مشاركة

Tidur Panjang

مؤلف: Thato Kent
last update تاريخ النشر: 2026-09-19 00:19:08

Pagi-pagi sekali aku sudah terjaga. Tidak ingin Zarima melakukan sendiri pekerjaannya seperti kemarin pagi, begitu selesai mencuci muka dan minum segelas air putih, aku langsung menghimpun pakaian kotor mereka lalu turun membawanya ke kamar mandi.

Di kamar mandi pun cepat aku pisahkan pakaian mereka, membersihkan kotoran bayinya, sebelum kemudian merendamnya secara terpisah. Setelah itu, aku kembali ke gubuk untuk merebus air,

Untuk airnya, tidak akan kutinggalkan sampai benar-benar mendidih.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • SANG PENANTANG WURAKE   Tidur Panjang

    Pagi-pagi sekali aku sudah terjaga. Tidak ingin Zarima melakukan sendiri pekerjaannya seperti kemarin pagi, begitu selesai mencuci muka dan minum segelas air putih, aku langsung menghimpun pakaian kotor mereka lalu turun membawanya ke kamar mandi. Di kamar mandi pun cepat aku pisahkan pakaian mereka, membersihkan kotoran bayinya, sebelum kemudian merendamnya secara terpisah. Setelah itu, aku kembali ke gubuk untuk merebus air, Untuk airnya, tidak akan kutinggalkan sampai benar-benar mendidih. Zarima bilang, airnya akan bau asap kalau tidak mendidih secara sempurna.Selagi menunggu airnya mendidih, aku siapkan air dingin pada sebuah baskom. "Tumben tidak ada yang menangis?" Bayi Zarima dua-duanya sudah terjaga. Tangan mereka tampak bergerak-gerak, tapi tidak ada yang memperdengarkan suara tangisnya. Bahkan Karma yang biasanya paling mudah menangis itupun, pagi ini hanya diam saja.Sedangkan Zarima sendiri, dia tampak masih selelap itu. Mungkin kelelahan hingga kepagian begitu.Tak

  • SANG PENANTANG WURAKE   Wangi Bunga Melati

    Tergesa kutinggalkan titik berlangsungnya ritual, mengambil jalan pintas dalam semak-semak, cepat menuju hutan di ujung desa. Kakiku mungkin sudah tertusuk duri. Tapi siapa yang peduli itu? Telur dan nasi ritual barusan pun sudah tidak kuhiraukan.Jantungku pula, masih saja seperti tidak berada pada tempat semetinya. Padahal, aku sudah coba menanamkan keyakinan bahwa barusan itu hanyalah halusinasi semata.Tiba di jalan raya tak jauh dari rumah Yulianti, aku gandakan kecepatan, berlari kencang menuju jalan setapak yang menuju ladang kami."Astaghfirullah, siapa lagi itu?"Akan mendesis kaget setelah lebih dulu mengehentikan lari secara tiba-tiba. Pada jalan setapak kira-kira lima belas meter dari jalan raya tempat di mana aku berpijak kini, tampak bayangan seseorang. Dia seperti berdiri mengadang di sana."Siapa ya?" Aku menyipitkan mata, memandangnya hingga beberapa lama, lalu beralih ke sekeliling.Jalan raya ujung desa sana, lengang. Tak ada satu bayangan manusia pun yang terliha

  • SANG PENANTANG WURAKE   Bertemu Orang yang Sudah Lama Meninggal

    "Wih, banyak memang yang datang rupanya!" Aku bermonolog, kagum sekaligus lega.Saat ini aku sudah berada sekitar dua puluhan meter dari titik di mana tempat berlangsungnya ritual. Sedangkan ritualnya sendiri belum dimulai.Lewat pantulan cahaya obor yang ditajak pada beberapa titik sekaligus, tampak olehku warga yang duduk memanjang, menghadap pada sekumpulan tetua. Entah berapa banyak warga yang hadir. Mereka duduk semacam saf pada ibadah salat, berlapis-lapis jauh ke belakang sana, hingga ada yang tinggal menyisakan bayangannya saja dari penglihatan.Tapi memang selalu seperti inilah kaago-ago!Setiap kali diadakan, ritualnya akan selalu diikuti oleh nyaris seluruh warga desa. Dari anak-anak bahkan balita, orang dewasa, apalagi para paruh baya hingga lanjut usia, nyaris tidak ada yang mau ketinggalan.Sedangkan yang tidak ikut serta, biasanya mereka-mereka yang memiliki keyakinan kalau ritual seperti ini bertentangan dengan ajaran agama yang dianut.Tak berapa lama dari itu, seper

  • SANG PENANTANG WURAKE   Jangan Pernah Lupakan Kami?

    Sore hari menjelang matahari terbenam."Tumben orang mau adakan kaago-ago di bulan-bulan seperti ini?" timpal Zarima, saat aku ceritakan berita yang kubawa dari desa."Kurang tau juga Kak. Tidak ada orang cerita tentang itu sih, tadi."Zarima memang wajar bertanya. Ritual tolak bala yang oleh kami menyebutnya kaago-ago, memang biasanya digelar hanya pada momen-momen tertentu.Biasanya ketika akan memasuki musim semai di awal musim penghujan. Atau, bila kemarau panjang melanda. Itupun baru akan digelar ketika kami sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Sedangkan saat ini, kondisinya tidak sedang demikian."Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan kematian Alif, Kak!""Alif? Lho, dia kan sudah lebih dari tujuh hari meninggalnya. Kok baru mau adakan kaago-ago sekarang?""Iya juga sih. Tapi tadi kulihat banyak orang tua-tua ngumpul di rumahnya Bu Fatimah. Kupikir ada apa. Setelah kutanya-tanya, ya itu, mereka mau bikin kaago-ago. Tempatnya juga kata mereka di belakang rumahnya Bu Fatimah.

  • SANG PENANTANG WURAKE   Penyelamat itu Namanya Pisang Hutan

    "...Ya Allah, kita ini kenapa sebenarnya, Bary? Kenapa ada saja jalannya supaya kita sengsara?""Tuhan juga, apa maksud-Nya Dia kasih kita ujian yang tidak ada habisnya seperti ini? Dia pikir kita ini apa? Malaikat?""Tuhan.. rasa-rasanya kok aku tidak kuat lagi hadapi ujian-Mu ini, Tuhan..."Zarima meratap, dan aku tahu itu berat. Tubuhnya bahkan sampai terhempas, lepas dari memelukku barusan itu. Dan, dia pun menitikkan air mata.Nian ... amsal nelayan papa kehilangan sampannya diamuk badai, setumpah-tumpahnya air mata, itu tidak akan mampu membahasakan perih."Maafkan aku, Kak," desisku di sela-sela isak tangis. "Aku sudah pergi cari kerja di pasar sana, tapi tidak yang terima aku, Kak!""Tidak apa-apa, tidak apa-apa!"Zarima tiba-tiba menjadi tegar. Dia menyeka air matanya dengan tegas. Auranya pula, mendadak terlihat yakin!"Jangan bersedih," tegasnya lagi, "pasti ada jalan. Tuhan itu tidak tidur, Dia Maha Romantis, aku tahu itu, kamu juga harus yakin itu!"Aku hanya bisa menghel

  • SANG PENANTANG WURAKE   Kasih Sayangnya

    "Oh ya Bary, aku belum kasih tau ya?'"Apa itu, Kak?""M.. anu Bary, hari ini kita hanya ada nasi jagung lagi, eh. Inipun hanya sisa jagung kita minggu kemarin, lho! Masih ada sekitar dua literan sih."Setelah memasukkannya ke dalam tas kresek, Zarima menyerahkan mangkuk plastik wadah bekal itu padaku sambil berkata, "Tidak apa-apa, 'kan bekalnya ini saja dulu?"Aku sambut dan membalas, "Iya Kak, tidak apa-apa. Malahan, ini saja sudah alhamdulilah sekali, kok. Lagipula, kita sudah biasa makan ini, 'kan?"Seperti kemarin dan lalu, aku menyambutnya dengan dada diam-diam bergemuruh, tapi berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.Alhamdulillah yang kuucapkan barusan pun, sebenarnya itu adalah ungkapan rasa syukur paling munafik yang pernah aku perdengarkan padanya. Sungguh, andai ada yang tahu bahwa, semakin kesini aku semakin terpuruk saja.Begitu juga dengan di hadapan Zarima, aku semakin sangsi akan mampu mempertahankan kemunafikan yang sedang aku peragakan kali ini."Betul kamu ti

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status