Relived To Marry The Masked CEO

Relived To Marry The Masked CEO

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-05-10
Oleh:  yslamiahOngoing
Bahasa: Filipino
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
74Bab
832Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Astrid Guevarra, isang 3rd Year college student na gusto lamang makapagtapos. Ngunit ang kanyang ina ay mukang may ibang plano para sa kanya. Sa hindi malaman na rason, siya ay ipinakasal (ibinenta) ng kanyang ina sa isang kilalang at mayaman na anak ng pamilyang ito. "Nay naman! Nag aaral pa po ako! 3rd year nako, malapit na ako grumaduate! Hindi ba kayang maaantay yun?!" "Hindi." Sa loob ng isang araw na yun, hindi na alam ni Astrid ang kanyang gagawin. Lahat ng pagod, galit, gulat at pagkabalisa naramdaman niya, ngunit wala naman siyang ibang magawa kundi tanggapin na lamang. Eh ano pa nga bang magagawa niya? Pumayag na ang kanyang nanay? Hindi rin naman ito makikinig sa kanya. Ngunit ng paggising niya galing sa kanyang mahimbing na tulog, ay kaharap na niya ang tatay ng kanyang papakasalan. "Are you okay Miss Astria?” "I'm Timothy Miller. Ang tatay ng iyong mapapangasawa na si Tristan Miller, ang aking anak.” At teka sino si Astria?! Ito na ba ang sinasabi ng kanyang nanay? Ngunit bakit wala siya rito?! Natulog lamang siya, at pag gising ibang tao na siya?! Anong ibig sabihin non? Siya ba ay namatay? Sa buhay din na ito, siya ay papakasalan sa hindi niya na naman kakilala, at nakamaskara ito?!

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter 1: Getting Married To Who?

Setiap detik dalam enam bulan terakhir terasa seperti penantian tak berujung bagi Naira. Setelah enam bulan tanpa sentuhan hangat Aditya, malam ini, semua penantian itu akan terbayar. Naira menyiapkan sebuah kejutan, pelukan hangat sambil membisikkan kata mesra.

“Selamat ulang tahun, Mas.”

Mendengar derit pintu dibuka, jantungnya berdebar kencang, bukan karena lelah setelah perjalanan panjang, tapi karena rasa gugup yang membuncah di dadanya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Naira segera menyalakan lilin yang berdiri tegak di atas kue ulang tahun. Di tangannya, kotak kue cokelat favorit Aditya, ia membayangkan senyum terkejut Aditya, pelukan erat yang akan menyambutnya, dan bagaimana semua kerinduan ini akan terobati dalam satu malam.

Namun, belum sempat Naira melangkah keluar dari dapur, telinganya menangkap suara kecapan basah yang menjijikkan, disusul lenguhan manja yang membuat bulu kuduk Naira meremang. Itu bukan suara yang seharusnya ia dengar di apartemennya sendiri, bukan suara yang seharusnya keluar dari bibir suaminya.

“Mainnya jangan kasar seperti biasanya, kasihan anak kita.”

Sebuah kalimat yang mengoyak gendang telinga Naira, merobek kebahagiaan yang baru saja ia rasakan. Hingga membuat perutnya bergejolak, mual yang tak tertahankan, seolah ingin memuntahkan semua harapan yang telah ia telan.

“Perutku sudah makin gede.”

“Tenang saja, anak kita kuat, meski tiap malam ditengok bapaknya.”

Aditya membalas dengan tawa renyahnya, tawa yang dulu selalu Naira rindukan, kini terdengar asing dan keji.

Naira membeku, seolah seluruh darah dalam tubuhnya berhenti mengalir. Nampan di tangannya bergetar hebat, lilin di atas kue bergoyang-goyangan, nyaris padam, seperti harapan yang kini di ambang kematian. Dengan langkah gontai, Naira menyeret tubuhnya menuju ruang tengah.

Dan di sanalah, di tengah cahaya temaram lampu ruang tamu, dunia Naira runtuh.

Aditya berdiri memeluk seorang perempuan dari belakang. Tangan laki-laki itu, tangan yang dulu selalu membelainya dengan lembut, kini membelai perut yang membuncit. Suara-suara manja dan tawa renyah mereka mengoyak hati Naira.

Yang lebih mengejutkan dan menyakitkan, saat perempuan itu menoleh, wajah Kirana, sepupunya sendiri, tersenyum penuh kemenangan, seolah menertawakan kebodohan Naira.

Kirana menyandarkan kepalanya di dada Aditya, manja, seolah itu adalah tempatnya yang sah. Tangannya menggenggam tangan laki-laki itu yang masih mengusap perutnya.

“Mau hadiah ulang tahun apa?”

“Aku sudah pengen, Ki,” bisik Aditya dengan suara serak, mengecup bahu Kirana. Di sana, di tempat yang dulu sering Aditya kecup juga.

Naira menggigit bibirnya hingga terasa anyir, berusaha menahan isak yang mendesak keluar dari tenggorokannya.

Tawa Aditya dan Kirana bersatu, menggema di antara dinding apartemen yang dulu dibangun dengan cinta. Tapi kini, ruangan itu menjadi tempat yang mengubur semua impian dan masa depan Naira.

Naira tak sanggup lagi. Air matanya jatuh tanpa suara. Satu demi satu, jatuh ke atas kue cokelat yang kini hancur bersama hatinya. Ia tidak bisa berteriak, tidak bisa marah. Lidahnya kelu, tenggorokannya panas, seolah semua kemarahannya lenyap, digantikan kehampaan yang mematikan.

Dan saat Aditya dengan santainya menggendong Kirana, membawanya ke kamar tanpa menutup pintu, Naira merasa tubuhnya mati seketika. Ia menyaksikan suami dan sepupunya bergumul panas penuh gairah.

Kedua tumit Kirana bergantung di bahu Aditya. Jeritan-jeritan manja mengiringi tubuh Aditya yang terus bergerak mengisi tubuhnya.

Naira tidak tahan, kamar yang dulu tempat ia dan Aditya berbagi tawa, berbagi mimpi, kini jadi tempat perselingkuhan yang terang-terangan. Tanpa rasa berdosa, tanpa rasa bersalah.

Dengan tangan gemetar, Naira menaruh kue di meja. Ia mengambil kopernya, menyeret pelan sambil menyeka wajahnya yang basah. Tak ada teriakan, hanya kehancuran yang membungkam segalanya.

Beberapa jam lalu, ia datang ke kota ini dengan harapan. Kini, ia ingin pergi secepatnya, sebelum seluruh dirinya runtuh di tempat yang sama.

Lorong apartemen itu sepi. Lampu-lampunya redup. Hanya suara roda koper yang berdecit kecil di antara langkah cepat Naira yang nyaris berlari. Dadanya sesak, napasnya tercekat, luka seperti mengepungnya dari segala arah.

Mata Naira masih basah. Langkahnya terhuyung, hampir jatuh. Luka di hatinya terlalu dalam, membuatnya ingin pergi, segera dan tak ingin melihat ke belakang.

Namun, saat Naira berbelok ke ujung lorong menuju lift, tubuhnya justru membentur seseorang. Tubuh laki-laki tinggi, beraroma alkohol dan parfum maskulin yang menyengat. Naira tersentak, terhuyung mundur.

“Maaf...” lirih Naira, suaranya nyaris tak terdengar, tak sempat menatap siapa yang ia tabrak. Pikirannya masih dipenuhi kehancuran.

Tapi langkahnya terhenti saat suara berat itu membalas, bukan dengan kata, tapi dengan geraman rendah penuh emosi, seperti binatang buas yang terluka.

“Maaf?” Suara pria itu parau dan serak.

Pria itu terkekeh pendek, bukan tawa kegembiraan, melainkan sebuah keputusasaan yang sangat, yang membuat bulu kuduk Naira meremang.

Naira menoleh pelan. Pria itu berdiri sambil mencengkeram dinding, tubuhnya bergetar ringan seolah ada energi berlebih yang tak terkendali di dalam dirinya. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, sementara pupil matanya membesar tidak wajar menutupi hampir seluruh iris.

Wajah tampan itu terlihat kacau, rahang mengeras, urat lehernya menonjol, dan matanya merah, seperti sedang berjuang melawan tubuhnya sendiri.

Alex, lelaki asing dengan jas mahal dan rambut acak-acakan. Dadanya naik turun tak karuan, napasnya terdengar berat dan terengah-engah, diselingi desahan tertahan yang aneh.

Alex terlihat seperti binatang buas yang terpojok dan kehilangan akal. Aura gelap dan mengancam memancar darinya, membuat Naira yang sudah rapuh semakin ketakutan.

Naira melangkah mundur, berusaha menjauh. Tapi sebelum sempat menjauh, tangan laki-laki itu menarik pergelangan tangannya mengejutkan. Cengkeramannya terasa dingin dan kuat, seolah belenggu yang tak bisa dilepaskan.

“Kenapa... semua perempuan seperti ini?” desis Alex, suaranya kini lebih dalam, hampir seperti gumaman, penuh kepahitan. “Datang menggoda, lalu pergi minta maaf tanpa rasa bersalah.”

Naira menegang. Ketakutan merayapi setiap inci kulitnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa pria ini begitu marah padanya. Ia hanya ingin pergi.

“Maaf, saya tidak tahu, saya harus segera pergi.”

Naira mencoba menarik tangannya, tapi Alex mencengkeramnya makin erat. Rasa sakit menjalar di pergelangan tangannya, namun rasa takut jauh lebih besar.

“Lepas!” teriak Naira panik, suaranya bergetar.

Refleks, tangan Naira yang bebas melayang, menampar wajah Alex.

Plak!

Hening.

Hanya suara napas Naira yang terengah-engah dan detak jantungnya yang bergemuruh di telinganya.

Alex menoleh perlahan, kepala miring. Napasnya mengembus keras, seperti hembusan panas dari binatang yang terluka dan kehilangan akal, matanya yang merah menatap Naira dengan tatapan kosong namun penuh amarah.

“Jangan bikin aku tambah gila malam ini…” suaranya terdengar semakin berat, mengancam.

Sebelum Naira bisa lari, tubuhnya terangkat begitu saja. Ia meronta, memukul-mukul punggung Alex, menendang-nendang kakinya, namun tenaga Alex terlalu besar.

“Lepas! Lepaskan aku!” teriak Naira, suaranya serak karena ketakutan dan keputusasaan. Air mata kembali mengalir deras, membasahi pipinya.

Alex tidak menghiraukan teriakan Naira, terus melangkah menuju kamarnya. Pintu apartemen terbuka, gelap, seperti mulut gua yang siap menelan. Tak lama kemudian suara pintu tertutup mengunci tak hanya dirinya, tapi juga segala harapan dan masa depan Naira.

Di kamar mewah yang temaram itu, di tengah keheningan yang memekakkan, tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli dengan teriakan dan isak tangis Naira yang tertelan.

Alex menyentuh Naira dengan paksa, melakukan penyatuan dan menghentakkan tubuhnya dengan beringas. Bukan hanya menghancurkan raganya, tapi juga mengoyak-ngoyak jiwanya, mencabik-cabik sisa-sisa harga dirinya.

Malam ini, bukan hanya penuh kejutan yang menghancurkan, tapi juga penuh luka yang tak akan pernah terhapus dari ingatan seorang wanita bernama Naira.

Pada saat suaminya sedang berbagi peluh penuh gairah dengan sepupunya, Naira harus kehilangan kehormatannya di bawah keberingasan pria asing yang menggagahinya dengan brutal

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.

Ulasan-ulasan

Athena Beatrice
Athena Beatrice
Recommended! 🫶🏻🫶🏻
2024-12-27 15:16:27
1
0
74 Bab
Chapter 9: Going to the Shop
𝘈𝘴𝘵𝘳𝘪𝘥! 𝘕𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘢 𝘯𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯?! 𝘈𝘴𝘵𝘳𝘪𝘥 𝘣𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘸𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘢 𝘯𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢𝘢𝘣𝘰𝘵 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘢?! 𝘒𝘢𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘰 𝘱𝘢𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘥 𝘺𝘶𝘯 𝘯𝘨 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨! 𝘉𝘢𝘰𝘯 𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘺𝘰 𝘴𝘢 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨! 𝘈𝘴𝘵𝘳𝘪𝘥, 𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘢?! 𝘏𝘪𝘯𝘥𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘢𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘨-𝘵𝘢𝘨𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘰 𝘢𝘬𝘰 𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘢! 𝘈𝘚𝘛𝘙𝘐𝘋, 𝘞𝘈𝘓𝘈𝘕𝘎 𝘏𝘐𝘠𝘈 𝘒𝘈! 𝘈𝘕𝘖 𝘠𝘜𝘕𝘎 𝘗𝘐𝘕𝘈𝘎𝘒𝘒𝘞𝘌𝘕𝘛𝘖 𝘔𝘖 𝘚𝘈 𝘔𝘎𝘈 𝘒𝘈𝘐𝘉𝘐𝘎𝘈𝘕 𝘔𝘖 𝘕𝘈 𝘞𝘈𝘓𝘈 𝘈𝘒𝘖𝘕𝘎 𝘒𝘞𝘌𝘕𝘛𝘈𝘕𝘎 𝘐𝘕𝘈?! 𝘈𝘚𝘛𝘙𝘐𝘋! 𝘈𝘚𝘛𝘙𝘐𝘋! "Hoy." Napamulat si Astrid sa gulat. Hindi niya namalayan nakatulog pala siya, tumingin naman siya sa taong gumising sa kanya. Nawindang siya nang may makita siyang kulay brown na mga mata na nakatingin sa kanya mula sa dalawang maliit na butas ng maskara. Hindi niya inaaasahan na siya pa pala ang una niyang makikita pagdating sa destinasyon nila. "Tristan?" Paninigurado niya, nang makita
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-23
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status