MasukAstrid Guevarra, isang 3rd Year college student na gusto lamang makapagtapos. Ngunit ang kanyang ina ay mukang may ibang plano para sa kanya. Sa hindi malaman na rason, siya ay ipinakasal (ibinenta) ng kanyang ina sa isang kilalang at mayaman na anak ng pamilyang ito. "Nay naman! Nag aaral pa po ako! 3rd year nako, malapit na ako grumaduate! Hindi ba kayang maaantay yun?!" "Hindi." Sa loob ng isang araw na yun, hindi na alam ni Astrid ang kanyang gagawin. Lahat ng pagod, galit, gulat at pagkabalisa naramdaman niya, ngunit wala naman siyang ibang magawa kundi tanggapin na lamang. Eh ano pa nga bang magagawa niya? Pumayag na ang kanyang nanay? Hindi rin naman ito makikinig sa kanya. Ngunit ng paggising niya galing sa kanyang mahimbing na tulog, ay kaharap na niya ang tatay ng kanyang papakasalan. "Are you okay Miss Astria?” "I'm Timothy Miller. Ang tatay ng iyong mapapangasawa na si Tristan Miller, ang aking anak.” At teka sino si Astria?! Ito na ba ang sinasabi ng kanyang nanay? Ngunit bakit wala siya rito?! Natulog lamang siya, at pag gising ibang tao na siya?! Anong ibig sabihin non? Siya ba ay namatay? Sa buhay din na ito, siya ay papakasalan sa hindi niya na naman kakilala, at nakamaskara ito?!
Lihat lebih banyakSetiap detik dalam enam bulan terakhir terasa seperti penantian tak berujung bagi Naira. Setelah enam bulan tanpa sentuhan hangat Aditya, malam ini, semua penantian itu akan terbayar. Naira menyiapkan sebuah kejutan, pelukan hangat sambil membisikkan kata mesra.
“Selamat ulang tahun, Mas.” Mendengar derit pintu dibuka, jantungnya berdebar kencang, bukan karena lelah setelah perjalanan panjang, tapi karena rasa gugup yang membuncah di dadanya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Naira segera menyalakan lilin yang berdiri tegak di atas kue ulang tahun. Di tangannya, kotak kue cokelat favorit Aditya, ia membayangkan senyum terkejut Aditya, pelukan erat yang akan menyambutnya, dan bagaimana semua kerinduan ini akan terobati dalam satu malam. Namun, belum sempat Naira melangkah keluar dari dapur, telinganya menangkap suara kecapan basah yang menjijikkan, disusul lenguhan manja yang membuat bulu kuduk Naira meremang. Itu bukan suara yang seharusnya ia dengar di apartemennya sendiri, bukan suara yang seharusnya keluar dari bibir suaminya. “Mainnya jangan kasar seperti biasanya, kasihan anak kita.” Sebuah kalimat yang mengoyak gendang telinga Naira, merobek kebahagiaan yang baru saja ia rasakan. Hingga membuat perutnya bergejolak, mual yang tak tertahankan, seolah ingin memuntahkan semua harapan yang telah ia telan. “Perutku sudah makin gede.” “Tenang saja, anak kita kuat, meski tiap malam ditengok bapaknya.” Aditya membalas dengan tawa renyahnya, tawa yang dulu selalu Naira rindukan, kini terdengar asing dan keji. Naira membeku, seolah seluruh darah dalam tubuhnya berhenti mengalir. Nampan di tangannya bergetar hebat, lilin di atas kue bergoyang-goyangan, nyaris padam, seperti harapan yang kini di ambang kematian. Dengan langkah gontai, Naira menyeret tubuhnya menuju ruang tengah. Dan di sanalah, di tengah cahaya temaram lampu ruang tamu, dunia Naira runtuh. Aditya berdiri memeluk seorang perempuan dari belakang. Tangan laki-laki itu, tangan yang dulu selalu membelainya dengan lembut, kini membelai perut yang membuncit. Suara-suara manja dan tawa renyah mereka mengoyak hati Naira. Yang lebih mengejutkan dan menyakitkan, saat perempuan itu menoleh, wajah Kirana, sepupunya sendiri, tersenyum penuh kemenangan, seolah menertawakan kebodohan Naira. Kirana menyandarkan kepalanya di dada Aditya, manja, seolah itu adalah tempatnya yang sah. Tangannya menggenggam tangan laki-laki itu yang masih mengusap perutnya. “Mau hadiah ulang tahun apa?” “Aku sudah pengen, Ki,” bisik Aditya dengan suara serak, mengecup bahu Kirana. Di sana, di tempat yang dulu sering Aditya kecup juga. Naira menggigit bibirnya hingga terasa anyir, berusaha menahan isak yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Tawa Aditya dan Kirana bersatu, menggema di antara dinding apartemen yang dulu dibangun dengan cinta. Tapi kini, ruangan itu menjadi tempat yang mengubur semua impian dan masa depan Naira. Naira tak sanggup lagi. Air matanya jatuh tanpa suara. Satu demi satu, jatuh ke atas kue cokelat yang kini hancur bersama hatinya. Ia tidak bisa berteriak, tidak bisa marah. Lidahnya kelu, tenggorokannya panas, seolah semua kemarahannya lenyap, digantikan kehampaan yang mematikan. Dan saat Aditya dengan santainya menggendong Kirana, membawanya ke kamar tanpa menutup pintu, Naira merasa tubuhnya mati seketika. Ia menyaksikan suami dan sepupunya bergumul panas penuh gairah. Kedua tumit Kirana bergantung di bahu Aditya. Jeritan-jeritan manja mengiringi tubuh Aditya yang terus bergerak mengisi tubuhnya. Naira tidak tahan, kamar yang dulu tempat ia dan Aditya berbagi tawa, berbagi mimpi, kini jadi tempat perselingkuhan yang terang-terangan. Tanpa rasa berdosa, tanpa rasa bersalah. Dengan tangan gemetar, Naira menaruh kue di meja. Ia mengambil kopernya, menyeret pelan sambil menyeka wajahnya yang basah. Tak ada teriakan, hanya kehancuran yang membungkam segalanya. Beberapa jam lalu, ia datang ke kota ini dengan harapan. Kini, ia ingin pergi secepatnya, sebelum seluruh dirinya runtuh di tempat yang sama. Lorong apartemen itu sepi. Lampu-lampunya redup. Hanya suara roda koper yang berdecit kecil di antara langkah cepat Naira yang nyaris berlari. Dadanya sesak, napasnya tercekat, luka seperti mengepungnya dari segala arah. Mata Naira masih basah. Langkahnya terhuyung, hampir jatuh. Luka di hatinya terlalu dalam, membuatnya ingin pergi, segera dan tak ingin melihat ke belakang. Namun, saat Naira berbelok ke ujung lorong menuju lift, tubuhnya justru membentur seseorang. Tubuh laki-laki tinggi, beraroma alkohol dan parfum maskulin yang menyengat. Naira tersentak, terhuyung mundur. “Maaf...” lirih Naira, suaranya nyaris tak terdengar, tak sempat menatap siapa yang ia tabrak. Pikirannya masih dipenuhi kehancuran. Tapi langkahnya terhenti saat suara berat itu membalas, bukan dengan kata, tapi dengan geraman rendah penuh emosi, seperti binatang buas yang terluka. “Maaf?” Suara pria itu parau dan serak. Pria itu terkekeh pendek, bukan tawa kegembiraan, melainkan sebuah keputusasaan yang sangat, yang membuat bulu kuduk Naira meremang. Naira menoleh pelan. Pria itu berdiri sambil mencengkeram dinding, tubuhnya bergetar ringan seolah ada energi berlebih yang tak terkendali di dalam dirinya. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, sementara pupil matanya membesar tidak wajar menutupi hampir seluruh iris. Wajah tampan itu terlihat kacau, rahang mengeras, urat lehernya menonjol, dan matanya merah, seperti sedang berjuang melawan tubuhnya sendiri. Alex, lelaki asing dengan jas mahal dan rambut acak-acakan. Dadanya naik turun tak karuan, napasnya terdengar berat dan terengah-engah, diselingi desahan tertahan yang aneh. Alex terlihat seperti binatang buas yang terpojok dan kehilangan akal. Aura gelap dan mengancam memancar darinya, membuat Naira yang sudah rapuh semakin ketakutan. Naira melangkah mundur, berusaha menjauh. Tapi sebelum sempat menjauh, tangan laki-laki itu menarik pergelangan tangannya mengejutkan. Cengkeramannya terasa dingin dan kuat, seolah belenggu yang tak bisa dilepaskan. “Kenapa... semua perempuan seperti ini?” desis Alex, suaranya kini lebih dalam, hampir seperti gumaman, penuh kepahitan. “Datang menggoda, lalu pergi minta maaf tanpa rasa bersalah.” Naira menegang. Ketakutan merayapi setiap inci kulitnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa pria ini begitu marah padanya. Ia hanya ingin pergi. “Maaf, saya tidak tahu, saya harus segera pergi.” Naira mencoba menarik tangannya, tapi Alex mencengkeramnya makin erat. Rasa sakit menjalar di pergelangan tangannya, namun rasa takut jauh lebih besar. “Lepas!” teriak Naira panik, suaranya bergetar. Refleks, tangan Naira yang bebas melayang, menampar wajah Alex. Plak! Hening. Hanya suara napas Naira yang terengah-engah dan detak jantungnya yang bergemuruh di telinganya. Alex menoleh perlahan, kepala miring. Napasnya mengembus keras, seperti hembusan panas dari binatang yang terluka dan kehilangan akal, matanya yang merah menatap Naira dengan tatapan kosong namun penuh amarah. “Jangan bikin aku tambah gila malam ini…” suaranya terdengar semakin berat, mengancam. Sebelum Naira bisa lari, tubuhnya terangkat begitu saja. Ia meronta, memukul-mukul punggung Alex, menendang-nendang kakinya, namun tenaga Alex terlalu besar. “Lepas! Lepaskan aku!” teriak Naira, suaranya serak karena ketakutan dan keputusasaan. Air mata kembali mengalir deras, membasahi pipinya. Alex tidak menghiraukan teriakan Naira, terus melangkah menuju kamarnya. Pintu apartemen terbuka, gelap, seperti mulut gua yang siap menelan. Tak lama kemudian suara pintu tertutup mengunci tak hanya dirinya, tapi juga segala harapan dan masa depan Naira. Di kamar mewah yang temaram itu, di tengah keheningan yang memekakkan, tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli dengan teriakan dan isak tangis Naira yang tertelan. Alex menyentuh Naira dengan paksa, melakukan penyatuan dan menghentakkan tubuhnya dengan beringas. Bukan hanya menghancurkan raganya, tapi juga mengoyak-ngoyak jiwanya, mencabik-cabik sisa-sisa harga dirinya. Malam ini, bukan hanya penuh kejutan yang menghancurkan, tapi juga penuh luka yang tak akan pernah terhapus dari ingatan seorang wanita bernama Naira. Pada saat suaminya sedang berbagi peluh penuh gairah dengan sepupunya, Naira harus kehilangan kehormatannya di bawah keberingasan pria asing yang menggagahinya dengan brutalMagkatalikod si Tristan at Luigi habang salit-salit nilang dinedepensahan ang bawat isa sa sunod-sunod na atake ni G.Hindi nila alam kung gano katagal na nilang dinedepensahan ang kanilang mga sarili sa sunod-sunod na atake ni G.Hindi rin mawala sa isipan nila kung ano na kaya ang sitwasyon ng mag-kapatid na alam nilang papunta na ngayon sa venue, at sigurado silang nakalaban na nila ang kasama ni G, na si Zane.Kailangan na nilang bilisan, at para matulungan ang dalawa.Silang ang may mahirap na gawin, ang umatake't dumepensa, habang prinoprotektahan ang batang kapatid ni Tristan, at si Astrid.Kung ibang tao ang kumakalaban sa kanila, baka kaya pa nilang dalawa yun.Ngunit ang taing kasalukuyang hinaharap nila ay si Zane, isa sa mga tauhan ni Julia na walang emosyong nararamdaman, lalo na't pag nakikipagsabak siya sa laban.Bawat laban na kanyang napapanalo ay nauuwi sa brutal na kamatayan.Hindi maaaring mangyari yun.Ngunit nahihirapan rin sila sa kanilang kalaban ngayon, na si
Sa isang gilid sa loob ng dome kung saan malayo sa mga nag-kukumpulang mga bisita sa gitna na busy na lunudin ang mga sarili sa iba't-ibang alak na inaaalok sa kanila, at mga masasarap na pagkain na nakahanda, dalawang babae ang makikitang tahimik na nag-bubulungan, tinatago ang kanilang mga mukha gamit ang dala-dala nilang mga pamaypay, at bahagyang nakababa ang suot nilang mga maskara upang mas maintindihan ang sinasabi ng bawat isa. "Why does it sound so eerily quiet here..." "I agree. I was even expecting Julia's pranks by now." "Right?! She seems pretty docile today, which is far more scary!" "Indeed.. Wanna get out of here? I fear the safety of my children.." "Sure, let me just bid goodbye to-" Nang lalayo na sana ang babaeng may kaedaran na, naestatwa siya sa kanyang kinakatayuan nang mag-tama ang kaniyang tingin kay Julia sa kanya. Nakangiti lamang ito sa kanilang direksyon, dahang-dahan na nag-lalakad kung saan sila nakapwesto. Bawat hakbang, rinig na rinig ang k
Habang parehong nag-papaulan ng mga bala si Tristan at kanyang mga kasamahan na papunta pa lamang kung nasaan siya sa gitna ng daan. Maririnig sa kalayuang kalangitan ang isang malakas na alingawngaw ng helicopter. Sa loob ay makikita si Timothy na suot-suot ang white tuxedo niya, at isang similar na maskara na kagaya ng kay Tristan, ngunit naiiba lang ng kulay. Pinaiikutan siya ng kanyang 6 na bodyguard sa loob, ang iba ay nakadungaw sa salamin ng helicopter, ang iba naman ay nay ginagawa sa sari-sarili nilang mga telepono. At gaya ng mga ito, ganoon rin si Timothy. Kunot ang kanyang noo, ang kanyang paa ay paulit-ulit na tinatap ang lapag, habang malapit sa kanyang tenga ang kanyang telepono na panay lamang ang ring. Napahawi siya sa kanyang buhok na nakagel patalikod, at kinagat ang kanyang labi. Pang limang tawag na niya ito kay Tristan, ngunit napupunta lamang siya sa voicemail. Matapos ang voicemail, agad niya namang kinokontak ang kanyang ina na ganoon rin ang
ANG MGA PANGYAYARI BAGO MAG-TAPAT SI BANDIT AT ZANE. Hindi pa sila kalayuan mula sa venue nang makaramdam si G na may nakasunod sa kanila. Bahagya siyang tumigil at inikot ang mga mata niya sa kanilang paligid. At dahil maraming mga puno sa paligid, sigurado si G na ginagamit ng mga taong ito ang mga puno para makapag-tago at patuloy na sundan sila. Hindi maaring mangyari yun. Kailangan niyang gawan ng paraan ang mga taong nasunod sa kanila. Dahil palpak ang naging misyon ng mga naunang utusan ni Julia, kailangan niyang maperfect niya ito. Hindi pupwedeng matulad sila sa mga palpak na tauhan ng kanilang boss. Kailangan may ipagmalaki ang babae, kaya dapat lang na matapos nila ang kanilang misyon ng walang problema. Naramdaman ni Zane na hindi na sumunod ang kanyang partner, at wala nang nakikinig sa kanyang mga kwento kaya lumingon siya. Tama nga ang naramdaman nito ng makita ang napakalaking agwat ng distansya ni G mula sa kanya. 'He must've stopped earlier to ha


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasan