangkat, mencoba menusuk stroberi dengan garpu kecil, namun buah itu justru terpeleset dan menggelinding

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 272

    Hujan turun dengan begitu derasnya. Mengguyur bumi dengan suara gemuruh petir yang menggelegar nyaring.Mata bening bulat itu mengerjap singkat, menatap rinai hujan dari balik kaca. Isakan kecil terdengar dari bibir tipisnya, mengusik indera pendengaran seorang bocah kecil yang kebetulan lewat dengan satu permen merah di tangannya."Jangan nangis," ujar Kalan terdengar dingin. "Mau?" Alula mengerjap singkat, lalu meraih permen merah itu dengan ragu. Bibirnya bungkam, tetapi tangisnya mereda perlahan."Tidak takut petir?" tanya Kalan lagi.Bocah irit bicara itu mendadak menjadi suka bertanya bila berdekatan dengan Alula. Ada hal yang membuat Kalan ingin terus bertanya, mendorongnya untuk terus menggali informasi.Alula menggeleng lemah. Dia lebih sibuk menjilat permen daripada fokus pada Kalan.Hal itu mengundang rasa tidak suka. Ego Kalan tersentil, ia tidak suka di abaikan. Bocah kecil itu memiringkan kepala pelan, lalu merebut permen Alula begitu saja."Mau," pinta Alula dengan tan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 271

    Nana mempercepat langkahnya melintasi jalan setapak bebatuan yang menghubungkan vila utama dengan paviliun barat. Di depannya, punggung kecil Kalandra bergerak begitu lincah. Kaki-kaki mungilnya melangkah tanpa ragu, sama sekali tidak terlihat seperti balita tiga tahun yang butuh dituntun.​"Kalan, tunggu Tante," bisik Nana seraya menyusul, berusaha tidak menarik perhatian para pengawal yang berjaga di sudut lorong.​Kalandra mengabaikan panggilan itu. Bocah itu berhenti tepat di depan pintu paviliun yang sedikit terbuka. Dengan kedua tangan mungilnya, ia mendorong daun pintu kayu jati itu hingga terbuka lebih lebar, lalu melangkah masuk tanpa rasa canggung.​Di dalam ruangan bernuansa putih bersih itu, Nayara baru saja selesai merapikan perban di pergelangan kaki sang gadis kecil. Anak itu kini sudah jauh lebih bersih.Mengenakan gaun tidur katun longgar berwarna kuning muda milik persediaan vila, rambut ikalnya tersisir rapi, dan wajah bulatnya yang bersih menampakkan mata besar yan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 270

    "Kalan, Nak!" teriak Agnira panik dari arah ruang tengah.​Baru semenit ditinggal mengambil botol air di dapur, sosok bocah tiga tahun itu sudah menghilang dari karpet bermainnya. ​Di luar gerbang samping yang kebetulan sedikit terbuka karena penjaga sedang mengganti sistem baterai sensor, sepasang kaki mungil Kalandra melangkah cepat. Bocah itu menyusuri jalan setapak berbatu di dekat rimbunan pohon pinus luar pagar, dengan langkahnya yang sudah sangat lincah dan tanpa rasa takut.​Langkah Kalandra mendadak berhenti di balik sebuah batu karang besar. ​Di sana, duduk seorang anak gadis kecil yang tampak sebaya atau sedikit lebih muda darinya. Gaun terusan lusuh yang dikenakannya dipenuhi noda tanah, rambut ikalnya berantakan tertiup angin laut, dan kedua pipinya belepotan debu. Gadis kecil itu sedang asyik memainkan cangkang kerang pecah dengan jari-jarinya yang kotor.​Mendengar suara gemerisik daun, gadis kecil itu mendongak. Matanya yang bulat bening menatap Kalandra dengan heran

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 269

    Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Kalandra tumbuh dengan sangat sehat dan kini telah genap menginjak usia tiga tahun. Wajahnya semakin tampan, namun tatapan matanya yang tajam dan sikapnya yang dingin benar-benar menjiplak sang ayah.​Di ruang tengah, Kalandra yang mengenakan kemeja hitam kecil dan celana pendek rapi tengah duduk di atas karpet. Tangannya sibuk menyusun balok kayu hitam-putih dengan sangat tenang, tanpa banyak suara.​"Kalan, lihat Tante bawa apa!" seru Nana riang seraya melangkah masuk membawa boneka beruang berbulu lebat. "Bagus, kan? Mau main sama Tante?"​Kalandra hanya menoleh sekilas, menatap boneka itu dengan alis terangkat satu, persis ekspresi Sambara saat memandang remeh musuhnya. Bocah itu lalu membuang muka dan kembali fokus pada balok kayunya.​"Astaga, Kak Agni!" rengek Nana seraya menoleh ke dapur. "Anakmu ini benar-benar Kak Sambara saset! Masa boneka selucu ini dicuekin?"​Agnira yang baru saja keluar membawa sepiring buah potong tertawa reny

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 01

    "Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status