Share

Bab 77

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-05-28 12:56:21

Raungan tangis terdengar nyaring memenuhi kediaman utama Lakeswara. Dini tampak bersimpuh lemas di depan jasad putrinya yang telah terbujur kaku, tangis wanita itu pecah tanpa bisa dibendung lagi, memecahkan sunyi malam yang terasa begitu muram.

Beberapa pelayat datang silih berganti. Suara lantunan doa terdengar samar bercampur isak tangis yang sesekali kembali pecah di dalam rumah besar itu.

Di sisi lain, beberapa anggota polisi terlihat berdiri menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nicaa 1234
jangan bilang itu sepasang mata panji, atau nana
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 203

    Pintu terbanting kuat, bunyinya begitu kencang dan membuat Sambara yang sedang fokus bekerja sedikit terkejut. Pria itu menatap wajah sang istri dengan kernyitan heran."Ada apa?" tanyanya heran, menatap sang istri lekat-lekat. "Kamu kelihatan kesal sekali."Agnira berjalan masuk dengan langkah lebar. Wajahnya masih menyiratkan kekesalan. Tanpa menjawab pertanyaan Sambara, ia langsung mengambil botol air di atas meja kerja suaminya, lalu meneguknya beberapa kali.Sambara memutar kursinya menghadap Agnira sepenuhnya. "Jadi, ada cerita apa pagi ini?" Agnira menutup botol air itu sedikit keras, kemudian mengembuskannya napas panjang. "Mas, tamu mu begitu menyebalkan, aku nggak suka!" Sambara meraih pergelangan tangan Agnira dengan lembut, lalu menariknya hingga wanita itu terduduk di atas pangkuannya. Tanpa tergesa, ia mengecup singkat pipi sang istri sebelum mengusapnya perlahan dengan telapak tangan. Sentuhannya begitu lembut, seolah berusaha meredakan seluruh amarah yang mengobar di

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 202

    Agnira menatap meja makan sekali lagi. Tempat itu dipenuhi berbagai hidangan mewah. Sup hangat, daging panggang, aneka seafood, hingga pencuci mulut tersusun rapi, kontras dengan suasana rumah yang masih dipenuhi suasana berkabung, bahkan di beberapa tempat kain hitam masih dibentangkan.Sudut bibirnya terangkat tipis. Namun, senyum itu sama sekali tidak menghangatkan wajahnya, dia kesal, dan ingin sekali memukul wanita di depannya."Tidak masalah?" ulang Agnira pelan. Ia mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan mata Aurelie."Rumah ini baru saja kehilangan satu anggota keluarga." Suaranya tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam. "Masih ada bunga duka di ruang tamu. Bahkan aroma dupa belum hilang."Aurelie sedikit mengernyit. Ia merasa tidak perlu ikut berduka, lagipula yang mati adalah pekerja bukan salah satu keluarga. Menurutnya, Agnira terlalu bersikap berlebihan."Lalu kau bertanya apakah aku keberatan melihatmu mengadakan jamuan makan?" tanya Agnira menahan kesal.Aur

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 201

    Hari terus berganti. Namun duka itu tidak pernah pergi, Agnira yang biasanya selalu ceria, kini terlihat selalu merenung dan terdiam. Sedangkan Nayara, wanita itu bahkan sangat jarang membuka suaranya lagi.Kedua wanita itu terlihat sama-sama patah, luka berbeda dengan orang yang sama. Tawa yang senantiasa berada di kediaman Lakeswara menghilang, berubah hening dan sunyi."Nyonya," panggil Nayara pelan, "apa Anda menginginkan sesuatu?" Agnira menggeleng lemah. Tatapannya terus terpaku pada sebuah bunga mawar yang bermekaran di halaman rumah. Angin berembus pelan, meniupkan helai kelopaknya dan berguguran ke bawah tanah."Maaf, Nay." Agnira menarik napas panjang, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Maaf, karena aku sudah membuat orang yang kau cintai pergi." Tangan Nayara terkepal, dadanya bergemuruh hebat. Ucapan Agnira berhasil membuat pertahanannya sedikit goyah."Kenan pernah cerita, kalau dia sedang menyukai seseorang." Agnira menerawang jauh ke depan, mengingat saat-saat wajah K

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 200

    Suasana ruang tamu langsung dipenuhi ketegangan. Tatapan Surya yang sebelumnya hangat kini berubah dingin dan penuh permusuhan saat menatap Arsen. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal tanpa sadar.Sebaliknya, Arsen terlihat begitu santai, seolah sengaja menikmati perubahan ekspresi pria di hadapannya.Sambara memperhatikan keduanya bergantian. "Kalian saling mengenal?"Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menyesakkan memenuhi ruangan. Beberapa detik kemudian.Surya akhirnya membuka suara dengan nada rendah. "Tidak, ini kali pertama kami berjumpa.Sambara mengangguk singkat. Dia kembali menatap Arsen yang terlihat sangat kotor. "Pergilah, dan bersihkan diri." Arsen mendelik tajam. Sorot matanya bergantian mengarah kepada Sambara dan Surya, seolah sedang membaca situasi yang terjadi."Baru datang sudah diusir?" gerutunya sinis sambil melirik noda lumpur yang menempel di celana dan jaketnya. "Padahal aku belum sempat duduk.""Kau mengotori lantai," balas Samb

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 199

    Duka mendalam masih menyelimuti kediaman Lakeswara. Suasana rumah yang biasanya tenang kini terasa jauh lebih sunyi.Para pelayat mulai berkurang, tetapi aroma bunga belasungkawa masih memenuhi ruang tamu. Kain-kain hitam masih tergantung di beberapa sudut rumah sebagai tanda berkabung.Di tengah suasana itu, bunyi bel pintu terdengar memecah keheningan. Salah satu pelayan yang sedang merapikan meja tamu segera melangkah menuju pintu utama. Begitu daun pintu terbuka, pelayan wanita itu sedikit terkejut.Di hadapannya berdiri keluarga Maheswara. Aurelie mengenakan gaun hitam sederhana. Di belakangnya, Surya Maheswara dan sang istri berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Tak jauh dari mereka, dua orang sopir menurunkan beberapa koper besar dan bingkisan dari bagasi mobil.Pelayan itu mengernyit bingung. "Silakan masuk, Pak ... Bu."Tak lama kemudian, mereka dipersilakan menuju ruang tamu. Beberapa pekerja rumah saling berpandangan ketika melihat koper-koper itu ikut dibawa masuk."Apa

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 198

    Langit menggelap di kediaman Lakeswara. Beberapa orang terlihat hilir mudik dengan pakaian hitam yang membungkus tubuh mereka, tidak ada canda tawa, tidak ada suara kencang atau teriakan. Semua orang terlihat termenung dengan pikirannya masing-masing.Agnira terdiam menatap jendela kamar yang terbuka lebar, udara dingin masuk begitu saja, namun tidak membuat wanita itu beranjak dari tempatnya. Tatapannya kosong, angannya melayang. Seolah semua terampas begitu saja dari hidupnya, sisi hatinya kosong terbawa Kenan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri."Bu ..."Kepala Agnira menoleh cepat. Matanya bergerak liar saat satu suara berhasil ia tangkap. Sayangnya, di ruangan ini hanya ada dia seorang, air mata Agnira kembali jatuh, wanita itu menangis tergugu berteman sepi yang kembali menggerogoti jiwanya. Dia menyalahkan dirinya sendiri, sama seperti dulu."Kenan," bisik Agnira tanpa suara.Pintu kamar di ketuk pelan, Agnira dengan langkah pelan berjalan dan membuka pintu. Dia menata

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 01

    "Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status