Share

05. Malam paling horor

Setelah makan malam, Ayers memutuskan duduk di depan laptop untuk memeriksa semua hasil jepretannya. Di samping itu, pikirannya justru melayang ke mana-mana. Tidak biasanya ia tidak fokus pada apa yang dikerjakannya.

Jam dinding berbunyi, tanda sudah tengah malam. Ayers pun meregangkan otot-ototnya, kemudian menutup laptop. Pria berambut hitam itu berdiri, berjalan ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana.

"Who is that girl I see ...."

Mata Ayers membulat. Langsung ia bangkit dan bergegas keluar rumah. Terlihat sosok gadis misterius itu ketika Ayers sudah berdiri di depan jendela kamarnya. Seperti sebelum-sebelumnya, mata gadis itu akan terpejam saat bernyanyi.

Ayers terus memerhatikan gadis itu. Dari penampilannya tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Ia tampak seperti manusia pada umumnya. Namun, gaun tidur berwarna putih yang selalu ia pakai dan rambut panjang terurai begitu saja dengan kulitnya yang pucat, sukses membuat bulu kuduk Ayers berdiri.

Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Dirinya bertanya-tanya makhluk apa yang ada di depannya ini. Vampir? Manusia serigala? Atau makhluk jadi-jadian lainnya?

Sampai gadis itu selesai bernyanyi, Ayers masih pada posisinya. Gadis itu membuka matanya perlahan. Tatapan kosongnya mengarah lurus ke depan, kemudian tangannya bergerak untuk menutup jendela.

Ayers segera mencegah. "Tunggu!"

Gadis itu menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya mengarah ke bawah. Diam dan tidak bicara.

"Si-siapa kau?!" Pertanyaan pertama yang terlintas di kepala Ayers. Jujur saja ia sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur jika memang gadis itu hantu ataupun makhluk mengerikan lainnya yang bisa menyerangnya kapan saja.

Tidak ada jawaban dari si gadis. Sekali lagi Ayers bertanya padanya. "Kau ... siapa?! Jawab aku!" desak Ayers sedikit meninggikan intonasinya.

Brak!

"AAA!!" Ayers spontan berteriak ketika pot bunga di pinggir pintu rumahnya tiba-tiba terjatuh entah karena apa. Jantungnya berdegup tidak karuan. Padahal angin tidak bertiup kencang malam ini. Memilih mengabaikan, Ayers pun mengatur napasnya sebelum kembali fokus pada gadis itu.

Tapi, saat Ayers mengalihkan pandangannya, gadis itu sudah tidak ada. Jendela kamarnya juga sudah tertutup rapat. Demi Tuhan belum ada satu menit Ayers berpaling dari gadis itu, tapi sekarang wujudnya sudah tidak lagi terlihat. Secepat itu dia menghilang? Bahkan pergerakannya tidak Ayers sadari sama sekali.

Suasan di sekitar Ayers mendadak menjadi horor. Buru-buru ia kembali masuk ke rumah, tidak lupa mengunci pintu, kemudian naik ke atas. Setibanya di kamar, pria itu langsung bersembunyi di balik selimut. Ini merupakan pengalaman paling mengerikan yang pernah Ayers alami seumur hidupnya.

***

Tok! Tok! Tok!

Ayers beranjak dari meja makan, berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Di depan pintu berdiri Isabelle dengan semangkuk sup di tangannya sembari tersenyum lebar.

"Isabelle?" Senyum Isabelle memudar kala melihat penampilan kacau Ayers, kantung mata pria itu menghitam seperti orang yang kurang tidur, dan wajahnya lesu. "Ada apa?" tanya Ayers.

Isabelle mengerjap. "Ini, aku buatkan sup untukmu sarapan."

Ayers menerima sup tersebut, bibirnya menyunggingkan senyum lebar. "Terima kasih."

"Sama-sama ... em, Ayers."

"Hm?"

"Kau baik-baik saja? Kau seperti orang yang sedang sakit."

Ayers tertawa kecil. "Aku baik. Hanya saja aku kurang tidur semalam. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Jadi, ya ... aku harus bergadang," dusta pria itu. Antara tidak ingin membuat Isabelle khawatir, atau gengsi mengakui bahwa ia seperti ini karena takut pada sosok tidak jelas di rumah Isabelle.

"Syukurlah." Isabelle tersenyum.

"Kau mau masuk? Kebetulan aku sedang sarapan. Ayo, kita sarapan bersama," ajak Ayers, Isabelle menggigit bibir bawahnya, sekilas ia melirik jam dinding di rumah Ayers. "Oh, aku lupa kalau kau harus pergi bekerja," sambung Ayers yang paham dengan gerak-gerik Isabelle.

"Tidak masalah," tukas Isabelle cepat, "ini hari Sabtu dan restoran tempatku bekerja buka pukul sepuluh, jadi masih ada sisa waktu untuk sarapan denganmu."

"Baguslah kalau begitu, ayo masuk."

Isabelle tersenyum semringah, pun ia mengikuti Ayers berjalan menuju ruang makan. Ayers kembali duduk di kursinya, sementara Isabelle duduk di samping pria itu. Keduanya sarapan bersama.

"Hmm, ini sangat enak," puji Ayers pada sup buatan Isabelle. Ayers tidak bohong, sup ini memang sangat enak.

"Benarkah?" tanya Isabelle, memastikan apa yang barusan didengarnya. Ayers mengangguk mantap. "Aku sempat berpikir kalau kau tidak akan menyukainya. Karena aku baru-baru ini belajar masak setelah bekerja di restoran," ujar Isabelle.

"Tapi sungguh, sup ini sangat lezat untuk pemula," ucap Ayers, tangannya terangkat guna mengacak pelan rambut Isabelle.

Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perut Isabelle saat mendapat pujian dari Ayers. Bibirnya juga tidak bisa berhenti tersenyum melihat Ayers dengan lahap memakan sup buatannya.

Ayers adalah satu-satunya pria yang sedari awal sudah membuat Isabelle kagum. Hanya dengan melihat senyum mematikan milik pria itu, Isabelle sudah langsung terpikat. Dan lagi, Ayers merupakan tipe Isabelle. Pria itu sangat tampan, ramah, periang dan baik hati. Siapa pun tidak akan bosan jika seharian bersamanya. Isabelle yakin itu.

"Aku tahu aku tampan." Ayers tertawa seraya mengerlingkan mata. Isabelle menjadi salah tingkah, gadis itu tersenyum kikuk. "Kemari, buka mulutmu." Ayers mengarahkan sendoknya pada Isabelle, berujar menyuapi gadis cantik itu. "Kalau tidak begini kau tidak akan menghabiskan sarapanmu."

Isabelle membuka mulutnya, dan Ayers langsung menyuapinya. Setelah itu Ayers mengusap sudut bibir Isabelle yang terdapat sedikit sisa makanan. Isabelle menunduk sambil mengunyah makanannya. Jantungnya berdetak tak karuan, ia yakin jika saat ini wajahnya sudah semerah tomat.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status