LOGINPita kuning garis polisi membentang membelah aspal jalan provinsi yang berdebu.Sepatu pantofel Leo menginjak rerumputan basah di tepi tebing curam.Matanya menatap lurus ke dasar jurang sedalam tiga puluh meter di bawahnya."Ruang kemudi hancur total tergencet batang pohon pinus," lapor Kepala Polisi Perbatasan berdiri di samping Leo.Pria berseragam cokelat itu menunjuk bangkai truk boks berlogo logistik herbal desa yang ringsek."Kami menduga pengemudimu kehilangan kendali akibat rem blong."Leo menyalakan senter taktis dari saku celana kargonya.Sorot lampu menembus kegelapan dasar tebing yang tertutup bayangan rimbun pepohonan."Di mana jasad pengemudiku?" tanya Leo datar."Arus sungai di bawah sana sangat deras," jelas sang polisi."Anggota kami meyakini tubuh Jaya terlempar dari kaca dan terseret arus."Leo mematikan senternya dan menyarungkan kembali benda itu."Kesimpulan yang cacat logika," tanggap Leo melangkah melewati pita kuning."Tunggu, Dokter Leo!" cegah polisi itu me
Ujung jari Nida menekan kain celana bahan milik Leo.Leo mencengkeram kedua pergelangan tangan Nida.Dia menghentikan pergerakan tangan wanita itu tanpa menggunakan tenaga berlebih."Kau melakukan ini karena putus asa," ucap Leo datar, memandang lurus ke mata wanita di depannya."Aku tidak menerima penyerahan diri dari wanita yang mencari pelarian sementara."Nida menggeleng cepat.Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi sebagian bahunya."Saya sadar di mana tempat saya seharusnya," bantah Nida dengan suara bergetar namun tegas."Bang Jaya pergi pagi tadi untuk rute seminggu ke depan."Nida menatap mata Leo tanpa berkedip."Saya tersenyum mengantarnya ke truk, tapi hati saya benar-benar kosong."Leo melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Nida.Nida berdiri tegak di depan kursi Leo.Tangan kirinya menarik kemeja dinasnya hingga terlepas dari bahu.Pakaian seragam itu jatuh menumpuk di lantai ubin puskesmas.Pakaian dalam katun putih kini menjadi satu-satunya pembatas."Tun
Ujung laras pistol rakitan itu berjarak kurang dari satu meter dari dada Leo.Jari telunjuk Bardi bertengger di pelatuk besi yang berkarat.Warga desa menjerit ketakutan dan mundur serentak.Lilis menahan napas di belakang punggung Leo, mencengkeram erat ujung kemejanya."Mundur atau peluru ini menembus jantungmu!" ancam Bardi serak.Napas juragan tambak itu memburu cepat, dadanya naik turun.Leo tidak mengubah posisi berdirinya.Matanya menatap lurus ke laras baja tersebut."Tarik pelatuk itu jika lenganmu tidak bergetar," tantang Leo datar.Bardi menggeram marah mendengar tantangan itu.Dia menghirup udara dari mulutnya dalam-dalam.Tarikan napas kasar itu membawa petaka.Serbuk putih pestisida di kerah baju kargonya ikut terhirup masuk.Mata Bardi membelalak lebar.Pria besar itu terbatuk keras menyemburkan cairan ludahnya.Pistol rakitan di tangannya jatuh membentur paving block.Bardi jatuh berlutut sambil mencengkeram lehernya sendiri."Uhuk! Tolong!" rintih Bardi dengan wajah m
"Aku tidak bisa melakukan itu, Dokter," tolak Lilis melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu."Bardi memiliki banyak anak buah di seluruh desa. Suamiku akan menguliti tubuhku hidup-hidup di depan warga jika aku berkhianat."Leo berhenti di ambang pintu gubuk.Dia menoleh menatap Lilis dengan sorot mata datar."Kau sudah berkhianat sejak menyerahkan buku itu ke tanganku."Lilis menelan ludahnya yang terasa kering."Aku bisa menghancurkan kerajaan suamimu dalam hitungan jam," ucap Leo mengancingkan kembali kerah kemejanya."Pilihanmu hanya dua. Tetap menjadi samsak hidup Bardi, atau menjadi informanku dengan jaminan perlindungan mutlak."Lilis menatap ujung sepatunya sendiri.Sensasi sentuhan Leo di bawah dipan tadi masih berbekas jelas di sekujur sarafnya.Logika dan ketakutannya pada Bardi kalah telak oleh dominasi sang dokter."Aku bersaksi siang ini," putus Lilis mengangkat wajahnya. "Pastikan nyawaku aman, Dokter Leo."Leo mengangguk sekali tanpa memberikan janji v
Pintu gubuk digedor dari luar dengan kepalan tangan."Lilis! Keluar kau perempuan pemalas!" teriak suara serak pria dari balik papan kayu.Tubuh Lilis tersentak keras mendengar suara suaminya.Buku catatan di pelukannya nyaris terjatuh akibat tremor di kedua tangannya yang semakin menjadi-jadi.Leo menarik kembali jari telunjuknya dari leher wanita itu.Dia memperhatikan postur bahu Lilis yang membungkuk tidak wajar saat ketakutan melanda."Tulang belakangmu melengkung menekan saraf servikal," diagnosis Leo cepat.Pria itu menunjuk area pundak kiri Lilis."Itu alasan kenapa tanganmu terus gemetar dan kesulitan bernapas setiap kali mendengar bentakan.""Pergi dari sini, Dokter," usir Lilis menahan air matanya."Bardi akan membunuh kita berdua jika melihat ada pria asing di gubuk ini.""Buka pintunya, Lilis!" bentakan Bardi terdengar semakin dekat bersamaan dengan suara tendangan ke dinding gubuk.Leo tidak mempedulikan ancaman di luar.Tangannya dengan cepat menyambar pinggang Lilis."
Kayu rotan itu meluncur deras menuju pelipis kiri Leo.Tepat sebelum benturan terjadi, tangan kiri Leo bergerak menyamping.Dua jarinya mencengkeram pergelangan tangan sang preman dengan sangat presisi.Ujung ibu jari Leo menekan kuat simpul saraf radialis pria tersebut.Preman berambut cepak itu menjerit parau.Kayu rotan terlepas dari genggamannya dan jatuh membentur tanah berbatu.Leo menarik lengan preman itu ke depan.Dia memutar tubuhnya, lalu menendang bagian belakang lutut pria tersebut.Pria itu ambruk berlutut memegangi kakinya yang lumpuh mendadak."Keparat kau!" maki preman bertubuh gemuk melihat rekannya tumbang.Preman kedua, ketiga, dan keempat membuang tongkat rotan mereka ke tanah.Ketiga pria itu menarik celurit baja dari balik pinggang celana mereka.Mata pisau melengkung itu memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai terik.Sebuah truk boks logistik berhenti mendadak di jalan tanah tepi bendungan.Pintu kemudi truk itu terbuka dengan kasar.Jaya melompat turun dar
Satu menit, empat puluh detik," suara bariton Leo terdengar begitu dingin, menghitung mundur sisa waktu sebelum otak sang petani mengalami kerusakan permanen akibat kehabisan darah.Di tengah genangan darah merah pekat itu, napas Pakde Darmo mulai terdengar putus-putus. Wajahnya seputih kertas. Kem
Darah segar terus menyembur dari luka robek di paha petani paruh baya itu, mewarnai tanah kebun teh menjadi merah pekat. Bidan Ayu jatuh berlutut di lumpur, mengabaikan seragam putih kebanggaannya yang kini kotor berlumuran darah.Tangan gadis itu gemetar hebat saat menekan gumpalan kasa ke atas lu
Debu dari ban mobil dinas kecamatan itu perlahan mengendap, mengembalikan keheningan di pekarangan rumah Maya.Namun, keheningan itu hanya bertahan sesaat sebelum digantikan oleh bisik-bisik penuh kecemasan dari puluhan warga desa yang masih berkerumun.Biarkan kepanikan ini merayap pelan-pelan ke
Ancaman yang dibisikkan Leo dengan nada sangat pelan itu sukses membuat napas Bidan Ayu tercekat. Jantung sang lulusan akademi berdegup satu ketukan lebih cepat.Di balik lensa kacamatanya, mata cokelat Ayu menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Leo yang sedingin dasar lautan.‘Mata ini... ini







