Partager

Bab 88

Auteur: Jiriana
last update Date de publication: 2026-07-07 18:23:55

"Makanya, kamu harus jujur padanya. Jika dia tidak mau menerimamu setelah kamu jujur, kamu harus berjuang untuk mendapatkan cintanya. Jangan menyerah sampai kamu berhasil meluluhkan hatinya."

Kiran yang sejak tadi berdiri di depan cermin, akhir membasuh wajahnya, kemudian melangkah keluar dari kamar mandi.

Raka yang mendengar suara dari belakangnya seketika menoleh dan melihat Kiran sedang berjalan dengan susah payah ke arah koper yang di letakkan dekat lemari pakaian.

"Aku tutup dulu. Kita
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 89

    Perlahan, Raka memajukan wajahnya, membuat Kiran refleks menutup mata sambil menahan napas saat melihat hidung keduanya nyaris menempel. "Memikirkan apa?" bisik Raka. "Kenapa kamu menutup mata?" Kiran seketika membuka mata. Wajahnya memerah seperti tomat saat melihat Raka sedang tersenyuman jahil padanya. "Tidak ada." Kiran segera menarik kepalanya ke belakang, kemudian menutup kepala dengan selimut untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah setelah berbaring membelakangi Raka. "Aku mau tidur." Raka hanya tersenyum tipis, kemudian menyandarkan punggungnya, lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Pukul 2 siang, Raka akhirnya selesai mengurus pekerjaannya. Dia meletakkan laptop di atas nakas, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Kiran, lalu menurunkan selimut yang menatap wajah wanita itu. Kiran tampak sudah terlelap dengan wajah polosnya. Raka menatap wajah Kiran selama beberap saat, kemudian memajukan wajahnya. Mungkin karena lelah dan kurang tidur semalam, jadi wanita itu

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 88

    "Makanya, kamu harus jujur padanya. Jika dia tidak mau menerimamu setelah kamu jujur, kamu harus berjuang untuk mendapatkan cintanya. Jangan menyerah sampai kamu berhasil meluluhkan hatinya." Kiran yang sejak tadi berdiri di depan cermin, akhir membasuh wajahnya, kemudian melangkah keluar dari kamar mandi. Raka yang mendengar suara dari belakangnya seketika menoleh dan melihat Kiran sedang berjalan dengan susah payah ke arah koper yang di letakkan dekat lemari pakaian. "Aku tutup dulu. Kita bicara lagi nanti." Usai mengakhiri panggilan telpon tersebut, Raka mendekati Kiran. "Hari ini kamu istirahat di kamar saja. Jangan ke mana-mana." Kiran yang baru saja mengambil pakaian di kopernya, seketika mengangkat kepala dan menatap Raka. "Aku mau melihat Papa. Aku sudah janji akan datang pagi." Ayah dan ibunya pasti sudah menunggunya, apalagi ini sudah menjelang siang hari. Kemarin, dia sudah berjanji akan menggantikan ibunya untuk menjaga sang ayah karena merasa kasihan melihat sang ta

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 87

    "Kamu sudah bangun?" tanya Raka.  Ketika tatapan keduanya bertemu, Kiran segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah memerah.   "Iya," jawab Kiran lirih. Merasa canggung terus di tatap oleh Raka, Kiran bergegas bangkit dari duduknya. "Aku mau mandi dulu." Baru saja berjalan 3 langkah, Kiran tiba-tiba meringis.   Raka yang melihat itu, seketika membuka suara. "Kenapa?"   Merasa malu untuk menjawab dengan jujur, Kiran memilih menyembunyikan rasa sakitnya dan tersenyum paksa pada Raka. "Tidak apa-apa," jawabnya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.   Raka yang baru saja duduk di tepi ranjang tampak memperhatikan cara berjalan Kiran yang tidak biasa. Setiap kali melangkah, kedua kakinya gemetar, langkahnya sangat pelan.   Meski dia sudah sering melihat wanita itu berjalan sedikit pincang. Namun, kali ini berbeda dari biasanya, dan dia tahu kalau dirinyalah yang menyebabkan wanita itu berjalan seperti itu.   Tidak tega melihat Kiran kesulitan berjalan, Raka b

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 86

    "Pagi, Ma, Pa," sapa Raka pada Yulia dan Hedy setelah memasuki ruang rawat sang mertua. "Maaf, baru sempat ke sini.""Tidak apa-apa," jawab Hedy. "Kamu pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh."Melihat tidak ada yang masuk lagi ke ruangan sang suami selain Raka, Yulia pun bertanya dengan heran pada menantunya, "Loh, di mana Kiran? Kenapa kamu ke sini sendiri?" tanya Yulia."Kiran belum bangun, Ma."Mendengar sang putri masih tidur, Yulia merasa terkejut sekaligus heran. "Tidak biasanya dia bangun siang. Apa Kiran sedang sakit?"Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Belum pernah anaknya bangun sesiang itu jika tidak terjadi sesuatu dengannya, makanya Yulia merasa heran."Kiran tidak sakit, Ma. Dia hanya kelelahan. Semalam dia kurang tidur."Mulut Yulia membulat mendengar penjelasan sang menantu. Dia tidak tahu saja kalau itu ulah menantunya yang membuat sang putri tidur semalaman."Tapi, tetap saja ini sudah siang. Selelah apa pun dia, seharusnya dia bangun lebih dulu d

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 85

    Raka menatap Kiran dengan lekat selama beberapa detik, kemudian berkata dengan wajah serius, "Jadilah milikku, maka aku akan memaafkanmu." "Apa?" Takut dia salah dengar, makanya Kiran ingin memastikan kembali dengan bertanya lagi pada pria itu. Melihat wajah bingung Kiran, Raka alkhirnya merubah ekspresinya. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa," ralatnya. "Kamu sudah memaafkanku?" Raka hanya mengangguk ringan sebagai jawaban. "Kalau begitu, biar aku bantu obati wajahmu." Tanpa menunggu persetujuan Raka, Kiran menarik tangan pria itu menuju ranjang dan memintanya duduk di ranjang, sementara dia berjalan menuju kulkas kecil yang berada di dekat meja. Dari dalam sana, dia mengambil alat kompres. Sebelum kembali ke hotel, Kiran sempat membeli alat kompres terlebih dahulu karena teringat dengan bekas tamparan di wajah Raka. "Aku bantu kompres wajahmu." Setelah duduk di tepi ranjang, dan berhadapan dengan pria itu, Kiran mulai mengompres wajahnya dengan hati-hati. Raka sen

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 84

    Pukul 11 malam, ponsel Kiran berbunyi. Ada sebuah pesan masuk. Kiran yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil menonton televisi langsung meraih ponselnya yang berada di atas nakas. [Kiran, berikan alamat barumu. Rencananya, aku akan pulang lusa ke Indonesia.] Itu adalah pesan dari Glen. Bersamaan dengan masuknya pesan itu, pintu kamar terbuka, detik selanjutnya muncul Raka dari balik pintu. Tatapan keduanya bertemu. Namun, Raka langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Kiran sedang duduk di ranjang, tampak menatap penampilan Raka dengan dahi berkerut. Kemejanya tampak kusut, lengan kemejanya di gulung dengan asal, rambutnya dibiarkan berantakan, dan wajah sebelah kirinya terlihat memerah. Jarang sekali dia melihat penampilan Raka yang berantakan seperti itu. "Kamu dari mana?" tanya Kiran, kemudian turun dari ranjang, lalu menghampiri pria itu. "Aku menunggumu sejak tadi." Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja Kiran mengerutkan

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 5 Dibawa Pergi

    "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 4 Mengalami Cidera

    "Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 3 Bertemu Preman

    WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 2 Menebus Kesalahan

    “Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status