LOGIN"Ano? Sa tingin mo ba, I’d fall for you if you sweet-talked me?" Anya ni Claire na sinamahan niya pa ng nakakadismayang iling. "I waited for you for five long years, Luke. Five years and now that I am finally over you and dating your best friend," dagdag niyang pailing iling ulit habang unti unting umaatras si Luke sa pader, "—you dare do this to me, wreaking havoc on my emotions? Gago ka ba talaga ha?!" "I can't stop myself. I love you and I won't give you up that easily, Claire. I won't. I can't." "I want you." "You know you can't have me," she murmured and bit her lips, begging him to kiss her. Just kiss the hell out of her para matauhan siya sa kahibangang nararamdaman niya ngayong yakap yakap siya ni Luke. "It’ll be risky if you stay another minute, Claire. Get out now before I lose my mind completely," he murmured between heavy breathing and gazing at her lips. A muscle in his jaw twitched, knowing full well that their close proximity made his blood warm and tingly. God, he wanted this woman so bad. Yes, he wanted her so much that he risked his friendship with Owen. And yes, he was insane for doing so.
View MorePisah Terindah
#1Dengan senyum semringah aku menjawab telepon dari lelaki yang teramat kucintai. Siapa lagi kalau bukan pemilik wajah rupawan yang telah berhasil memenjarakan hatiku. Dialah Mas Danar, suamiku."Kamu ada di rumah?" Pertanyaan itu diajukan Mas Danar seketika setelah telepon darinya kuangkat."Bukan! Aku lagi berada di istana rindu," selorohku dengan suara manja.Terdengar sedikit tawa dari Mas Danar. Aku pun menimpali dengan tawa renyah."Aku udah mau nyampai. Aku kira kamu di rumah Windi, biar sekalian disamperin." Suara Mas Danar terdengar datar. Mungkin karena terlalu lelah, pikirku."Langsung pulang, kan? Jangan lama-lama, ya, aku udah kangen berat," lanjutku masih dengan nada manja."Okey, see you."Mas Danar memutus sambungan telepon sebelum aku sempat bersuara lagi.Di depan cermin, aku mematut diri. Mencermati kembali penampilanku untuk menyambut suami tercinta. Lelaki yang sudah hampir tujuh tahun hidup bersamaku. Mengarungi mahligai rumah tangga yang bahagia.Hari ini Mas Danar pulang. Sudah tiga hari dia keluar kota. Terasa sangat lama bagiku. Mungkin baginya juga. Meskipun bukan kali pertama dia melakukan tugas keluar kota, tetap saja merasa canggung bila dia tak ada. Rindu terasa begitu menggebu-gebu. Tak sabar rasanya ingin segera bermanja di pelukannya.Tak berapa lama kemudian terdengar klakson mobil dari depan rumah. Lalu suara pagar terbuka. Sudah sangat pasti kalau itu adalah Mas Danar. Aku segera memanjangkan langkah menuju pintu depan. Seperti biasa, aku akan menyambutnya dengan sambutan terbaik."Welcome home!"Aku berseru dari ambang pintu. Dengan wajah semringah dan senyum termanis. Wajahku pun sudah kupoles dengan riasan yang disesuaikan dengan baju yang kupakai. Setelah melalui beberapa percobaan, akhirnya pilihanku jatuh pada dress selutut berwarna baby pink. Mas Danar sangat senang melihatku memakai warna ini. Aku terlihat lebih menggemaskan, katanya.Aku rasa penampilanku tidak terlalu kalah fresh dengan ABG belasan tahun. Tubuhku tidak melar walaupun sudah hamil dan melahirkan seorang putri yang sebentar lagi berusia empat tahun.Meskipun tinggiku tidak terlalu semampai, tetapi posturku ideal. Tubuhku masih ramping dan sesekali aku sempatkan juga melakukan perawatan tubuh dan wajah. Walaupun tidak glowing-glowing amat, yang penting tidak kusam.Aku berjalan gemulai menyongsong Mas Danar yang baru saja menginjak lantai teras. Aku mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangannya. Mas Danar melirik dengan senyum tipis. Dia terkesan pasif ketika aku mengambil tangannya dan kubawa ke puncak hidung."I miss you so much," ungkapku penuh kejujuran lalu mendaratkan kecupan ke pipinya.Mas Danar tidak merespons sama sekali. Biasanya dia juga akan balas mengecup kening atau pipiku. Namun entah kenapa kali ini tidak dilakukannya. Dia meletakkan ransel yang dijinjing dengan tangan kirinya ke meja di teras lalu melepas sepatunya satu per satu. Setelah itu dia kembali meraih ransel hitamnya itu dan melangkah masuk.Aku segera bergelayut di lengannya dan kami beriringan masuk.Jika melihat ekspresi wajahnya, sepertinya Mas Danar sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya ada masalah dengan pekerjaannya.Dia memang akan lebih sedikit pendiam kalau sedang ada beban pikiran. Begitulah yang dapat kupahami selama kami tinggal seatap.Seingatku bulan lalu dia pernah berkeluh-kesah tentang sebuah proyek yang ditanganinya. Proyek itu terindikasi merugi. Penyebabnya adalah karena ketidaktelitian Mas Danar dalam mengecek selisih harga suatu produk. Kalau benar-benar terjadi kerugian, kemungkinan Mas Danar harus bertanggung jawab menutupi kerugian tersebut.Pikiranku yang tengah terfokus pada curhatan Mas Danar bulan lalu disentakkan kembali oleh pertanyaan Mas Danar."Shahna mana? Lagi tidur?""Dia lagi di rumah Windi. Ntar agak sorean aja jemputnya."Mas Danar hanya mengangguk mendengar penjelasanku. Lagi, tidak seperti biasanya. Tidak ada respons apa-apa lagi dari Mas Danar.Shahna adalah nama putri tunggal kami. Tadi pagi Windi --sahabatku-- mampir. Ketika dia pulang Shahna ikut dengannya. Dan itu sudah sering terjadi. Windi juga sangat menyayangi Shahna.Mas Danar melepas kancing lengan kemejanya lalu menggulungnya asal. Dia duduk di sofa ruang tengah sambil meletakkan ponsel dan kunci di atas meja."Dara, aku mau bicara," ucap Mas Danar dengan suara tanpa tenaga."Nanti aja. Sekarang Mas mandi. Setelah itu kita bicara sambil ngeteh. Tadi aku bikin bolu karamel, loh. Ini percobaan pertamaku dan hasilnya wow banget. Aku jamin kamu pasti suka, Mas.""Tapi Ra, aku ingin bicara ....""No ... no ... nehi ...! Tidak sekarang, Sayang. Kita bicara nanti di taman. Pasti akan kudengarkan semuanya tanpa melewatkan satu huruf pun. Swear."Aku menyimpulkan sebuah senyum lalu menarik Mas Danar agar bangun dari duduknya. Setelah dia berdiri aku mendorongnya ke kamar. Handuk, pakaian dalam, serta baju ganti telah kusiapkan di atas kasur. Setelah itu, aku segera ke dapur.***Aku membawa sebuah nampan yang di atasnya tersusun sebuah teko berisi teh, dua buah cangkir, dan beberapa potong bolu karamel hasil olahan tanganku sendiri."It's time!"Aku meletakkan nampan di atas meja. Mas Danar sudah terlebih dahulu ada di sana. Dia nampak sangat serius menekuni layar ponselnya."Kok nggak jadi mandi, Mas?"Mas Danar menggeleng pelan. Sepertinya Dia hanya mencuci muka dan itu cukup berhasil membuat wajahnya sedikit lebih segar."Dara, duduklah dulu. Aku ingin bicara.”Aku menurut. Segera kuambil tempat di sampingnya. Pada kursi taman yang ada di teras samping. Teh yang baru saja kutuangkan ke cangkir mengepulkan asap yang kemudian membaur dengan udara yang lembap. Hujan memang turun beberapa jam lalu dan hawa dingin masih terasa sampai sekarang.“Ceritalah, Mas. Akan kudengar apapun keluh kesahmu. Berbagilah denganku,” ujarku dengan tatapan meyakinkan dan sesimpul senyum tipis.Mas Danar berdiri, lalu menarik kursinya lebih mendekat padaku. Sekarang jarak kami begitu tipis.“Dara ….” Mas Danar menarik napas dalam. Untuk beberapa saat dia menggantung ucapannya.Tanpa diberitahu pun, aku sudah dapat memastikan bahwa beban yang sangat berat kini tengah bergelayut di hati Mas Danar. Hingga begitu sulit untuknya mencari kata yang tepat untuk mulai mengurai cerita.Aku mengembuskan napas pelan lalu sedikit mencondongkan badan ke arah lelaki tercintaku itu.“Mas, berbagilah denganku. Jangan kaupikul sendiri. Susah senang kita lalui bersama. Begitu, kan janji kita?" Aku mendaratkan telapak tangan ke punggung tangan Mas Danar yang bertengger di atas pahanya.Mas Danar menarik tangannya dan dibawanya mengusap pelipis. Sorot mataku mengikuti pergerakan tangannya dan berlabuh pada wajahnya yang kembali tampak kusut.Mas Danar juga mengarahkan tatapan padaku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan. Dia tidak pernah menatapku seperti ini sebelum-sebelumnya. Tatapannya selalu hangat dan penuh cinta yang menggebu-gebu. Jika pun suasana hatinya sedang tidak baik, tatapannya akan terlihat lebih sayu dan meminta untuk disemangati. Namun, kali ini tidak begitu. Sangat berbeda dan terasa asing.“Dara ... aku butuh persetujuan kamu.” Kalimat Mas Danar masih menggantung. Belum bisa kutarik kesimpulan ke mana arah yang ditujunya. Kendatipun begitu, simpul-simpul saraf di otak besarku telah berkelana lebih cepat dari yang kuperkirakan untuk mengumpulkan beberapa dugaan.Menjual mobil atau rumah. Atau mungkin juga dua-duanya. Kemungkinan-kemungkinan itulah yang pada akhirnya bersarang di kepalaku. Membuat rasa penasaran semakin bertalu-talu.Jujur, aku ingin segera mendengar secara lugas dari Mas Danar. Namun, aku pun tak ingin mendesak. Aku memilih bersabar, menunggu cerita itu mengalir dengan lancar dari mulut Mas Danar.Lelaki itu membuang tatapan sejenak lalu kembali mata kami saling beradu. Wajah tegang Mas Danar mau tidak mau juga mengalirkan rasa yang sama padaku. Jantungku tiba-tiba saja berdegup lebih cepat. Kecemasan yang entah tentang apa seketika menggerogoti. Meskipun begitu, sebisa mungkin aku tetap tenang. Bersabar menunggu detik-detik yang terasa sangat menegangkan."Aku butuh persetujuan kamu untuk menikah resmi."Dalam satu tarikan napas kalimat itu terucap tanpa tersendat dari mulut Mas Danar. Lalu dia memundurkan badannya, merapatkan punggung pada sandaran kursi dengan kepala tetap tegak. Satu tangannya mengusap wajah yang sedari tadi dihiasi ketegangan.Untuk beberapa detik aku terpaku. Seperti ada kekuatan maha dahsyat yang memindahkan aku dalam sekejap mata ke dunia tanpa udara. Aku tercekat, aliran oksigen untuk pernapasan bagai terhenti. Kesadaranku seakan terbang tanpa bisa kutahan. Aku tak tahu, sudah berapa lama aku mematung."Dara."Sentuhan tangan Mas Danar di bahuku telah menarik kembali kesadaranku dengan paksa. Seolah baru terbangun dari tidur yang panjang, aku mengerjap beberapa kali dengan tarikan napas lebih cepat. Lalu berusaha secepatnya untuk menguasai diri kembali.“Bercanda kamu ga lucu, Mas. Jangan ngeprank, ah. Aku nggak ultah hari ini dan lagi nggak ada momen spesial apa-apa hari ini.” Aku mengipaskan di depan wajah dan mencoba mengeluarkan tawa kecil.Aku yakin ini hanyalah akal-akalan Mas Danar ingin mengerjai aku. Dan aku pastikan dia gagal total. Meskipun begitu, aku tidak suka sama sekali dengan candaan seperti ini. Meskipun suka bercanda tetapi menurutku hal-hal yang sakral tidak patut sama sekali dijadikan bahan banyolan.“Dara, aku tidak bercanda. Ini serius! Tak lama lagi dia akan melahirkan anak kami. Aku butuh persetujuan kamu untuk menikahinya secara resmi agar anak yang dilahirkan itu punya dokumen resmi."Mas Danar mengalihkan pandangan dariku setelah menyelesaikan kalimat yang bagaikan petir menyambar-nyambar di kepalaku.Aku menatap lekat-lekat pada Mas Danar. Wajahnya masih tegang dengan sorot mata yang dihiasi kekalutan dan kecemasan. Aku segera tahu bahwa dia tidak main-main. Mas Danar tidak sedang bercanda sama sekali.Kepalaku berdengung seperti baru saja ditimpa benda yang keras dan berat. Atau jangan-jangan langit yang menaungi bumi ini telah runtuh dan semuanya berjatuhan padaku?Tak hanya sebatas itu, di dadaku ini serasa tengah ditancapkan ratusan belati lalu disirami dengan air garam dan asam. Pedih, perih, hancur, dan lebur.“Melahirkan? Menikahi secara resmi?"Aku bergumam pelan dengan pahatan kerutan di kening. Semua yang ada di sekitarku seakan berputar-putar menambah rasa pening di kepalaku.Mas Danar menatapku sebentar kemudian menunduk.“Kamu berzina, Mas? Kamu menghamili perempuan lain?” Aku mencecarnya dengan napas memburu.“Tidak ... Bukan ... bukan seperti itu! Kami telah menikah sebelumnya secara agama. Dan sekarang tinggal meresmikannya secara negara. Dan, kamu pasti tahu kalau syaratnya adalah persetujuan dari kamu sebagai istri pertama.""Apa? Meresmikan?"Bibirku rasanya sangat kelu walau sekadar untuk mengulang kata yang telah dilontarkan Mas Danar. Mas Danar mengangguk pelan."Kamu ... kamu telah menikahi perempuan lain tanpa sepengetahuan aku, Mas? Kamu ... kamu sudah mengkhianati aku dan pernikahan kita selama ini? "Tatapan tajam yang menuntut penjelasan yang kulayangkan masih dijawab dengan helaan napas berat dari Mas Danar. Dia sepertinya tengah menimbang-nimbang apa yang tepat untuk dia ucapkan."Mas?! Jawab! Sejak kapan? Sudah berapa lama?"Tanpa bisa kukontrol lagi, suaraku mulai meninggi. Napasku pun mulai memburu. Aku memejamkan mata rapat-rapat agar air mata yang perlahan menggenang tidak sampai luruh.****Whatever distress might have been lurking in Claire, it disappeared in a flush of temper as her chin tipped up again. "Luke…""You wanted to give up on us, Claire?" Luke asked between kisses."No! I think I can't. I've loved you for so long I don't know what—""Oh Claire.""Mahal na mahal kita, Luke. Hindi ko alam kung—"Once again, Luke couldn’t force his mind to process that. He couldn’t seem to breathe past it. It was bad enough that they’d come here on a whim to discover that all this time, the woman who’d haunted him for the past few months had kept it a secret from him. That she knew that it was him. He never had the slightest notion of what he’d lost—not until Owen came into the picture.For the first time since what happened to them at the party, he saw the woman he’d adored so many years ago. The one who had always known what he was thinking, the one who had so often been thinking the very same thingShe certainly is now."Mahal na mahal kita, Claire. I can't give you up. I'l
"Are you insane?!" Sigaw na tanong ni Claire."Yes, I'm insanely in love with you.""No! Take that back!" She exclaimed. "Owen is a great guy. He is your friend, damn it, Luke." Pabulyaw niyang dagdag sabay punas sa luhang kanina pa niya pinipigilan. "Owen is kind; he is, oh God. Why are you doing this? He likes me; he loves me for who I am.""Enough, Claire!" Pabulong na tugon ni Luke, habang hawak hawak ang kamay niya, na panay suntok sa dibdib niya. "Enough, but please let me love you.""No, Luke. No! Owen is much more well-mannered than you. Alam mo yan! He is warmer, nicer, more considerate to me. He is honest. He is everything I want." Napapikit si Claire sabay diing, "Alam niya kung nasasaktan ako, alam niya kung nalulungkot ako. He knew how to make me smile. He doesn't pretend; he is sweet, he is—""I said stop!" Pabulong na wika ni Luke habang napapayuko ito sa di malamang dahilan. He thought he had never been hurt before, but ang mga mata ng babaeng mahal niya na puno ng gal
As if that could save him from the nasty reality that he’d become exactly what he most loathed without knowing it. Did Claire hate him for that?He was an asshole; yes, he couldn't deny it."You keep mentioning what happened, which means you clearly knew about the first time when you were so drunk," Luke found himself saying, as if he could argue the conviction from her face. As if he could make this her fault and make it better, or different, by shrugging off the blame."Hindi ko alam, I was drunk, remember? But later on, I realised we—yes. I knew that too.""Then, bakit wala kang sinabi, Claire?""Bakit ba? Ano ba ang sasabihin ko dapat? Boss kita! Ano ka ba!""So?""Anong so ka dyan?" Her laugh sliced into him. "Wala akong ini-expect na kung ano pa man. What happened is just—a mistake. Oddly enough, you never took me seriously. Or I assume you didn’t, because it took you all this time to turn up here. Right at this very moment.""Ano? A mistake?""Oo, bakit totoo naman ah! This—" t
Napadilat si Luke. What? Her words were impossible."Claire, are you, um, that drunk?" tanong nito sa kanya.Napataas kilay si Claire, habang parang baliw na kinakausap niya ang kanyang sarili.Ewan ko sayo, ang hina ng pick up! Kung mag a-ano... mag a-ano na! Huwag nang mag a-anohan pa! Ang ano namang taong ito! Hays! Ewan ko sayo!Luke frowned. They made no sense, no matter how loudly they echoed in his head.Luke thought perhaps he staggered back beneath the weight of all that impossibility, possibly even crumpled to the floor—but of course, he did no such thing. He was frozen into place as surely as if the stones beneath him had made him a statue, staring back at her.In horror. In confusion.Oh ano? Tutunga-nga, ka na lang dyan? Tanong ni Claire sa sarili habang yakap yakap pa rin ang among demonyong ang pula pula ng labi.There must be some mistake, a sliver of rationality deep inside him insisted."What did you say?" he managed to ask through a mouth that no longer felt like hi
Papayag ba siya? Somewhere private, daw?"Lady Ivy, I do not intend to do anything you do not want me to do," Luke promised as he sensed the onset of doubt in the woman who walked so gracefully and silently beside him.Claire nodded her head.Call him foolish, but he must have her. It was a call he cou
"Dog? Bakit naman napunta sa aso ang usapan natin?" tanong ni Claire na nagpakunot ng noo sa lalaki. "Well, you said you like Keanu." "Well, John Wick rings a bell?" "Aww! Akala ko kung ano na," ngiting sagot ni Claire. "So. Okay, I'll call you Keanu." She tilted her head. "Teka lang, I somehow thin
Luke lifted her in strong arms and laid her over the piano, putting out pressure with one hand until she relented to his implicit desire and lay back, giving him full access to her body. He kissed his way up her calves, then her inner thighs, before draping her legs over his broad shoulders. Claire
Still, it was a masquerade party, where no names were exchanged and there would be no expectations after tonight. Sir Greg was right; it could be fun for Claire to just anonymously enjoy herself for one evening, right? Baka nga naman makalimutan niya ang problema niya sa bahay. Hindi sa nagrereklamo






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.