LOGINSuara decit ban karet beradu dengan aspal kasar menghentikan laju sebuah ambulans secara paksa.Kendaraan gawat darurat itu tertahan tepat di perbatasan jalur utama menuju distrik selatan. Sirine merah di atap mobil langsung dimatikan dari luar oleh hantaman balok kayu.Terik matahari siang memanggang aspal jalanan hingga memancarkan uap panas yang menyilaukan pandangan mata.Lima mobil pikap modifikasi melintang menutup seluruh akses jalan raya utama. Belasan pria berwajah sangar berdiri di depan barikade memegang potongan pipa paralon tebal dan rantai besi berkarat.Pintu kemudi ambulans ditarik paksa dari luar hingga engsel bajanya berbunyi nyaring memekakkan telinga.Wina ditarik keluar dari kursi kemudi hingga seragam paramedisnya robek di bagian bahu kanan. Janda tangguh itu meronta menepis cengkeraman tangan kotor preman tersebut dengan sisa tenaganya."Pasien balita di dalam sedang kritis dan butuh penanganan bedah segera!" teriak Wina menunjuk bagian belakang ambulansny
Leo melepaskan tekanan jarinya dari area ulu hati Karina secara perlahan. Pria itu menahan kedua bahu sang instruktur untuk menstabilkan postur tubuhnya yang melemas kehilangan tenaga.Karina menarik napas panjang meraup sisa oksigen yang berbau tajam cairan formalin."Bongkar lemari ini sekarang juga!" perintah Surya dari luar diiringi suara kokangan senjata api rakitan. "Habisi siapapun yang bersembunyi di dalam sana!"Leo memutar tubuhnya membelakangi Karina dan mengangkat kaki kanannya ke udara.Tendangan keras dari sepatu pantofel sang dokter menghantam pintu lemari dari arah dalam. Papan kayu jati tebal itu pecah terbelah dua menghasilkan suara ledakan kayu.Pintu lemari terlempar ke depan menabrak rahang preman terdepan yang memegang tali rantai anjing.Pria berjaket kulit itu terpelanting ke belakang menjatuhkan senapan rakitannya ke lantai keramik. Anjing herder itu meronta melepaskan kalungnya dan lari ketakutan keluar dari laboratorium.Leo melangkah keluar dari tum
Suara angin malam berembus pelan menyapu area asrama akademi keperawatan yang terletak di pinggiran distrik.Gedung tiga lantai itu terlihat gelap menyembunyikan aktivitas eksploitasi tenaga medis di dalamnya.Leo memotong gembok gerbang belakang asrama menggunakan tang baja tanpa menghasilkan suara bising.Pria itu menyelinap masuk menelusuri koridor lantai dasar menuju ruang penyimpanan dokumen.Di dalam ruang arsip yang berantakan, Karina duduk terikat di kursi kayu dengan kedua tangan di belakang punggung.Instruktur kaku itu masih mengenakan seragam kerjanya yang kini berkerut dan kotor oleh debu ruangan.Wajah wanita itu tertunduk menahan rasa perih di sudut bibirnya yang masih membengkak akibat tamparan Surya siang tadi.Dua penjaga berbadan besar berjaga di depan pintu memegang tongkat pemukul karet."Kau terlalu berani berniat melaporkan yayasan ini ke dinas tenaga kerja, Nona Instruktur," ejek penjaga pertama mengayunkan tongkatnya mendekati wajah Karina."Ratusan pera
Lorong bangsal rawat inap Rumah Sakit Terpadu terlihat sangat sepi pada pertengahan hari.Deretan ranjang berlapis seprai putih bersih berjejer rapi di dalam puluhan kamar kaca.Fasilitas medis tersebut sudah siap beroperasi penuh menerima ratusan pasien dari penjuru desa. Namun, tidak ada satu pun tenaga perawat yang berjaga di pos administrasi maupun ruang tindakan.Leo melangkah menyusuri koridor rumah sakit memeriksa papan jadwal jaga yang dibiarkan kosong melompong."Pendaftaran rekrutmen staf perawat kita diblokir total sejak kemarin sore," lapor Karina berdiri di dekat meja pendaftaran utama.Kepala Instruktur Akademi Keperawatan itu memegang tumpukan map berkas lamaran dengan jari memutih.Kemeja kerjanya dikancingkan hingga leher menunjukkan kedisiplinan yang sangat kaku. Rambut hitamnya diikat rapat ke belakang tanpa menyisakan satu helai pun yang berjatuhan."Tidak ada satu pun lulusan akademi yang berani menandatangani kontrak kerja dengan rumah sakit ini," lanjut K
Suara hantaman parang jagal pada pintu baja kabin pembeku berhenti sejenak menyisakan dengung mesin pendingin.Leo perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Renata yang masih bergetar menahan suhu beku."Bongkar engsel pintu ini pakai mesin pemotong baja!" perintah Tono dari luar kabin dengan nada tinggi.Renata mengatur napasnya meredam sisa lonjakan hormon endorfin. Keringat dingin bercampur embun es membuat seragam koki putihnya menempel ketat di kulit wanita itu."Tunggu di sudut ini sampai aku membereskan tengkulak itu," instruksi Leo menatap lurus ke arah pintu baja."Mereka membawa parang tajam dan jumlahnya sangat banyak, Dokter," peringat Renata menelan ludah menahan sisa rasa kebas di bibirnya."Senjata tajam tidak akan berguna di tangan orang yang salah," balas Leo dengan intonasi sangat datar.Pria itu memutar tubuhnya dan mengangkat kaki kanannya mengambil ancang-ancang.Ujung sepatu pantofel sang dokter mendarat telak pada panel kunci mekanik pintu baja dari arah
Suara pisau jagal yang menghantam telenan kayu memecah keheningan rumah pemotongan hewan pada waktu subuh. Bau darah mentah bercampur bahan kimia pengawet mendominasi udara di area pabrik yang luas tersebut.Leo melangkah melewati pintu gulung baja yang setengah terbuka tanpa menimbulkan suara pada sepatu pantofelnya. Pria itu menyusup masuk menelusuri lorong yang diapit oleh kait-kait besi pemotong daging.Renata berlutut di tengah area pemotongan dengan kedua tangan terikat ke belakang. Koki kepala itu masih mengenakan seragam putihnya yang kini kotor oleh noda darah dan lendir lantai pabrik.Tiga algojo bertubuh kekar mengelilingi Renata sambil memegang parang jagal berukuran besar."Serahkan ponsel yang kau gunakan untuk merekam kegiatan kami atau jari-jarimu akan putus!" ancam algojo pertama menarik rambut Renata secara kasar."Aktivitas oplosan formalin kalian akan segera diketahui dinas kesehatan kota," tolak Renata menahan rasa sakit di kulit kepalanya dengan gigi gemeret
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog







