LOGINArsen melangkah begitu santai. Tatapannya tetap tertuju pada wanita di depannya yang menggenggam senjata dengan tangan sedikit bergetar. Aurelie terlihat sangat berantakan.Rambut panjangnya kusut menutupi sebagian wajah, baju pasien yang dikenakannya dipenuhi bercak darah yang telah mengering, sementara napasnya memburu akibat emosi yang tak lagi terkendali. Meski demikian, sorot matanya masih menyala penuh kegilaan."Jangan mendekat!" bentaknya serak. Ujung pistol itu kembali bergeser, berpindah dari Sambara ke Agnira.Arsen sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai keramik lorong rumah sakit."Kau tahu, Lie," ucapnya ringan, seolah mereka sedang mengobrol santai. "Ada satu kebiasaanmu yang tidak pernah berubah."Aurelie menyipitkan mata. "Diam!""Kamu selalu menggertak lebih dulu." Arsen tersenyum tipis. "Lalu ketika keadaan mulai lepas dari kendalimu, jemarimu akan gemetar."Tatapan Aurelie seketika turun ke tangannya sendiri, tangannya m
Kilatan mata pisau membelah udara. Namun, tepat sebelum bilah itu menghujam, mata Agnira yang semula terpejam mendadak terbuka.Sorot matanya berubah, terlihat tenang dan tajam. Dalam sepersekian detik, ia mengingat semua latihan dasar yang pernah diam-diam diajarkan Nayara kepadanya, bukan untuk bertarung, melainkan untuk melepaskan diri jika suatu hari benar-benar disandera.'Jangan lawan tenaga lawan. Cari titik lemahnya.' kalimat itu terus Agnira ingat di dalam kepalanya.Ia menarik napas, lalu menjatuhkan berat tubuhnya ke bawah hingga lututnya menekuk. Gerakan itu membuat posisi tubuhnya melorot keluar dari kuncian lengan Aurelie."Apa ...?" Aurelie kehilangan tumpuan. Pisau yang semula mengarah ke perut Agnira hanya menggores kain gaunnya.Belum selesai. Agnira segera memutar tubuh ke sisi luar sambil menghantam pergelangan tangan Aurelie menggunakan siku kirinya."Ahhh!" Jari-jari Aurelie refleks mengendur. Pisau itu hampir terlepas.Kesempatan sekecil apa pun langsung dimanfa
"Kalian ... tidak percaya padaku?" suara Aurelie bergetar. Tatapannya bergantian mengarah kepada Arsen, Sambara, lalu Agnira. Air mata kembali memenuhi pelupuk matanya.Tak seorang pun langsung menjawab. Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan. Aurelie tertawa lirih. Tawanya terdengar hambar, dipenuhi kepahitan."Orang tuaku baru saja meninggal," bisiknya. "Aku kehilangan segalanya."Tatapannya jatuh pada kedua telapak tangannya yang masih dipenuhi goresan luka. "Dan sekarang kalian menganggapku pelakunya?"Aurelie menundukkan kepala, bahunya bergetar, isak tangis mulai terdengar. Hal itu mengundang simpati dari Agnira. Wanita itu mendekat, menyentuh bahu Aurelie pelan."Aurelie ..." bisiknya lirih. "Tenangkan dirimu dulu."Begitu merasakan sentuhan itu, tangis Aurelie pecah semakin keras. Bahunya berguncang hebat. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah tak lagi memiliki tenaga untuk menahan seluruh beban yang menghimpit dadanya."Aku benar-benar
Suara tangis Aurelie terhenti seketika. Wanita itu memegangi kepala yang terasa perih akibat jambakan kuat Sambara."A-apa ...?" bibirnya bergetar menahan sakit.Sambara masih mencengkeram rambut wanita itu. Tatapannya begitu dingin hingga membuat suhu ruangan seolah ikut turun beberapa derajat."Sambara ... sakit," lirih Aurelie."Jawab pertanyaan saya," desis Sambara tajam.Ruangan yang semula dipenuhi suasana duka mendadak berubah mencekam. Hening yang pekat seolah menyesakkan dada setiap orang di dalamnya. Sudut bibir Sambara perlahan terangkat membentuk seringai tipis—senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan. Robi dan Nayara sama-sama mengenali ekspresi itu. Sebab, setiap kali senyum tersebut muncul, hanya ada satu pertanda, seseorang akan segera menerima konsekuensi dari perbuatannya, dan pasti akan ada orang yang lenyap sebentar lagi."Mas!" Agnira refleks meraih lengan Sambara. "Apa yang kamu lakukan?"Tanpa mengalihkan pandangan dari Aurelie, Sambara melepaskan cengkeraman
Suara monitor terdengar nyaring di dalam ruang rawat milik Aurelie. Wanita itu terdiam, menatap langit-langit ruangan dengan padangan kosong, tangannya terkepal kuat, mencengkeram selimut yang menutupi setengah tubuhnya.Air mata terus mengalir dari sudut matanya, rasa sesak menghimpit dada saat ingatannya berputar pada kejadian tadi malam. Saat ia menutup mata, kenangan mengerikan itu kembali hadir begitu saja.Pintu ruang rawat terbuka, memunculkan sosok Arsen dengan wajah santainya. Pria itu memasukkan kedua tangan ke saku jaket, lalu memilih duduk diam di sofa yang sudah tersedia."Sepertinya kau sangat menyukai rumah sakit ini yah," ujar Arsen terkekeh hambar.Aurelie tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus ke langit-langit, seolah tidak menyadari kehadiran Arsen di dalam ruangan. Suara monitor jantung terus berbunyi teratur, menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan.Arsen tidak memaksa wanita itu berbicara. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap jendela yang dipenuhi
Berita kematian keluarga Maheswara sampai ke telinga Sambara menjelang dini hari. Pria itu yang semula masih menatap setumpuk berkas di ruang kerjanya, perlahan mengangkat kepala. Tatapannya berubah tajam saat Robi masuk tergesa-gesa dengan wajah pucat."Tuan!" Robi berhenti beberapa langkah di depan meja. Dadanya masih naik turun karena berlari. "Terjadi penyerangan di kediaman keluarga Maheswara."Sambara berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. "Jelaskan."Suara itu terdengar datar, tetapi siapa pun yang mengenalnya tahu, semakin tenang nada bicara Sambara, semakin besar amarah yang sedang ia tahan.Robi menelan ludah. "Seseorang masuk ke vila sekitar tengah malam. Tingkat keamanan di sana lumpuh total. Ketika petugas datang, semuanya sudah terlambat."Ruang kerja mendadak terasa begitu sunyi. Sambara hanya diam dan mendengarkan dengan baik, berita yang Robi bawa."Surya Maheswara ..." Robi menarik napas dalam. "Meninggal di tempat. Ratih Maheswara juga dinyatak
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa







