Share

04. Gadis itu hantu?

Paginya Ayers sudah bersiap untuk bertamu di rumah tetangganya, yang mana tujuannya hanyalah menemui gadis pemilik suara merdu yang berhasil membuatnya penasaran dengan sosok misteriusnya. Ayers ingin tahu, gadis itu memang ingin mengabaikannya atau sengaja bersikap demikian agar bisa menarik perhatiannya.

Dengan pakaian santai dan sekeranjang buah di tangan, Ayers melangkahkan kaki ke rumah sederhana yang berdiri kokoh di samping rumahnya.

Tiba di depan rumah tersebut, Ayers langsung mengetuk pintu beberapa kali. Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul setelahnya—yang kemungkinan adalah Ibu dari Isabelle dan gadis yang belum Ayers ketahui namanya.

"Kau siapa?" tanya wanita itu, matanya bergerak mengamati Ayers dari atas hingga ke bawah.

Ayers tersenyum manis. "Bonjour, Bibi. Perkenalkan nama saya Ayers, orang yang menyewa rumah Bibi Marthe. Saya ke sini untuk memberikan ini sebagai salam perkenalan," ujar Ayers basa-basi seraya menyodorkan keranjang buah yang dibawanya.

Wanita itu tersenyum semringah, lalu menerima keranjang berisi buah-buahan dari Ayers. "Oh, jadi kau yang bernama Ayers. Isabelle bercerita banyak tentangmu. Ayo, masuklah." Ia membuka lebar pintunya, lalu mempersilakan Ayers masuk.

Ayers yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke dalam rumah, berujar mencari keberadaan gadis pemilik suara indah itu, dengan sangat senang hati melangkah masuk.

"Omong-omong, Ayers. Kau bisa memanggilku Jane. Aku Ibunya Isabelle," katanya memperkenalkan diri. Ayers hanya tersenyum sebagai respons atas ucapan Jane. "Duduk dulu, aku akan memanggil Isabelle, kebetulan hari ini dia tidak bekerja," ujar Jane antusias, kemudian berjalan menaiki tangga kecil yang terbuat dari kayu.

Ayers mencebikkan bibir, ia ke sini untuk bertemu anak perempuan Jane yang satunya, bukan Isabelle.

"Ayers."

Ayers menoleh ke arah tangga, tersenyum kala melihat Isabelle tengah berjalan ke arahnya. "Hai ...." balas Ayers disertai senyum lebar.

"Apa yang membawamu kemari, Ayers?" tanya Isabelle setelah mendudukkan dirinya di hadapan Ayers.

"Hanya ingin berkunjung ke sini," jawab Ayers, Isabelle mengangguk. "Kau tinggal bersama orang tuamu di sini?" Ayers bertanya, matanya meliar, seperti sedang mencari sesuatu.

"Ya, aku hanya tinggal bersama Ayah dan Ibuku."

Ayers terdiam sejenak, tiba-tiba kepalanya dipenuhi banyak sekali pertanyaan setelah mendengar perkataan Isabelle. "Bagaimana dengan Adik atau Kakakmu yang di kamar atas itu?"

Alis Isabelle berkerut bingung. "Maksudmu?"

"Yang setiap malam bernyanyi itu." Ucapan Ayers semakin membuat Isabelle bingung. Ayers menegapkan tubuh, menatap Isabelle dengan serius. "Aku selalu mendengarnya bernyanyi di kamar atas yang letaknya tepat berada di sebelah kamarku. Aku sangat menyukai suaranya, namun saat aku mencoba menyapa, dia malah mengabaikanku. Dia Kakakmu atau Adikmu, karena sungguh aku—"

"Ayers!" sela Isabelle, raut tak terbaca sangat kentara di wajahnya. "Siapa yang kau bicarakan? Tidak ada gadis lain selain aku di rumah ini, dan ... kamar di atas sana tidak ada yang menempati."

Suasana berubah menjadi senyap. Ayers merasakan tubuhnya membeku, sementara otaknya berusaha memahami apa yang baru saja Isabelle katakan. "Jangan menakutiku ...." lirih Ayers, menelan ludah dengan susah payah.

"Justru kau yang membuatku takut. Siapa yang kau lihat itu?"

Ini benar-benar tidak masuk akal. Jelas sekali Ayers melihat perempuan di sana. Suaranya pun terdengar nyata di telinga Ayers. Tapi, kenapa Isabelle mengatakan jika kamar itu kosong dan dia tidak memiliki Kakak ataupun Adik? Lalu siapa yang Ayers lihat selama ini?

Tanpa mengatakan apa-apa lagi Ayers keluar dari rumah Isabelle, pun gadis itu tidak mencegah. Ayers butuh waktu untuk mencerna semua ini. Tepat di bawah jendela kamar kosong itu. Ayers berhenti dan melihat ke atas. "Aneh," gumamnya, kemudian masuk ke dalam rumah.

***

"Aku perhatikan sedari tadi kau terus melamun, apa yang sedang kau pikirkan?" Marthe menyusun bahan makanan ke dalam kulkas, sesekali melirik pada Ayers yang sedang duduk melamun di meja makan. Meski rumahnya disewa oleh Ayers, tapi urusan dapur dan kebersihan rumah ia yang mengerjakan. Ayers sudah membayarnya mahal jadi tidak mungkin dia tidak membalasnya.

Ayers masih diam dalam kebingungan, hal itu semakin mengundang rasa penasaran Marthe. "Kau bisa cerita padaku jika memiliki masalah, aku tidak keberatan untuk mendengarkan."

"Bibi ...." Akhirnya Ayers membuka mulut, diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "Apa ... Bibi Jane memiliki anak perempuan?"

Marthe mengerutkan kening. "Untuk apa kau bertanya seperti itu?"

Ayers tidak langsung menjawab. "Aku hanya ingin tahu ...."

"Ya, dia punya anak perempuan, namanya Isabelle."

"Bukan, maksudku selain Isabelle."

"Tidak, Jane hanya memiliki Isabelle," jawab Marthe.

Jantung Ayers berdegup kencang setelahnya. 'Benarkah yang kulihat itu hantu?' Pikir Ayers.

Ayers menggeleng keras. Ia yakin gadis itu bukan hantu seperti yang ada di pikirannya. Tidak ada hantu di dunia ini. Tapi, tidak mungkin juga Ayers berhalusinasi. Ia masih waras untuk tidak menciptakan bayang-bayang gadis cantik sementara di sekitarnya banyak yang nyata.

Ayers benar-benar pusing. Entah misteri apa yang sedang ia alami sekarang. Semuanya tampak nyata, namun tak seorang pun yang menyadari keberadaan gadis itu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang? Siapa gadis itu? Siapa yang ia ajak bicara setiap malam? Siapa yang selalu ia dengar nyanyiannya?

"Bibi, selama tinggal di sini, apa kau pernah mendengar suara seorang gadis bernyanyi di malam hari?"

Marthe berpikir sejenak. Wanita itu duduk di meja makan depan Ayers setelah selesai mengerjakan tugasnya. "Tidak pernah."

Ayers bungkam.

"Pertanyaanmu ini aneh sekali. Mana ada orang yang bernyanyi di malam hari." Marthe terkekeh, "kecuali ...." Dengan sangat serius Ayers menatap wajah Marthe. "Hantu," lanjut wanita itu diiringi dengan gelak tawa.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status