Masuk"Aaah ...,"desah halus itu terdengar samar di dalam ruang sempit mobil.Kepala Agnira perlahan mendongak saat bibir Sambara mulai menelusuri lehernya dengan kecupan-kecupan hangat. Jemari wanita itu tanpa sadar meremas pelan rambut Sambara, sementara tubuhnya bergetar samar setiap kali pria itu kembali menyentuhkan bibirnya di sana.Napas mereka saling bertabrakan. Udara di dalam mobil terasa semakin panas, dipenuhi suara desahan kecil dan detak jantung yang sejak tadi berdentum tidak karuan.Sambara mengangkat wajahnya perlahan, menatap Agnira yang masih berada di atas pangkuannya dengan napas memburu. Wajah wanita itu memerah, sementara jemarinya masih mencengkeram pelan bahu suaminya."Apa kau menginginkannya?" tanya Sambara di sela-sela aktivitasnya. Jemarinya terus bergerak perlahan menyusuri tubuh Agnira, menghadirkan sentuhan hangat yang membuat wanita itu tanpa sadar memejamkan mata, larut dalam setiap sentuhan Sambara.Tangan pria itu turun perlahan hingga berhenti di paha A
Sirine ambulans terdengar nyaring saat kendaraan itu perlahan meninggalkan area rumah sakit. Setelahnya, keheningan yang sejak tadi menggantung kembali menyelimuti suasana. Agnira masih menatap lurus ke arah Ambulance yang kian menjauh, pandangannya kosong dengan dada yang terasa sesak."Kita harus bicara." Sambara berucap serius dan menarik lengan Agnira. Wanita itu berusaha memberontak, namun cekalan pada lengannya terlalu erat untuk dilepaskan. Agnira terseret mengikuti langkah lebar Sambara, hingga tubuhnya terdorong pelan ke sisi pintu mobil."Tidak cukup dengan mulut jahatmu aku tersiksa, sekarang kau ingin menambah dengan fisik juga!" hardik Agnira sambil mengusap lengannya yang memerah.Sambara memijat pelan pangkal hidungnya. Agnira benar-benar sedang sensitif hari ini, dan itu cukup membuat Sambara kewalahan."Dengarkan saya dulu!" pinta Sambara sedikit meninggikan suaranya."Mau apa? Hah!" bentak Agnira tak kalah murk
Seseorang yang duduk di seberang Agnira terus menatap tajam ke arahnya, tatapan itu membuat Agnira merasa tidak nyaman bahkan untuk sekadar bergerak. Cukup lama keduanya terdiam dalam hening yang menyesakkan, tidak ada satu pun yang berani membuka suara terlebih dulu.Agnira masih dengan ego tingginya. Sementara itu, Sambara masih mempertahankan harga dirinya, mereka sama-sama bungkam, sampai waktu berlalu cepat dan ruang IGD terbuka lebar. Satu dokter keluar, wajahnya menunjukkan lelah dan sendu secara bersamaan."Bagaimana keadaan adik kami, dok?" tanya Agnira cepat, wajahnya menunjukkan raut cemas.Dokter menunduk sekilas. "Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Mata Agnira membulat sempurna, kepalanya berdenging tatkala mendengar berita yang cukup menghantam dirinya. Kakinya limbung dan dengan cepat di tangkap oleh Sambara, pria itu mendekapnya hangat dan menahan tubuh istrinya dengan kuat."M-maksud Dokter ...? Suara Agnira terdengar bergetar samar.Dokter itu menari
"Jadi, Bu Agnira akan tetap pada rencana awal?" tanya Kenan sekali lagi, ia harus memastikan dengan cermat.Agnira mengangguk yakin. Ini sudah menjadi keputusannya sejak awal dan tidak bisa diganggu gugat, toh tinggal satu minggu lagi semua akan selesai."Setelah dari sini saya akan ke pengadilan agam untuk mengurus segalanya," beritahu Agnira dengan wajah tersenyum pahit.Hati Kenan ikut terremas saat melihat senyum milik atasannya itu. Namun apa yang membuat Agnira begitu yakin ingin bercerai dari Sambara? "Kamu cepat sehat, dan sepertinya kamu harus mencari pekerjaan lain Kenan, saya tidak akan bisa menjadi bos kamu ke depannya," bisik Agnira terdengar lemah.Alis Kenan mengeryit heran. "Maksud Bu Agnira, apa?" "Seperti yang kamu tahu, perusahaan Sambara sudah mengakuisisi kantor kita. Mungkin setelah bercerai nanti, aku tidak akan mendapatkan apa pun karena semua sudah tertulis di dalam perjanjian." Agnira menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Aku juga tidak meminta harta go
Langit terlihat cerah, sementara hangat matahari mulai terasa menusuk kulit. Namun sejak tadi Agnira hanya diam tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya.Wanita itu terduduk lemas di balkon kamar, menatap kosong ke arah halaman rumah. Bahkan sarapan pun ia lewatkan begitu saja. Perasaannya yang terluka membuat Agnira enggan beranjak ke mana pun."Mau sampai kapan kau di sana, Agnira?" tanya Sambara, suaranya memecah kesunyian yang sejak tadi Agnira rasa.Wanita itu tidak mengalihkan tatapannya sedikit pun. Ia hanya memeluk lututnya erat sambil berulang kali menarik napas panjang.Sikap diam itu perlahan memancing kekesalan yang sejak tadi Sambara tahan. Pria itu melangkah mendekat, lalu menarik tangan Agnira secara tiba-tiba hingga membuat wanita itu terhenyak kaget."Turun dan makan, jika tidak ...""Apa? Kau akan melakukan apa lagi?" tantang Agnira mulai lelah, pikirannya sudah kacau oleh pria di depannya ini."Jawab ... kau akan melakukan apa lagi pada hidupku? Hah!" Wanita itu t
Agnira menjauhkan wajahnya, tetapi tangan Sambara lebih sigap. Pria itu mendorong tengkuk Agnira agar wanita itu kembali menciumnya. Ciuman itu terjadi, semula hanya kecupan ringan, lalu berubah menjadi lumatan kasar.Sambara terus menekan tengkuk Agnira, membuat ciuman itu semakin bertambah dalam. Gigitan kecil Sambara lakukan, membuat Agnira mendesah ringan. Lidah Sambara melesak cepat, mengecap manisnya bibir Agnira dengan intens. Pukulan demi pukulan Agnira layangkan pada bahu pria itu, namun semua seakan terasa sia-sia. Sambara bahkan tidak merasakan sakit sedikitpun. Pria itu bahkan terus memperdalam ciumannya sampai ia merasa puas."Kau gila!" pekik Agnira setelah ciuman itu terlepas perlahan, menyisakan rasa kebas di bibirnya yang terlihat basah.Napas Agnira tersengal, mencoba terus menghirup udara agar oksigen masuk ke dalam dirinya. Sementara Sambara, pria itu hanya tersenyum saja, menikmati momen kecil yang baru saja terjadi. "Bibirmu manis sekali," bisik Sambara, pria i







