LOGINSuara tangisan tertahan terdengar dari deretan bangku ruang tunggu perawat di lantai dasar Rumah Sakit Terpadu.Puluhan perawat muda berseragam putih duduk menunduk menutupi wajah mereka dengan kedua tangan.Operasional bangsal rawat inap terganggu total pagi itu karena sebagian besar tenaga medis gagal memfokuskan pikiran pada pekerjaan mereka.Leo berjalan menyusuri koridor memeriksa kondisi para pekerjanya dengan langkah kaki yang terukur."Ponsel mereka terus berdering menerima ancaman fisik dari komplotan penagih utang Pusat Pegadaian Gelap," lapor Karina mengikuti langkah Leo dari belakang.Kepala Keperawatan itu menunjukkan layar ponsel yang menampilkan deretan pesan teror bernada kasar."Hampir separuh staf kita menjaminkan ijazah dan kendaraan mereka pada lintah darat itu," lanjut Karina merapikan kacamata kotaknya. "Bunga pinjaman mencapai lima ratus persen per bulan menjebak mereka dalam utang seumur hidup."Keributan besar mendadak memecah kesunyian dari arah gerbang
Suara derap sepatu pantofel Burhan berputar gelisah di depan meja operator ruang siaran. Tangan pria itu terus memukulkan tiang penyangga mikrofon berbahan baja ke lantai beralas karpet tipis.Hawa panas dari mesin pemancar di belakang lemari penyimpanan semakin mendidih menyengat kulit.Leo perlahan menarik tangannya dari perut bagian atas Sisca untuk menghentikan manipulasi saraf diafragma tersebut. Pria itu menyentuh kedua bahu sang penyiar wanita menstabilkan posturnya yang masih gemetar.Sisca meraup udara pengap itu dengan mulut terbuka meredam sisa-sisa lonjakan hormon endorfin di aliran darahnya."Tetap di sini sampai aku membersihkan hama media itu," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Sisca dari lehernya.Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita tersebut dan mengangkat kaki kirinya.Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam daun pintu lemari kayu dari arah dalam. Engsel rapuh itu patah seketika memicu ledakan serpihan kayu jati yang terlempa
Suara statis pemancar mendengung konstan menyelimuti lorong gelap stasiun Radio Suara Distrik menjelang tengah malam.Lampu neon di langit-langit berkedip redup menyinari ubin yang dipenuhi sisa abu rokok.Leo menendang perlahan pintu ruang arsip utama tanpa menimbulkan bunyi derit engsel logam.Pria itu menyusup masuk melewati rak-rak besi berisi tumpukan kaset pita dan gulungan kabel yang berantakan.Di dalam ruang operator yang sempit, Sisca duduk terikat di kursi lipat dengan tangan terkunci ke belakang.Blus putih penyiar wanita itu robek di bagian lengan menyisakan noda kotoran dari parkiran siang tadi.Wajah Sisca tertunduk lemas menahan rasa sakit dari tamparan Burhan yang masih membekas kemerahan di pipi kirinya.Dua preman berbadan kekar berdiri di dekat meja operator mengawasi tawanan mereka sambil memegang tongkat pemukul."Bos Burhan akan memecatmu tanpa pesangon dan menghancurkan karirmu di distrik ini," ancam preman pertama mengetukkan tongkatnya ke meja."Menyiar
Leo merampas telepon satelit itu dari telapak tangan Wina dengan gerakan terukur. Layar gawai tersebut menampilkan deretan angka frekuensi Radio Suara Distrik yang terus berkedip mencari jaringan stabil."Dengarkan siaran langsung ini sekarang juga, Dokter," ucap Wina menekan tombol pengeras suara pada perangkat komunikasi tebal tersebut.Suara statis radio pecah digantikan oleh intonasi berat seorang penyiar pria. Siaran itu menggemakan peringatan darurat ke seluruh penjuru distrik."Rumah Sakit Terpadu menggunakan obat-obatan yang dicampur racun pemandul permanen! Jangan pernah bawa keluarga kalian ke sana jika tidak ingin garis keturunan kalian putus!"Wina mematikan sambungan telepon itu dengan jari bergetar. Janda tangguh itu membuang napas panjang."Mereka menyiarkan berita bohong ini secara berulang sejak fajar," lapor paramedis itu merapikan kerah seragamnya yang sobek. "Pasien rujukan dari wilayah barat memutar balik kendaraan mereka."Beberapa jam kemudian, lorong bang
Suara derik engsel berkarat menggema saat Leo mendorong pelan pintu garasi pool ambulans milik Jono. Udara sebelum fajar terasa dingin namun dipenuhi bau oli dan sisa gas buang kendaraan yang tidak terawat.Leo melangkah menembus keremangan barisan mobil darurat reyot tanpa memicu alarm keamanan sedikit pun.Di sudut area perbaikan mesin, Wina terikat di kursi besi dengan noda oli menempel di kemeja putihnya.Janda tangguh itu menatap tajam tiga algojo bayaran Jono yang berdiri mengelilinginya. Ia tertangkap basah beberapa jam lalu saat menyelinap untuk merampas kunci cadangan armada."Tangan yang berani mencuri aset bos kami harus dihancurkan dengan palu ini," ancam algojo pertama mengangkat palu godam."Pasien di desaku akan mati jika tidak dijemput pagi ini juga!" bentak Wina mempertahankan niatannya meski terikat."Bukan urusan kami jika orang miskin itu tidak bernapas lagi," kekeh algojo kedua mengarahkan senter menyilaukan ke mata Wina.Leo memangkas jarak dari balik baya
Suara decit ban karet beradu dengan aspal kasar menghentikan laju sebuah ambulans secara paksa.Kendaraan gawat darurat itu tertahan tepat di perbatasan jalur utama menuju distrik selatan. Sirine merah di atap mobil langsung dimatikan dari luar oleh hantaman balok kayu.Terik matahari siang memanggang aspal jalanan hingga memancarkan uap panas yang menyilaukan pandangan mata.Lima mobil pikap modifikasi melintang menutup seluruh akses jalan raya utama. Belasan pria berwajah sangar berdiri di depan barikade memegang potongan pipa paralon tebal dan rantai besi berkarat.Pintu kemudi ambulans ditarik paksa dari luar hingga engsel bajanya berbunyi nyaring memekakkan telinga.Wina ditarik keluar dari kursi kemudi hingga seragam paramedisnya robek di bagian bahu kanan. Janda tangguh itu meronta menepis cengkeraman tangan kotor preman tersebut dengan sisa tenaganya."Pasien balita di dalam sedang kritis dan butuh penanganan bedah segera!" teriak Wina menunjuk bagian belakang ambulansny
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu







