MasukSuara putaran mesin pengaduk semen berhenti total di tengah area proyek perluasan jalan desa siang itu.Roda rantai baja ekskavator terparkir diam tanpa ada operator yang mengisi ruang kabin kemudi.Proyek pembangunan infrastruktur desa mendadak terhenti karena ketiadaan pasokan alat berat lanjutan.Material batu pecah dan pasir menggunung tidak tersentuh memblokir separuh akses jalan raya.Leo menekan pedal rem Jeep hitamnya tepat di depan anak tangga gedung balai desa.Pemuda itu mematikan mesin kendaraan dan melangkah turun membawa satu map dokumen logistik.Dana desa yang seharusnya dialokasikan untuk penyewaan mesin hilang disedot oleh birokrasi korup.Laporan dari bagian konstruksi menunjukkan tidak ada satu pun nota pelunasan yang diteruskan ke pihak penyedia jasa kota.Sepatu pantofel Leo menjejak lantai keramik lorong balai desa yang minim pencahayaan dan ventilasi.Lorong gedung pemerintahan itu sepi dari aktivitas pegawai administrasi yang seharusnya melayani warga.Pintu
Suara kokangan senapan angin rakitan kembali terdengar dari arah luar pintu kemudi truk logistik kuning tersebut.Langkah sepatu bot preman bergeser mundur menjauhi bodi kendaraan mencari sudut tembak yang lebih luas.Leo menarik kedua jarinya perlahan dari titik plexus di bawah tulang rusuk Tiara."Formasi tembak mereka sudah terbuka," observasi Leo menatap spion yang pecah sebagian.Tiara melepaskan gigitannya dari bantalan kursi kulit dengan bibir bawah yang sedikit memerah.Dada wanita berseragam kerja biru tua itu masih naik turun mengatur ritme sisa lonjakan endorfin.Keringat membasahi leher jenjangnya yang terekspos menampilkan rona kemerahan gairah yang belum sepenuhnya pudar."J-jangan tinggalkan kabin ini, Dokter," rintih Tiara memegangi pergelangan tangan Leo erat-erat."Tetap di tempatmu dan jangan menyalakan mesin," perintah Leo melepaskan cengkeraman wanita itu.Pemuda itu memutar tubuhnya menghadap pintu pelat baja di sisi kanan kabin truk.Leo menendang pintu kabin
Tanpa sadar, tangan Tono meremas bagian dada jaket kulitnya dengan kuat setiap kali dia mengambil tarikan napas panjang.Target penaklukan jalur distribusi aspal ini telah terdiagnosis hancur berantakan di dalam otak analitis sang dokter bedah.Cairan bensin membasahi permukaan aspal hitam menciptakan genangan yang memantulkan terik cahaya matahari siang.Aroma bahan bakar beroktan tinggi menguap tajam menyengat rongga hidung setiap orang di sekitar portal tol.Preman bayaran Tono mulai menyiramkan cairan bensin ke arah ban belakang truk logistik Tiara.Pria itu mengangkat jerigen hijaunya lebih tinggi bersiap mengguyur sisi bodi truk yang terbuat dari besi pelat.Leo tidak membuang sisa waktu untuk memberikan ceramah moral pada kawanan preman jalanan tersebut.Sepatu pantofelnya menolak keras aspal berdebu, melontarkan tubuhnya melesat maju membelah jarak lima meter.Gerakan sang dewa bedah menembus pertahanan lawan tanpa memicu bunyi langkah yang bisa diantisipasi secara visual.Du
Tumpukan dokumen sertifikat properti mendarat berurutan di atas meja kerja kayu jati di dalam ruang VIP Puskesmas Elite.Leo merapikan tepi kertas bermaterai tersebut menggunakan kedua telapak tangannya secara simetris.Infrastruktur dan pelayanan publik distrik kini dikendalikan oleh hierarki kekuatan Leo.Sektor medis, air bersih, dan lahan strategis beroperasi penuh tanpa ada sisa perlawanan dari pihak luar.Inspektur Rina berdiri tegap di seberang meja memberikan laporan mingguan tanpa nada keraguan."Semua akses lahan panti telah dialihkan atas nama fasilitas medis kita, Dokter," lapor Rina menyerahkan map merah.Leo mengangguk pelan dan mengunci laci mejanya menggunakan anak kunci berbahan kuningan."Namun distribusi komoditas utama desa teh diuji oleh blokade jalur tol perbatasan yang mendadak dibangun," tambah Rina.Polisi wanita itu membetulkan letak sabuk taktisnya yang bergeser ke bawah."Juragan Tono, raja jalanan aspal, memasang portal baja raksasa di tengah jalur utama
Ujung pisau bedah titanium Leo mencongkel celah sempit panel elektronik di dinding ruang isolasi.Logam perak itu merusak susunan kabel sirkuit utama dalam satu putaran presisi mekanik.Lampu indikator merah di atas pintu baja padam seketika menyisakan bunyi dengungan pendek akibat korsleting."Sistem pengunci magnetiknya sudah terputus dari sumber daya sentral," lapor Leo mencabut pisaunya perlahan.Citra menarik napas panjang mengatur ulang ritme jantungnya yang masih berpacu liar tak terkendali.Janda muda itu menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari tangan kirinya yang berkeringat."Mereka pasti menunggu kita di luar pintu ini, Dokter," bisik Citra membetulkan kerah seragam perawatnya."Senjata tumpul jalanan tidak akan pernah bisa mengalahkan kecepatan instrumen bedah klinis," balas Leo santai.Leo mendorong pelat baja tebal itu menggunakan bahu kanannya secara paksa hingga engselnya bergeser.Engsel pintu berderit pelan membuka akses menuju lorong utama panti rehabi
Balok kayu sepanjang satu meter melayang membelah udara mengincar persendian lutut Leo.Preman bayaran terdepan mengayunkan senjatanya dengan tenaga penuh berniat meremukkan tulang sang dokter.Leo memutar tumit pantofelnya menolak aspal panas halaman panti dengan kelenturan ekstrem.Tubuhnya melesat menyamping memotong lintasan serangan lawan sebelum kayu itu menyentuh sasarannya.Tangan kanan Leo keluar dari saku celana kargo dalam satu gerakan kilat yang tidak terdeteksi mata normal.Pisau bedah titanium murni memantulkan cahaya matahari siang di sela jemari sang dewa bedah."Hancurkan kaki dokter sombong ini sekarang juga!" perintah Rahmat mundur menjauhi barisan depan.Leo sama sekali tidak membuang tenaga untuk menangkis pukulan preman jalanan tersebut secara frontal.Bilah logam perak itu meluncur tajam menyasar celah mesin eskavator yang beroperasi tepat di sebelahnya.Pisau titanium Leo memotong selang penyalur oli hidrolik ekskavator dalam satu sayatan presisi absolut.Sis
Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh.
Pintu kayu tebal ruang belakang balai desa berderit terbuka, memecah ketegangan yang sejak tadi menyiksa Juragan Darmo. Lintah darat itu langsung terlonjak dari kursi tunggunya, mengabaikan lututnya yang masih bergetar parah akibat ketakutan."Bagaimana hasilnya, Ratna? Katakan padaku kau berhasil
Ancaman yang dibisikkan Leo dengan nada sangat pelan itu sukses membuat napas Bidan Ayu tercekat. Jantung sang lulusan akademi berdegup satu ketukan lebih cepat.Di balik lensa kacamatanya, mata cokelat Ayu menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Leo yang sedingin dasar lautan.‘Mata ini... ini
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter







