Share

Ekstrak Kehidupan

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 19:01:45

Jari-jari tangan kanan Leo mencengkeram kuat tenggorokan pria bertato kalajengking itu. Kecepatan serangannya tidak menyisakan ruang bagi pria itu untuk berkedip apalagi menghindar.

Pria itu tersedak hebat. Botol kaca berisi penawar di tangannya terlepas dan jatuh membentur tanah berbatu tanpa sempat ia gunakan sebagai jaminan.

Leo mengangkat tubuh ahli racun itu ke udara hanya dengan satu tangan.

"Lepaskan dia!" teriak pria bertopi hitam. Pria itu mengayunkan pisau lipatnya ke arah tulang rusu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Kelumpuhan Saraf Wajah

    Suara gesekan logam pada gagang pintu arsip berhenti total. Langkah kaki berat berbalut sepatu bot itu berderap menjauh menyusuri koridor. Leo melepaskan tekanan jarinya dari area dada Laras secara perlahan.​"Mereka bergerak menuju sayap barat gedung," ucap Leo. "Tetap di sini sampai aku membersihkan jalur keluar."​Laras membuang napas membiarkan punggungnya bersandar penuh pada rak besi berkarat. Wanita itu merapikan kerah kemejanya menggunakan tangan yang masih bergetar. Akal sehat sang bendahara telah runtuh oleh manipulasi fisik siang ini.​"Biar aku yang mengambil alih pembukuan kas," tawar Laras dengan suara serak.​Leo tidak memberikan balasan verbal. Pria itu menendang area dekat engsel pintu kayu menggunakan tumit pantofelnya.​Engsel besi berkarat itu patah terpelanting membentur dinding luar. Pintu gudang arsip roboh menghantam lantai keramik menghasilkan suara benturan keras.​Leo melangkah keluar dari ruangan pengap itu. Anwar berdiri tegak membelakangi jalur tangga uta

  • Rayuan Desa Wanita   Gudang Arsip Sempit

    "Seret pria ini keluar dan hancurkan persendiannya!" perintah Anwar menunjuk lurus ke arah Leo.​Dua pengawal raksasa itu melangkah maju. Sepatu bot mereka menginjak lantai keramik hingga menimbulkan benturan keras. Tangan berotot pengawal pertama terjulur mencengkeram kerah kemeja Leo.​Leo tidak memundurkan langkahnya untuk menghindari serangan tersebut. Pemuda itu hanya memiringkan tubuh sejauh lima sentimeter ke arah kiri. Tangkapan raksasa itu meleset mengenai ruang kosong.​"Kau terlalu lambat untuk ukuran algojo," ucap Leo datar.​Pengawal kedua mengayunkan tinjunya dari arah sisi buta menargetkan rahang sang dokter.​Leo menunduk cepat menumpukan berat badannya pada kaki kanan. Tangan kanannya melesat ke atas mengunci ruang serang lawan dalam hitungan kurang dari sedetik.​Dua jari Leo menancap presisi di simpul saraf leher kedua pengawal itu secara bersamaan.​Tubuh besar mereka kejang sesaat merespons tekanan mematikan dari ujung jari sang dokter. Dua raksasa itu ambruk meng

  • Rayuan Desa Wanita   Anggaran Fiktif

    Suara putaran mesin pengaduk semen berhenti total di tengah area proyek perluasan jalan desa siang itu.Roda rantai baja ekskavator terparkir diam tanpa ada operator yang mengisi ruang kabin kemudi.Proyek pembangunan infrastruktur desa mendadak terhenti karena ketiadaan pasokan alat berat lanjutan.Material batu pecah dan pasir menggunung tidak tersentuh memblokir separuh akses jalan raya.Leo menekan pedal rem Jeep hitamnya tepat di depan anak tangga gedung balai desa.​Pemuda itu mematikan mesin kendaraan dan melangkah turun membawa satu map dokumen logistik.Dana desa yang seharusnya dialokasikan untuk penyewaan mesin hilang disedot oleh birokrasi korup.Laporan dari bagian konstruksi menunjukkan tidak ada satu pun nota pelunasan yang diteruskan ke pihak penyedia jasa kota.Sepatu pantofel Leo menjejak lantai keramik lorong balai desa yang minim pencahayaan dan ventilasi.Lorong gedung pemerintahan itu sepi dari aktivitas pegawai administrasi yang seharusnya melayani warga.​Pintu

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Sang Raja Aspal

    Suara kokangan senapan angin rakitan kembali terdengar dari arah luar pintu kemudi truk logistik kuning tersebut.Langkah sepatu bot preman bergeser mundur menjauhi bodi kendaraan mencari sudut tembak yang lebih luas.Leo menarik kedua jarinya perlahan dari titik plexus di bawah tulang rusuk Tiara."Formasi tembak mereka sudah terbuka," observasi Leo menatap spion yang pecah sebagian.​Tiara melepaskan gigitannya dari bantalan kursi kulit dengan bibir bawah yang sedikit memerah.Dada wanita berseragam kerja biru tua itu masih naik turun mengatur ritme sisa lonjakan endorfin.Keringat membasahi leher jenjangnya yang terekspos menampilkan rona kemerahan gairah yang belum sepenuhnya pudar."J-jangan tinggalkan kabin ini, Dokter," rintih Tiara memegangi pergelangan tangan Leo erat-erat.​"Tetap di tempatmu dan jangan menyalakan mesin," perintah Leo melepaskan cengkeraman wanita itu.Pemuda itu memutar tubuhnya menghadap pintu pelat baja di sisi kanan kabin truk.Leo menendang pintu kabin

  • Rayuan Desa Wanita   Kabin Truk Terpanggang

    Tanpa sadar, tangan Tono meremas bagian dada jaket kulitnya dengan kuat setiap kali dia mengambil tarikan napas panjang.Target penaklukan jalur distribusi aspal ini telah terdiagnosis hancur berantakan di dalam otak analitis sang dokter bedah.Cairan bensin membasahi permukaan aspal hitam menciptakan genangan yang memantulkan terik cahaya matahari siang.Aroma bahan bakar beroktan tinggi menguap tajam menyengat rongga hidung setiap orang di sekitar portal tol.Preman bayaran Tono mulai menyiramkan cairan bensin ke arah ban belakang truk logistik Tiara.Pria itu mengangkat jerigen hijaunya lebih tinggi bersiap mengguyur sisi bodi truk yang terbuat dari besi pelat.​Leo tidak membuang sisa waktu untuk memberikan ceramah moral pada kawanan preman jalanan tersebut.Sepatu pantofelnya menolak keras aspal berdebu, melontarkan tubuhnya melesat maju membelah jarak lima meter.Gerakan sang dewa bedah menembus pertahanan lawan tanpa memicu bunyi langkah yang bisa diantisipasi secara visual.Du

  • Rayuan Desa Wanita   Blokade Tol Desa

    Tumpukan dokumen sertifikat properti mendarat berurutan di atas meja kerja kayu jati di dalam ruang VIP Puskesmas Elite.Leo merapikan tepi kertas bermaterai tersebut menggunakan kedua telapak tangannya secara simetris.Infrastruktur dan pelayanan publik distrik kini dikendalikan oleh hierarki kekuatan Leo.Sektor medis, air bersih, dan lahan strategis beroperasi penuh tanpa ada sisa perlawanan dari pihak luar.​Inspektur Rina berdiri tegap di seberang meja memberikan laporan mingguan tanpa nada keraguan."Semua akses lahan panti telah dialihkan atas nama fasilitas medis kita, Dokter," lapor Rina menyerahkan map merah.Leo mengangguk pelan dan mengunci laci mejanya menggunakan anak kunci berbahan kuningan."Namun distribusi komoditas utama desa teh diuji oleh blokade jalur tol perbatasan yang mendadak dibangun," tambah Rina.​Polisi wanita itu membetulkan letak sabuk taktisnya yang bergeser ke bawah."Juragan Tono, raja jalanan aspal, memasang portal baja raksasa di tengah jalur utama

  • Rayuan Desa Wanita   Berikan Tubuhmu!

    Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in

  • Rayuan Desa Wanita   Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

    Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m

  • Rayuan Desa Wanita   Sentuhan Sang Dokter

    Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi

  • Rayuan Desa Wanita   Anak dan Ibu Sama-sama Menggoda

    Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status