MasukKaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana.
Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini!" teriak Valerius. Suaranya pecah oleh kepanikan yang mendalam. Ia menoleh ke arah Seraphina, mencari dukungan. "Seraphina! Kau tahu aku bersamamu tadi sore, katakan pada mereka ini mustahil!" Seraphina menurunkan gelas anggurnya perlahan. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Valerius. Wajahnya kini dipenuhi dengan raut keterkejutan yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia... saya memang bersama Anda sepanjang sore ini. Tapi, ada momen di mana saya permisi untuk bertemu Putri Arabella. Sa-saya tidak bisa memberikan kesaksian sepenuhnya. "Maafkan saya, Yang Mulia." Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia sangat hancur oleh pengkhianatan tunangannya. "Kau—! Kau menjebakku, jalang!" "Kenapa saya harus menjebak Anda, Yang Mulia? Apa untungnya bagi saya?" "Lady Astrea, benar. Kesaksiannya atas keberadaan Putra Mahkota tidak sepenuhnya sah, sebab ada waktu di mana mereka tak lagi bersama. "Jika dipikir ulang, itu masuk akal. Putra Mahkota bahkan tahu dengan detail di mana benda itu disembunyikan." Marcus von Thuram, seorang count tua yang tidak pernah berpihak pada kekaisaran ataupun bangsawan, memberikan tanggapan di tengah situasi yang buruk. Para bangsawan yang lain pun seolah ikut berpikir ulang. Bahwa apa yang baru saja dilakukan sang Putra Mahkota sedikit tak masuk akal. Bahkan di antara mereka ada yang diam-diam menunjukkan sikap bahwa betapa bodohnya sang putra mahkota yang tak memiliki rencana cadangan jika memang benar ingin menjatuhkan Duke Killian. "Sial, kau pasti sudah menjebakku kan?! Kau, kau yang...." Valerius tak melanjutkan ucapannya. Jika dia membocorkan di depan semua orang bahwa Seraphina yang mengatur rencana itu, sama halnya bahwa ia mengakui perbuatannya. Lebih parah lagi, ia akan dianggap tidak kompeten. Hanya karena meminta bantuan seorang wanita untuk menyusunkan rencana pemberontakan bagi Duke Utara yang ternyata gagal total. "Kau benar-benar, jalang!" Valerius menerjang ke arah Seraphina. Namun sebelum ia bisa menyentuh sehelai rambut pun, sebuah tangan besar berbaju besi mencengkeram lehernya dan membantingnya ke lantai marmer Astrum-Glace yang keras. Killian berdiri di atas Valerius, kakinya menginjak dada sang Putra Mahkota dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang rusuk. "Tampaknya," suara Killian bergema, dingin dan mematikan, "umpan yang Anda pasang justru mencekik leher Anda sendiri, Putra Mahkota." Kaisar Benedict berdiri, tangannya menunjuk Valerius dengan gemetar. "Tangkap dia! Jebloskan Putra Mahkota ke penjara bawah tanah sampai penyelidikan ini tuntas! Biarkan dia merenungkan kesalahan yang sudah diperbuat malam ini!" Kaisar tua itu, lantas beralih pada Duke Killian yang masih berdiri di tengah aula. "Grand Duke Killian... atas nama Valeranthia, saya memohon maaf atas penghinaan ini." Di tengah kekacauan itu, saat Valerius diseret keluar dari keagungan Astrum-Glace sambil berteriak histeris, Seraphina berdiri diam. Ia menatap Killian, dan pria itu menatapnya balik. Di tengah aula yang penuh dengan topeng dan kebohongan, Killian memberikan hormat militer yang singkat—sebuah pengakuan bahwa Seraphina bukan lagi sekadar umpan, melainkan sekutu yang mengerikan. Seraphina tersenyum tipis. Malam ini, ia tidak hanya meruntuhkan harga diri Valerius; ia telah mulai meruntuhkan fondasi dunianya tepat di bawah kemilau istana bintang es itu.Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini!" teriak Valerius. Suaranya pecah oleh kepanikan yang mendalam. Ia menoleh ke arah Seraphina, mencari dukungan."Seraphina! Kau tahu aku bersamamu tadi sore, katakan pada mereka ini mustahil!" Seraphina menurunkan gelas anggurnya perlahan. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Valerius. Wajahnya kini dipenuhi dengan raut keterkejutan yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia... saya memang bersama Anda sepanjang sore ini. Tapi, ada momen di mana saya permisi untuk bertemu Putri Arabella. Sa-saya tidak bisa memberikan kesaksian sepenuhnya."Maafkan saya, Yang Mulia." Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia sangat
Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Killian, untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa nama belakang. "Bersiaplah. Jika malam ini segel itu tidak ditemukan di peti saya, maka saya akan menganggap Anda sebagai umpan yang gagal—dan saya tidak memelihara umpan yang tidak berguna." Killian berbalik, jubah bulu serigalanya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Seraphina berdiri terpaku, merasakan dinginnya sisa genggaman Killian di kulitnya. Ikan besar itu bukan sekadar memakan umpan; ia telah menyeret Seraphina masuk ke dalam perairan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Namun, itulah yang ia cari. "Permainan dimulai, Valerius," bisiknya pada kegelapan. */*/ Malam itu, Istana Astrum-Glace diselimuti keme
Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan dengan sang Grand Duke. "Saya tidak sedang menghalangi jalan Anda, Grand Duke," ucap Seraphina, suaranya jernih dan tak bergetar. "Saya sedang menawarkan jalan keluar dari jebakan yang sudah disiapkan Putra Mahkota untuk Anda malam ini." Langkah Killian yang tadinya hendak berlanjut, kembali berhenti. Ia sedikit menyipitkan mata, menatap gadis muda di hadapannya dengan sedikit rasa ingin tahu yang dingin. "Jebakan?" Killian mendengus sinis. "Anda adalah tunangan sang Putra Mahkota. Mengapa Anda mengkhianati calon suami Anda demi orang asing dari Utara?" Killian menimbang sebelum melanjutkan,"Atau... justru Andalah jebakan yang sudah disiapkan itu sendiri!" Seraphina menelan ludah susah p
Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota. Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis. Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya. "Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak. "Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!" "Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah. "Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liz
Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina. 'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang. 'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.' "Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina. Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu.Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang. Liza
Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius. Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut. Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt. Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri.Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan. Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk







