Início / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Benar-benar Berdua

Compartilhar

Benar-benar Berdua

last update Data de publicação: 2026-04-17 09:44:10

Gedoran di pintu kayu itu bagaikan dentuman meriam yang menghancurkan kabut gairah di dalam gudang.

Maya tersentak mundur, wajahnya yang tadi merah merona karena nafsu kini seputih kertas. Tangannya gemetar hebat, buru-buru menarik naik kemben batiknya dan merapikan rambutnya yang berantakan.

Di bawah selimut, Sekar memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berpacu seolah akan meledak dari rongga dadanya. Jika Kania menemukannya telanjang di ranjang ini, tamatlah riwayatnya.

Di tengah kepanikan d
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Rayuan Desa Wanita   Tengkulak Sayur Mayur

    Pasokan sayur di los utara Pasar Induk mengering pada hari ketiga pemboikotan.Karsa tidak lagi menggunakan kekuatan preman untuk menghalangi pembeli secara langsung. Sang juragan memutar strateginya dengan mencekik langsung para petani gunung yang menyuplai bahan pangan mentah ke wilayah tersebut.Truk-truk pengangkut kubis dan wortel dihentikan di pos retribusi liar dua kilometer sebelum memasuki kecamatan.Seorang pria bertubuh kurus kering dengan bekas luka bakar di leher kirinya menginjakkan sepatu lars hitamnya di tengah los utara.Itu adalah Togar, tangan kanan Karsa yang bertugas sebagai rentenir pemungut hutang di kalangan pedagang kecil."Pasar ini bukan panti asuhan, Ibu-ibu!" teriak Togar memukul meja kayu menggunakan tongkat rotan.Togar berjalan menyusuri lorong sempit yang dipenuhi aroma sayuran layu dan sisa lumpur."Siapa yang tidak membayar uang keamanan dua kali lipat hari ini, lapaknya akan kututup permanen!"Para pedagang kecil hanya bisa menundukkan kepala. Merek

  • Rayuan Desa Wanita   Anatomi di Tengah Keramaian

    Puluhan ibu rumah tangga dari desa teh berdiri bergerombol di luar batas gapura Pasar Induk kecamatan sejak pukul enam pagi.Mereka menatap nanar keranjang belanjaan anyaman bambu yang masih kosong melompong.Tiga preman bertato mondar-mandir membawa pentungan kayu di tengah jalan aspal. Mereka memastikan blokade pasokan pangan berjalan tanpa ada satu celah pun yang terbuka untuk warga desa."Itu dokter kota yang berani menantang Juragan Karsa," bisik seorang pedagang tempe menyembunyikan timbangan besinya."Dia datang sendirian menyerahkan nyawanya," sahut pedagang lainnya dengan nada gemetar ketakutan.Leo berjalan santai melewati deretan lapak kayu yang berjejer rapat. Langkah konstan pria itu terhenti tepat di persimpangan los daging potong.Belasan pria berbadan tegap menyumbat seluruh akses jalan ke depan. Mereka memegang balok kayu, rantai besi, dan pisau daging berkarat.Juragan Karsa duduk di atas kursi plastik di depan sebuah meja los daging kosong. Pria berkemeja sutra itu

  • Rayuan Desa Wanita   Boikot Pangan

    Keranjang anyaman bambu terlempar keras menghantam tiang beton gapura perbatasan.Tomat dan cabai merah berserakan hancur di atas aspal kering yang retak.Beberapa ibu-ibu desa berlarian mundur melindungi barang belanjaan mereka yang tersisa.Tiga pria bertato berdiri merentangkan tangan menghalangi akses jalan utama menuju arah kota kecamatan."Mulai hari ini, tidak ada satu pun warga desa teh yang boleh menginjakkan kaki di pasar induk!" teriak preman berambut gondrong.Pria itu menendang keranjang sayur hingga terpental ke dalam selokan berlumpur."Juragan Karsa sudah mengeluarkan perintah mutlak sore ini. Siapa pun yang berani melanggar akan pulang merangkak tanpa kaki!"Preman kedua menarik parang panjang dari balik punggungnya dan menancapkannya ke batang pohon mahoni.Bunyi dentingan logam itu membuat anak-anak yang sedang bermain kelereng lari ketakutan mencari perlindungan.Maya menatap tajam dari balik batas aman pagar kayu desa.Janda kembang itu memegang erat gagang sapu i

  • Rayuan Desa Wanita   Reruntuhan Masa Depan

    Debu kering berterbangan di atas lapangan tanah SD Inpres yang atapnya ambruk dua minggu lalu.Tiga tenda terpal berwarna biru didirikan seadanya sebagai ruang kelas darurat. Suhu udara di dalam tenda itu mencapai tiga puluh lima derajat celcius di bawah terik matahari siang.Leo berdiri di ambang gerbang sekolah yang sudah reyot. Mata hitamnya memindai kondisi fasilitas pendidikan desa yang sangat memprihatinkan tersebut.Nida sedang berdiri di depan papan tulis kapur di dalam salah satu tenda. Guru honorer itu mengusap peluh di dahinya menggunakan punggung tangan, namun tetap mempertahankan senyum keibuan pada murid-muridnya.Suara deru mesin diesel mendadak memecah konsentrasi belajar.Sebuah ekskavator berwarna kuning menyala merangsek masuk menghancurkan sisa pagar bambu sekolah.Asap hitam mengepul dari knalpot alat berat tersebut. Lengan besinya terangkat tinggi, bersiap meratakan sisa bangunan kelas yang masih berdiri setengah.Lima pria berbadan tegap berjalan mengawal ekskav

  • Rayuan Desa Wanita   Pesta Susu di Gudang Jerami

    Jam tangan logam di pergelangan kiri Leo menunjuk tepat ke angka sepuluh malam.Pintu kayu gudang jerami utama berderit pelan saat didorong terbuka dari luar.Lampu bohlam kuning gantung menerangi tumpukan jerami kering yang tersusun rapi hingga menyentuh atap seng berkarat.Dua wanita sudah berdiri menunggunya di tengah ruangan berbau rumput dan debu tanah tersebut.Widya masih mengenakan kemeja katun putih dan rok selututnya. Tari berdiri di sebelahnya memakai kaus oblong pudar dan celana pendek kain.Keduanya menundukkan pandangan saat sepatu pantofel Leo menjejak lantai semen gudang yang berdebu."Kalian berdua datang lima menit lebih awal dari jadwal inspeksiku," ucap Leo mengunci tuas pintu dari dalam.Pria itu berjalan mendekati tumpukan jerami tertinggi di sudut kanan ruangan."Kami tidak berani membuat Anda menunggu lama, Dokter Leo," jawab Widya melangkah maju dengan gerakan kaku.Tari meremas ujung kausnya dengan kedua tangan. Gadis tomboi itu tampak sangat canggung berada

  • Rayuan Desa Wanita   Lembar Kebangkrutan

    Lutut Broto terperosok ke dalam kubangan lumpur kotoran sapi sedalam lima sentimeter.Pria tambun itu menatap nanar tubuh Brahma yang tergeletak kaku. Otot rahangnya bergetar tidak terkendali melihat kegagalannya.Senjata pemusnah utamanya takluk oleh satu tusukan jarum perak.Suara sirine mobil patroli terdengar meraung nyaring dari arah jalan aspal utama peternakan.Tiga unit kendaraan baja milik kepolisian distrik barat menerobos masuk melewati gerbang yang terbuka lebar."Waktumu sudah habis, Broto," ucap Leo menatap pria yang telah kehilangan seluruh kekuasaannya itu.Mobil polisi tersebut melaju cepat dan berhenti mengepung area kandang isolasi.Lima petugas berseragam hitam turun membawa senapan laras panjang. Komandan regu berjalan lurus mendekati posisi Broto."Borgol pria ini sekarang juga," perintah sang komandan menunjuk Broto. "Data transaksi steroid ilegalnya sudah diverifikasi oleh tim forensik pa

  • Rayuan Desa Wanita   Todongan Pistol di Ruang Steril

    Moncong baja pistol otomatis itu berhenti tepat dua sentimeter di depan dahi Leo. Jari telunjuk kepala penjaga itu menempel rapat pada pelatuk logam.Leo tidak memundurkan kepalanya satu inci pun. Matanya menatap lurus ke dalam pupil mata pria berjas hitam tersebut."Singkirkan mainanmu sebelum aku

  • Rayuan Desa Wanita   Penculikan di Siang Bolong

    Ban Jeep hitam itu berderit menggesek aspal panas Kota Nanggala. Leo memutar kemudi ke arah kiri. Kendaraan itu berhenti tepat di depan deretan gudang distributor alat kesehatan.Kania melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Tangannya memegang erat daftar spesifikasi mesin medis yang ditulis oleh

  • Rayuan Desa Wanita   Monopoli Alat Medis

    Leo meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas papan meja kayu. Asap tipis mengepul dari sisa cairan di dasar cangkir. Tangannya bergerak membuka gulungan kertas cetak biru di hadapannya."Pengecoran lantai dasar sudah mengering pagi ini," lapor Sekar. Tangannya menunjuk lurus ke barisan tiang beton

  • Rayuan Desa Wanita   Keajaiban Kembali Dilakukan Leo

    Komandan polisi itu melangkah maju. Laras senjatanya terarah lurus ke dada Leo. Jari telunjuknya menempel erat pada pelatuk logam yang dingin.Leo tidak membuang waktu sedetik pun. Tangannya bergerak menyamping dengan kecepatan kilat. Ia menepis keras pergelangan tangan komandan itu dari arah bawah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status