Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Tengkulak Sayur Mayur

Share

Tengkulak Sayur Mayur

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-06-27 12:02:31

Pasokan sayur di los utara Pasar Induk mengering pada hari ketiga pemboikotan.

Karsa tidak lagi menggunakan kekuatan preman untuk menghalangi pembeli secara langsung. Sang juragan memutar strateginya dengan mencekik langsung para petani gunung yang menyuplai bahan pangan mentah ke wilayah tersebut.

Truk-truk pengangkut kubis dan wortel dihentikan di pos retribusi liar dua kilometer sebelum memasuki kecamatan.

Seorang pria bertubuh kurus kering dengan bekas luka bakar di leher kirinya menginjakk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Brankas Barang Sitaan

    Sepatu pantofel Leo menginjak lantai beton ruko pegadaian di tengah riuhnya suara musik dangdut dari pasar malam.Pria itu menyelinap melewati celah pintu gulung baja yang dibiarkan setengah terbuka.​Dua penjaga berbadan besar berdiri membelakangi lorong memegang tongkat kayu pemukul kasti.​"Hitung ulang bunga utang desa sebelah," ucap penjaga pertama membuang puntung rokok ke lantai.​"Mereka selalu telat membayar cicilan bulan ini," balas penjaga kedua menginjak puntung rokok tersebut hingga padam.Leo memangkas jarak dua meter di belakang mereka tanpa menimbulkan suara langkah sedikit pun.​Dua jari tangan kanannya melesat ke depan menyerupai peluru menekan telak simpul saraf di leher belakang penjaga pertama.​Pria itu merosot jatuh ke ubin beton tanpa sempat mengeluarkan erangan. Penjaga kedua menoleh panik melihat rekannya tumbang begitu saja.​"Siapa kau?!" bentak penjaga kedua mengangkat tongkat kayunya.​Lengan kiri Leo bergerak mengunci pita suara pria itu dari arah depan

  • Rayuan Desa Wanita   Teror Bunga Mencekik

    Suara tangisan tertahan terdengar dari deretan bangku ruang tunggu perawat di lantai dasar Rumah Sakit Terpadu.​Puluhan perawat muda berseragam putih duduk menunduk menutupi wajah mereka dengan kedua tangan.Operasional bangsal rawat inap terganggu total pagi itu karena sebagian besar tenaga medis gagal memfokuskan pikiran pada pekerjaan mereka.​Leo berjalan menyusuri koridor memeriksa kondisi para pekerjanya dengan langkah kaki yang terukur.​"Ponsel mereka terus berdering menerima ancaman fisik dari komplotan penagih utang Pusat Pegadaian Gelap," lapor Karina mengikuti langkah Leo dari belakang.​Kepala Keperawatan itu menunjukkan layar ponsel yang menampilkan deretan pesan teror bernada kasar.​"Hampir separuh staf kita menjaminkan ijazah dan kendaraan mereka pada lintah darat itu," lanjut Karina merapikan kacamata kotaknya. "Bunga pinjaman mencapai lima ratus persen per bulan menjebak mereka dalam utang seumur hidup."​Keributan besar mendadak memecah kesunyian dari arah gerbang

  • Rayuan Desa Wanita   Suara yang Hilang

    Suara derap sepatu pantofel Burhan berputar gelisah di depan meja operator ruang siaran. Tangan pria itu terus memukulkan tiang penyangga mikrofon berbahan baja ke lantai beralas karpet tipis.​Hawa panas dari mesin pemancar di belakang lemari penyimpanan semakin mendidih menyengat kulit.​Leo perlahan menarik tangannya dari perut bagian atas Sisca untuk menghentikan manipulasi saraf diafragma tersebut. Pria itu menyentuh kedua bahu sang penyiar wanita menstabilkan posturnya yang masih gemetar.​Sisca meraup udara pengap itu dengan mulut terbuka meredam sisa-sisa lonjakan hormon endorfin di aliran darahnya.​"Tetap di sini sampai aku membersihkan hama media itu," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Sisca dari lehernya.​Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita tersebut dan mengangkat kaki kirinya.​Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam daun pintu lemari kayu dari arah dalam. Engsel rapuh itu patah seketika memicu ledakan serpihan kayu jati yang terlempa

  • Rayuan Desa Wanita   Ruang Siaran Kedap Suara

    Suara statis pemancar mendengung konstan menyelimuti lorong gelap stasiun Radio Suara Distrik menjelang tengah malam.Lampu neon di langit-langit berkedip redup menyinari ubin yang dipenuhi sisa abu rokok.​Leo menendang perlahan pintu ruang arsip utama tanpa menimbulkan bunyi derit engsel logam.Pria itu menyusup masuk melewati rak-rak besi berisi tumpukan kaset pita dan gulungan kabel yang berantakan.​Di dalam ruang operator yang sempit, Sisca duduk terikat di kursi lipat dengan tangan terkunci ke belakang.​Blus putih penyiar wanita itu robek di bagian lengan menyisakan noda kotoran dari parkiran siang tadi.Wajah Sisca tertunduk lemas menahan rasa sakit dari tamparan Burhan yang masih membekas kemerahan di pipi kirinya.​Dua preman berbadan kekar berdiri di dekat meja operator mengawasi tawanan mereka sambil memegang tongkat pemukul.​"Bos Burhan akan memecatmu tanpa pesangon dan menghancurkan karirmu di distrik ini," ancam preman pertama mengetukkan tongkatnya ke meja.​"Menyiar

  • Rayuan Desa Wanita   Hoaks di Frekuensi Lokal

    Leo merampas telepon satelit itu dari telapak tangan Wina dengan gerakan terukur. Layar gawai tersebut menampilkan deretan angka frekuensi Radio Suara Distrik yang terus berkedip mencari jaringan stabil.​"Dengarkan siaran langsung ini sekarang juga, Dokter," ucap Wina menekan tombol pengeras suara pada perangkat komunikasi tebal tersebut.​Suara statis radio pecah digantikan oleh intonasi berat seorang penyiar pria. Siaran itu menggemakan peringatan darurat ke seluruh penjuru distrik.​"Rumah Sakit Terpadu menggunakan obat-obatan yang dicampur racun pemandul permanen! Jangan pernah bawa keluarga kalian ke sana jika tidak ingin garis keturunan kalian putus!"​Wina mematikan sambungan telepon itu dengan jari bergetar. Janda tangguh itu membuang napas panjang.​"Mereka menyiarkan berita bohong ini secara berulang sejak fajar," lapor paramedis itu merapikan kerah seragamnya yang sobek. "Pasien rujukan dari wilayah barat memutar balik kendaraan mereka."​Beberapa jam kemudian, lorong bang

  • Rayuan Desa Wanita   Katup Jantung yang Berhenti

    Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras sisi dalam pintu belakang ambulans rongsokan. Engsel baja berkarat itu patah seketika menghasilkan suara decit logam yang memekakkan telinga. Pintu itu terlempar terbuka menabrak badan mobil derek yang terparkir di dekatnya.​Serpihan karat berjatuhan ke atas lantai semen yang dipenuhi noda oli pelumas. Leo melangkah turun dari kabin kargo menembus udara garasi yang berbau sisa gas buang. Kemeja linennya tidak memiliki satu pun lipatan kusut meski baru saja melewati ketegangan ekstrem.​"Keluar kau dari sana, Dokter!" teriak Jono memutar tubuhnya menghadap sumber suara.​Bos armada ambulans itu mencengkeram kunci inggris baja berukuran setengah meter di tangan kanannya. Jono menerjang maju tanpa memedulikan jarak serang maupun formasi belasan anak buahnya di belakang.​Pria itu mengayunkan kunci inggris baja lurus mengincar pelipis kiri sang dokter muda. Ayunan itu membawa beban pukulan lima kilogram yang siap meremukkan tulang tengkorak manu

  • Rayuan Desa Wanita   Terjebak Di Desa

    Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog

  • Rayuan Desa Wanita   Satu Kasur Bertiga

    Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter

  • Rayuan Desa Wanita   Ayo Kita Tidur Bertiga

    Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta

  • Rayuan Desa Wanita   Anak dan Ibu Sama-sama Menggoda

    Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status